
Diandra dan Yoshi menikmati sarapan dalam diam dan beberapa saat kemudian, makanan di atas piring sudah berpindah semua ke dalam perut.
Saat ini, keduanya sama-sama meneguk air mineral yang tadi dipilih sebagai pelengkap setelah sarapan. Seolah keduanya tidak suka minuman manis setelah makan dan beberapa saat kemudian sama-sama membuka suara.
"Aku ...."
"Diandra!"
Hingga keduanya saling tertawa ketika berucap bersamaan. Bahkan saling bersitatap.
Karena memang ingin mengucapkan terima kasih secara langsung, Diandra kini membuka suaranya. "Aku benar-benar berterima kasih padamu karena telah membantu biaya operasi ayah."
"Aku sangat beruntung bisa bertemu orang sebaik kamu yang bahkan sama sekali tidak mengenalku, tapi tanpa ragu malah langsung mengirimkan uang dan sama sekali tidak memberitahuku." Diandra benar-benar ingin tahu seperti apa pria di hadapannya tersebut.
"Apa alasanmu saat mau membantuku? Bagaimana jika yang menelpon bukan ibuku, tapi seorang penipu? Lagipula di zaman sekarang ini banyak penipu yang bertebaran dan mencari cara untuk bisa mendapatkan uang dengan cara haram."
Bahkan saat ini Diandra tidak berkedip menatap intens wajah dengan rahang tegas yang memiliki bulu mata lentik seperti seorang wanita memakai bulu mata palsu.
Sementara itu, Yoshi hanya terkekeh geli dan tidak langsung menjawabnya karena ia pun punya sebuah pertanyaan dan ingin tahu mengenai sosok wanita yang tadi dilihatnya membawa koper.
"Apa kamu mau pergi jauh dari Jakarta?"
"Apa maksudmu?" Diandra memang sempat berpikir ingin meninggalkan Jakarta, tapi ia tidak tahu bagaimana bisa pria itu mengetahuinya.
'Apa ia adalah seorang pria yang memiliki kemampuan membaca pikiran orang?' gumam Diandra yang kini mengerutkan kening saat ingin mendengar jawaban dari Yoshi.
Hingga ia menyadari pemikirannya salah begitu mendengar suara bariton dari Yoshi yang membantah pemikirannya barusan.
"Kebetulan tadi aku melihatmu saat memasuki area rumah sakit. Jadi, saat melihatmu menitipkan koper di pos security, membuatku sangat penasaran."
Masih mencari jawaban dengan menatap manik kecoklatan Diandra, kini Yoshi mencoba untuk melihat kejujuran di sana. "Sampai kamu mengganti ponsel dan nomor lama sudah tidak aktif saat aku mencoba menghubungi tadi untuk memastikan. Apa kamu tengah menghindar dari seseorang?"
Diandra hanya diam karena semua pertanyaan itu membuat hatinya serasa ngilu dan sangat terluka. Ia benar-benar tidak tahu, apakah perlu menjawab pertanyaan yang tidak ingin dijawab.
Ia merasa bersalah jika tidak menjawab pertanyaan pria berhati malaikat yang sudah tidak diragukan lagi kebaikannya. Namun, jika menceritakan bahwa ia memang tengah kabur dari seorang bajingan, hanya akan membuatnya kembali terluka.
'Apa yang harus kukatakan pada Yoshi?' gumam Diandra yang kini merasa lega karena mendapatkan sebuah pencerahan begitu Yoshi menasihatinya.
"Baiklah, lupakan itu! Yang perlu kamu garis bawahi sekarang adalah apapun masalahmu, aku tidak keberatan untuk membantu. Jika kamu butuh bantuan, katakan saja. Saat aku bisa, pasti akan membantumu."
Yoshi menatap mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Kemudian bangkit berdiri dari kursi.
__ADS_1
"Ayo, aku akan mengantarmu ke ruangan Nauraku karena jam sembilan, aku ada janji dengan seseorang. Kamu bisa mengobrol dengannya karena ia ingin mengucapkan terima kasih secara langsung padamu."
Refleks Diandra mengikuti pergerakan pria itu dan berpikir bahwa waktu berlalu sangat cepat. Padahal ia masih belum puas berbicara dengan pria di hadapannya.
Entah mengapa ia merasa sangat nyaman berbicara dengan seorang Yoshi, tapi tidak mungkin mengungkapkan nada protes dan ia langsung membayar ke kasir.
Kini, ia berjalan di sebelah pria yang terlihat mengeluarkan ponsel dan berbicara pada seseorang di seberang telpon.
"Aku akan tiba 15 menit lagi. Kamu persiapkan semuanya dan tunggu aku di restoran!" Yoshi yang baru berbicara dengan asisten pribadinya, kini melirik ke arah Diandra yang dari tadi hanya diam mengikutinya.
"Maaf karena aku sok sibuk, sehingga harus pergi setelah mengantarkanmu ke ruangan Nauraku."
Refleks Diandra menggelengkan kepalanya dan ia merasa sangat penasaran dengan pekerjaan pria itu. "Anda bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang apa?"
"Business Consultant." Yoshi ingin tahu bagaimana respon dari Diandra dan kini ia sudah masuk ke dalam lift bersama wanita yang mulai berkomentar itu.
"Business Consultant itu menangani apa apa saja. Aaah ... lupakan saja dan tidak perlu dijawab." Diandra memang bodoh, tapi tidak ingin terlihat sangat bodoh di depan Yoshi.
Ia tadi merasa sangat senang karena pria itu menawarkan untuk membantunya, tapi ia masih bingung dan belum memutuskan harus bagaimana. Diandra masih perlu menenangkan diri karena saat ini tidak bisa berpikir jernih.
"Tugas dan Job Description seorang sepertiku adalah menilai serta menganalisis praktik dan prosedur bisnis."
"Mereka bahkan mempercayaiku bisa mengembangkan project plan untuk membantu bisnis dengan melakukan perubahan dan perbaikan dari sistem mereka. Kamu akan pusing jika mengetahui pekerjaanku."
Yoshi kini keluar dari lift dan langsung menunjuk ke arah salah satu ruangan begitu menyusuri koridor sepi itu karena memang ruangan terbaik di rumah sakit itu ada di lantai paling atas dan sepi dari hiruk pikuk orang.
"Ayo, masuk!" Yoshi kini membuka pintu setelah mengetuknya terlebih dahulu dan tersenyum pada keponakan serta wanita paruh baya yang tak lain adalah tantenya.
"Tante belum pulang ternyata." Kemudian memeluk serta mencium pipi kanan kiri waktu yang dianggap seperti ibunya sendiri itu.
"Tante baru mau pulang sebentar lagi karena menunggu pelayan yang akan menjaga Naura. Tumben kamu belum berangkat bekerja. Jam berapa ini?" Menatap ke arah sosok wanita yang datang dengan keponakannya. "Siapa wanita ini? Kekasihmu?"
Saat Diandra ingin memperkenalkan diri agar tidak terjadi kesalahpahaman, tidak jadi melakukannya saat wanita yang semalam ditolongnya mulai menguraikan kesalahpahaman dengan menjelaskan tentang kejadian kecelakaan.
Sementara ia seketika bersitatap dengan Yoshi yang hanya terkekeh geli dan tidak langsung membantah pemikiran wanita paruh baya tersebut.
Bahkan Diandra mengerucutkan bibir untuk mengungkapkan kekesalannya dan berbicara lirih. "Kenapa diam saja saat terjadi kesalahpahaman?"
"Tanteku selalu seperti itu. Biarkan saja. Lagipula Nauraku sudah menjelaskan," seru Yoshi yang saat ini tengah berjalan mendekati sepupunya.
"Bagaimana keadaanmu? Aku tidak bisa lama-lama di sini karna ada meeting dengan klien di restoran dekat rumah sakit ini. Kamu bisa mengobrol dengan Diandra dan jangan lupa ucapkan terima kasih padanya karena telah menyelamatkan nyawamu."
__ADS_1
Naura yang kini langsung tersenyum sambil jarinya membentuk sebuah simbol oke, kini beralih menatap ke arah wanita yang berdiri agak jauh darinya.
"Terima kasih karena sudah mau menjengukku setelah semalam menyelamatkan nyawaku." Naura kini membiarkan sang ibu yang langsung menghambur memeluk erat wanita yang telah menyelamatkannya.
"Terima kasih, Nak karena membawa putriku ke rumah sakit setelah kecelakaan. Tante benar-benar berhutang budi padamu." Wanita paruh baya itu merasa sangat senang bisa bertemu dengan Dewi penyelamat putrinya.
Jadi, ia tidak berhenti mengusap lembut punggung wanita muda itu.
Sementara itu, Diandra yang tadinya tidak mengira akan bertemu dengan ibu dari wanita itu, kini melihat Yoshi tersenyum padanya saat memberikan kode ingin pergi.
Diandra pun menganggukkan kepala dan menyahut agar wanita yang masih memeluknya dengan erat itu tidak berlebihan saat berterima kasih karena justru ia yang sangat berterima kasih bisa bertemu dengan keluarga Yoshi yang sangat baik.
"Tante, saya hanya melakukan sebuah hal kecil saja. Justru tuan Yoshi yang membantu saya."
"Oh ... mengenai perbuatan sepupuku yang mentransfer uang untuk biaya operasi ayahmu, ya? Jadi, benar jika itu bukan dari seorang penipu? Syukurlah kalau begitu?" ucap Naura yang kini melihat ibunya melepaskan pelukan dari wanita yang menyelamatkannya.
"Iya, ayahku terkena serangan jantung dan harus dioperasi karena dokter menyarankan. Sebenarnya kami hanyalah orang miskin yang mempunyai uang hanya untuk makan saja. Jadi, dari kemarin aku mencari pinjaman ke mana-mana, tapi belum bisa mendapatkan."
Diandra kembali merasakan sebuah penghiburan dari ibu dan anak itu dan membuatnya merasa sangat terharu bisa bertemu dengan orang-orang baik.
"Allah Maha baik. Saat kamu percaya pada pertolongan-Nya, pasti akan datang hal tidak terduga yang tidak masuk akal dan akhirnya ayahmu bisa diselamatkan melalui tangan keponakanku. Yoshi adalah seorang pria baik dan suka menolong."
Diandra merasa sangat terharu saat mengingat kebaikan seorang Yoshi, tapi itu sekaligus mengorek luka di hatinya dan membuatnya merasakan sakit luar biasa. Hingga bulir air mata mulai membasahi wajahnya dan ia buru-buru mengusap kasar untuk membersihkan.
"Tuan Yoshi memang sangat baik dan aku tadi benar-benar sangat berterima kasih padanya. Aku sangat beruntung bisa bertemu dengan orang-orang baik seperti kalian."
Ibu dan anak yang kini merasa tidak tega melihat wanita dengan wajah penuh kesedihan itu, kini berusaha untuk mengalihkan pembicaraan agar tidak ada suara tangisan menyayat hati memenuhi ruangan perawatan itu.
Saat Naura hendak membuka mulut, ia mendengar suara notifikasi dari ponsel miliknya dan membaca pesan dari sepupunya yang membuatnya mengerutkan kening.
Ajak Diandra mengobrol dari hati ke hati. Aku yakin jika ia sedang punya masalah. Jadi, coba cari tahu apa yang terjadi. Misalnya ia tinggal di mana dan bekerja di mana?
Kini, Naura membalas pesan itu melalui voice note dengan menjawab oke dan beralih menatap ke arah sosok wanita yang kini terlihat sangat mengenaskan karena efek menahan tangis.
"Jangan membebani dirimu dengan semua kebaikan Yoshi. Sepupuku ikhlas melakukannya. Oh ya, sekarang kamu tinggal di mana? Kamu bekerja atau masih kuliah? Duduklah, jangan berdiri terus."
Naura kini menyuruh sang ibu mengambil kursi untuk Diandra agar bisa berbicara panjang lebar dengan wanita itu sesuai dengan perintah sepupunya.
"Terima kasih, Tante." Diandra kini mendaratkan tubuhnya setelah diambilkan kursi dan mulai menceritakan bahwa saat ini tengah mencari tempat kos serta perusahaan untuk melamar kerja.
To be continued...
__ADS_1