
Austin yang kemarin menerima telpon dari detektif mengenai perkembangan Yoshi yang ternyata memanggil Diandra hingga histeris, akhirnya memutuskan untuk segera pergi ke London demi memastikan sendiri.
Mengalami pengalaman buruk kehilangan wanita yang sangat dicintai, membuatnya berpikir harus menyelesaikan masalah sebelum berkembang. Jadi, langsung pergi ke London dengan alasan mendadak ada bisnis penting.
Dengan berbohong pada sang istri, Austin merasa sangat lega karena wanita itu sudah tidak lagi mencurigai apapun yang dilakukan. Jadi, tidak dilarang dengan banyak pertanyaan, tapi malah mendapatkan dukungan penuh dan nasihat agar selalu menjaga kesehatan dengan makan teratur.
Ia memang langsung berangkat setelah mengantarkan ibu dan anak itu ke rumah. Tentu saja ia menunda untuk bertemu dengan orang tua teman sekolah putranya yang dibuat menangis karena mengejek sang istri cacat.
Kemudian berangkat ke London dengan pesawat pribadi dan menempuh perjalanan selama kurang lebih 17 jam.
Tanpa berniat untuk beristirahat di hotel, kini ia langsung mengatakan pada supir yang menjemputnya untuk mengantarkan ke rumah sakit. Tempat di mana pria yang dari dulu sangat tidak disukainya itu hampir saja merebut Diandra darinya.
Tanpa merasa lelah dan ingin segera melihat secara langsung mengenai keadaan Yoshi, jadi tidak sabar untuk mengungkapkan apa yang dipikirkan. Bahwa meskipun nanti Yoshi pulih, tidak akan membiarkan itu terjadi.
"Ini rumah sakitnya, Tuan," ucap sang supir yang beberapa saat kemudian telah tiba di area gedung tinggi menjulang yang menjadi rumah sakit terbaik.
Sementara itu, Austin yang tadinya memejamkan mata agar tidak terasa pedas karena tidak bisa tidur nyenyak selama dalam pesawat karena sebentar-sebentar terbangun.
Sebenarnya ia berencana untuk melanjutkan bulan madu, tapi tidak bisa melakukan itu karena lebih mengutamakan masa depan bersama dengan sang istri tanpa ada gangguan dari orang yang berhubungan dengan masa lalu di kemudian hari.
__ADS_1
"Jadi ini rumah sakitnya?" Austin menatap ke arah bangunan berwarna putih dengan banyak jendela kaca tersebut.
"Iya, Tuan." Sang supir yang baru saja melepaskan sabuk pengaman, beranjak membuka pintu mobil.
Niat sang supir adalah ingin segera membuka pintu mobil pria itu, tetapi gagal melakukannya karena penumpang sudah keluar.
Sementara itu, Austin saat ini sudah berdiri di dekat mobil dan menatap sang supir. "Aku tidak akan lama. Kamu tunggu saja di sini."
Tanpa menunggu jawaban dari sang supir, kini Austin berjalan menuju ke arah lobi rumah sakit dan bertanya pada resepsionis mengenai ruangan perawatan Yoshi.
Beberapa saat kemudian, sudah tiba di depan ruangan yang tadi dikatakan oleh salah satu staf di rumah sakit. Kemudian mengetuk pintu dan mulai berjalan masuk setelah membuka.
Pemandangan pertama yang menarik perhatian adalah seseorang yang terbaring telentang di atas ranjang perawatan tersebut. Bahkan ia bersitatap dengan Yoshi yang hanya terdiam dan membuatnya seperti berhadapan dengan orang lain.
"Aku seperti tidak mengenalimu, Yoshi." Austin saat ini sama sekali tidak memperdulikan wanita paruh baya yang duduk di kursi sebelah ranjang perawatan tersebut.
Jujur saja ia sudah muak dan rasa hormatnya telah hilang begitu melihat sikap wanita itu ketika menyalahkan Diandra yang bahkan tidak bersalah sama sekali.
Sementara itu, Asmita Cempaka yang merasa sangat marah karena melihat pria yang telah menjadi suami dari Diandra, kini tiba-tiba ada di depan mata, membuatnya berjalan menghalangi.
__ADS_1
"Pergilah! Dasar pria tidak tahu malu!" Ia mengarahkan tatapan tajam. Bahkan sampai menahan tubuh proporsional itu semakin mendekat.
Sementara itu, Austin yang masih fokus pada sosok wanita di hadapannya, tidak mengalihkan pandangan dari Yoshi. "Aku tidak lama berada di sini, Nyonya karena hanya ingin menjenguk mantan suami dari istriku."
Kemudian ia berlalu pergi ke arah sisi lain ranjang agar bisa berbicara dengan Yoshi. "Maafkan aku karena baru datang menjengukmu. Ada sesuatu yang ingin kusampaikan padamu."
Kini, Yoshi yang beberapa saat lalu kesusahan mengingat sosok pria di hadapannya, beberapa saat kemudian mulai tahu. Namun, seolah otak tidak sinkron dan seperti membuatnya tidak bisa berbicara apapun.
Saat ingin menyebut nama pria yang ada di hadapannya, tetapi tidak sinkron antara bibir dan otak, sehingga memanggil salah.
"Diandra ...."
"Aku datang karena ingin membicarakan tentang Diandra." Austin yang baru saja menutup mulut, kembali mendapatkan kemurkaan dari wanita yang langsung pergi keluar.
"Jangan bicara pada putraku!" Asmita Cempaka tidak akan pernah tinggal diam karena berpikir jika putranya akan drop jika mengetahui kenyataan sebenarnya mengenai Diandra. Kemudian menarik
Begitu berada di luar ruangan, Austin bertanya pada sosok wanita yang ada di hadapannya. "Apa yang sedang Anda lakukan, Nyonya?"
"Mengusir orang tidak diundang yang hanya akan menjadi benalu!" Ia mengempaskan tangan begitu sudah tidak dilihat oleh putranya.
__ADS_1
"Jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk pada putraku, aku akan membunuhmu!" sarkas Asmita Cempaka yang mengeluarkan taring karena melindungi putranya.
To be continued...