
Austin tadi buru-buru mandi karena ingin segera bisa bercinta sepuasnya dengan sang istri. Jadi, begitu selesai, langsung keluar dari kamar mandi dan mengerutkan kening karena sang istri tidak ada. Berpikir jika sang istri sudah menunggu di ruangan khusus bercinta, ia pun langsung mengecek.
Namun, di sana tidak ada sang istri dan membuatnya mencari ke beberapa ruangan di dalam rumah. Begitu menemukan di dalam ruang makan, ia merasa sangat khawatir melihat Diandra memijat pelipis dan meringis seperti menahan sakit.
Ia langsung mendekat dan ingin memastikan keadaan wanita yang dari tadi menunduk menatap ke arah meja. "Apa kamu kesakitan, Sayang?"
Diandra yang kini melihat sang suami hanya mengenakan handuk sebatas pinggang, refleks menggelengkan kepalanya. "Tidak, hanya sedikit pusing, Sayang."
"Kamu itu lho, bisa-bisanya keluar hanya memakai handuk seperti itu. Pakai baju sana!" ucapnya sambil geleng-geleng kepala melihat sang suami yang terlihat percaya diri sekali.
Sementara itu, Austin saat ini masih mengkhawatirkan keadaan sang istri dan tidak memperdulikan nada protes itu karena langsung memijat kepala Diandra dengan berdiri di belakangnya.
"Buat apa pakai baju jika nanti juga dilucuti. Ini malah akan memudahkanmu karma tidak menyuruh untuk repot-repot melepaskannya. Bagaimana, apakah dipijat seperti ini enak?" tanya Austin yang saat ini tengah memastikan jika pijatannya berpengaruh.
Ia sangat khawatir jika sang istri mengeluh sakit kepala karena berpikir jika itu sangat menyakitkan. Apalagi dulu ia juga merasakannya. Bahwa sesekali ia merasakan kesakitan ketika tiba-tiba ada bayangan tentang masa lalu.
"Iya, rasanya sangat nyaman pijatanmu, Sayang. Terus! Tanganmu seperti tabib yang bisa menyembuhkan dan menenangkan," sahut Diandra sambil memejamkan mata.
"Apa kamu mengingat sesuatu saat sakit kepala, Sayang?" Austin mencoba untuk mencari tahu karena jujur saja ia khawatir dengan keadaan Diandra.
Ia bahkan selama ini sudah lama tidak melihat Diandra mengeluh kesakitan pada kepala, jadi berpikir ada sesuatu yang terjadi, sehingga khawatir. Apalagi ia berharap jika Diandra selamanya tidak mengingat tentang masa lalu yang dilupakan.
Sementara di sisi lain, Diandra yang memang tadi sempat melihat bayangan samar seperti mobil terbalik, membuatnya terdiam. Ia bahkan masih ingat video yang ditontonnya, tapi ragu untuk menceritakan pada suami.
Akhirnya ia hanya menggelengkan kepala karena tidak ingin membuat suami mengkhawatirkannya. Sementara ia sekarang sudah baik-baik saja. "Aku tidak mengingat apapun, hanya saja tadi tiba-tiba pandangan seperti blur dan pusing."
"Makanya aku duduk di sini sambil menunggumu. Aku sangat lapar, ayo kita makan. Bibik sudah menyediakan makanan kesukaanmu." Diandra membuka penutup makanan dan menunjukkan menu yang favorit sang suami.
Austin yang kini berhenti memijat, bergerak duduk di sebelah sang istri dan kebetulan memang ia sangat lapar. Jadi, berpikir untuk mengisi tenaga terlebih dahulu sebelum bertempur dengan menguras tenaga di atas ranjang.
"Iya, Sayang. Ayo, kita makan. Aku akan menyuapimu. Kamu diam saja," ucap Austin yang langsung bergerak mengambil nasi dan sayuran serta lauk pauk.
Ia yang mengambil nasi cukup banyak agar kenyang karena berdua. Ada udang asam manis serta ca kangkung yang menjadi kesukaannya serta gurame pedas.
"Tumben bibik memasak ini tanpa diperintah." Kemudian mengambil satu sendok makanan dan langsung menyuapkan ke dalam mulut sang istri dengan terlebih dahulu membuka mulut untuk mencontohkan.
Diandra yang terkekeh geli melihat sang suami seperti menyuapi anak kecil, kini mengingat makanan yang sudah berada di dalam mulutnya. "Kenapa tidak kamu dulu yang makan, Sayang?"
"Lady first," sahut Austin yang kemudian menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sendiri.
"Harusnya laki-laki dulu karena yang pantasnya seperti itu," ucap Diandra yang kini sudah kembali disuapi. "Tadi memang aku menyuruh bibik berbelanja di pasar dekat rumah. Aku tidak tahu apa yang dibeli karena membebaskan untuk memasak menu apapun. Ternyata membeli seafood." Ia bahkan kini mengambil satu ekor udang dan kembali mengunyahnya.
Sebenarnya ia juga sangat menyukai udang yang menurutnya mempunyai rasa nikmat sekali, tapi tidak pernah mengatakannya karena berpikir seleranya sama persis dengan suami dan berpikir mereka berjodoh.
Sementara itu, Austin yang sama sekali tidak pernah berpikir jika apapun harus mendahulukan suami daripada istri, kini ingin wanita yang sangat dicintainya tersebut memahami pemikirannya.
"Bagiku, istri dan anak lah yang harus diutamakan, Sayang. Apalagi perjuangan seorang istri tidak akan pernah bisa dibalas dengan apapun oleh seorang suami. Saat melahirkan dengan taruhan nyawa dan membesarkan penuh kasih sayang, pasti membutuhkan perjuangan luar biasa."
Austin jarang-jarang bisa berbicara sebebas ini di ruang makan karena biasanya ada pelayan yang berlalu lalang dan juga ada putranya yang harus disuapi. Jadi, tidak bisa makan dengan sesantai ini.
__ADS_1
Sampai pada akhirnya ia berpikir jika sesuatu hal yang membuatnya bahagia hari ini adalah sang istri sudah kembali normal dan hidup mereka akan makin sempurna penuh kebahagiaan.
Diandra yang merasa sangat terharu dengan pengertian sang suami, kini langsung membuat gerakan tangan membentuk simbol hati. "I love you, Sayang."
"I love you, too." Austin pun kini langsung bergerak mencium pipi putih wanita yang terkejut dengan perbuatannya. "Ini pemanasan dulu."
"Dasar!" Diandra hanya terkekeh geli melihat tingkah nakal sang istri yang selalu menggodanya.
Hingga ia pun beralih menatap ke arah ponsel miliknya yang berdering. Ia tadinya khawatir pengirim video yang menelpon, tapi mengerutkan kening kala melihat nomor aneh.
"Nomor mana ini?" Menatap ke arah sang suami yang saat ini juga mengarah pada ponselnya yang berdering.
Austin yang tadinya hendak menyuapkan kembali makanan ke dalam mulut sang istri, tidak jadi melakukannya begitu melihat ada panggilan internasional dan ia tahu jika itu adalah kode dari London.
Refleks ia langsung mengambil ponsel milik sang istri. Bukan berniat untuk mengangkat panggilan karena langsung menolaknya. "Jangan pernah mengangkat telpon dari nomor tidak terdaftar, Sayang. Sekarang ini ada banyak orang jahat yang menipu orang demi mendapatkan uang."
Meskipun berbicara seperti itu, tetap saja Austin merasa sangat khawatir jika Diandra mengangkat panggilan saat ia tidak ada. 'Apa wanita jahat itu yang menghubungi istriku? Sepertinya nomor istriku sudah diretas, aku harus melindunginya.'
Saat baru saja memikirkan rencana, Austin kini langsung menonaktifkan ponsel sang istri. "Lebih baik mencari aman dengan cara mengganti nomor baru."
Kemudian ia kembali menaruh ponsel di atas meja. "Nanti aku akan membelikan nomor baru untukmu, Sayang. Di zaman sekarang ini ada banyak wanita yang menjadi korban penipuan."
Merasa sikap sang suami sangat berlebihan, kini Diandra menatap intens pria yang kembali menikmati makanan di dalam mulut. "Apa kamu berpikir aku sebodoh itu, Sayang? Sampai dengan mudah tertipu oleh orang jahat."
Austin yang refleks langsung menepuk jidat, kini ingin membuang kesalahpahaman yang dirasakan oleh sang istri. "Bukan seperti itu, Sayang. Hanya saja, aku ingin melindungimu karena modus kejahatan sekarang sangat canggih."
"Teknologi zaman sekarang bisa mengedit orang dengan wajah yang menyerupai aslinya dan mengubah suara juga. Orang sepintar apapun kadang tidak bisa membedakannya. Kita cari aman saja, oke! Cepat habiskan makanannya agar kita bisa segera membuatkan adik untuk Aksa." Mengedipkan mata untuk menguraikan suasana penuh ketegangan itu.
Jadi, ia memilih untuk patuh saja meskipun nantinya harus memberitahu pada orang-orang terdekat jika mengganti nomor.
Sampai pada akhirnya ia pun kembali membuka mulut dan fokus menikmati makan malam sampai habis. Beberapa saat kemudian, ia sudah mengusap perutnya yang terasa penuh.
"Cukup, Sayang. Aku sudah kenyang. Kamu habiskan makanannya." Kemudian ia bangkit berdiri dari posisinya karena ingin mengambil air hangat untuk minum dirinya dan suami.
Ia tahu jika selama ini sang suami jarang minum air dingin dan selalu terbiasa minum air hangat. Bahkan ia pun mengikuti kebiasaan sang suami demi gaya hidup sehat karena tahu jika air dingin tidak baik untuk sistem pencernaan dan organ-organ lainnya.
Saat ia kembali sambil membawa gelas besar berisi air hangat dan minum mendahului sang suami, melihat pria di sebelahnya baru saja menghabiskan makanan di piring sampai bersih.
"Tidak nambah lagi, Sayang?"
"Tidak, sudah kenyang. Mungkin nanti makan lagi setelah bercinta karena biasanya tenaga terforsir habis setelah bertempur." Kemudian menerima air minum hangat dari sang istri.
Diandra yang kembali mengingat tentang perbuatan yang membuatnya malu tadi, refleks langsung mengarahkan cubitan pada paha sang suami.
"Lain kali jangan berbuat konyol seperti tadi. Dasar tidak tahu malu! Bahkan beberapa pegawai toko tadi berbisik-bisik dan pasti membicarakan kita. Aku tidak mau belanja ke sana lagi karena pasti wajahku sudah dihafal oleh mereka." Mengerutkan bibir karena kesal mengingat kejadian di toko.
Berbeda dengan Austin yang hanya terkekeh dan kembali menaruh gelas ke atas meja. "Justru mereka sangat iri pada keromantisan kita, Sayang."
"Bukan keromantisan, tapi kemesuman!" sarkas Diandra yang ingin memfilter perkataan sang suami yang malah menertawakannya.
__ADS_1
"Terserah apa menurutmu, Sayang," ucap Austin yang kini ingin mengambil jeda terlebih dahulu sebelum memulai kegiatan intim malam ini.
Ia yang kembali mengingat tentang panggilan internasional tadi, kini menatap intens pada sang istri. "Kamu harus ingat kata-kataku tadi, Sayang. Jangan pernah mengangkat nomor asing, oke!"
"Iya, jangan khawatir," sahut Diandra yang kini mengangguk perlahan. "Jadi, sampai kapan kamu menonaktifkan ponselku? Kalau ada telpon penting bagaimana?"
"Kalau sangat penting, pasti akan menelponku," sahut Austin yang saat ini bangkit berdiri dari kursi dan mengulurkan tangan agar diterima oleh sang istri. "Ayo, kita ke kamar. Bersantai di ranjang baru, pasti sangat menyenangkan."
"Bersantai apanya jika kamu akan berbuat macam-macam padaku!" sarkas Diandra yang protes, tapi tetap saja menerima tangan sang suami saat bangkit berdiri dari posisinya.
Bahkan ia yang kini merasakan kegelian luar biasa kala tiba-tiba sang suami menggigit kecil lehernya.
"Kamu sangat menggemaskan, Sayang," ucap Austin yang baru saja memberikan sebuah hukuman kecil agar sang istri tidak terus protes.
Sementara Diandra yang tadi meremang bulu kuduknya karena perbuatan nakal suami, sempat menjerit kecil dan refleks mencubit pinggang kokoh pria yang dianggap sangat nakal itu.
"Geli, Sayang!" teriak Diandra yang masih belum melepaskan tangannya dari pinggang kokoh suami untuk membalas dendam. Bahkan ia seketika tertawa kala melihat pria itu meringis menahan sakit. "Rasakan!"
Austin yang refleks melepaskan tangan Diandra dari pinggangnya, kini mengalihkan dengan menggenggam erat. "Jangan disitu, Sayang."
Kemudian mengarahkan ke bagian bawah untuk menggoda sang istri. "Di sini jauh lebih baik."
"Isssh ... maunya!" Refleks Diandra yang langsung menghindar karena malu dengan perbuatan nakal suami.
Hingga ia menjerit kecil kala tubuhnya sudah melayang ke atas karena tiba-tiba digendong oleh Austin memasuki ruangan kamar setelah dibuka tadi.
"Ranjangnya sudah siap dan tidak sabar menjadi saksi bisu kita berolahraga malam, Sayang," ucap Austin yang kini melangkah mendekati ranjang dan menurunkan tubuh seringan bulu sang istri di sana.
Sementara itu, Diandra yang kini mengakui jika ranjang yang baru dibeli suaminya sangat nyaman dan pastinya akan menambah kenikmatan saat bercinta.
Ia kini melihat siluet sang suami yang hanya mengenakan handuk sebatas pinggang itu tengah sibuk menyalakan televisi. "Sayang, kamu tidak kedinginan, apa! Dari tadi seperti itu, mengumbar tubuh seperti artis porno saja."
Sementara itu, Austin hanya tertawa kecil mendengarnya dan masih fokus menyalakan tv dan DVD. Ia tadi sudah menyiapkan semuanya dan ingin terlebih dahulu menunjukkan apa yang perlu dilakukan oleh sang istri.
Begitu berhasil memasang film, ia pun langsung naik ke atas ranjang dan berbaring di sebelah sang istri. "Kebetulan sekali aku ingin kamu melihat film porno. Nanti sekalian langsung praktek!"
Diandra yang sama sekali tidak berpikir ke arah sana, kini membulatkan matanya begitu melihat layar datar lebar itu menampilkan adegan panas. "Astaga! Gila!"
Austin hanya terbahak melihat respon terkejut sang istri. Kemudian berbisik di dekat daun telinga sang istri. "Nanti kita seperti itu."
Bahkan ia saat ini sudah menelusuri setiap sudut leher sang istri dengan bibirnya untuk menggodanya.
Diandra yang awalnya ingin mengungkapkan nada protes, kini merasakan kulitnya memang dan memanas, sehingga menggenggam erat telapak tangannya.
Bahkan menelan saliva dengan kasar kala mendengar suara ******* serta jeritan dari tokoh di film itu dan perbuatan sang suami yang mulai menyiksanya hingga menimbulkan sensasi berputar lepas kendali.
"Sayang," lirih Diandra dengan suara serak karena menahan hasrat akibat kenakalan sang suami dan ia kini hanya pasrah atas apapun yang dilakukan pria itu padanya.
"Nikmati malam ini dengan baik, Sayang," ucap Austin yang kini sudah tidak bisa menahan hasrat yang meledak di dalam dirinya dan bergerak untuk mencium bibir merah jambu yang selalu menjadi candunya tersebut.
__ADS_1
Bahkan ia tidak berniat untuk membiarkan sang istri tidur nyenyak malam ini agar bisa melakukan kegiatan panas dengan beberapa ronde. Berharap usahanya untuk menabur benih sukses dan tumbuh buah cinta mereka di rahim wanita yang sangat dicintai.
To be continued...