
Diandra kini sudah tiba di rumah sakit setelah taksi yang mengantarnya sampai sebelum jam delapan. Tadi ia berencana untuk pergi ke hotel terdekat, tapi tidak jadi karena berpikir akan terlambat menemui pria yang tadi mengajaknya bertemu.
Ia tidak ingin membuat pria berhati malaikat itu menunggunya dan memutuskan untuk langsung ke rumah sakit setelah berhasil mengganti nomor ponselnya. Kini, Diandra merasa sangat lega karena tidak meninggalkan jejak apapun dan membuat seorang pria berhati malaikat itu menunggunya.
Apalagi ia tahu bahwa waktu adalah uang bagi orang-orang kaya. Ia yakin jika pria itu sangat kaya karena dengan mudahnya mentransfer uang ratusan juta tanpa ragu dan sama sekali tidak mengatakan apapun padanya.
Sangat berbeda dengan Austin yang langsung meminta jaminan tubuhnya saat ia secara baik-baik meminjam uang. Diandra kini melangkahkan kaki menuju ke tempat security.
'Aku harus menitipkan ini dan tidak mungkin membawa ke ruangan wanita itu. Aku juga belum tahu di mana ruangan wanita bernama Naura itu dirawat. Mau tanya ke bagian pendaftaran juga tidak tahu nama lengkapnya.'
Kini, Diandra mulai menyapa pria berseragam coklat tua itu setelah mengulas senyuman. "Selamat pagi, Pak. Apa saya boleh menitipkan koper ini sebentar? Ini hanya pakaian dan sama sekali tidak ada barang penting lainnya."
"Koper? Apa Anda mau pindahan, Mbak? Kenapa membawa koper ke rumah sakit? Jika Mbak percaya padaku, taruh saja di sini." Sang security itu kini langsung mengangkat koper itu masuk ke dalam pos tempatnya berjaga.
Diandra yang dari dulu selalu berpikir bahwa semua orang berhati baik kecuali Austin, kini kembali tersenyum simpul.
"Saya kebetulan sedang mencari tempat kos setelah pindah dari tempat yang lama, tapi ingin menjenguk teman sebentar di sini. Saya yakin Anda adalah orang baik. Terima kasih sudah mau membantu saya, Pak."
Diandra bahkan sudah membungkuk hormat pada pria itu dan setelah melihat tanggapan, kini berpamitan untuk segera berjalan menuju ke arah lobi rumah sakit.
Sementara sesaat sebelum itu, sosok pria yang baru saja mengemudikan mobil memasuki area rumah sakit, merasa heran saat melihat wanita yang dikenalnya menenteng koper dan terlihat menitipkan pada security.
Pria yang tak lain adalah Yoshi, kini tengah mengerutkan kening karena merasa aneh. "Kenapa Diandra membawa koper? Apa ia mau pergi? Pergi ke mana? Ia tadi bilang sudah dipecat dari perusahaan, memangnya apa alasannya?"
Entah mengapa Yoshi merasa sangat penasaran dengan wanita baik yang telah menyelamatkan sepupunya, sehingga kini ia langsung memarkirkan mobilnya di tempat yang tersedia.
Saat hendak beranjak keluar dari mobil, mendengar suara dering ponsel dan begitu melihatnya, nomor baru tak dikenal membuatnya memicingkan mata.
"Siapa lagi ini?" Yoshi dengan malas menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara dari seberang telpon yang sudah dihafalnya, tapi membuatnya merasa sangat aneh karena Diandra yang menelpon dengan nomor baru.
Hal itu membuatnya merasa sangat aneh sekaligus curiga ada sesuatu hal yang menjadi penyebabnya.
"Halo?"
"Tuan Yoshi, di mana ruangan perawatan sepupu Anda? Saya tidak tahu nama lengkap sepupu Anda, jadi bingung untuk bertanya pada petugas."
__ADS_1
"Tunggu saja aku di loby karena aku sedang menuju ke sana. Saat ini aku ada di parkiran." Tanpa menunggu jawaban dari Diandra, Yoshi mematikan sambungan telpon dan buru-buru keluar dari mobil.
Ia yang saat ini punya banyak pertanyaan pada Diandra, ingin mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada wanita itu karena pergi dengan membawa koper. Kini, ia sudah berjalan menuju ke arah lobi untuk mencari sosok wanita yang membuatnya merasa sangat penasaran.
Begitu ia melihat sosok wanita yang berdiri di dekat loket pendaftaran, seketika melambaikan tangan dan tersenyum sambil mempercepat langkah kaki.
Sementara itu di sisi berbeda, Diandra yang dari tadi menatap ke arah pintu depan, seketika tersenyum simpul saat melihat sosok pria dengan penampilan sangat rapi dan makin terlihat rupawan. Berbeda dengan penampilan sederhana semalam yang hanya memakai kaos kasual.
Sementara saat ini memakai celana bahan hitam dengan dipadukan kemeja putih dan dasi berwarna biru. Bahkan terlihat jelas tubuh proporsional pria dengan rambut klimis serta sepatu pantofel menunjukkan bahwa pria itu adalah seorang pekerja kantoran.
'Apakah tuan Yoshi juga merupakan pria konglomerat pemimpin perusahaan seperti bajingan itu?' gumam Diandra yang saat ini melihat Yoshi sudah berdirinya di hadapannya dan langsung membungkuk hormat sebagai ucapan salam.
"Selamat pagi, Tuan Yoshi."
"Jangan panggil aku tuan seperti aku adalah majikan saja. Panggil saja aku Yoshi tanpa embel-embel tuan karena sangat risi. Aku sangat lapar karena tadi belum sarapan. Temani aku dulu makan di kantin." Yoshi kini berjalan menuju ke arah kantin tanpa menunggu jawaban dari wanita yang ada di hadapannya.
Sementara itu, Diandra yang belum berkomentar pun kini harus berjalan mengekor pria dengan bahu lebar itu tanpa bisa menolak karena merasa sangat tidak enak. Ada banyak hal yang ingin ia sampaikan pada pria itu dan segera pergi karena hari ini akan sibuk mencari tempat tinggal.
Niatnya tadi adalah ingin bertanya apakah pria itu tahu mengenai lowongan pekerjaan, tapi ia mengurungkan niat karena tidak ingin dianggap seperti memanfaatkan.
'Apa aku pergi jauh dari Jakarta dan mencari pekerjaan di tempat lain saja?' Diandra kini tengah sibuk sendiri memikirkan sesuatu yang akan menjadi pilihannya.
Yoshi yang tadi berjalan di depan, kini melambatkan langkah kaki agar bisa sejajar dengan wanita yang belum menyamakan posisi dengannya. Ia kini menoleh ke belakang dan melihat Diandra seperti kosong pandangannya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Kamu seperti tengah banyak pikiran?" Yoshi bahkan sampai menghentikan langkahnya dan tidak masuk lebih dulu ke kantin yang dituju.
Diandra yang menyadari kebodohannya, kini hanya menggeleng perlahan agar pria itu tidak berpikir macam-macam padanya. "Tidak memikirkan apa-apa, Tu ...."
Diandra kini mendapatkan tatapan tajam saat mengingat bahwa pria itu tadi mengungkapkan sebuah ancaman. "Aku hanya ingin bilang bahwa tadi sudah sarapan roti dan masih kenyang."
Yoshi sangat yakin bukan itu yang dipikirkan oleh Diandra karena jelas terlihat seperti orang yang sedang mengalami banyak masalah. Namun, ia mengalihkan pembicaraan agar tidak membuat wanita di hadapannya merasa tidak nyaman.
"Kamu seperti bule saja sarapan roti. Orang Indonesia mana kenyang hanya sarapan roti. Ayo, kita masuk. Kamu harus makan banyak agar kuat menghadapi kenyataan." Kemudian Yoshi langsung menarik pergelangan tangan Diandra agar berjalan lebih cepat menuju ke arah kantin.
Namun, ia sangat terkenal ketika tangannya diempaskan oleh wanita yang terlihat berubah memerah wajahnya.
__ADS_1
"Lepaskan tanganku!" sarkas Diandra yang merasa sangat marah ketika tangannya disentuh oleh pria di hadapannya.
Ia seperti langsung mengingat semua perbuatan Austin yang selalu memaksanya hingga membuatnya merasa sangat marah. Bahkan saat ini ia menatap tajam sosok pria yang berdiri dengan tatapan penuh pertanyaan.
Refleks Yoshi mengangkat kedua tangan ke atas karena sangat terkejut dengan tanggapan dari tanggapan sosok wanita di hadapannya tersebut.
"Maaf. Aku tidak bermaksud untuk mencari kesempatan untuk menyentuhmu. Jika kamu tidak ingin pergi ke kantin, apa langsung ke ruangan Nauraku?" Yoshi masih berusaha untuk mencairkan suasana yang tiba-tiba berubah penuh ketegangan.
Bahkan ia sama sekali tidak memperdulikan beberapa orang melintas yang hendak memasuki kantin karena saat ini hanya fokus pada sosok wanita dengan wajah seperti dipenuhi oleh angkara murka itu.
'Dasar bodoh! Kenapa aku malah bersikap tidak sopan dengan langsung memegang tangannya? Padahal kami bahkan baru kenal dan tidak cukup dekat sampai melakukan hal itu. Dasar bodoh!' umpat Austin yang kini sibuk merutuki kebodohannya sendiri.
Berbeda dengan Diandra yang saat ini langsung menyadari bahwa sikapnya barusan sangat keterlaluan pada pria yang diketahuinya adalah seorang pria yang sangat baik. Ia kini menatap ke arah beberapa orang yang melihatnya dengan tatapan aneh.
Kemudian beralih pada Yoshi yang terlihat sangat menyesal karena refleks menggandeng tangannya. "Maafkan aku karena bersikap berlebihan. Aku tadi tiba-tiba merasa pusing dan membuatku refleks berteriak padamu."
"Sebenarnya kamu benar. Kalau orang Indonesia belum merasa cukup saat hanya sarapan roti karena terbiasa makan nasi. Baiklah, kita sarapan di kantin saja." Diandra tidak ingin dianggap sebagai seorang wanita sok suci saat tidak mau disentuh, sehingga menjelaskan dengan merancang kebohongan.
"Aku yang akan traktir karena kamu sudah membantu orang tuaku. Lagipula aku pun ingin membicarakan masalah itu dan tidak mungkin berbicara di depan Nauramu."
Kemudian Diandra melengkah masuk ke dalam kantin yang kini sudah banyak orang yang mencari sarapan. Ia hari ini menyadari sesuatu bahwa apa yang dikatakan oleh pria itu tadi benar.
'Aku harus makan banyak agar kuat menghadapi kenyataan,' gumam Diandra yang kini langsung mengambil piring dan menyerahkan pada pria di belakangnya.
"Makan yang banyak biar kuat menghadapi kenyataan!" Diandra sengaja mengulang perkataan pria yang kini langsung tersenyum padanya dan aura ketegangan di antara mereka seketika mencair.
Yoshi bisa mengetahui bahwa ada sesuatu hal yang tengah disembunyikan oleh wanita yang terlihat sangat tertekan itu, sehingga ia kini berpikir bahwa ia akan lebih berhati-hati agar Diandra tidak tersinggung pada perbuatannya.
"Kenapa kamu malah plagiat kata-kataku. Awas kena masalah hak cipta," sahut Yoshi yang terkekeh geli melihat ekspresi wajah Diandra ketika mengerucutkan bibir.
"Sepertinya aku harus membayarnya dengan mentraktirmu sarapan. Anggap saja itu adalah ganti rugi dariku." Diandra yang mengambil nasi serta lauk ayam rendang, kini berjalan menuju ke arah meja dan beberapa saat kemudian duduk berhadapan dengan pria yang mengambil menu makanan sama sepertinya.
"Sama?"
"Iya, aku juga suka makanan khas Minangkabau ini." Yoshi kini langsung melahap makanannya tanpa memperdulikan Diandra yang masih menatapnya dengan heran.
__ADS_1
To be continued ...