
"Aku ingin kita sama-sama menikmatinya, Sayang." Austin kini menatap Diandra mendongak, sehingga kini saling beradu pandang.
Ia bahkan bisa melihat wajah memerah sang istri yang sangat menggemaskan. Hingga sikap polos itu semakin membuatnya merasa sangat bahagia karena tidak paham mengenai apa yang baru disampaikan.
Tentunya butuh kesabaran ekstra untuk mengajari sang istri karena memang pada faktanya, wanita cantik yang selama ini dipujanya itu tidak dekat dengan pria manapun karena fokus mengurus Aksa.
"Bagaimana caranya?" Diandra yang kini ingin menuruti apapun perintah suami, menyerahkan diri dan tidak akan menolak karena menganggap itu merupakan sebuah kewajiban.
Ia ingin menyenangkan hati sang suami yang selalu membuatnya bahagia. Jadi, kali ini patuh seperti kerbau yang dicucuk hidung.
Sementara itu, Austin yang sudah menopang beban berat tubuhnya dengan kedua lutut, hanya tersenyum smirk sambil mengusap lembut pipi putih seperti buah ceri dan sangat menggemaskan tersebut.
"Ikuti saja perbuatanku, Sayang."
Kemudian mulai menunjukkan bagaimana caranya. Bahkan ia kembali tersenyum smirk kala merasakan pergerakan wanita seketika menggeliat karena perbuatannya.
"Lakukan hal yang sama, Sayang. Jadi, kita bisa sama-sama saling menikmati." Kemudian ia tidak menunggu Diandra menanggapi karena sudah kembali sibuk di sana.
Sementara itu, Diandra yang awalnya merasa sangat terkejut, sehingga beberapa kali mengerjapkan mata sekaligus menelan saliva.
Jujur saja ia sangat bingung melakukan hal yang diperintahkan suami karena belum pernah melakukannya. Hingga perbuatan Austin berhasil mengirimkan sensasi berputar lepas kendali di setiap urat syarafnya.
Seperti naluri seorang istri yang mengerti harus bagaimana, sehingga menuruti perintah sang suami. Bahkan gejolak gairah tak tertahankan saat ini ketika kembali merasakan urat syaraf menegang saat sensasi kenikmatan membakarnya.
Austin seketika menegang kala pertama kali merasakannya. Bahkan ia memejamkan kedua matanya untuk bisa semakin meresapi setiap kenikmatan yang baru saja dikirimkan oleh sang istri.
Baginya, jalan awal untuk menjadikan Diandra miliknya seutuhnya telah terbentang lebar saat ini dan tinggal sedikit lagi tiba dalam puncak kebahagiaan sejati bersama wanita yang butuh perjuangan hebat untuk mendapatkan.
'Hari ini, kami bersatu dengan penuh cinta dan tidak akan ada yang bisa memisahkan,' gumam Austin saat kembali menyiksa sosok wanita di bawahnya.
Bahkan saat ini, gejolak gairah yang semakin menguap seperti akan meledak.
__ADS_1
Kini, suara ******* yang mengungkapkan kenikmatan mewakili keduanya dan ruangan kamar hotel terbaik itu didominasi oleh Diandra
Entah sudah berapa menit berlalu, tetapi keduanya seolah belum puas untuk saling memberikan kenikmatan agar sama-sama menikmati.
Hingga suara rintihan panjang Diandra semakin terdengar saat merasakan seperti petasan yang meledak begitu sampai pada puncak kenikmatan.
Diandra menjerit kecil kala sensasi berputar lepas kendali menghantamnya. Bahkan ia membalasnya dengan cara serupa.
Hingga baru berhenti ketika suami membebaskannya. Deru napas memburu terdengar sangat jelas menghiasi ruangan kamar terbaik tersebut.
Bahkan ia masih menormalkan perasaannya dan kini melihat pergerakan pria yang mulai berbalik posisi untuk menatapnya.
Hingga ia hanya diam kala mendapatkan sebuah pertanyaan bernada intim.
"Sayang, aku tidak akan menyakitimu," ucap Austin yang merasa sangat puas karena telah berhasil membuat Diandra mencapai puncak kenikmatan saat foreplay.
Kali ini, Austin ingin meninggalkan momen tak terlupakan dan membuat Diandra hanya mengingat kebahagiaan yang dikirimkan, daripada kesedihan.
Padahal faktanya, ia tidak mungkin bisa menahan diri lebih lama ketika hasrat sudah sampai di ubun-ubun.
'Mungkin sekarang ia menganggap aku adalah seorang suami yang sempurna tanpa cela,' gumam Austin yang kini tengah menunggu jawaban dari bibir sensual yang menjadi candu tersebut.
"Aku belum siap," ucap Diandra yang akhirnya membuka suara dan bisa melihat jika sosok pria dengan rahang tegas tersebut membulatkan mata.
"Apa, Sayang?" Austin bertanya karena berharap jika salah dengar dan tidak yakin jika Diandra menolaknya di titik terakhir.
'Tidak, ini salah. Pasti ia tidak akan menyuruhku untuk menahan hasrat kesekian kali dengan menunda bercinta.'
Saat Diandra mengerti pemikiran pria di atasnya tersebut, kini hanya terkekeh geli karena melihat raut wajah penuh kekecewaan. Jadi, ia kembali mengulangi.
"Aku belum siap hamil, jadi kamu harus memakai pengaman. Oh ya, tadi kamu tidak membeli di apotik, kan? Sekarang lebih baik beli sana!"
__ADS_1
Tentu saja embusan napas lega seketika mewakili perasaan Austin yang merasa sangat senang karena seperti terbebas dari jeruji besi yang selama ini mengungkung.
Tidak ingin membuang waktu saat kepalanya berdenyut karena hasrat, Austin langsung mengungkapkan pemikiran dan janjinya.
"Aku tahu itu, Sayang. Jadi, kamu tidak perlu khawatir. Tanpa pengaman, aku tidak akan membuatmu hamil. Percayalah padaku."
Setelah mengungkapkan semuanya agar Diandra tidak khawatir, kini mencium bibir sensual di hadapannya dan begitu melihat anggukan kepala yang berarti sebuah izin untuk memulai kegiatan inti.
Bahkan ia sesekali melihat ekspresi wajah wanita tersebut untuk memastikan bahwa tidak ada rasa sakit akibat perbuatannya.
Usahanya pun berhasil setelah ia cukup lama melakukan pemanasan sebelum bercinta dan berhasil memberikan puncak kenikmatan sebelum bercinta.
"Apakah sakit, Sayang?" Austin melihat Diandra memejamkan mata dan ingin tahu, apakah itu ekspresi kesakitan atau kenikmatan, sehingga memastikan.
Saat tadi Diandra merasa degup jantung seperti mau meledak karena pertama kali menyatu dengan pria dengan pahatan sempurna yang menurutnya adalah pria paling tampan tersebut, kini menggelengkan kepala sebagai jawaban.
Ia sama sekali tidak merasakan kesakitan saat tubuh mereka memanas dan urat syaraf menegang. Hingga ia pun melihat senyuman terbit dari bibir tebal suami.
Merasa sangat lega karena tidak membangkitkan rasa trauma seperti yang dulu, Austin mengusap lembut pipi putih Diandra. "Syukurlah, Sayang. Aku akan kembali membuatmu mencapai puncak kedua kali."
Begitu menutup mulut, Austin melanjutkan perbuatannya.
Sebuah kenikmatan luar biasa dirasakan saat ini ketika tanpa ada jarak dan bisa merasakan detak jantung masing-masing.
Bahkan Diandra yang dari tadi kembali memejamkan mata, sudah berkali-kali mendesah dengan suara rintihan panjang karena merasakan kenikmatan luar biasa.
Ia semakin memeluk erat tubuh kekar yang telah berpeluh tersebut. Seolah dinginnya AC sama sekali tidak bisa membuat pria yang sibuk memuaskan hasrat itu merasakan sejuknya pendingin udara di ruangan.
Austin kali ini benar-benar memuaskan hasrat dan tidak berhenti. Ia tidak ingin berhenti memberikan sebuah penyiksaan manis pada sang istri.
'Nasib baik aku kemarin bermain solo di dalam kamar mandi. Jadi, sekarang terlihat sangat kuat di depan istriku,' gumam Austin yang merasa sangat percaya diri dan sibuk mencari kenikmatan untuk mencapai puncak surgawi.
__ADS_1
To be continued...