
Diandra saat ini benar-benar merasa lega seperti bisa bernapas begitu orang tua serta mertuanya keluar dan bisa berbicara secara empat mata dengan pria yang telah membuatnya terlihat seperti seorang wanita tidak punya harga diri.
Apalagi ia mengingat bagaimana dirinya saat amnesia karena mengagumi seorang Austin Matteo yang bahkan dulu sangat dibenci karena telah membeli harga dirinya.
"Akhirnya kau menyuruh semua orang keluar karena kita perlu berbicara tanpa ada campur tangan dari orang lain." Diandra yang tadinya hanya berbaring di atas ranjang perawatan, kini bangkit duduk agar bisa melihat lebih jelas sosok pria yang masih telentang di hadapannya.
Sementara itu, Austin saat ini berdiam diri dengan perasaan bergejolak karena bingung harus berkomentar apa. Hingga ia memiliki kalimat yang pas dan ingin segera diungkapkan agar sang istri sedikit memberikan kelonggaran padanya atas kesalahan di masa lalu.
"Jujur saja karena aku melakukannya demi membuatmu nyaman. Aku tidak tega melihatmu tersudut karena di pojokan oleh semua orang tadi." Ia sebenarnya ingin sekali duduk dan berhadapan dengan wanita yang memiliki tatapan tajam menusuk itu, tapi berkali-kali mengingatkan diri sendiri agar tidak melakukan itu.
'Jika saat aku tidak berdaya saja, Diandra tega padaku dengan mengungkapkan yang sebenarnya untuk mengulitiku hidup-hidup, bagaimana saat aku sedang sehat-sehat saja. Pasti langsung menuntut cerai dengan mengurus di pengadilan,' gumam Austin yang saat ini berpikir jika ia harus menampilkan wajah memelas.
Tentu saja agar wanita yang sangat dicintainya itu mau memberikan ampunan atas kesalahannya di masa lalu saat Diandra masih belum amnesia.
"Sayang, kenapa kamu tidak amnesia saja selamanya agar kita bisa hidup bahagia tanpa masalah seperti ini." Entah kebodohan apa yang membuat Austin sampai mengatakan hal itu, tapi ia ingin wanita yang masih memerah wajahnya tersebut mengerti arti dari kalimatnya.
"Wah ... jadi kau lebih suka aku hidup dalam kepalsuan seumur hidup tanpa mengetahui kenyataan sebenarnya bahwa dari dulu sangat membencimu? Bukankah itu disebut munafik?" Diandra yang merasa sangat miris hidupnya, kali ini meremas kedua sisi pakaiannya untuk melampiaskan amarah.
'Rasanya aku ingin sekali menarik rambutnya ataupun menampar wajahnya, tapi tidak bisa melakukan pada orang yang sedang tidak berdaya. Hanya akan disebut seorang pengecut karena menyakiti,' gumamnya di dalam hati sambil mengambil botol air mineral dan meneguknya.
Berbicara panjang lebar dari tadi sampai mulutnya berbuih, benar-benar menguras energinya dan tenggorokannya sangat kering. Begitu air sudah membasahi tenggorokan, rasa segar menjalar di seluruh tubuhnya saat ini.
Hingga ia menahan diri untuk tidak melempar botol air mineral di tangannya di hadapan Austin Matteo. 'Sabar, Diandra. Kau pasti bisa melewati semua ini. Kehamilan kedua ini rasanya membuat emosiku meluap dan meluber.'
Austin yang dari tadi tidak mengalihkan perhatiannya pada sang istri yang masih memegang botol di tangan, kini terdiam selama beberapa detik untuk mencari kalimat yang pas sebagai pembelaan diri dan bisa mengena di hati Diandra.
"Sayang, aku tahu jika kamu adalah seorang wanita yang cerdas dan bisa mengerti apa yang kukatakan. Bahwa bukan itu maksudku karena yang paling penting untukku adalah kebahagiaan kita. Aku ingin keluarga kecil kita selalu dipenuhi oleh kebahagiaan."
Ia bahkan berbicara sambil memutar otak untuk mencari solusi dari masalah yang dihadapi. Hingga menemukan sebuah ide di kepalanya, tapi seperti mempertaruhkan hidupnya.
"Apa kamu akan selalu mengingat kesalahanku di masa lalu dan membuang kebahagiaan yang telah kita rajut bersama selama ini? Keegoisanmu akan menyakiti anak-anak kita yang kehilangan kasih sayang lengkap orang tua." Ia bahkan mengakhirinya seperti tengah berada di meja judi.
"Apa itu yang kamu inginkan? Sekarang katakan apa maumu?" sarkas Austin yang saat ini mencoba untuk menantang Diandra, meski sebenarnya di dalam hati dipenuhi oleh rasa takut sekaligus khawatir benar-benar kehilangan istri dan anak.
Diandra seketika meremas botol yang masih berisi air separuh itu. Sebenarnya bukan ancaman yang ingin didengarnya saat ini karena ingin tahu mengenai semua hal yang terjadi dan tidak dimengerti olehnya.
Bahwa ia membutuhkan penjelasan jujur dari pria itu yang dulu menikahnya karena membuat konspirasi besar hingga mengorbankan Yoshi. "Kau bilang apa mauku? Sementara tadi kau mengatakan jika aku mengerti apa yang kau katakan, padahal sebenarnya sama sekali tidak paham."
"Aku selama ini hidup berbahagia dengan Aksa tanpamu, jadi jangan bersikap seolah kamu adalah segalanya dalam hidupnya." Diandra yang tidak ingin kalah dengan Austin, kini berbalik menantang karena dari dulu tidak takut apapun karena sudah menjalani banyak masalah dalam hidupnya.
"Jika memang perceraian menjadi jalan yang terbaik untuk kita, lebih baik kita hidup masing-masing tanpa merasa tersiksa karena harus menghabiskan waktu seumur hidup dengan orang yang tidak bisa memahami perasaan masing-masing."
Diandra yang saat ini meraih ponsel miliknya karena ingin menelpon sang ibu, beralih menaikkan pandangan pada Austin yang kembali berbicara dengan nada penuh penekanan.
"Sayang, kenapa kamu selalu menganggap apa yang kukatakan itu negatif? Padahal yang sebenarnya bukanlah itu yang kumaksudkan. Apa kamu sama sekali tidak sadar jika kita tidak bisa bercerai sekarang saat kondisimu sedang hamil?" Austin masih berusaha untuk menahan diri agar tidak bangkit dan memeluk erat tubuh wanita yang saat ini tengah mengandung anak kedua dan ketiga.
__ADS_1
Bahkan ia meremas kuat kedua sisi seragam rumah sakit yang dikenakan agar tidak menunjukkan kebohongannya dan tentu saja akan semakin membuat sang istri bertambah murka padanya.
'Sabar, Austin. Kamu pasti bisa melewati ujian rumah tangga kalian. Aku harus menurunkan egoku untuk berbicara dengan lembut dan meminta maaf pada istriku,' lirih Austin yang saat ini masih tidak mengalihkan perhatian dari wajah pucat sang istri.
"Aku akan melakukan apapun asalkan kamu bisa memaafkanku dan kita bisa kembali hidup bersama dan bahagia bersama anak-anak kita. Sekarang katakan apa maumu, Sayang?" Austin bener-bener ingin merendahkan seluruh ego serta harga dirinya.
"Katakan, tapi jangan meminta untuk bercerai karena sampai kapan pun tidak akan pernah menandatanganinya." Austin yang saat ini baru menutup mulut, mendengar suara dering ponselnya.
Ia berusaha mengulurkan tangannya untuk mengambil karena ingin menonaktifkan ponsel agar bisa berbicara tanpa terganggu dengan masalah lain.
Namun, merasa kesusahan dan tangannya tidak bisa mengambil benda pipih di atas laci yang berada di sebelah kirinya. "Aaah ... sial!"
Diandra yang saat ini hanya diam melihat bagaimana pria berkuasa dan mempunyai segalanya tersebut tidak mampu meraih ponsel yang berdering.
"Kenapa kau tidak membiarkannya saja? Atau ingin memeriksa maupun berbicara dengan orang yang menelponmu saat kita belum selesai membahas masalah?" Diandra tadinya berniat untuk meminta penjelasan mengenai perbuatan jahat Austin pada Yoshi seperti cerita dari mantan mertuanya.
Jadi, kini semakin bertambah kesal karena malah sibuk dengan ponsel yang berdering.
Austin yang saat ini masih berusaha untuk meraih ponselnya tanpa menatap rasa istri yang mengomel dan kesal karena perbuatannya.
"Aku ingin mengambil dan menonaktifkan ponselku agar tidak mengganggu karena tidak bisa berkonsentrasi dan juga suaranya sangat bising," ucapnya usia saat ini hampir berhasil meraih mendampingi tersebut.
Namun, gagal melakukannya karena merasa terkejut ketika tangannya malah menyenggol botol air mineral dan jatuh di lantai. Hingga embusan napas kasar kini mewakili perasaannya.
Bahwa ia saat ini benar-benar seperti seorang pria tidak berdaya meskipun hanya berpura-pura semata. Akhirnya ia memilih untuk menyerah dan beralih menatap ke arah sang istri yang masih pada posisi semula karena dari tadi tidak bergerak sedikit pun.
"Kamu harus tahu, Sayang jika selama ini aku menolak beberapa hati demi bertahan pada satu hati yang entah untuk siapa. Sebenarnya untuk siapa hatimu itu akan kamu berikan sepenuhnya?" Embusan napas kasar mewakili perasaannya kala menatap sosok wanita yang selama ini dianggapnya sangat berharga.
"Aku selalu tidak bisa memahami seorang Diandra Ishana karena hanya bisa memahami istriku yang mengalami amnesia," seru Austin yang kini kembali memijat kepalanya yang masih diperban.
Kali ini ia bukan berakting kesakitan pada kepalanya karena jujur saja kepalanya benar-benar sangat pusing karena memikirkan sang istri yang tidak bisa dipahami.
Diandra hanya terdiam karena menyadari jika apa yang baru saja didengarnya memang adalah faktanya. Jujur saja ia juga merasa bingung dengan hatinya sendiri karena tidak tahu untuk siapa hatinya.
Ia dulu menikah dengan Yoshi juga bukan berdasarkan cinta karena semua perasaan itu hilang setelah mengikhlaskannya dengan wanita pilihan orang tua pria itu.
Hingga ia mengetahui jika pria sebaik Yoshi divonis tidak bisa memiliki keturunan dan membuatnya tidak tega yang bisa diartikan bahwa itu adalah perasaan iba, sehingga memutuskan untuk menerimanya sebagai seorang suami.
Apalagi di saat itu, ia juga merasa takut sekaligus khawatir jika sampai Austin mengetahui tentang Aksa, akan merebut putranya dan ternyata semuanya tidak terjadi karena malah membesarkan bersama-sama selama amnesia.
Diandra saat ini tertawa miris dengan tenaga yang hampir habis. Nasib baik ia saat ini masih duduk di tepi ranjang perawatan karena mungkin jika berdiri, sudah terhuyung karena kepalanya sangat pusing.
Memikirkan jika itu terjadi karena banyak masalah yang dihadapi serta efek dari kehamilan di trimester pertama.
Jujur saja ia merasa bingung jika sampai memilih pergi dan hidup sendiri bersama putra serta kandungannya karena berpikir jika orang tuanya tetap akan memilih Austin daripada dirinya yang dianggap sangat tidak tahu balas budi.
__ADS_1
"Sialnya, semua yang kau katakan benar. Apa ini yang disebut mati rasa seperti yang dikatakan oleh orang-orang?" Ia yang bisa melihat kekhawatiran dari pria di atas ranjang perawatan bergerak bangkit dari posisi berbaring dan berusaha untuk duduk.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Diandra masih mengerutkan kening melihat pergerakan dari Austin.
"Aku saat ini ingin memelukmu karena kamu tidak pernah mati rasa. Aku ingin membuktikan jika selama ini perasaan yang kamu tunjukkan padaku bukanlah sebuah kepalsuan," ucap Austin yang masih perlahan bangkit agar tidak ketahuan jika ia tengah berpura-pura kesulitan.
"Berhenti! Jangan melakukan apapun yang akan membuat orang tuaku serta orang tuamu semakin menyudutkanku dan menyalahkan. Jika kau sampai terjatuh dari ranjang dan kondisimu makin memburuk, pasti aku yang dikatakan menjadi penyebabnya."
Diandra yang tadinya sama sekali tidak memperdulikan apa yang dilakukan oleh Austin, saat ini merasa khawatir begitu melihat pergerakan pria yang kini sudah bangkit dari posisi berbaring dan berubah duduk.
Hingga tidak berhenti sampai di situ saja karena sudah bergerak untuk menurunkan kaki. "Aku bilang berhenti! Apa kau sama sekali tidak punya telinga?"
Austin saat ini hanya memikirkan satu hal, yaitu ingin membuktikan sendiri dengan cara berjuang mendapatkan perhatian Diandra, meskipun harus berbohong.
"Aku akan membuktikannya sendiri, jadi jangan menghalangiku," sarkas Austin yang saat ini perlahan menapakkan kakinya di lantai.
Kemudian berdiri sambil berpegangan pada tepi ranjang perawatan. "Jangan meremehkan seorang Austin Matteo."
Austin berniat untuk berpura-pura jatuh untuk mencari perhatian Diandra dan agar mau memaafkan kesalahannya.
Berbeda dengan apa yang dirasakan Diandra saat ini ketika mengkhawatirkan sosok pria yang perlahan berjalan sambil berpegangan pada tepi ranjang. Refleks ia bangkit berdiri karena sudah tahu apa yang akan terjadi dan membuatnya menarik tiang infus.
Hingga ia seketika menahan beban berat tubuh pria yang saat ini terhuyung ke depan dan nasib baik tidak jatuh terhempas ke lantai. "Dasar pria ceroboh! Bukankah sudah kubilang jangan bangkit dari ranjang karena kau belum pulig!" sarkas Diandra saat merasa sangat marah sekaligus kesal pada pria yang saat ini masih ditahan agar tidak sampai jatuh.
Austin yang saat ini berakhir memeluk erat tubuh Diandra yang menopang berat tubuhnya, sebenarnya merasa kegirangan di dalam hati karena masih mendapatkan perhatian.
Namun, tetap berusaha untuk bersikap datar sambil berpura-pura kehilangan seluruh tenaga karena menopangkan beban berat tubuhnya pada sang istri yang masih terus memeganginya.
"Jika aku mati dalam kecelakaan, apa kamu akan merasa puas dan tertawa? Apakah kamu tidak akan menangis ketika mengantarkanku ke liang lahat?" Ia saat ini ingin mendengar sendiri bagaimana tanggapan dari Diandra ketika mengucapkan kalimat yang paling dihindari oleh semua orang.
Namun, seolah ingin membuktikan jika keyakinannya bahwa wanita yang dulu mengungkapkan cinta padanya saat amnesia, masih memiliki setitik rasa di hati untuknya.
Diandra masih berusaha untuk berdiri tegak ketika menopang beban berat tubuh pria yang jauh lebih tinggi darinya saat ini sebenarnya juga sedang tidak baik-baik saja karena lemas.
"Lebih baik diam dan kembali ke atas ranjang! Kalau tidak, kita bisa jatuh karena aku tidak kuat jika lama-lama menahanmu." Diandra sebenarnya sangat ingin menarik telinga pria yang sangat bandel karena tidak mendengarkannya.
Namun, jika melakukannya, bisa dipastikan akan terhuyung ke belakang dan jatuh terhempas lantai bersama-sama.
"Aku yang akan menahan tubuhmu agar tidak terhempas ke lantai jika nanti jatuh," ucap Austin yang masih berakting perut pegangan pada bagian pinggang wanita dengan raut wajah memerah karena kesal padanya.
Sementara Diandra yang sama sekali tidak memperdulikan kalimat bernada rayuan yang dianggap sangat alay itu, kini berusaha berjalan dan mengarahkan Austin agar kembali ke ranjang.
"Diam karena aku sangat mual mendengarnya. Jangan buat aku muntah," sarkas Diandra yang seketika mengempaskan tubuh Austin ke atas ranjang.
Namun, nahas karena Austin langsung terhempas dengan terbaring terlentang dan ia pun terjatuh di atas dada bidang itu sampai menjerit karena sangat terkejut.
__ADS_1
To be continued...