
Diandra saat ini hanya bisa meremas salah satu sisi pakaian yang dikenakan. Meskipun ia sangat muak dengan perbuatan dari sosok pria yang saat ini berbuat intim padanya, tapi tidak bisa berbuat apapun demi bisa meminjam uang.
'Sabar, Diandra. Hanya sentuhan kecil dan sama sekali tidak berarti apa-apa. Lagipula sama sekali tidak kurang apapun karena hanya sepele seperti ini.'
Diandra mencoba untuk menahan diri agar tidak mengungkapkan kekesalan saat ini dengan mengulas senyuman tipis dan menoleh ke arah sebelah kanan.
Saat ia hendak membuka mulut, mendengar suara bariton dari dua pria yang sama sekali tidak dikenal karena memang belum dikenalkan. Jadi, tidak tahu siapa nama dua pria yang sedang dilayani oleh empat wanita dan membuatnya jijik.
Bahkan suara tepuk tangan dari dua pria itu hanya ditanggapi oleh Diandra dengan tersenyum masam.
"Wah ... wah, jadi ini wanita luar biasa yang menaklukkan hati seorang Austin? Ternyata sangat berbeda dengan para kekasihmu dulu, Bro," ucap Oscar yang melirik sekilas ke arah Patrick dan dijawab dengan sebuah anggukan.
"Iya, benar." Patrick kini bangkit berdiri dan berjalan mendekati sosok wanita yang ada di sebelah sahabatnya dengan mengulurkan tangan. "Patrick. Senang bisa bertemu wanita sehebat dirimu."
Awalnya Diandra ingin mengangkat tangannya untuk menjabat sebagai salam perkenalan karena berpikir itu adalah sebuah bentuk saling menghormati.
Meskipun sebenarnya tidak sesuai dengan kemauannya, tapi terpaksa harus melakukan hal yang sama sekali tidak disukai. Namun, semua diurungkan begitu melihat ulah pria di sebelahnya yang tak lain adalah Austin.
"Sudah, jangan cari kesempatan dengan pegang-pegang atas nama berkenalan!" sarkas Austin yang kini menepuk tangan Patrick agar tidak menggantung di udara.
Sementara itu, Patrick yang merasa malu di hadapan wanita yang kini seolah menertawakannya. Bahkan juga suara tawa dari Mirza dan Oscar membuatnya merasa sangat kesal.
"Sialan! Cuma berkenalan saja tidak boleh. Posesif amat, Bro." Kemudian kembali ke tempat duduk dengan wajah masam dan beralih menatap dua wanita seksi di kanan kirinya.
"Tanganku mendadak pegal. Pijat dan ambilkan minumannya!" Patrick lebih memilih meluapkan pada dua wanita yang melayaninya tanpa memperdulikan apapun lagi.
"Siap, Tuan." Jawaban serempak baru disampaikan oleh dua wanita yang kini saling berbagi tugas.
Sementara Patrick kini hanya bisa mengungkapkan di dalam hati. 'Ternyata wanita incaran Austin sangat manis dan sepertinya masih polos. Hanya dengan melihat cara berpakaian saja sudah bisa ditebak seperti apa wanita itu.'
Diandra yang hanya diam dari tadi membuat Austin bisa melihat ketidaknyamanan wanita yang ingin dikerjainya.
"Posesif itu sangat penting dalam sebuah hubungan, Bro dan level masing-masing orang beda. Jadi, saat aku menunjukkan sikap posesif pada wanita, itu berarti dialah pemenangnya."
Kemudian ia menoleh ke arah Diandra. "Menurutmu bagaimana, Sayang? Aku benar, kan?"
__ADS_1
Diandra hanya mengangguk perlahan sambil tersenyum manis, tapi dalam hati tengah mengumpat.
'Benar gundulmu!' sarkas Diandra yang hanya bisa berbicara di dalam hati karena tidak mungkin jika mengumpat di hadapan Austin.
"Maafkan aku karena tadi hanya sedang kesal dan akhirnya keceplosan meminta putus." Akhirnya Diandra merasa sangat lega karena bisa berakting mengikuti alur yang diciptakan oleh pria dengan iris tajam berkilat tersebut.
Austin hanya terkekeh geli mendengar itu dan kini meraih ponsel miliknya begitu mendengar suara notifikasi dan ia langsung membalasnya.
Notifikasi dari seseorang yang ia suruh mengantarkan kue ulang tahun dan langsung menyuruhnya masuk.
Hingga beberapa saat kemudian melihat seorang pria berseragam putih dengan jaket kulit hitam menentang kotak cukup besar.
"Pesanan Anda sudah datang, Tuan Austin," ucap pria yang sudah membungkuk hormat pada semua orang yang berada di dalam ruangan.
"Letakkan saja di sana!" Austin kini langsung menatap ke arah Mirza. "Surprise! Aku yakin jika kau tidak akan memesan kue di hari ulang tahunmu. Jadi, aku yang memesannya."
Mirza yang tadinya mencari-cari kue ulang tahun ketika tiba, kini mengerti dengan kejutan palsu dari sahabatnya tersebut.
"Terima kasih, Bro," ucap Mirza yang kini tengah berjalan menuju ke arah meja demi bisa membuka kotak kue ulang tahun.
"Biar Oscar yang melakukannya. Mana mungkin yang ulang tahun menyalakan lilin sendiri." Austin yang menyerahkan korek api pada Oscar, berharap bisa langsung bergerak.
Hingga ia pun mendengar suara wanita yang dianggapnya sedang mencari tahu kebenarannya.
"Aku pikir tadi suasananya tidak seperti ini. Bahwa dokter Mirza yang ulang tahun akan mengundang banyak teman-temannya."
"Namun, ternyata berbanding terbalik dengan apa yang kupikirkan." Diandra kini berbicara untuk mengungkapkan apa yang dirasakan demi mencari tahu penyebabnya.
Hingga ia terdiam kala yang menjawab adalah Mirza dan membuatnya merasa semakin kesal.
"Aku hari ini hanya ingin bersenang-senang dengan merayakannya bersama tiga teman terbaikku, tapi karena mengingat pertemuan kita tadi, aku jadi ingin Austin mengajakmu."
Austin kini menuangkan minuman non alkohol dan memberikan pada Diandra sambil tersenyum. "Mungkin jika ada banyak yang diundang, aku tidak akan datang. Apalagi mengajakmu, itu tidak mungkin."
Refleks Oscar yang tengah membuka kotak kue ulang tahun tersebut menyahut. "Teman kami ini adalah pria yang tidak suka memamerkan pasangan pada banyak orang."
__ADS_1
"Kecuali kalian," sahut Diandra yang ingin merubah kebenaran dari perkataan pria yang belum memperkenalkan diri seperti Patrick.
Mengingat hal itu, ia tersenyum simpul karena berhasil skak mat kata-kata tersebut. Namun, ia benar-benar tidak bisa berpikir baik kala merasakan Austin berbisik padanya.
"Mereka sahabat baikku dan kami tidak akan pernah terpisahkan sampai kapan pun. Jadi, mengajakmu ke sini adalah sebuah hal terbaik." Austin kini menatap ke arah kue ulang tahun yang malah tidak ada lilinnya.
"Sepertinya mereka lupa memberikan lilinnya. Sepertinya aku harus mengajukan komplain."
"Sudah biarkan saja. Mungkin orangnya banyak pikiran, sehingga lupa. Berdoa saja tanpa lilin karena itu jauh lebih penting dari sekedar tiup lilin."
"Iya, kamu benar, Diandra. Kalau begitu, aku akan berdoa untuk kebahagiaan kita semua yang ada di sini saja, agar tidak ada kesedihan yang menimpa." Kemudian Mirza membuka kedua tangan untuk berdoa di dalam hati.
Meskipun itu hanyalah sebuah kepalsuan yang ditunjukkan demi sandiwara seorang casanova yang tidak insyaf juga.
Saat seorang wanita yang saat ini menjadi korban keegoisan dari temannya, jujur saja Mirza selama ini sama sekali tidak peduli.
Namun, ia merasakan hal yang berbeda kala melihat Diandra. Wanita sederhana yang bahkan berpenampilan sangat tertutup karena tidak mengenakan pakaian seksi dan itu malah menimbulkan aura tersendiri yang menurutnya malah semakin cantik.
'Malang sekali nasib Diandra. Semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk di kemudian hari karena ulah seorang Austin.'
Acara berdoa telah selesai dan Mirza langsung memotong kue dan hal yang menjadi semua orang menunggu.
"Potongan pertama akan kau berikan pada siapa, Bro?" tanya Austin yang saat ini merasa sangat percaya diri jika dialah orangnya.
Namun yang terjadi malah sebaliknya karena Mirza langsung menyerahkan pada Diandra.
"Ini untukmu."
Refleks Diandra mengangguk perlahan dan ia mengangkat tangan untuk menerima kue dari Mirza. "Terima kasih."
Namun, baru saja ia menutup mulut, sangat terkejut atas perbuatan Austin yang langsung merebutnya.
"Kekasihku tidak boleh menerima potongan kue pertama, jadi aku yang akan menikmatinya," seru Austin yang kini langsung melahap kue tart tersebut
To be continued...
__ADS_1