
Satu bulan sudah Diandra bekerja di perusahaan sebagai akuntan dan benar saja selama bekerja, ada banyak hal janggal yang membuatnya beberapa kali menangkap dana yang digelapkan dan mengumpulkan seluruh bukti untuk menyingkirkan beberapa orang yang berusaha untuk berbuat curang.
Ia hari ini sudah berhasil mengumpulkan semua bukti yang akan ditunjukkan ketika meeting hari ini. Meskipun ada beberapa orang yang memusuhinya karena bisa bekerja di perusahaan melalui orang dalam.
Namun, Diandra sama sekali tidak peduli dan tetap fokus pada pekerjaannya karena sudah mendapatkan amanat dari pemilik perusahaan untuk membasmi orang-orang yang menggelapkan dana perusahaan.
Diandra baru saja selesai menyiapkan semua berkas serta file yang menjadi bukti orang-orang yang melakukan penggelapan dana perusahaan, mendengar suara dering ponsel miliknya.
Ia melihat jika yang menghubungi adalah pria paruh baya pemilik perusahaan dan langsung mengangkatnya.
"Iya, Tuan Emran." Diandra menunggu pemimpin perusahaan berbicara.
"Apa meeting hari ini benar-benar untuk menyingkirkan orang-orang tidak bertanggung jawab itu?" tanya Emran untuk memastikan langkah apa yang akan diambil hari ini.
Diandra tidak membuang waktu untuk menjelaskan. "Iya, Tuan Emran. Semuanya sudah saya persiapkan, tapi ada sesuatu yang akan membuat Anda terkejut nantinya."
Sementara itu, Diandra yang masih merahasiakan nama beberapa orang dari pemilik perusahaan, merasa tidak enak karena setelah ia selidiki, ada satu nama yang menjadi dalang dibalik semuanya.
'Tuan Emran pasti akan merasa sangat kecewa begitu mengetahui bahwa yang menjadi dalang dibalik penggelapan uang adalah adik iparnya sendiri. Aku bahkan akan membukanya di depan para staf perusahaan ketika meeting.'
Sementara itu, di seberang telepon, Emran hanya diam menunggu penjelasan Diandra karena sejujurnya ia sudah mengetahui lama mengenai perbuatan adik istrinya yang selalu saja menyusahkan dan mengambil keuntungan dari perusahaan.
Namun, tidak ingin membuat sang istri merasa terluka ataupun bisa jadi terkena serangan jantung dan pastinya akan berakibat fatal.
Akan tetapi, setelah sang istri mengungkapkan keinginan saat menyuruh Diandra, sehingga membuatnya berpikir jika sang istri pasti akan menerima dengan lapang dada jika terbukti adik sendiri yang berbuat curang.
"Lebih baik kita bicarakan nanti di ruangan meeting agar semua orang mengetahui siapa yang menjadi dalang penggelapan dana perusahaan. Aku tunggu kamu di sana, Diandra."
Kemudian langsung mematikan sambungan telpon dan bersiap untuk keluar dari ruangan.
Di sisi lain, Diandra langsung bangkit dari kursi kerjanya dan membawa bukti-bukti yang sudah dikumpulkan. Kemudian berjalan keluar dari ruangan menuju ke lantai dua, di mana ruangan meeting berada.
__ADS_1
Ia kini berjalan menuju ke arah lift dan masuk ke dalam sambil menatap angka digital yang bergerak. Hingga beberapa saat kemudian pintu kotak besi tersebut terbuka dan langsung melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah ruangan yang berada di sebelah pojok kanan.
Hingga ia pun kini langsung masuk ke dalam ruangan meeting dengan pintu terbuka lebar dan beberapa orang sudah duduk di tempat masing-masing.
Bahkan ia juga sudah melihat pria paruh baya yang tadi menelponnya berada di sana dan membuatnya membungkuk hormat sebelum duduk di kursi.
Beberapa orang mulai berdatangan dan meeting pun dimulai setelah kursi dipenuhi oleh para staf. Kemudian orang yang memimpin meeting kini berdiri di depan dan membahas mengenai laporan perkembangan penjualan tahun ini meningkat tajam, tapi mengalami penurunan keuntungan.
Kemudian Emran menatap ke arah Diandra sebelum berbicara. Ia sebuah kode agar wanita itu bersiap setelah ia mengungkapkan semua.
Begitu melihat Diandra menganggukkan kepala sebagai tanda mengerti, kini ia mulai bangkit berdiri dari posisinya. Emran menatap ke arah semua staf perusahaan yang berada di ruangan meeting.
"Jadi, intinya kalian sudah mendengar apa yang disampaikan oleh Ardi tadi bahwa perusahaan mengalami masalah besar yang besar kemungkinan jika dibiarkan akan membuat bangkrut dan berakhir memecat para pekerja. Sebelum itu terjadi, aku harus menghentikan semuanya dan kali ini mendapatkan sebuah bukti."
Kemudian Emran bisa melihat semua orang yang ada di ruangan itu saling berbicara lirik dan menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi. Hingga ruangan yang tadinya sunyi tersebut dipenuhi oleh suara dari orang-orang.
Hingga ia pun kini kembali melanjutkan penjelasan. "Jadi, sudah ada bukti-bukti dari kecurangan yang dilakukan oleh beberapa orang-orang tidak bertanggung jawab."
"Silakan jelaskan semuanya, Diandra karena kamu yang selama satu bulan ini menjadi akuntan terpercaya di perusahaan." Emran saat ini bisa melihat raut wajah dari adik iparnya seperti ketakutan.
Namun, ia sama sekali tidak peduli karena sudah cukup lama mentolerir perbuatan dari iparnya tersebut karena terus memikirkan perasaan sang istri yang mungkin akan merasa malu jika mengungkapkan semuanya.
Diandra saat ini sudah bangkit berdiri dari tempatnya dan berjalan menuju ke arah depan dengan membawa laptop dan layar proyektor akan menunjukkan semua bukti-bukti yang dikumpulkan. Ia pun mengucapkan salam untuk menyapa sebelum memulai semuanya.
"Terima kasih, Presdir karena mempercayakan tugas berat ini pada saya. Tapi saya sangat beruntung bisa ikut andil untuk menyelesaikan masalah yang dialami oleh perusahaan." Kemudian mulai membuka laptop dan menunjukkan mengenai laporan perusahaan yang semakin menurun.
"Jadi, semuanya bisa melihat kaya mengenai kemerosotan pencapaian nominal keuntungan di perusahaan tidak sesuai dengan penjualan yang meningkat tajam." Lalu Diandra seketika menunjukkan bukti-bukti yang dikumpulkan.
Bahkan seketika semua orang membulatkan mata begitu melihat nominal sejumlah uang mencurigakan yang ditransfer ke rekening pribadi.
"Bahkan ini bisa dibilang adalah pencucian uang untuk menghilangkan jejak agar tidak ketahuan, tapi sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Serapat-rapatnya bangkai ditutupi, pasti akan tercium juga."
__ADS_1
"Begitu pun dengan masalah penggelapan dana perusahaan, sudah dilakukan oleh tuan Vino dengan menggunakan beberapa rekening dari orang lain dan semua buktinya ada di file ini." Diandra pun mulai menunjukkan bukti yang dikumpulkan selama satu bulan ini.
Hingga suara riuh rendah dari semua orang mewakili perasaan mereka semua dan menatap tajam ke arah sosok pria yang terlihat kebingungan di tempatnya.
"Ini semua bohong! Wanita yang baru bekerja satu bulan di sini itu memalsukan data agar bisa menyingkirkanku untuk merebut hati iparku!" Vino kini bangkit berdiri dari posisinya dan berjalan mendekati sosok wanita yang ingin diberikan pelajaran.
Sementara itu, Diandra yang sama sekali tidak takut pada saudara ipar pemilik perusahaan karena berpikir jika ia jujur dan sama sekali tidak melakukan kesalahan yang dituduhkan.
'Dasar saudara tidak tahu diri. Bisa-bisanya menuduhku dengan memutarbalikkan fakta,' gumam Diandra yang kini tiba-tiba merasakan pusing di kepala.
Ia kini mengerjapkan mata beberapa kali saat pandangannya lama-kelamaan kabur dan tidak jelas menatap ke arah pria yang melakukan penggelapan dana perusahaan itu.
"Kepalaku," lirih Diandra yang kini memegangi pelipis, lama-kelamaan kehilangan kesadaran dan lunglai di lantai.
"Diandra!" teriak Emran yang saat ini berjalan menuju ke arah wanita yang tiba-tiba pingsan sebelum mendapatkan tamparan dari iparnya yang tadi langsung ditahan oleh beberapa staf lain.
Sementara para staf perusahaan mendadak heboh melihat pemandangan itu dan berdiri dari tempat masing-masing.
"Cepat tolong bawa Diandra ke mobil agar segera dilarikan ke Rumah Sakit!" Emran yang tidak mungkin kuat menggendong sendiri Diandra, karena sudah terlalu tua.
Hingga salah satu pria berusia 30 tahunan berinisiatif untuk mengangkat tubuh lemah Diandra dan membawanya keluar dari ruangan meeting menuju ke parkiran.
Emran yang kini menatap tajam ke arah iparnya, berhenti sejenak untuk memberikan sebuah ultimatum. "Kau harus mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu di kantor polisi karena aku sudah terlalu lama memberikanmu kesempatan untuk berubah."
Kemudian meninggalkan iparnya yang masih ditahan oleh dua staf perusahaan agar tidak sampai menyakiti Diandra.
Tanpa mendengarkan suara teriakan dari adik istrinya, Emran melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu keluar dan langsung menyusul pekerjanya yang tadi menggendong Diandra.
"Ya Allah, apa yang sebenarnya terjadi pada Diandra? Kenapa ia tiba-tiba pingsan? Bahkan aku sama sekali tidak menyadari jika wajahnya sangat pucat." Emran yang beberapa saat kemudian sudah tiba di parkiran, kini melihat salah satu stafnya tadi sudah menurunkan Diandra di kursi belakang.
Emran pun kini langsung menyuruh pria itu menuju ke rumah sakit setelah ia duduk di kursi depan.
__ADS_1
To be continued...