
Diandra yang saat ini masih memegang ponsel sambil berbaring di atas ranjang perawatan, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ia benar-benar sangat bingung harus menjelaskan apa ada sosok pria di seberang telepon.
Saat ia mendengar Yoshi sudah tidak sabar ingin tahu bagaimana bisa ia berakhir menikah dengan Austin saat pria itu mengalami koma, kini menelan saliva dengan kasar sebelum memulai penjelasan tentang masa lalu yang dialami mereka bertiga.
'Semua yang aku katakan ini adalah sebuah kenyataan yang memang harus diterima oleh Yoshi. Aku tidak melakukan kesalahan karena seperti yang dikatakan oleh suamiku, jika Yoshi harus mengetahui semuanya,' gumam Diandra yang saat ini ingin memastikan terlebih dahulu sesuatu.
"Apa Mama ada di sana sekarang?"
"Kenapa membahas Mama? Mama tidak ada karena tadi kesal padaku dan keluar dari ruangan. Mama melarangku menghubungimu karena sudah menikah dengan Austin, tapi aku tetap harus mengetahui bagaimana bisa kamu menikah dengan pria yang sangat kau benci itu ketika aku bahkan masih belum sadar." Yoshi bahkan saat ini masih berharap jika Diandra menikah dengan Austin karena atas dasar terpaksa.
Saat ini, yang ada di pikirannya adalah ingin Diandra mengatakan padanya jika melakukan semua itu demi putranya agar memiliki seorang ayah dan tidak dipanggil anak haram saat di sekolah.
Sebuah penghiburan kecil yang membuatnya sangat berharap lolos dari bibir Diandra yang masih berarti di hatinya.
Diandra yang sebenarnya merasa kecewa karena tidak ada wanita paruh baya itu di dekat Yoshi agar tidak bisa membantah saat ia mengatakan itu.
Apalagi jika sampai seorang anak marah pada ibunya hanya gara-gara ia mengatakan kenyataan sebenarnya, benar-benar membuatnya merasa bersalah karena menjadi penyebab mereka bersiteru.
"Aku pikir Mama berada di sampingmu agar bisa mendengarkan apa yang kukatakan." Diandra saat ini mengambil napas teratur sebelum memulai cerita.
"Buat apa kamu memikirkan Mama karena ini tidak ada hubungan dengannya. Ini adalah tentang kamu dan aku yang dulu sempat menjadi suami istri, ternyata Tuhan mempermainkan nasibku harus kehilanganmu di hari pertama menikah." Saat membayangkan nasib malangnya, Yoshi selalu merasakan sesak di dada dan seolah kesusahan untuk bernapas dengan lega.
Namun, mengetahui jika nasi sudah menjadi bubur dan sudah tidak dapat dirubah, ia masih sedikit berharap ada keajaiban untuknya dengan suatu saat bisa bersatu dengan Diandra. Meskipun kemungkinannya sangat kecil karena sudah hidup bahagia dengan Austin.
Sementara itu, Diandra yang ini sekali membantah perkataan pria itu jika tidak ada hubungan dengan wanita paruh baya tersebut. 'Padahal kenyataannya adalah mamamu yang telah memisahkan kita, Yoshi.'
Diandra hanya bisa mengungkapkan semuanya di dalam hati karena saat ini tidak ingin langsung mengatakan itu dan dianggap memfitnah seorang ibu pada anaknya.
"Aku hanya ingin Mama mendengarkan penjelasanku juga agar tidak ada kesalahpahaman. Sebenarnya semua bermula dari ...."
Diandra yang baru saja ingin memulai cerita, di saat bersamaan pintu terbuka dan membuatnya membulatkan mata begitu melihat sosok pria yang saat ini sudah membawa makanan yang dipesan.
'Austin? Suamiku sudah pulang. Apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus mematikan teleponnya? Atau jujur padanya?' gumam Diandra yang bahkan masih memegang benda pipih di tangan dengan diletakkan di dekat daun telinga.
Hingga suara Paiton dari sang suami dan juga tatapan menyelidik kini diarahkan padanya dan membuat nya serasa ditusuk jantungnya.
"Sayang, ini pesananmu. Kamu sedang berbicara dengan siapa?" Austin yang tadinya tersenyum pada sang istri ketika baru saja masuk ke dalam ruangan dan berpikir jika wanita yang sangat dicintainya tersebut pasti akan sangat senang ia sudah kembali membelikan makanan yang diinginkan karena mengidam.
Namun, merasa curiga saat wanita di atas ranjang perawatan tersebut memegang ponsel di dekat daun telinga dan membuatnya segera berjalan mendekat karena ingin tahu.
Diandra yang seperti tercekat suaranya di tenggorokan karena merasa bingung harus menjawab apa dan takut jika sang suami marah serta kesal padanya saat berbicara dengan Yoshi.
Ia akhirnya tidak menjawab telepon dari sang suami karena memilih mendirikan kontak dari nama mertuanya. Bahkan saat ini bisa mendengar Yoshi yang juga berbicara di seberang telepon dan didengar oleh sang suami.
"Diandra, apa Austin datang? Sekalian saja aku ingin berbicara dengannya." Awalnya Yoshi merasa sangat excited karena akan mendengar fakta sebenarnya, tapi merasa kecewa begitu suara bariton pria yang dibenci terdengar.
Tidak merasa takut pada Austin, sehingga saat ini memilih untuk berbicara bertiga demi bisa mengetahui semuanya sesuai dengan fakta sebenarnya. Namun, ia seketika mengepalkan tangan karena mendengar suara bernada ketus dari Austin.
__ADS_1
Austin yang saat ini merasa marah karena sang istri diam-diam berbicara dengan Yoshi ketika ia pergi dan berpikir jika itu sengaja dilakukan dengan menyuruhnya membelikan makanan.
Sebuah kebetulan yang membuatnya ingin sekali memarahi wanita yang telah hamil anak kembar tersebut, tapi hanya bisa mengumpat di dalam hati dan melampiaskannya pada Yoshi dengan merebut ponsel dari tangan dengan jemari lentik itu.
Hingga ia pun saat ini sengaja mengaktifkan speaker agar sang istri mendengar juga pembicaraannya dengan Yoshi.
"Apa yang kau inginkan dari istriku, Yoshi. Aku bahkan baru pulang dari membeli makanan untuknya yang mengidam karena sebentar lagi kami akan memiliki anak kembar. Oh ya, ini adalah kabar gembira yang harus diberitahukan, bukan?"
Ia akan menatap tajam ke arah wanita yang sudah menutup rapat bibirnya dan juga seperti merasa bersalah padanya.
Namun, ia ingin menyadarkan Yoshi agar tidak mengganggu rumah tangganya yang sudah bahagia dengan mengatakan semuanya meskipun itu adalah sebuah hal menyakitkan bagi pria di seberang telepon yang masih sangat mencintai istrinya.
Diandra yang tadinya sama sekali tidak berpikir untuk memberitahukan tentang kehamilannya karena berfokus pada cerita sebenarnya, tapi kini merasa bersalah pada Yoshi atas kejujuran sang suami yang memang harus dikatakan agar pria itu tidak lagi berharap padanya.
'Lindungi Yoshi, Tuhan. Aku benar-benar tidak tega menyakiti hatinya. Apalagi ia bahkan baru sembuh setelah bertahun-tahun mengalami koma. Semoga dia baik-baik saja dan membuka lembaran baru tanpaku,' gumam Diandra yang saat ini kehilangan nafsu makan melihat sang suami berbicara dengan mantan suami.
Berbeda dengan di tempat lain berada, Yoshi yang membulatkan mata dengan tangan meremas pakaian yang dikenakan begitu mendengar kabar yang tidak pernah ia pikirkan.
Kabar kehamilan Diandra seperti sebuah tombak tajam yang melesat di jantungnya hingga meninggalkan luka semakin menganga di sana. Bahkan bola matanya seketika berkaca-kaca karena tidak menyadari jika hal seperti itu pasti akan terjadi karena memang mereka adalah sepasang suami istri.
Namun, terasa belum siap mendengar kabar seperti itu, sehingga membuat hatinya semakin bertambah terluka hingga dua kali lipat dari yang pertama mengetahui jika wanita yang dipikir masih berstatus sebagai istrinya bahkan telah menikah dengan pria lain.
'Apa yang harus kulakukan? Masih pantaskah ku berharap mempunyai harapan jika saat ini Diandra sudah hidup berbahagia dan akan memiliki anak kembar dari benih Austin. Kenapa nasib pria itu sangat beruntung? Sementara nasibku sangat buruk karena tidak bisa memiliki keturunan seumur hidup.'
Ia bahkan tidak bisa berkomentar apapun atas rasa sakit yang ditinggalkan oleh Diandra dan Austin yang berbahagia di atas penderitaan saat ini.
Austin sengaja memberikan jeda pada perkataannya karena mengetahui bahwa Yoshi pasti merasa syok atas apa yang harus saja diungkapkannya untuk menyadarkan pria itu. Ia bahkan melirik ke arah sang istri yang diketahuinya tengah kebingungan dan pasti merasa bersalah juga.
"Maaf karena harus mengatakannya padamu, Yoshi, tapi memang kenyataannya adalah seperti ini. Jadi, jangan pernah memiliki sedikitpun harapan untuk kembali pada Diandra Karena sekarang kami sudah hidup berbahagia."
Diandra ingin menguraikan kesalahpahaman dari sang suami dan berpikir tidak boleh hanya diam saja melihat dua pria itu berdebat karena masalah dirinya.
"Tadi Yoshi menelpon untuk meminta penjelasan tentang bagaimana aku bisa menikah denganmu. Jadi, lebih baik jelaskan saja poin itu tanpa membahas masalah yang lain," ucap Diandra yang saat ini berusaha menjaga perasaan Yoshi karena benar-benar sangat mengkhawatirkan kesehatan pria yang baru saja bangkit dari maut.
Saat ini, Austin mulai paham apa yang terjadi dan tidak membuang waktu langsung menjelaskan kenyataan sebenarnya. Mulai dari kejadian saat di rumah sakit, hingga semua yang menimpa Diandra sampai sekarang.
Ia bahkan juga tidak menyembunyikan kejahatan dari ibu Yoshi serta penghinaan yang didapatkan Diandra saat disebut sebagai wanita pembawa sial di keluarga Narendra.
Butuh waktu cukup lama untuknya mengatakan hal itu karena memang ceritanya panjang kali lebar, tapi tetap tidak melewatkan satu kenyataan pun mengenai ibu dari pria di seberang telepon yang merupakan dalang dibalik semuanya.
Hingga beberapa saat kemudian, Austin mengakhiri ceritanya. "Jadi, ceritanya seperti itu dan jangan berpikir Diandra adalah seorang wanita yang jahat karena kamu tahu sendiri bahwa dia adalah sosok wanita yang sangat baik dan membuatku selalu mencintainya dari dulu hingga sekarang."
"Diandra tidak tahu apapun karena semuanya adalah salahku dan juga mamamu. Aku sama sekali tidak ingin membuatmu bertengkar dengan satu-satunya orang tuamu, tapi tidak mungkin aku menyembunyikannya jika itu adalah faktanya."
Austin bahkan sama sekali tidak mendengar suara dari seberang telepon karena ia tahu pasti seorang anak sedang syok mendengar kenyataan tentang ibunya sendiri yang menghancurkan kehidupannya.
Ia memang mengakui jika tidak peduli dengan keadaan Yoshi karena hanya ingin melindungi keluarga kecilnya. Jadi, meskipun mengetahui jika kenyataan itu sangat melukai hati Yoshi, berharap pria itu tidak dibohongi oleh kenyataan palsu yang merupakan sebuah fatamorgana semata.
__ADS_1
"Yoshi, kamu masih di sana mendengarkan?" tanya Austin yang saat ini masih melihat jika layar telepon menunjukkan waktu panggilan berjalan sudah setengah jam berlalu.
Ia bahkan juga bisa melihat raut wajah kekhawatiran dari sang istri yang juga ingin mendengar suara dari Yoshi setelah mengetahui kenyataan sebenarnya tentang sang ibu.
'Aku bahkan belum menceritakan kejahatan ibunya yang berniat untuk menyakiti Diandra, tapi sudah syok dan tidak bisa berkata-kata. Kau harus kuat karena kenyataan sebenarnya akan mulai terkuat satu persatu mulai hari ini, Yoshi,' gumam Austin yang saat ini sudah mendengar suara lirih dari Yoshi.
"Aku butuh waktu untuk berpikir tentang apa yang baru saja kau katakan." Yoshi akhirnya mematikan sambungan telepon secara sepihak tanpa menunggu tanggapan karena saat ini tangannya gemetar memegang ponselnya.
Bahkan suaranya tadi benar-benar bergetar ketika dadanya bergemuruh hebat dan seperti sesak napas setelah mendengarkan penjelasan panjang lebar dari Austin, bukan Diandra. Bahkan ia tadinya tidak percaya dan ingin Diandra berteriak untuk tidak membenarkan perkataan Austin.
Namun, saat wanita itu sama sekali tidak mengungkapkan nada protes apapun, ia jadi merasa bingung serta bimbang apakah harus mempercayai semua hal yang ternyata sangat jauh dari pikirannya.
"Jadi, mama lah yang sebenarnya memisahkanku dengan Diandra di hari kami kecelakaan? Mama, kenapa melakukan itu? Kenapa menghancurkan hidup putranya sendiri? Bahkan kecelakaan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan Diandra karena akulah yang menyetir, tapi kenapa menyebutnya wanita pembawa sial?"
Saat suaranya serak dan bergetar hebat, pandangannya teralihkan seketika begitu melihat pintu terbuka dan beberapa saat kemudian wanita yang dari tadi dipikirkannya telah masuk, lalu berjalan mendekat.
"Mama?"
"Apakah kamu sudah selesai berbicara dengan Diandra?" tanya Asmita Cempaka yang saat ini berniat untuk melanjutkan tidur karena sudah cukup lama berada di luar untuk memberikan waktu pada putranya agar bisa berbicara berdua dengan mantan menantunya.
Namun, saat ia mendekati putranya, mengerutkan kening begitu melihat ekspresi wajah yang tidak biasa dan juga bola mata berkaca-kaca seperti hendak menangis.
"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa wajahmu seperti ini? Apa yang dikatakan Diandra padamu?" Ia saat ini merasa ada sesuatu yang tidak beres dan masih berharap putranya mau jujur mengatakan semuanya agar mengetahui apa yang harus dilakukan.
Bahkan saat ini memutar otak untuk mencari tahu apa kira-kira yang dikatakan Diandra pada putranya hingga berekspresi seperti sangat menyedihkan.
"Cepat katakan pada Mama tentang apa yang dikatakan Diandra!"
Yoshi sebenarnya sangat ingin menanyakan pada sang ibu mengenai perbuatannya di masa lalu yang membuatnya berakhir berpisah dengan Diandra, tapi seolah bibirnya keluh dan tidak bisa mengatakan apapun.
"Tidak, Ma. Diandra hanya mengatakan kenyataan sebenarnya dan membuatku benar-benar merasa sesak karena tidak bisa kembali padanya lagi." Ia ingin tahu bagaimana respon sang ibu karena masih belum menceritakan semuanya.
Berpikir jika sang ibu akan mengarang cerita yang pastinya berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Austin, ia ingin mendengarnya secara langsung dari bibir wanita yang telah melahirkannya tersebut.
"Tidak bisa kembali padanya? Apa Diandra tetap ingin bersama dengan pria jahat itu setelah apa yang dilakukan padamu? Wah ... Mama sudah menduganya kalau Diandra akan lebih memilih Austin daripada kamu, Sayang. Bukankah wanita seperti itu tidak pantas untuk dicintai?"
Kebetulan ia ingin mencuci otak putranya agar membenci Diandra dan tidak berharap lagi pada wanita yang juga sangat dibencinya. Berharap usahanya berhasil dan tidak membuatnya sia-sia berjuang sampai darah penghabisan.
Yoshi yang saat ini ingin tahu apa yang akan dikatakan oleh sang ibu mengenai Austin, mulai memancingnya. "Jadi, Mama tahu apa yang dilakukan Austin pada Diandra? Bukankah semenjak dulu bersamaku di sini?"
"Tentu saja Mama tahu karena ada mata-mata yang bekerja untuk mengawasi mereka semua. Yoshi bahkan diam-diam mengurus perceraian kalian hanya demi bisa menikahi Diandra saat mengalami amnesia."
Berharap putranya membenci Austin dan membalas dendam pada pria itu, Asmita Cempaka juga berniat untuk membuat Diandra mendapatkan hal yang sama, yaitu sebuah kehancuran.
'Tunggu pembalasanku karena kalian akan hancur sebentar lagi,' gumam Asmita Cempaka yang saat ini melihat respon dari putranya.
To be continued...
__ADS_1