
"Kak, jangan membuat masalah lagi!" sahut sang adik yang tadi berjalan di belakang kakak perempuan dan merasa harus menghentikan perbuatan yang dilandasi emosi tersebut.
Apalagi berpikir bahwa sang kakak seperti sangat kekanak-kanakan karena selalu menyalahkan siapapun yang berhubungan dengan Diandra.
Bahkan meskipun Yoshi adalah keponakannya dan mengalami nasib buruk saat kecelakaan, tidak pernah menghina atau menyalahkan Diandra yang menjadi penyebab utama atas kemalangan tersebut.
Beberapa saat kemudian, mendengar suara bariton dari pria paruh baya yang diketahui adalah seorang pengusaha sukses dan sangat terkenal di kota, sehingga masih berusaha untuk mendampingi sang kakak perempuan.
Malik Matteo yang tadinya menyuruh putranya tidak melayani sikap kekanakan dari Asmita Cempaka, kini menoleh ke arah wanita paruh baya tersebut begitu melihat Austin masuk ke dalam ruangan perawatan.
"Tolong jaga sikap dan juga mulut Anda, Nyonya! Sekali lagi Anda menyalahkan Diandra dan menyebut sebagai seorang wanita pembawa sial, aku tidak akan tinggal diam. Bahkan bisa menuntut dengan tuduhan pencemaran nama baik!"
Tak lupa sang istri pun ikut menyahut karena tadi ingin sekali menampar wanita yang hampir saja melayangkan pukulan pada wajah putranya.
"Jangan berpikir keluarga Narendra akan diam saja saat Anda berbuat sesuka hati untuk melampiaskan kesedihan atas musibah yang dialami putra Anda. Di sini, semua orang juga merasakan hal sama. Jadi, jangan berpikir bahwa hanya Anda yang sedang mengalami musibah!"
Sebenarnya ada banyak hal yang ingin diungkapkan untuk membuat ibu dari suami Diandra itu segera menyadari kesalahan, tapi berpikir bahwa itu hanya akan memperlihatkan kebodohan karena sibuk membenarkan diri dengan orang yang tengah dikuasai oleh kesedihan.
Percuma, mungkin itu yang saat ini diyakini dan tidak ingin berdebat panjang lebar. Namun, merasa lega karena bisa menghentikan ulah wanita yang hendak menampar putranya.
Sementara itu, Asmita Cempaka sama sekali tidak takut atas ancaman dari pasangan suami istri tersebut. Bahkan saat ini hanya tertawa terbahak-bahak.
"Apa kalian pikir aku akan takut pada ancaman konyol itu?"
"Kami tidak bermaksud untuk mengancam, tapi hanya ingin melindungi putra dan wanita yang dicintai agar tidak mendapatkan masalah dari Anda. Jadi, Anda harus bisa memahami semua sebelum berkomentar." Malik Matteo saat ini menoleh ke arah beberapa perawat yang berhenti mendorong brankar begitu melihat perdebatan mereka.
"Lebih baik Anda fokus pada kesembuhan putra, daripada sibuk menyalahkan orang lain. Lihatlah! Kasihan Yoshi jika harus menunggu ulah sang ibu yang egois karena lebih mementingkan emosi."
Tentu saja semua orang termasuk Asmita Cempaka langsung menatap ke arah yang ditunjuk oleh tangan pria paruh baya tersebut.
Kemudian suara salah satu perawat pria bersuara untuk menghentikan aksi perdebatan tersebut. "Tolong jangan buat keributan di rumah sakit. Kasihan pasien harus menunggu terlalu lama dengan pertikaian ini."
Sebenarnya Asmita Cempaka masih belum puas untuk membuat perhitungan dengan siapapun orang yang berhubungan dengan Diandra, tapi karena merasa tertampar dengan perkataan dari perawat, sehingga memilih untuk segera pergi.
Meskipun saat berjalan melalui pasangan suami istri tersebut, mengungkapkan kalimat bernada ejekan. "Kalian akan menyesal karena telah menerima Diandra sebagai calon menantu!"
__ADS_1
"Saat itu terjadi, kalian akan mengingat jika apa yang kukatakan benar dan penyesalan di belakang tidak akan berguna!" Kemudian melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah para perawat yang sedang menunggu.
Tanpa menoleh ke arah belakang lagi, kini ia menatap ke arah putranya yang masih belum sadar, tapi dokter mengatakan jika bisa dibawa ke luar negeri dengan dibantu alat-alat kesehatan yang menopang selama dalam perjalanan.
Disusul sang adik laki-laki yang masih membawakan beberapa barang. Hari ini mereka langsung terbang ke luar negeri dengan pengawasan satu dokter dan dua perawat, sehingga bisa membantu selama dalam perjalanan.
Bahkan sengaja mengeluarkan banyak uang untuk menyewa pesawat pribadi menuju rumah sakit terbaik di luar negeri. Berharap setelah melakukan apapun untuk putranya, akan segera sembuh.
"Kita berangkat sekarang karena aku tidak ingin membuat putraku terlalu lama menunggu," ucapnya yang kini menatap wajah putranya dan menyesali perbuatan barusan.
Kemudian para perawat kembali mendorong brankar menuju mobil yang akan langsung membawa ke bandara.
Sementara di sisi lain, orang tua Austin masih tidak mengalihkan pandangan dari seorang ibu yang sangat terluka karena melihat putranya mengalami sebuah kemalangan luar biasa.
Hingga beberapa saat kemudian, Malik Matteo menoleh ke arah sang istri begitu mendengar suara wanita itu.
"Aku bisa merasakan seperti apa perasaan wanita itu yang benar-benar sangat hancur saat melihat satu-satunya putra mengalami kecelakaan. Seperti aku dulu ketika merawat Austin."
"Iya, aku sebenarnya tahu bagaimana rasanya melihat putra mengalami kecelakaan. Pasti ingin menukar posisi. Hal yang selalu dipikirkan oleh para orang tua saat melihat anak mengalami hal-hal yang menakutkan adalah ingin bertukar posisi."
Saat Malik Matteo baru saja selesai berbicara, melihat putranya baru saja keluar dari ruangan perawatan bersama dengan Aksa dan juga ayah Diandra.
"Apa wanita itu sudah menyadari kesalahan, hingga pergi, Ma?" tanya Austin yang saat ini tengah menggendong putranya.
Tadi setelah sang ayah menyuruh pergi menghindar dari ibu Yoshi, kesusahan untuk merayu putranya yang ingin tidur di sebelah sang ibu dan tidak ingin pulang ke apartemen bersama sang kakek.
Nasib baik putranya sangat penurut ketika sang nenek berbicara secara perlahan untuk merayu agar mau diajak pulang, sehingga merasa lega dan akhirnya bisa menggendong putranya.
Sementara itu, sang ibu yang langsung menganggukkan kepala dan tersenyum begitu melihat sang cucu kesayangan.
"Wanita itu sangat terpukul dengan keadaan putranya. Mama bisa mengerti bagaimana perasaan seorang ibu ketika melihat putra satu-satunya tengah berjuang melawan maut. Jadi, jangan menyalahkan."
"Tadi, Mama marah karena ingin melindungi putra sendiri yang sama sekali tidak bersalah, tapi ikut terkena imbas dari sikap putus asa wanita itu."
Austin yang sebenarnya sangat marah karena Diandra dihina wanita pembawa sial, kini tidak menyalahkan lagi sosok ibu dari Yoshi. Akhirnya hanya menganggukkan kepala.
__ADS_1
"Baiklah, Ma. Aku mengerti bagaimana perasaan seorang ibu yang sangat takut jika putranya meninggal."
Malik Matteo yang kini menatap ke arah sosok pria paruh baya di hadapannya, mengulurkan tangan. "Tadi kita belum sempat berbicara karena begitu melihatku, putrimu langsung shock hingga sakit kepala."
Ayah Diandra kini tersenyum simpul dan menjabat tangan. "Maafkan putriku."
"Justru aku yang harusnya meminta maaf," sahut Malik Matteo yang kini menoleh ke arah putranya. "Pulanglah dulu bersama cucuku. Aku akan berbicara dengan orang tua Diandra untuk masalah keputusan kalian menikah."
Saat Austin tadinya berpikir akan pulang bersama calon ayah mertua, tetapi karena perkataan dari sang ayah, sehingga berpikir macam-macam. Khawatir jika sang ayah berbicara sesuatu yang bisa menyinggung perasaan calon ayah mertua.
"Tidak, aku juga harus ada jika Papa ingin membahas mengenai masalah hubungan kami." Austin bahkan enggan beranjak dari tempat berdiri karena sangat penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh sang ayah.
"Kami akan berbicara sebagai sesama orang tua. Jadi, lebih baik kamu ajak Aksa pulang. Tenang saja karena Papa tidak akan pernah membuat kesalahan sama untuk kedua kali." Malik Matteo kini menepuk pundak kokoh putranya untuk meyakinkan bahwa tidak ada hal buruk yang akan terjadi.
Sementara itu, ayah Diandra yang ingin menenangkan perasaan khawatir dari calon menantu, kini menganggukkan kepala tanda persetujuan.
"Pulanglah dulu. Aku pun ingin berbicara dengan orang tuamu untuk mengungkapkan keluh kesah. Apalagi saat ini, posisi putriku yang sedang tidak baik-baik saja, membuat kami ingin membahas mengenai hal ini. Ada hal yang perlu dibahas para orang tua mengenai putra-putri."
Ia pun mengusap lengan kekar itu dan beralih mencium pipi putih cucu laki-laki yang akan menjadi penerus di keluarga Matteo.
"Percaya pada orang tuamu dan jangan berpikir macam-macam. Sekarang ajak cucuku yang tampan ini pulang karena sepertinya sudah sangat lelah." Ayah Diandra ikut menimpali perkataan ayah Austin.
Meskipun berat hati, tetapi akhirnya Austin tidak punya pilihan lain dan akhirnya memilih untuk patuh pada perintah para orang tua. Meskipun sebenarnya di dalam hati merasa sangat penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh para orang tua tersebut.
"Baiklah. Aku yakin jika tidak akan ada masalah yang terjadi saat aku dan Diandra sudah sama-sama yakin dengan keputusan kami untuk menikah."
Kemudian mencium punggung tangan orang tua dan calon ayah mertua, lalu berlalu pergi bersama Aksa dengan menyusuri lorong rumah sakit.
'Aku harap tidak ada masalah atau perdebatan antara orang tuaku dan orang tua Diandra. Jika itu sampai terjadi, aku mungkin akan membawa Diandra pergi jauh agar kami bisa hidup bahagia selamanya,' gumam Austin yang kini sudah tiba di parkiran dan langsung masuk ke dalam mobil begitu menurunkan putranya di kursi depan.
Hingga menolehkan kepala begitu mendengar suara bariton dari seseorang.
"Austin!"
To be continued...
__ADS_1