
"Selamat pagi, Om." Yoshi yang sudah mengenakan setelan jas rapi yang tadi dibawakan oleh salah satu pekerja dari butik langganan sang ibu, mengulurkan tangan begitu melihat pria paruh baya yang baru datang bersama dengan istri dan putrinya.
Ia sebenarnya sangat hancur perasaannya, tapi berusaha untuk berakting seperti mempelai pria yang bahagia karena akan menikahi seorang wanita cantik dan memiliki profesi sangat baik itu.
Namun, meskipun sosok wanita yang saat ini sudah memakai kebaya putih itu, tetap tidak membuatnya merasa tertarik karena saat ini yang ada di pikirannya hanyalah Diandra dan Diandra.
Sosok wanita yang telah mencuri hatinya dan sempat merasa yakin jika ialah yang akan menjadi suami wanita malang itu.
"Pagi. Ternyata kamu jauh lebih ganteng dari foto yang ditunjukkan papamu." Melirik ke arah putrinya yang terlihat tersenyum simpul seolah merasa malu ketika calon suaminya dipuji.
"Sayang, kenalan dulu dengan calon suamimu." Memberikan sebuah kode menggerakkan daun dagu.
Sekarang itu, wanita dengan kebaya putih yang sudah dirias sangat cantik tersebut menganggukkan kepala dan langsung mengulurkan tangannya pada pria yang akan menjadi suaminya tersebut.
"Aku yakin pasti kamu sudah sangat dapat dengan namaku karena akan kamu ucapkan pada kalimat ijab qobul. Senang bertemu denganmu Yoshi Zaidan Narendra." Rosalia tidak bisa bertele-tele ataupun bersikap malu-malu seperti layaknya remaja saat bertemu dengan seorang pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
Apalagi ia adalah seorang wanita dewasa yang tidak suka bermanja-manja dengan seorang pria karena menjadi independen dengan value tinggi.
Jadi, merasa sangat serasi menjadi seorang istri dari pria dengan jam terbang tinggi seperti Yoshi Zaidan Narendra.
Sementara itu, Yoshi saat ini tersenyum simpul ketika menjabat tangan Rosalia." Iya, aku sudah menghafalnya hari ini. Senang bertemu denganmu juga, Rosalia Syahnaz Imran."
Yoshi masih belum terbiasa memanggil wanita di hadapannya tersebut sebagai calon istri karena jujur saja ketika mengingat Diandra, selalu merasa bersalah menggerogoti hatinya.
Ia akui bahwa wanita yang akan dinikahinya tersebut memiliki paras cantik dengan tubuh seksi serta karir yang sukses.
Namun, semua kenyamanan yang didapatkan dari Diandra tidak bisa mengalihkan rasa cintanya dengan melihat semua kesempurnaan calon istrinya tersebut.
Apalagi ia mengetahui bahwa seorang wanita independen dan mandiri karena memiliki karir sukses, tidak mudah untuk ditaklukkan dan lebih egois. Apalagi hanya dengan mendengar nada bicara dari wanita di hadapannya tersebut sudah membuatnya yakin.
Jika rumah tangganya tidak akan bisa hangat seperti yang diimpikan jika menikah dengan Diandra yang sangat penyayang serta lemah dan membuatnya ingin selalu melindungi wanita itu.
'Aku tidak tahu apa reaksinya jika mengatakan bahwa mencintai wanita lain. Pasti ia akan langsung mengambil apapun yang ada di sekitar untuk menghancurkan kepalaku,' gumam Yoshi yang saat ini berpikir bahwa calon istrinya tersebut bisa dibilang sangat arogan.
__ADS_1
Interaksi dari pria dan wanita yang memakai gaun pengantin tersebut membuat para orang tua hanya geleng-geleng kepala, tapi sama sekali
tidak berkomentar apapun karena sadar jika itu adalah hal yang wajar dilakukan oleh para orang dewasa.
Bukan lagi gadis remaja yang bucin karena cinta dan selalu mengungkapkan kalimat-kalimat romantis. Namun, selalu hancur hanya dengan satu masalah, yaitu faktor ekonomi.
"Kalian ternyata sangat lucu dan pasti akan menjadi pasangan romantis setelah menikah," ucap Asmita Cempaka yang sekilas melirik ke arah sang suami. "Lihatlah, Sayang."
"Putra kebanggaanmu sebentar lagi akan menikah dan khusus menuruti permohonanmu. Jadi, kamu harus sembuh untuk melihat mereka memberikan cucu pada keluarga kita."
Asmita Cempaka kini mengusap lengan sang suami yang juga merasa sangat bahagia meski masih pucat dengan memakai selang oksigen.
"Iya, kamu harus segera sembuh dan melihat cucu-cucu yang akan meramaikan rumah keluarga kita. Aku pun tidak akan mengalah darimu saat memperebutkan cucu." Ferdinand Imran saat ini berakting tertawa untuk memberikan semangat pada sahabatnya agar merasa yakin bisa sembuh.
Sementara itu, Patrick saat ini ingin berbicara dengan jelas dan membuka sebentar selang oksigen. "Aku pasti akan sembuh dan bisa melihat cucu-cucuku."
Semua orang yang ada di ruangan tersebut merasa terharu mendengarnya dan di saat bersamaan suara ketukan pintu terdengar.
Awalnya semua orang berpikir jika yang datang adalah penghulu yang akan menikahkan, tapi ternyata ada seorang pria berjalan masuk dan membuat mereka heran karena tidak mengenal siapa.
Austin? Kenapa pria berengsek sepertinya datang ke sini? Apa ia mengetahui semua yang terjadi padaku dan sengaja datang untuk mengejek karena merasa mempunyai kuasa untuk merebut Diandra?' gumam Yoshi yang saat ini pikirannya sudah melanglang buana pada sosok wanita yang sangat dicintai.
Bahkan ia sangat khawatir jika Diandra sudah mengetahui apa yang terjadi padanya dari pria yang sangat dibencinya tersebut.
'Tidak! adalah tidak mungkin mengetahui bahwa hari ini aku akan menikah dengan Rosalia. Apalagi semalam kami baru saja saling mengirimkan kabar dan berbicara panjang lebar tanpa menyinggung masalah ini.'
Meskipun batin Yoshi menolak untuk membenarkan pemikiran buruknya, tapi keraguan telah merongrong hatinya begitu melihat raut wajah penuh seringai dari pria yang saat ini membungkuk hormat sebelum menyapa.
"Selamat pagi, semuanya," ucap Austin yang saat ini mengulas senyuman ketika menyapa semua orang yang menatapnya heran dan bisa dimakluminya.
"Saya Austin Matteo dan merupakan sahabat baik dari Yoshi yang sengaja datang untuk melihat pernikahan." Kemudian ia tidak membuang waktu langsung berjalan mendekati Yoshi memeluk erat sambil berbisik di dekat daun telinga pria itu.
"Happy wedding, Brother. Semoga kehidupan kalian akan selalu berbahagia setelah menjalin menikah yang segera dikaruniai momongan." Austin tidak didengar oleh orang lain yang ada di ruangan tersebut.
__ADS_1
"Oh ya, aku nanti akan mengirimkan undangan saat menikah dengan Diandra. Jadi, kamu harus datang. Kemarin aku sudah membicarakan masalah pernikahan dengannya di apartemen sekaligus mengatakan kabar baik pernikahanmu padanya."
"Ia menitipkan salam karena tidak bisa datang menghadiri pernikahan yang mendadak. Katanya, semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah dan hanya maut yang bisa memisahkan kalian." Kemudian Austin melepaskan pelukan karena Yoshi sama sekali tidak menanggapi.
Ia bisa melihat raut wajah yang tadinya biasa sudah berubah memerah dan tahu bahwa Yoshi saat ini benar-benar murka padanya, melakukan apapun. hal sangat senang karena berhasil mengalahkan pria yang tadinya bersikap sombong padanya karena dicintai oleh Diandra.
Karena tidak ingin semakin memantik api amarah dari calon pengantin pria, kini Austin seketika berjabat tangan dengan semua orang yang ada di sana sebagai bentuk penghormatan karena telah datang tanpa pemberitahuan dan juga tidak diundang.
Berbeda dengan Yoshi yang saat ini hanya bisa mengepalkan tangan kanan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Ia saat ini seketika memikirkan bagaimana perasaan Diandra yang pastinya akan sangat terluka karena ia tidak bisa menepati janji dan malah menikah dengan wanita lain.
'Sialan! Ternyata benar apa yang kupikirkan saat ini begitu melihat senyum jahat dari pria berengsek ini. Diandra, bagaimana keadaannya saat ini? Aku harus menghubunginya, tapi bagaimana caranya saat ada banyak orang di sini,' gumam Austin yang saat ini merasa bingung harus melakukan apa.
Apalagi tidak mungkin beralasan konyol untuk keluar sebentar saat ada semua orang di dalam ruangan, termasuk Austin yang sangat dibencinya yang telah berakting menjadi teman baik, padahal faktanya adalah musuh besarnya.
Saat semua orang fokus berbicara pada Austin yang memperkenalkan diri, berbeda dengan sesuatu yang ada di dalam otak seorang Rosalia. Ia dari tadi mengamati interaksi antara dua pria itu dan membuatnya merasa curiga jika ada yang tidak beres.
'Apa yang sebenarnya terjadi pada Yoshi dan pria itu? Austin Matteo adalah pebisnis hebat yang sering muncul di televisi dan memberikan banyak mentor pada para pengusaha muda. Aku sama sekali tidak menyangka jika Yoshi pun mengenalnya.'
Karena tidak ingin diliputi oleh rasa penasaran yang mendarah daging di dalam dirinya, seketika Rosalia membuka suara, "Aku sangat senang sekali bisa bertemu dengan tuan Austin Matteo yang sangat terkenal dan sering menjadi puncak semangat para pebisnis muda."
"Sebuah penghormatan bisa mengenal Anda." Mengulurkan tangannya dan saat ini memikirkan tentang sesuatu hal yang membuatnya tidak bisa lagi menghilangkan rasa penasaran. "Apakah ada hal lain yang membuat Anda datang?"
Austin yang dari tadi tidak berhenti tersenyum karena hari ini benar-benar sangat bahagia dan puas melihat kehancuran seorang pria yang berani melawannya, kini menganggukkan kepala untuk menceritakan tentang sesuatu yang tadi diucapkan lirih pada Yoshi.
"Iya, kebetulan sekali aku pun sebentar lagi akan menikah dan ingin kamu serta Yoshi datang. Nanti aku akan mengirimkan undangan resminya dan berharap kalian bisa datang bersama." Saat Austin baru saja menutup mulut, ia menoleh ke arah Yoshi dan mengetahui apa yang akan dilakukan oleh pria itu.
"Aku ingin keluar sebentar karena merasa gugup akan dilakukan ijab qabul. Sekalian memeriksa apakah penghulu sudah tiba atau belum." Kemudian beralih menatap ke arah Austin karena tidak ingin dicurigai oleh keluarga.
"Aku ingin berbicara empat mata denganmu. Ikutlah denganku!" Kemudian ia melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu keluar tanpa memperdulikan siapapun yang belum memberikan tanggapan.
Karena tidak ingin lama-lama berada di rumah sakit karena hanya memberikan sebuah shock terapi pada Yoshi, kini Austin berpamitan pada semua orang untuk berjalan keluar mengekor pria yang baru saja menghilang di balik pintu.
'Apa Yoshi akan menghajarku untuk meluapkan amarah karena aku sudah mengatakan pada Diandra mengenai pernikahannya? Aku tidak akan tinggal diam jika sampai dia berani menyentuh aset berhargaku,' gumam Austin yang saat ini membuka pintu dan berjalan keluar, benar apa yang dipikirkan karena wajahnya seketika mendapatkan tinju dari tangan mengepal milik Yoshi.
__ADS_1
"Berengsek! Kau benar-benar iblis berkepala manusia, Austin Matteo! Semoga suatu saat nanti hidupmu berakhir di neraka!" sarkas Yoshi yang saat ini tengah meluapkan amarah tanpa pikir panjang begitu melihat pria yang telah menghancurkan masa depan Diandra dan juga menyakiti dengan memberikan kabar mengenai pernikahannya.
To be continued...