
Malik Matteo yang berhadapan dengan orang tua Diandra, kini menceritakan tentang semua hal yang dulu dilakukan di masa lalu. Mengenai perbuatan dulu saat menjodohkan Austin meskipun sudah mengetahui jika putranya merenggut kesucian Diandra dan sekarang berharap pasangan suami istri paruh baya di hadapannya mau memaafkan kesalahan yang pernah dilakukan.
"Sebelum hubungan kita berlanjut ke jenjang yang lebih dekat karena keputusan dari anak-anak kita, aku tidak ingin ada rahasia atau hal buruk yang kusembunyikan. Jadi, ingin kalian mau memaafkan kesalahanku di masa lalu."
Sementara itu, sang istri hanya diam karena tidak ingin mengacaukan permohonan tulus dari sang suami. 'Demi putranya, seorang ayah rela untuk melakukan segalanya, termasuk merendahkan diri dengan memohon maaf.'
Saat ini, orang tua Diandra saling bersitatap begitu mendengar cerita tentang masa lalu putrinya.
Hingga ia yang merasa bingung untuk berkomentar, kini beralih menatap ke arah putrinya di atas ranjang perawatan. "Kami bahkan sebagai orang tua sama sekali tidak mengetahui apapun tentang penderitaan Diandra."
"Orang tua macam apa yang bahkan tidak tahu jika putrinya hamil dan melahirkan tanpa suami. Diandra adalah putri kami yang sangat luar biasa karena selalu memikirkan perasaan orang tua tanpa memperdulikan batin tersiksa dan terluka."
Semua orang kini mengalihkan perhatian pada sosok wanita yang sudah tenang karena tadi diberikan obat tidur oleh dokter yang menangani.
"Putriku memang adalah seorang wanita yang hebat dan sangat kuat karena dari awal sampai akhir, tidak ingin menyusahkan orang tua. Bahkan mengatakan tidak ingin kami menanggung malu jika sampai kembali ke kampung halaman saat hamil tanpa suami." Sang ibu berbicara sambil berlinang air mata.
Tidak kuasa menahan kesedihan saat mengingat penderitaan putrinya, sehingga berpikir jika saat ini berharap bisa hidup bahagia karena bersedia untuk menerima Austin yang mengungkapkan niat baik untuk menikahi saat kondisi Diandra tidak baik.
"Kami akan melakukan apapun untuk membuat Diandra bahagia. Jadi, sepertinya kami tidak ingin mempersulit keadaan dengan mempermasalahkan mengenai kejadian di masa lalu."
Jika beberapa saat lalu ayah Diandra tidak tahu harus menanggapi seperti apa karena sebenarnya merasa sangat marah karena putrinya sempat menjadi korban keegoisan orang tua yang hanya memandang kasta, tapi begitu mendapatkan pencerahan dari sang istri, seolah kekesalan seketika pudar.
"Biarkan putra-putri kita menemukan kebahagiaan mulai sekarang. Jadi, aku akan memaafkan perbuatanmu yang telah menyakiti hati putriku di masa lalu."
Kemudian ia mengulurkan tangan ketika memutuskan untuk berdamai dengan kenyataan dan berharap keputusan hari ini benar. Bahwa putrinya akan menemukan kebahagiaan setelah menikah dengan Austin karena kemalangan yang dialami ketika harus menjadi janda di hari pertama menikah, membuatnya merasa tidak tega.
Bahkan berharap ingatan putrinya tidak kembali agar bisa selamanya hidup bahagia dengan suami dan anak laki-laki.
Tanpa berpikir ataupun ragu, kini Malik Matteo langsung menjabat tangan pria yang sepantaran dengannya tersebut. "Terima kasih karena mau memaafkan kesalahanku pada Diandra di masa lalu."
"Aku berjanji akan menebus semua dosa yang kulakukan dengan menerima Diandra sebagai menantu perempuan di keluarga Matteo dan menganggap seperti putri kandung sendiri. Bahkan akan memastikan kebahagiaannya begitu menikah dengan Austin."
Melihat ketulusan dari Malik Matteo, kini ayah Diandra tersenyum simpul dan menepuk bahu kokoh itu setelah berpelukan sejenak.
"Aku percaya padamu karena seorang pria hebat dan bermartabat tidak akan mengingkari janji."
__ADS_1
Melihat suami sudah berhubungan baik dengan calon besan, kini ibu Austin ingin membahas mengenai rencananya. "Kalau begitu, lebih baik kita bahas mengenai pernikahan."
"Tadi aku sempat mengatakan jika pernikahan dilakukan setelah Diandra berobat ke luar negeri, tapi setelah kupikirkan, sepertinya tidak mungkin melakukan hal itu."
Tentu saja perkataan dari wanita itu seketika membuat tiga orang tersebut menatapnya. Karena tidak ingin menimbulkan kesalahpahaman, sehingga langsung mengatakan hal yang dipikirkan.
"Jika nanti Austin dan Diandra ke luar negeri, pasti akan tinggal bersama, bukan? Jadi, akan lebih baik jika mereka sudah sah menjadi suami istri. Austin akan merawat Diandra dengan baik karena sudah menjadi suami."
Kemudian menatap ke arah orang tua Diandra. "Kalian harus menjaga Diandra di sini, jadi Aksa tidak perlu ikut ke luar negeri karena itu hanya akan membuat tidak fokus ketika terapi. Kami juga akan membantu mengurus Aksa saat Diandra dan Austin berada di luar negeri. Menurut kalian bagaimana?"
Saat mengingat status Diandra, orang tuanya saat ini sama-sama memikirkan mengenai status putri mereka.
"Dibutuhkan waktu untuk menunggu proses perceraian selesai," ucap ibu Diandra yang sebenarnya tidak mempermasalahkan ide dari ibu Austin.
"Mengenai masalah itu, biar kami yang mengurus, agar proses lebih cepat." Malik Matteo yang mempunyai kenalan di pengadilan dan berencana untuk meminta bantuan.
Sementara itu, berbeda dengan sesuatu yang dipikirkan oleh ayah Diandra kala menatap ke arah putrinya yang tidak berdaya di atas ranjang. " Jadi, Diandra dan Austin akan menikah sebelum berangkat ke luar negeri untuk berobat?"
"Iya. Apa kamu merasa keberatan?" tanya ibu Austin yang kini mengerutkan kening begitu menjawab pertanyaan.
"Apalagi jika sampai ada para wartawan yang meliput dan pastinya akan bertanya banyak hal pada putri kami, itu akan berisiko." Ia kini mengalihkan pandangan dari putrinya pada orang tua Austin.
Berharap mereka setuju pada perkataannya demi kebaikan Diandra yang rawan dalam masalah syaraf.
"Tentu saja aku mengerti itu dan akan mengurus semuanya." Malik Matteo memang berencana untuk tidak mempublikasikan pernikahan putranya karena memang keadaan yang memaksa untuk menyembunyikan kabar baik itu.
Meskipun sebenarnya di dalam hati terdalam ingin merayakan pernikahan putra satu-satunya tersebut, tapi menyadari jika itu akan sangat berisiko. Kemudian beralih menatap ke arah sang suami yang memang tadi belum diberitahu mengenai idenya tersebut.
"Kalau menurutmu, bagaimana Sayang?"
"Tentu saja aku sama sekali tidak keberatan karena sangat yakin jika Austin akan bahagia begitu mendengar pernikahan akan dilangsungkan begitu mendengar kabar ini." Malik Matteo yang ingin melihat wajah bahagia putranya, langsung setuju atas apapun keputusan sang istri.
Tidak ingin melihat putranya selalu menderita karena tersiksa karena mencintai Diandra, sehingga langsung setuju tanpa banyak protes.
"Baiklah. Jadi, kita sudah sepakat untuk menikahkan putra-putri kita dalam waktu dekat setelah Diandra sah menjadi seorang janda." Ia mengakhiri pembicaraan begitu semua orang menganggukkan kepala sebagai persetujuan.
__ADS_1
****
Satu bulan kemudian...
Sosok pria yang saat ini baru saja keluar dari pengadilan bersama dengan calon mertuanya, terlihat sama-sama berbinar begitu hari ini proses perceraian Diandra dan Yoshi selesai.
Tadinya ayah Diandra hendak pergi bersama sang istri untuk mendengarkan putusan hakim mengenai gugatan cerai dari pihak Yoshi pada putrinya, tetapi calon menantu bersikeras untuk mengantar.
Hingga ia merasa sangat lega karena sekarang putrinya telah terbebas dari status palsu yang serasa merantai kebebasan. Bahkan ada banyak wartawan yang datang untuk meminta penjelasan, tapi sama sekali tidak ditanggapi.
Itu karena dua pihak keluarga sama-sama tidak ingin membuka aib masing-masing demi kebaikan bersama. Apalagi keluarga pihak Yoshi hanya diwakili oleh sang paman yang hanya mengatakan singkat jika sedang berobat di luar negeri.
"Syukurlah semuanya sudah beres sekarang, jadi aku bisa segera menikahi Diandra, Ayah," ucap Austin yang bahkan sudah membayangkan menjadi suami sah dari sosok wanita yang dari dulu sangat dicintai.
Austin berbicara sambil menatap ke arah para wartawan yang berkerumun untuk meminta penjelasan dari kedua belah pihak.
"Sepertinya harus seperti biasa, Ayah. Kita harus pergi sendiri-sendiri dan kutunggu di persimpangan jalan."
Ayah Diandra kini menganggukkan kepala tanda setuju dan telah mengerti mengenai hal yang biasa dilakukan saat harus menghindar dari para awak media.
Kemudian berjalan menuju ke arah berlawanan dari para wartawan yang berkerumun karena hendak naik ojek online dan berhasil melakukan itu. Hingga beberapa saat kemudian merasa sangat lega begitu turun di persimpangan jalan dan menunggu calon menantu.
Namun, mendengar suara dering ponsel dan langsung menjawab panggilan telpon dengan menggeser tombol hijau ke atas.
"Halo."
"Ayah di mana? Kenapa pergi dari tadi tidak pulang-pulang? Apa Ayah tersesat?" tanya Diandra yang dari tadi menunggu sang ayah membawakan pesanan.
Sementara itu, sang ayah yang melupakan pesanan Diandra seketika menepuk jidat.
'Hampir saja aku lupa,' gumamnya di dalam hati dan di saat bersamaan, melihat mobil Austin baru berhenti di dekat tempat berdiri.
"Putriku, Ayah sedang sedang berada di toko untuk membelikan pesananmu," ucapnya yang kini berharap Diandra percaya pada kebohongannya.
Sementara itu, Austin baru saja keluar dari mobil dan membuka pintu untuk calon ayah mertua yang terlihat tengah menjawab telpon dan memberikan kode untuk bertanya.
__ADS_1
To be continued...