Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Dejavu


__ADS_3

Dengan tubuh yang gemetar dan tangannya pun demikian saat menggendong wanita yang sudah tidak sadarkan diri tersebut.


Bahkan saat ini Austin meminta bantuan orang-orang berusaha untuk mengeluarkan Yoshi juga dan membawa ke rumah sakit. "Jika menunggu ambulans, nyawa korban tidak akan tertolong!"


Austin berteriak agar orang-orang mau membantunya karena saat ini ia fokus pada Diandra yang berada dalam gendongannya. Bahkan saat ini ia sangat lega begitu melihat supir taksi menghampirinya.


"Biar saya antarkan ke Rumah Sakit, Tuan." Supir taksi yang tadi melihat aksi heroik dari penumpangnya, merasa kagum karena pria itu rela menyakiti diri sendiri demi menyelamatkan korban kecelakaan.


Ia menduga jika pria itu memiliki perasaan pada korban kecelakaan karena terlihat jelas dari raut wajah yang dipenuhi oleh kekhawatiran.


Austin mengangukkan kepala dan langsung masuk ke dalam taksi. "Terima kasih. Kalau bisa, Rumah Sakit terdekat dari sini, agar korban bisa segera ditangani."


"Baik, Tuan." Sang supir pun kini melihat jika Yoahi juga sudah dibantu keluar dari mobil dan langsung dibawa ke Rumah Sakit dengan membuntuti taksi yang ditumpangi.


Austin kini kembali beralih menatap ke arah Diandra yang berada di pangkuannya. Dengan menelan saliva kasar dan degup jantung berdetak sangat kencang karena takut, tapi berusaha untuk menguatkan hatinya.


Dengan tangan gemetar, bergerak menaruh di bawah hidung untuk memastikan masih ada kehidupan di sana. Hingga ia bisa bernapas lega begitu merasakan Diandra masih bernapas.


"Kamu harus bertahan hidup, Diandra. Dari dulu aku sangat ingin mengingat sesuatu yang kulupakan, tapi hari ini aku sangat menyesal karena mengingatnya saat kamu kecelakaan. Ya Allah, kenapa Diandra harus mengalami kecelakaan di hari ia menikah?" lirih Austin dengan netra berkaca-kaca kala memikirkan nasib malang Diandra.


Sementara itu, sang supir yang hanya melihat dari spion mobil, merasa heran apa sebenarnya hubungan pria itu dengan korban kecelakaan yang merupakan pengantin tersebut.


'Apa tuan itu adalah mantan kekasih dari wanita itu? Terlihat ia sangat mencintai wanita itu, padahal sudah menjadi istri pria lain. Mengenaskan sekali jika benar apa yang kupikirkan. Bahwa wanita itu meninggalkan pria itu demi orang lain, tapi malah berakhir dengan kecelakaan.'

__ADS_1


Saat sang supir fokus dengan pikirannya, beberapa saat kemudian taksi yang dikemudikan berbelok ke area rumah sakit dan langsung ke IGD. Bahkan di belakangnya juga ada mobil yang membawa korban lain, yaitu pengantin laki-laki.


Austin seketika berteriak untuk memanggil para perawat agar segera membawa brankar dan beberapa saat kemudian terlihat beberapa perawat yang langsung sigap datang.


Austin langsung membaringkan tubuh Diandra ke atas ranjang dorong dan langsung menuju ke ruangan operasi. "Tolong selamatkan pasien ini, Dokter!"


Saat melihat seorang pria berseragam putih, Austin segera mengungkapkan harapannya. Jujur saja ia sangat takut jika melihat Diandra kehilangan nyawa karena kecelakaan.


"Kami akan melakukan yang terbaik, Tuan. Sebaiknya Anda berdoa untuk memohon yang terbaik bagi kesembuhan pasien," ucap sang dokter yang kini mencoba untuk menenangkan pria dengan wajah pucat tersebut.


Bahkan di belakangnya ada pengantin pria yang juga langsung dibawa ke ruangan operasi.


"Bertahanlah, Diandra," lirih Austin yang tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.


Hingga beberapa saat kemudian tiba di depan ruangan operasi dan Austin hanya bisa menatap pintu tertutup dan perawat tidak mengizinkan masuk. Ia saat ini masih berdiri terpaku di depan ruangan operasi.


Selama setengah jam ia menunggu dengan perasaan berkecamuk dan beberapa saat kemudian, ia mendengar suara derap langkah kaki beberapa orang yang berlari dan semakin jelas.


Ia bisa melihat orang tua Diandra karena ingatannya telah kembali dan keluarga Yoshi yang telah tiba di rumah sakit dan membuatnya sedikit merasa lega.


"Syukurlah kalian semua sudah datang. Maafkan aku karena tadi tidak langsung menyuruh orang untuk mengabarkan kecelakaan yang terjadi pada Yoshi dan Diandra," ucap Austin yang sedikit membungkukkan badan untuk menghormati orang tua Diandra dan Yoshi yang terlihat pucat dan dipenuhi kekhawatiran.


Namun, seketika ia menatap sosok bocah laki-laki yang ada di gendongan ibu Diandra. 'Anak ini? Tadi Diandra menyebut nama Aksa sebelum kehilangan kesadaran. Apa yang sebenarnya ingin dikatakannya tadi? Tunggu! Aksa anak siapa? Apa dia ....'

__ADS_1


Lamunan Austin seketika terhenti begitu mendengar suara bariton dari pria paruh baya yang dari dulu sangat dihormatinya.


"Bagaimana keadaan putra-putri kami? Kenapa kejadian buruk menimpa Diandra dan menantu di hari pernikahan?" seru pria paruh baya yang tak lain adalah ayah Diandra.


"Semua ini karena kelalaian seorang supir yang kabarnya mengalami rem blong pada kendaraan." Austin beralih menatap ke arah Asmita Cempaka karena sangat mengenal wajah itu sering muncul di surat kabar.


"Operasi sudah berjalan selama setengah jam. Semoga semuanya berjalan lancar dan Yoshi serta Diandra selamat."


Sementara itu, Asmita Cempaka saat ini sudah sembab wajahnya karena dari tadi tidak berhenti menangis selama di dalam mobil menuju ke Rumah Sakit begitu dikabari.


Wanita paruh baya yang masih memakai kebaya modern tersebut merasa sangat shock atas kecelakaan putra dan menantunya.


Ia sangat takut jika satu-satunya putra yang dimiliki akan menyusul almarhum suami yang lebih dulu pergi. Bahkan tadi berniat untuk mengakhiri hidup jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk pada putra satu-satunya.


"Aku hanya memiliki putraku di dunia ini. Jika terjadi sesuatu hal yang buruk padanya, aku akan ikut dengannya," lirihnya dengan menangis tersedu-sedu membayangkan jika putranya tidak tertolong karena mengalami kecelakaan.


Hingga ia mendapatkan sentuhanembut pada pundaknya dari besannya. "Semoga semuanya baik-baik saja. Lebih baik berdoa daripada berpikir yang buruk." Ibu dari Diandra itu hanya ingin menenangkan perasaan wanita itu.


Tentu saja ia tahu bagaimana perasaan seorang ibu yang khawatir jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada anaknya. Namun, ia mengerjapkan mata begitu mendengar suara bernada kasar pertama kali.


"Ini semua gara-gara Diandra! Jika putraku tidak menikah dengan putri kalian, mungkin semua ini tidak terjadi. Putri kalian adalah wanita pembawa sial!" Asmita Cempaka kali ini benar-benar sangat marah membayangkan apa yang terjadi pada putranya.


Ia tidak bisa berpikir jernih saat ini dan memilih untuk meluapkan amarah yang membuncah di dalam hatinya saat ini demi mengobati kekhawatiran yang dirasakan saat ini ketika takut pada kematian.

__ADS_1


'Aku bahkan seperti mengalami Dejavu saat ini seperti ketika suamiku meninggal dan aku tidak berhenti menangis di pemakaman. Tidak, aku tidak ingin mengulangi kejadian paling menakutkan itu. Yoshi harus sembuh karena aku akan mati jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk padanya.'


To be continued...


__ADS_2