Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Hidup jauh lebih damai


__ADS_3

Asmita Cempaka yang saat ini baru saja mendapatkan laporan dari salah satu orang yang disuruhnya untuk mengikuti Diandra dan Austin. Setelah tadi ya marah-marah karena Austin mengetahui jika dibuntuti, sehingga memberikan perintah untuk sekalian dengan mengirimkan foto Diandra yang bersimbah darah.


Ia saat ini tersenyum kalau melihat ada foto ketika Austin menerima bingkisan berupa foto Diandra yang bersimbah darah. "Lebih baik menteror seperti ini dan membuatnya tidak bisa hidup tenang. Sebenarnya akan makin lebih menarik jika Diandra yang menerimanya."


"Namun, sepertinya tidak mungkin dia keluar untuk membukakan pintu saat malam-malam. Apalagi saat ada Austin dan dia sendiri yang akhirnya menerimanya. Tapi tidak apa-apa karena dia bisa melihat awal mula permainan," ucapnya dengan mengetik pesan balasan pada orang suruhannya.


Lakukan cara lain untuk karena pastinya pria itu tidak akan tinggal diam dan kau harus berhati-hati agar tidak sampai tertangkap.


Setelah mengirimkan pesan tersebut, ia seketika bangkit dari kursi begitu pintu ruangan operasi terbuka dan melihat dokter keluar masih memakai seragam operasi.


Refleks ia seketika bangkit berdiri dan menghampiri pria berseragam biru tersebut. "Dokter, apa operasinya berjalan dengan lancar? Bagaimana keadaan putra saya setelah menjalani operasi? Putra saya bisa sembuh seperti semula, kan Dokter?"


Ia saat ini menunggu pria di hadapannya tersebut membuka suara dengan perasaan dipenuhi oleh kekhawatiran ketika memikirkan kemungkinan buruk yang terjadi akibat operasi.


Sementara itu, sang dokter yang saat ini menatap ke arah wanita di hadapannya, tidak bertele-tele dan menjelaskan poin penting mengenai hasil kerja keras para tim medis di meja operasi.


"Operasinya berjalan lancar dan sistem saraf yang selama ini menjadi kendala putra Anda, sudah kami perbaiki. Kita tinggal menunggu sampai pasien sadar, baru kita mengetahui perkembangannya bagi respon otaknya," ucap sang dokter yang saat ini melihat raut wajah yang awalnya murung tersebut kini berubah lebih cerah.


Asmita Cempaka seketika mengucapkan terima kasih pada sang dokter karena telah berusaha untuk memperbaiki sistem sara putranya yang sempat mengalami masalah gara-gara perbuatan pria yang sangat dibencinya dan ingin disingkirkan.


"Semoga saat sadar, kondisi putra saya bisa kembali seperti semula. Sekali lagi terima kasih atas semuanya, Dokter." Bahkan ia sudah menjabat tangan pria yang jauh lebih muda darinya tersebut.


"Kami akan terus memantau kondisi pasien sampai benar-benar pulih. Ini adalah sebuah bentuk tanggung jawab dari kami medis pada pasien yang sudah lama dirawat di sini." Kemudian menganggukkan kepala dan berbalik badan untuk meninggalkan wanita tersebut.


Merasa jauh lebih baik setelah mendengar kabar baik dari hasil operasi putranya, ia pun langsung mengirimkan pesan pada saudara laki-laki yang ada di Jakarta. Bahwa operasi berjalan lancar dan ada kemungkinan putranya bisa sembuh seperti sedia kala.


Harapannya untuk bisa berkumpul kembali dengan putranya di rumah akan menjadi kenyataan sebentar lagi dan ia sudah tidak sabar menunggu saat itu tiba. Bahwa ia putranya akan kembali ke Jakarta dan hidup berdua dengan bahagia.


Begitu selesai mengirimkan pesan, ia pun kini melihat pesan balasan dari adiknya yang malah mengirimkan sebuah video dan membuatnya tersenyum menyeringai karena merasa senang.


Syukurlah jika operasinya lancar dan keponakanku bisa segera sembuh. Aku pun baru memulai mode bales dendam pada wanita itu dengan mengirimkan video kecelakaan. Jika setiap hari ia mendapatkan video seperti ini, pasti akan mengingat bagaimana ia bisa kehilangan ingatan karena kecelakaan yang dialami bersama dengan Yoshi.


Asmita Cempaka ya saat ini merasa sangat senang karena adik laki-lakinya tersebut bisa mengerti perasaannya dan mau membalas dendam. "Kenapa tidak dari dulu saja kau melakukan itu."


"Kenapa malah menunggu 1 tahun lamanya sampai Diandra bisa kembali berjalan?" Ia yang tidak berniat untuk membalas pesan dari adiknya, kini memasukkan ponsel ke dalam saku gaun yang dikenakan karena melihat para perawat keluar mendorong berangkat putranya menuju ke ruang perawatan.


Ia pun langsung berjalan di belakang para perawat dan menatap ke arah putranya dengan berkaca-kaca sambil bergumam di dalam hati untuk meluapkan perasaan memuncak yang tidak karuan.


'Sayang, cepat sadar dan segera sembuh karena mamamu ini sudah sangat lelah menghadapi cobaan seberat ini. Melihatmu setiap hari seperti orang yang tidak punya harapan hidup, merupakan hal paling menyakitkan yang membuat Mama ingin sekali mengakhiri hidup.'


Saat ia mengembuskan napas kasar ketika mengingat momen-momen di mana ia merasa lelah dan ingin bunuh diri karena tidak kuasa melihat putranya yang tidak berdaya. Apalagi seperti mayat hidup saat koma, membuatnya lebih sering menangis ketika malam hari saat suasana sunyi.

__ADS_1


Namun, setiap pagi selalu dikuatkan dengan rasa optimis bahwa putranya akan sembuh suatu hari nanti. Ia berusaha memenuhi pikirannya dengan hal-hal positif agar tidak menyerah karena putranya masih bernapas dan belum menghembuskan napas terakhir.


Kini, ia menatap ke arah perawat yang sudah memasang beberapa alat untuk menopang kehidupan putranya dan bunyi yang dihasilkan layar monitor mendominasi ruangan perawatan itu.


"Terima kasih," ucapnya pada perawat yang baru saja selesai dengan tugasnya dan meninggalkan ruangan.


Ia saat ini masih berdiri di sebelah ranjang perawatan putranya dengan bola mata berkaca-kaca. "Kamu harus segera sadar, Sayang. Kamu harus kasihan pada ibumu ini yang selama ini merawatmu. Jika kamu menyayangi Mama, sadarlah dan kembali sehat seperti sediakala."


Kemudian menyentuh punggung tangan putranya, lalu mengusap lembut di sana untuk memberikan sentuhan agar putranya merasakan kasih sayangnya. "Mama akan sangat bahagia melihatmu membuka mata untuk pertama kalinya."


Ia yang saat ini menatap intens putranya yang berada di hadapannya, menitikkan air mata karena sudah tidak bisa menahan dari tadi. Bahkan sudah jatuh membasahi punggung tangan putranya saat ini.


"Sayang, bangun dan segeralah sembuh Dan jangan buat Mama setiap hari menangis seperti ini." Kemudian ia mengusap lembut wajah putranya yang dipenuhi oleh cambang. Bahkan rambutnya pun sudah panjang dan sangat berbeda dari penampilan yang dulu.


"Mama sendiri yang akan membersihkan wajahmu jika nanti kamu sudah sadar dan merasa risi dengan penampilanmu, Sayang." Ia saat ini kembali mengambil ponselnya dan mengarahkan kamera pada wajah putranya.


"Ini akan menjadi kenangan berharga untukmu setelah sadar nanti, Putraku. Bahwa kamu masih terlihat tampan meskipun penampilan berantakan seperti ini." Ia bahkan tersenyum sendiri karena menyadari perkataannya.


Hingga saat ia merasa foto yang diambil sudah cukup banyak, kini menaruh benda pipih tersebut ke atas laci berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan muka karena tadi menangis haru kalah memikirkan putranya yang bernasib malang setelah menikahi Diandra.


Ia saat ini berdiri di depan cermin dan membasuh wajahnya yang sembab. "Semoga putraku tidak bertanya tentang Diandra ketika tersadar nanti. Aku tidak tahu harus menjawab apa jika sampai itu terjadi."


Setelah dirasa penampilannya jauh lebih segar dan tidak lagi kusut karena efek menangis, lalu berjalan keluar dan sekilas menatap ke arah putranya. Kini, ia tidak lagi duduk di dekat kursi sebelah ranjang perawatan putranya karena kini memilih di sofa di sudut sebelah kanan."


"Bahkan kamu sudah menjadwal untuk memberikan kejutan pada Diandra. Tapi tidak pernah bisa melakukannya karena mengalami kecelakaan. Mama akan menjadi penggantimu untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya dengan memberikan hadiah tidak terlupakan." Ia sangat hafal dengan hari ulang tahun Diandra karena mengetahuinya dari ponsel putranya.


Hal itulah yang membuatnya menyuruh orang untuk mengakhiri nyawa Diandra tepat di hari ulang tahunnya nanti. Kini, ia tengah mencari hadiah yang tepat untuk Diandra dieksekusi.


Bahkan juga memesan kue ulang tahun agar dikirimkan ke rumah Diandra. Hingga beberapa saat kemudian menemukan sebuah hadiah yang sangat cocok untuk wanita yang dibencinya tersebut.


"Sepertinya ini adalah hadiah yang sangat cocok untuknya. Baiklah, aku akan memesan ini dan harus diantarkan sebelum Diandra kukirim ke neraka." Kemudian mulai memesan dan mentransfer uang sebagai pembayaran barang yang dibelinya.


Ia mengirimkan hadiah berupa kain putih dan batu nisan ke alamat Diandra agar bisa dengan mudah digunakan di hari itu juga. "Bukankah aku sangat baik hati padamu, Diandra?"


"Jika aku bisa menyiapkan tanah untuk kuburanmu nanti, pasti akan jauh lebih baik, tapi sepertinya pria berengsek itu tidak akan mau menggunakannya atau menerimanya untuk makammu." Ia saat ini tersenyum menyeringai kalau memikirkan rencananya berhasil.


"Rasanya aku sudah tidak sabar ingin melihat bagaimana ekspresi wajah pria itu saat melihatmu mati. Dia akan jauh lebih menderita daripada dirimu. Hal yang paling menyakitkan adalah melihat orang yang dicintai mati." Ia kini menatap ke arah layar ponsel miliknya yang sudah berhasil memesan kain putih serta batu nisan.


"Kita mulai menghitung sekarang. Ini adalah hari keenam sebelum kematianmu, Diandra." Merasa sangat yakin jika rencananya akan berhasil, ia pun kini kembali memasukkan ponsel putranya ke dalam tas.


Kemudian bangkit berdiri dari sofa dan berjalan menghampiri putranya Karena memang tadi sengaja menjauh agar perkataannya tidak didengar. Kini, ia ingin terjaga sampai putranya tersadar dengan membuka mata.

__ADS_1


"Aku ingin menjadi orang yang pertama kali kamu lihat agar mengetahui bagaimana perjuangan Mama yang tertatih-tatih sendirian saat kamu tidak sadarkan diri. Seandainya bisa membalas dendam pada perbuatanmu karena telah membuat Mama seperti ini, tapi tidak mungkin melakukannya karena mengetahui bagaimana rasanya."


Ia berpikir bahwa putranya akan jauh lebih menderita jika melihatnya tidak berdaya setiap hari. Apalagi setelah menyadari sudah bukan lagi berstatus sebagai suami dari Diandra, tapi ia akan berusaha menjelaskan jika nanti rahasia terbongkar.


Tidak bosan mengajak putranya berbicara agar segera sadar dan membuatnya lega, Asmita Cempaka bahkan tidak memperdulikan keadaan dirinya yang seharian ini tidak nafsu makan.


Satu-satunya hal yang ingin dilakukannya hanyalah ingin segera putranya sadar, baru ia akan makan sebanyak yang diinginkan. Namun, 1 jam kemudian sadar jika ia sangat lelah dan perutnya keroncongan.


Namun, masih berusaha menahan karena berpikir putranya selama ini juga tidak makan karena hanya mendapatkan asupan dari selang.


Hanya satu hari tidak masalah," ucapnya yang saat ini memilih untuk meneguk minuman untuk menipu rasa lapar di perutnya.


Menganggap air bisa mengganjal rasa lapar memanglah sebuah hal konyol menurutnya, tapi ia benar-benar sangat malas dan tidak berselera untuk makan.


Bahkan ia sampai beberapa kali menguap ketika menunggu putranya dalam suasana penuh keheningan dananya ada suara dari layar monitor yang menjadi penopang hidup pasien.


Hingga suara notifikasi terdengar dan membuatnya langsung mengecek siapa yang mengirimkan pesan. Begitu membaca pesan yang tak lain adalah dari Austin Matteo, ia hanya tersenyum menyeringai dan puas, tapi sama sekali tidak berniat untuk menanggapi dan hanya membaca saja.


Aku sudah memberikan namamu pada para polisi sebagai tersangka utama pengiriman teror. Jika berani melakukannya lagi, aku tidak akan segan-segan mau menjebloskanmu ke penjara.


Ia merasa yakin jika Austin Matteo sama sekali tidak mempunyai bukti dan hanya menggertaknya saja agar tidak terus mengirimkan teror berupa foto Diandra yang bersimbah darah.


Hingga ia pun kini berpikir bahwa Austin Matteo takut padanya dan beralih mengancamnya sebagai pertahanan diri. "Kita lihat saja siapa yang paling kuat di sini."


Tanpa merasa takut pada ancaman, kini ia kembali mengirim pesan pada orang yang disuruhnya agar tidak ketahuan ataupun tertangkap.


Meskipun mengetahui bahwa orang yang disuruhnya tersebut tidak akan menyebutkan namanya karena sudah dibayar mahal, tetap saja tidak akan merasa puas jika rencana yang disusun matang-matang gagal karena sebuah kecerobohan.


Ia tadinya berniat untuk membuat Diandra mengalami kecelakaan, tapi kini berubah pikiran karena mendapatkan sebuah ide cemerlang saat melakukan eksekusi wanita itu.


"Membiarkan wanita itu kehabisan oksigen ketika disekap di salah satu gudang kosong yang dibakar secara sengaja, jauh lebih menarik daripada kecelakaan yang sudah pernah dialaminya." Ia bahkan kini sudah membayangkan bagaimana ekspresi wajah Diandra ketika meminta tolong dan tidak ada yang mau menolongnya.


"Dengan alasan konsleting listrik hingga memicu api, akan membuat tubuh Diandra seperti kambing guling ketika dilalap api." Merasa harus memberitahu orang suruhannya, kini ia mulai mengetik pesan.


Kemudian membaca ulang sebelum dikirimkan. Setelah merasa tugasnya untuk berencana membalaskan dendam putranya telah selesai, kini beralih memikirkan masa depan bersama dengan putranya.


Ia menatap ke arah putranya yang masih menutup kelopak mata tersebut. "Kita tinggal di sini saja agar kamu tidak mengingat tentang kenangan pahit di Jakarta."


"Mama rencana untuk membuka usaha di sini dan kamu tetap menjadi konsultan yang ada di perusahaan-perusahaan hebat di kota ini. Mama yakin jika kamu akan jauh lebih sukses daripada di Jakarta." Ia sebenarnya berpikir tidak akan selamanya berada di London jika rencananya berhasil.


Namun, masih belum tahu juga putranya akan merasa betah tinggal di negara yang identik dengan salju dan pastinya sangat dingin ketika musimnya.

__ADS_1


"Semoga kamu betah dan memutuskan untuk menetap di sini agar hidup kita jauh lebih damai tanpa memikirkan tentang masa lalu yang menyakitkan," ucapnya sambil mengusap lembut lengan kekar putranya.


To be continued...


__ADS_2