
Diandra yang kini mengangguk perlahan karena mengakui bahwa semua yang dikatakan oleh pria di hadapannya tersebut memang benar adanya. Bahwa dalam bekerja, yang terpenting adalah rasa nyaman agar bisa bekerja dengan baik tanpa adanya sebuah tekanan yang bisa memicu stres.
Namun, faktanya tidaklah seperti itu karena banyak orang tidak memperdulikan tekanan yang didapatkan hingga stres demi bisa terus bekerja dan mendapatkan gaji daripada memilih menganggur dan malah tidak akan mendapatkan uang.
"Jika semua bos di perusahaan sepertimu, yang terjadi adalah para pekerja akan betah bekerja. Tidak akan ada gibahan khas pekerja saat membicarakan kebijakan di perusahaan. Oh ya, ada satu poin ponting, kamu akan menjadi pria idaman para staf wanita yang masih single."
Diandra terlihat sangat berbeda dari yang sebelumnya karena hari ini lebih banyak berbicara dari sebelumnya. Tentu saja melihat ada perkembangan dari wanita yang kini memalingkan wajah darinya karena ia tidak berkedip menatap dari tadi.
Karena tidak ingin Diandra merasa bingung karena tatapannya, kini Yoshi berakting tertawa. Itu karena ia merasa mendapatkan sebuah pujian. "Jika benar apa yang kamu katakan, aku tidak akan merana sampai sekarang."
"Karena aku sampai sekarang bahkan belum mempunyai kekasih." Sengaja Yoshi mengatakan statusnya karena ingin mendengar bagaimana tanggapan dari Diandra.
Berharap wanita itu menangkap maksudnya. Bahwa ia ingin mendapatkan perhatian dari wanita yang dianggapnya sangat pendiam dan menutup diri tersebut.
Hingga ia merasa tertampar karena tanggapan Diandra membuatnya tidak bisa berkata-kata.
"Jangan bilang jika kamu tengah mencari perhatianku karena aku tidak ingin menjalin hubungan dengan seorang pria. Meskipun pria itu memiliki kualifikasi sempurna dan menjadi idaman para wanita, aku tidak akan pernah tertarik untuk menjalin hubungan denganmu."
Jika dulu Diandra terpaksa menuruti perintah dari Austin dan akhirnya terjebak dalam masalah, kali ini ia jauh lebih berhati-hati. Ia memilih untuk menjaga jarak di awal sebelum ia kembali terjerat masalah.
Namun, ia tidak ingin dianggap terlalu percaya diri oleh pria yang bahkan sebenarnya tidak pantas membuatnya besar kepala saat berpikir seorang Yoshi tertarik padanya.
"Maaf karena aku terlalu percaya diri kamu tengah mencari perhatianku. Itu karena aku pernah merasakan bagaimana seorang bos terobsesi padaku. Semenjak saat itu, aku merasa bahwa seorang pria sama sepertinya."
__ADS_1
Tidak ingin memperpanjang pembicaraan dan merasa tubuhnya kedinginan, Diandra bangkit berdiri dari posisinya dan hendak berpamitan. Namun, suara bariton dari Yoshi membuatnya terdiam di tempat sambil menatap iris tajam berkilat itu.
"Kamu benar, Diandra dan aku pun sudah bisa membacanya dari semua gerak-gerikmu. Tapi, jangan menolak kebaikanku dengan menutup diri dan tidak menerima tawaranku untuk menjadi sekretaris pribadiku."
Yoshi sebenarnya ingin menahan pergelangan tangan Diandra agar tidak pergi, tapi khawatir dianggap kurang ajar karena tatapan wanita dengan perasaan terluka itu.
"Jangan menganggap semua pria itu buruk karena kamu pernah disakiti oleh satu pria. Aku sangat penasaran dengan pria berengsek itu dan jika mengetahuinya, mungkin akan langsung menghajarnya."
Yoshi masih ingin bicara lama dengan Diandra, jadi melakukan cara apapun untuk membuat wanita itu tetap tinggal dan tidak buru-buru kembali ke apartemen.
"Apa ia tidak ingat jika dilahirkan dari rahim seorang wanita saat menyakitimu?" seru Yoshi dengan wajah memerah ketika mengingat tentang sosok pria yang telah meninggalkan bekas luka di hati seorang Diandra.
Karena ia melihat Diandra kedinginan meskipun sudah memakai jaket, Yoshi segera bangkit berdiri dari posisinya. "Tunggu sebentar!"
Sementara itu, Diandra yang merasa lelah berdiri, kini mendaratkan tubuhnya kembali di kursi yang tersedia. "Mau ke mana dia? Kenapa melarangku pergi, tapi ia malah pergi meninggalkanku?"
Diandra yang tadi mengikuti arah pergi Yoshi dan menghilang di balik gelapnya malam setelah jauh, kini mengedarkan pandangan ke sekeliling. Nasib baik masih ada beberapa keluarga yang ada di taman dan tidak membuatnya khawatir jika ada orang berbuat jahat.
Hingga beberapa saat kemudian, kembali bisa melihat Yoshi membawa jaket tebal yang sudah dipastikan sangat hangat jika dipakai. Apalagi jaket itu berukuran besar dan tebal, pasti udara malam tidak akan bisa menembus kulitnya.
"Pakai ini dulu karena masih ada beberapa hal yang ingin kubicarakan denganmu." Yoshi kini mengulurkan jaket tebal yang dulu dibelinya di negeri ginseng dan selalu digunakan ketika keluar malam di taman.
Ia sering ke taman itu untuk melihat keluarga yang menghabiskan waktu dengan mengajak putra-putri di sana. Itu karena sering tidur di apartemen daripada di rumah.
__ADS_1
Karena orang tuanya sekarang lebih sering liburan di luar negeri semenjak menyerahkan perusahaan padanya. Yoshi merasa kesal saat melihat gelengan kepala dari Diandra.
"Tidak perlu karena aku sudah memakai jaket. Kamu pakai saja karena pasti kedinginan." Diandra menyesal karena tadi bibirnya bergetar saat kedinginan, sehingga bisa dibaca oleh Yoshi.
Hingga ia membulatkan kedua mata begitu melihat Yoshi berjalan menuju ke arahnya dan memakaikan jaket pada pundaknya.
"Pakai saja karena kulit pria lebih tebal dari seorang wanita," ucap Yoshi yang langsung kembali duduk di hadapan Diandra.
"Aku tidak tega melihat calon sekretarisku kedinginan. Anggap saja ini adalah kebaikan dari atasan pada bawahannya. Oh ya, aku tidak akan membuatmu merasa tidak nyaman dengan rasa ketertarikan yang kumiliki padamu."
"Anggap saja aku tidak punya rasa tertarik padamu," ucap Yoshi yang kini tersenyum simpul dan menunjuk ke arah ayam goreng yang belum sempat disentuh. "Daripada dibuang, nanti kamu bawa saja untuk dimakan besok."
Aneh, mungkin itu yang saat ini mewakili perasaan Diandra saat melihat seorang Yoshi yang dianggapnya merupakan kebalikan dari seorang Austin. Ia selalu merasa marah dan kesal ketika berhadapan dengan Austin.
Sementara ketika berhadapan dengan seorang Yoshi yang terlalu baik, selalu tidak enak dan merasa bersalah. "Tapi aku belum menerima tawaran untuk menjadi sekretarismu."
"Daripada kamu bengong di apartemen, bukankah lebih baik bekerja dengan mencari kesibukan agar tidak larut memikirkan masalah hidupmu?" Yoshi kali ini merasa yakin karena sama sekali tidak ada penolakan dari Diandra yang lebih menunjukkan sebuah keraguan.
Hingga ia pun mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya dan menyerahkan pada Diandra. "Pelajari itu sebentar. Jika kamu bisa, berarti cocok dan pantas menjadi sekretarisku."
Mau tidak mau, Diandra kini menerima kertas yang tadinya dilipat kecil itu dan membukanya. Di sana tertulis daftar pekerjaan seorang sekretaris pribadi yang perlu dikerjakannya dan mulai membacanya.
To be continued...
__ADS_1