Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Butuh waktu


__ADS_3

Satu minggu kejadian Diandra menyelamatkan beberapa anak yang terancam hampir kehilangan nyawa jika sampai tertimpa baner berukuran sangat besar dan membuatnya harus merelakan kepala bagian belakang dijahit.


Ia hari ini sudah benar-benar sudah pulih dan diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Kini, Diandra berada di kursi roda yang didorong oleh perawat.


Sementara sosok pria paruh baya yang selama ini sangat baik padanya, datang menjemput dan akan langsung membawa ke mes.


Sebenarnya ia merasa tidak enak pada pria paruh baya tersebut yang selama satu minggu ini datang ke rumah sakit untuk sekedar menyapanya atau mencari tahu bagaimana keadaannya.


Khawatir terjadi sesuatu hal yang buruk pada Diandra, Emran memang selalu datang ke rumah sakit untuk mengecek bagaimana kondisi wanita yang akan bekerja di kebun teh miliknya.


Hingga ia merasa sangat lega begitu mengetahui jika Diandra sudah sehat sepenuhnya. Kini, ia sengaja datang menjemput karena akan mengajak ke rumah terlebih dahulu.


Sang istri sudah masak banyak makanan untuk menyambut kepulangan Diandra dari rumah sakit.


Sementara sang cucu sudah kembali ke luar negeri bersama dengan orang tua. Jadi, kembali merasa kesepian karena cucunya sudah pulang.


Diandra mengucapkan terima kasih pada perawat yang mengantarnya dengan mendorong kursi roda dan begitu ia bangkit berdiri, langsung masuk ke dalam mobil.


"Anda sebenarnya tidak perlu repot-repot menjemputku, Tuan Emran. Saya benar-benar merasa tidak enak jika memiliki pos yang malah menjemput anak buahnya."


Diandra sangat khawatir jika ada kesalahpahaman dari persepsi beberapa orang yang melihat ia pergi dengan pria yang seumuran dengan ayahnya itu.


"Ini sudah menjadi tugasku untuk selalu berbuat baik pada orang yang baik sepertimu, Diandra. Oh ya, di rumah ada banyak bingkisan untukmu dan semuanya berasal dari para orang tua putra-putri yang kamu selamatkan."


Ia pun mengemudikan kendaraan meninggalkan area Rumah Sakit begitu pelayan masuk ke kursi belakang. Hingga ia pun ingin mengatakan sesuatu hal yang selama ini sangat mengganggunya.


"Apakah kamu sudah mengabarkan pada orang tuamu jika bekerja di kebun teh?" Emran mengetahui bahwa Diandra selama di rumah sakit tidak menghubungi siapapun.


Ia tahu dari Marni yang disuruhnya untuk menjaga Diandra. Hingga ia sampai sekarang tidak mendengar kabar mengenai orang tua wanita itu. Berpikir jika sosok Diandra selama ini pendiam dan jarang mengobrol, karena kurang perhatian orang tua.


"Aku berharap kamu memberitahu orang tuamu jika saat ini bekerja di kebun teh. Jadi, mereka merasa lega saat putrinya kembali bekerja." Emran khawatir jika Diandra adalah seorang putri yang kabur dari keluarga karena sedang memiliki masalah.


Namun, ia tidak enak bertanya beberapa hari yang lalu karena merasa belum terlalu dekat. Hingga hari ini menjadikan sebuah alasan untuk bertanya.


Apalagi melihat Diandra yang memiliki kulit putih serta penampilan seksi, pastinya ada banyak pria yang ingin menggodanya dan khawatir memilih untuk melarikan diri di area puncak karena mengalami masalah dengan seorang pria dan tidak berani pulang ke rumah.


Kini, Diandra tidak langsung menjawab karena tengah merancang sebuah kebohongan agar tidak dicurigai oleh pria di balik kemudi tersebut yang membahas mengenai orang tuanya.


"Belum, Tuan Emran. Saya berniat untuk memberitahu setelah nanti mengirimkan uang ketika mendapatkan gaji pertama saat bekerja. Saya berasal dari keluarga sederhana yang ada di Jawa. Orang tua bekerja sebagai guru yang mempunyai gaji kecil."


"Jadi, berniat untuk membantu perekonomian keluarga tanpa menceritakan bagaimana susahnya mencari pekerjaan." Diandra hanya sekilas menceritakan tentang orang tua dan berbohong jika ia akan mengirimkan uang kepada keluarga.


Apalagi sudah meninggalkan uang hasil menjual diri dan berpikir bahwa itu jauh lebih dari cukup untuk biaya sehari-hari serta pengobatan sang ayah.


"Oh ... baiklah kalau begitu. Nanti setelah gajian, kamu bisa langsung mengirimkan uang pada orang tuamu." Emran yang saat ini mengemudikan mobilnya menuju ke arah jalanan rumahnya. Beberapa saat kemudian berbelok dan memarkirkan kendaraan di halaman rumah.


"Ini adalah rumahku. Ayo, turun karena istriku sudah menyiapkan makanan untukmu sebagai penyambutan kedatangan Dewi penyelamat cucunya." Ia pun beranjak turun dari mobil dan melihat Diandra melakukan hal yang sama bersama dengan Marni.


Diandra saat ini merasa tidak ingat karena malah mendapatkan penyambutan yang dianggap sangat berlebihan. Tadinya ia berpikir jika akan langsung menuju ke mess karena pria paruh baya tersebut tidak mengatakan apapun mengenai sang istri.


"Tuan, saya benar-benar merasa tidak enak telah merepotkan istri Anda yang pastinya sudah memasak dan tidak bisa kutolak." Diandra yang baru saja berjalan di sebelah pria paruh baya tersebut, kini bisa melihat sosok wanita sedikit gemuk yang pernah dilihatnya karena memang tidak datang ke rumah sakit untuk menjenguknya.


"Selamat datang di gubukku yang kecil ini, Diandra. Aku benar-benar merasa tidak enak karena tidak bisa datang ke rumah sakit. Cucuku benar-benar sangat aktif, jadi tidak mungkin membawa ke rumah sakit. Kebetulan kemarin sudah kembali ke luar negeri bersama dengan orang tuanya."

__ADS_1


Sosok wanita paruh baya bernama Citra Gayatri tersebut menceritakan jika ia tidak memberitahu putrinya bahwa cucunya hampir saja tertimpa papan bandar.


Jika menceritakannya, khawatir tidak akan lagi diajak ke sini. Jadi, menyembunyikan sosok Diandra yang telah menyelamatkan cucunya, putrinya tidak mengucapkan terima kasih karena tidak tahu kenyataannya.


"Jadi, ceritanya seperti itu. Aku harap kamu maklum karena putriku tidak bisa mengucapkan terima kasih padamu. Duduklah," ujar Citra ya saat ini menatap ke atas sang suami.


"Apa mau makan sekarang? Makanan sudah tersaji di atas meja makan." Ia pun menatap ke arah pelayan pria yang membantu Marni membawa tas dan koper milik Diandra.


Tadi sang suami mengambil koper milik Diandra di hotel sebelum menjemput di rumah sakit.


"Jika semuanya sudah lapar, lebih baik langsung saja kita makan." Emran kebetulan juga sudah sangat lapar dan ingin segera menikmati masakan sang istri yang sangat lezat dan paling disukainya karena menjadi koki terbaiknya.


Citra pun begini bangkit berdiri dan mengajak Diandra ke belakang. "Semoga kamu suka dengan makanannya karena hanya seadanya saja. Ada beberapa bahan di kulkas dan kumasak hari ini untuk menyambut Dewi penyelamat cucuku."


Diandra yang dari tadi tidak banyak berbicara karena wanita paruh baya tersebut lebih banyak bercerita dan ia dengarkan dengan baik. "Saya suka makanan rumahan yang dimasak dengan penuh cinta dan kasih sayang."


"Apalagi masakan seorang ibu tidak ada duanya jika dibandingkan dengan makanan di restoran mewah bintang 5. Saya pernah makan makanan enak ketika bekerja dulu di salah satu perusahaan, ternyata tidak mengalahkan kelezatan masakan ibu sendiri."


Diandra mengingat saat Austin menyuruhnya memesan makanan di salah satu restoran. Ia yang mendapatkan jatah makan siang, merasa bahwa makanan di restoran tersebut tidak seenak masakan sang ibu, sangat lezat di hadapan Austin yang memiliki selera tinggi dalam hal makanan.


Emran sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Diandra. Jadi, begitu tiba di rumah makan yang dipenuhi oleh berbagai macam makanan di atas meja, sehingga wajahnya berubah berbinar.


"Kamu benar, Diandra. Masakan seorang istri dan juga ibu adalah paling nikmat. Lihatlah! Bahkan meja ini penuh dengan semua masakannya dan kamu harus mencoba satu persatu karena ia khusus memasak untukmu."


Emran tersenyum pada sang istri dan juga Diandra yang malah membulatkan mata karena merasa sangat terkejut dengan banyaknya makanan di atas meja.


"Kenapa Anda memasak sebanyak ini, Nyonya? Saya bahkan hanya akan makan sedikit sesuai dengan ukuran perut. Jadi, mana mungkin bisa mencicipi satu persatu makanan di atas meja yang sangat menggugah selera."


Bahkan saat cacing-cacing di perut Diandra seperti meminta jatah dan ingin segera diisi. Ia pun berpikir bahwa jika mencicipi semuanya, benar-benar akan penuh dan mungkin malah berakhir dengan rasa begah dan tidak nyaman.


"Tadi aku belum mengeluarkan beberapa hadiah yang dikirimkan oleh para orang tua padamu. Masih ada di kamar dan nanti bisa kamu lihat sendiri." Citra sebenarnya menyiapkan sebuah kejutan tanpa sepengetahuan dari sang suami.


Ia akan mengatakan jika nanti sudah selesai makan siang. "Ayo, cicipi masakanku. Kira-kira enak atau tidak."


Karena tidak ingin mengecewakan wanita yang duduk di sebelahnya tersebut, Diandra mulai mengambil piring dan saat berniat untuk mengisi dengan nasi, bukannya karena malah dilayani oleh pemilik rumah.


Jujur saja ia merasa sangat tidak enak dan sungkan karena malah dilayani oleh sang tuan rumah seperti layaknya tamu agung saja. 'Aku benar-benar merasa tidak pantas mendapatkan semua kebaikan ini.'


Diandra akhirnya membiarkan wanita itu mengisi dirinya dengan nasi dan juga beberapa lauk serta sayur. Hingga ia menara saliva dengan kasar begitu membayangkan makanan itu akan memenuhi perutnya.


"Sudah, Nyonya. Itu terlalu banyak dan khawatir aku tidak bisa menghabiskannya." Diandra benar-benar takut jika tidak menghabiskan makanan yang diambilkan oleh wanita itu, anggap tidak menghargai kebaikan pemilik rumah yang sudah repot-repot memasak.


'Sepertinya aku harus menghabiskan semua makanan diambilkan nyonya. Semoga kuat,' gumam Diandra yang saat ini mulai mengambil satu suapan makanan ke dalam mulut dan mengunyahnya perlahan.


Wajahnya seketika terlihat berbinar begitu merasakan kenikmatan luar biasa dari makanan yang dikunyah. "Masakan Nyonya benar-benar sangat lezat."


Bahkan Diandra sampai mengangkat dua ibu jarinya sambil mengunyah makanan. "Anda benar-benar seorang kopi yang handal, Nyonya karena bisa menghasilkan makanan seenak ini."


Diandra saat ini kembali menikmati makanannya dan beberapa saat kemudian seketika tersedak begitu mendengar apa yang tiba-tiba dibahas oleh wanita paruh baya tersebut dengan sang suami setelah tersenyum menanggapinya.


"Sayang, biarkan Diandra tinggal di sini karena ada beberapa kamar kosong. Aku pun meminta saran darimu untuk memperkerjakan Diandra sebagai salah satu staf di perusahaan milik kita. Aku yakin jika Diandra memiliki kemampuan untuk bekerja di perusahaan."


Karena merasa senang dengan pujian Diandra, kini Citra langsung mengungkapkan pada sang suami apa yang ada di kepalanya. "Bagaimana menurutmu?"

__ADS_1


"Tentu saja aku sama sekali tidak keberatan, Sayang. Hanya saja, kamu harus bertanya terlebih dahulu pada Diandra apakah mau atau tidak." Kini Emran melirik sekilas ke arah Diandra yang terlihat sangat terkejut,


sama sepertinya.


Ia menuju ke arah Diandra agar sang istri melihat ekspresi wajah wanita itu. "Lihatlah, Diandra bahkan sangat terkejut sepertiku karena tidak ada angin dan hujan, kamu memberikan sebuah ide cemerlang."


Kemudian ia membiarkan sang istri menjelaskan pada Diandra karena bisa berbicara dari hati ke hati.


"Bagaimana menurutmu, Diandra? Apakah kamu bersedia menerima tawaran dari istriku?" tanya Emran yang saat ini tengah menunggu jawaban dari wanita yang dari tadi terlihat kebingungan.


Diandra yang tadinya asik menikmati makanan, seketika merasa shock kala mengetahui niat baik wanita paruh baya itu. Bahkan saat ini mengingat tentang Yoshi yang bahkan sudah menjadi milik wanita lain dan tidak boleh dipikirkannya.


'Mereka mengingatkanku pada Yoshi. Seandainya para orang tua seperti mereka, tidak akan ada perjodohan di dunia ini. Bahkan mungkin di dunia ini dipenuhi oleh orang-orang yang baik, bukan munafik.'


Kini, ia mencoba untuk memikirkan tawaran yang menggiurkan tersebut. Padahal ia berpikir akan bekerja sebagai pemetik daun teh, ternyata ekspektasi seindah realita begitu ditawarkan sebuah pekerjaan di perusahaan.


"Maafkan saya karena masih awam dengan perusahaan yang bergerak di bidang minuman seperti teh. Bukan apa-apa, tapi memang saya merasa sangat tidak pantas mendapatkan banyak kebaikan dari Nyonya." Diandra tidak mungkin langsung menerima dengan senang hati karena jujur saja masih ragu.


"Apakah boleh saya pertimbangkan terlebih dahulu, Nyonya?" Diandra harap-harap cemas ketika bertanya.


Citra tidak memberikan kemudahan untuk Diandra karena berpikir malah akan membuat wanita itu manja. "Tidak perlu dipertimbangkan karena kamu bisa mulai bekerja setelah merasa tubuhmu fit."


"Jadi, terima saja karena aku juga membutuhkan seorang akuntan terpercaya di perusahaan. Aku curiga ada yang curang dengan menggelapkan dana perusahaan."


"Jadi, bukan tanpa alasan aku memintamu untuk bekerja di perusahaan sana. Aku mohon tolong selamatkan kami dengan caramu." Citra saat ini menunggu anggukan kepala dari Diandra karena tidak menerima penolakan.


Saat ini, Diandra masih sibuk memikirkan sesuatu yang mengganggu pikirannya. Ia harus membasmi para penjahat perusahaan yang pastinya merugikan banyak pekerja serta pemiliknya.


Saat ia memikirkan sesuatu, yaitu ingin menyelamatkan perusahaan pria itu, akhirnya Diandra menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa ia merasa tidak keberatan dan menerima tawarannya.


"Sepertinya saya tidak bisa lari dari tugas besar ini dan akan berusaha untuk menyelesaikan masalah di perusahaan dengan cara anti kekerasan. Baiklah, saya menerima bekerja di perusahaan sebagai akuntan dan juga tinggal di sini untuk menemani Anda, Nyonya."


Diandra merasa sangat terharu melihat wanita di sebelahnya seperti sangat bahagia begitu mengetahui keputusannya.


"Terima kasih, Diandra. Kamu memang dihadirkan dalam keluarga kami sebagai seorang penyelamat." Citra kini merasa senang dan lega sudah mengungkapkan rencananya. "Kalau begitu, lanjutkan kembali menikmati makanannya dan kamu bisa beristirahat di dalam kamar tamu yang ada di depan."


"Iya, Nyonya. Anda tenang saja karena saya bisa tertidur sewaktu-waktu saat merasa nyaman. Apalagi rumah ini sangat nyaman dan membuatku betah." Diandra masih mencoba untuk bersikap setenang mungkin.


Ia berpikir akan menjadi santapan dari orang-orang jahat yang berniat untuk menghancurkan perusahaan pasangan suami istri paruh baya tersebut dan mengungkapkan idenya.


"Kita harus memasukkan mata-mata yang berpihak pada musuh. Begitu pun sebaliknya. Saya pun butuh seorang bodyguard karena pasti akan ada banyak orang yang ingin mencelakaiku, jika bersama orang lain, nanti ada tamengnya."


Diandra sebenarnya bukan tipe wanita yang suka mengerjai orang untuk memberikan sebuah shock terapi. Namun, terpaksa melakukannya demi sebuah tanggung jawab ketika mendapatkan kepercayaan penuh dari pemilik perusahaan.


"Mulai besok, saya akan bekerja dan menyelesaikan semuanya, Nyonya dan Tuan." Diandra kini berpikir jika besok akan bekerja dan berharap lebih lama dari yang sebelumnya.


'Aku merasa sangat beruntung, dipercaya oleh orang yang bahkan baru bertemu denganku dan mempercayakan nasib perusahaan di tanganku,' gumam Diandra yang kini berjanji akan membantu.


Emran kini mengangukkan kepala tanda setuju dengan permohonan Diandra yang sudah mempunyai sebuah ide untuk menyingkirkan para pengkhianat di perusahaan. "Apapun yang kamu butuhkan, kami akan mengurusnya. Jadi, fokus saja untuk bekerja dengan baik, Diandra."


Citra mengusap lembut punggung Diandra agar tidak kecewa. "Santai saja karena semuanya butuh waktu dan aku mempercayaimu sepenuhnya, Diandra."


To be continued...

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2