
Diandra seketika merasa sangat kesal karena ingin memberikan yang terbaik untuk sang suami malah dianggap candaan semata. Namun, sejujurnya di dalam hati ingin tertawa melihat raut wajah sang suami ketika seperti merasa heran atas perbuatannya yang sangat nakal untuk pertama kalinya.
"Nih, rasakan! Biar kamu sadar sedang bermimpi atau tidak. Ya, aku memang dirasuki setan dan setannya adalah kamu. Antara merasa bersalah sekaligus beruntung karena memilikimu. Sekarang aku sadar jika kau sangat mencintaiku dan tidak mungkin aku menyia-nyiakannya, kan?" ucap Diandra yang ingin menyadarkan sang suami bahwa ia kini telah menerima pria itu sepenuhnya.
Ia ingin menunjukkan semua kebenciannya di masa lalu telah sirna ketika menyadari bahwa cinta seorang Austin Matteo padanya sangatlah besar.
"I love you, too."
Kalimat terakhir yang kini masuk dalam indra pendengarannya, serasa oase di padang pasir. Ia bahkan saat ini tidak bisa lagi menahan rasa bahagianya karena impiannya telah terwujud.
Austin seketika tersenyum lebar dan mengangkat tangannya untuk menelusuri wajah sang istri. "Terima kasih, Sayang. Akhirnya kamu bisa melihat betapa besar cintaku padamu selama ini."
"Aku bahkan tidak menginginkan wanita lain setelah bertemu denganmu." Austin bahkan merasa sangat terharu dan membuat bola mata berkaca-kaca, tapi menahan diri agar tidak menangis seperti seorang pria lemah.
Ia bahkan merasa semakin terharu ketika mendapatkan kecupan lembut di pipinya.
"Aku yang harusnya aku terima kasih padamu, Sayang. Aku sebenarnya bukanlah siapa-siapa, tapi berlagak menjadi seorang wanita hebat. Maaf karena selama ini selalu membuatmu merasa bersalah." Diandra bisa melihat cinta begitu besar diiris tajam berkilat sang suami.
Ia yang tadinya membiarkan pria di hadapannya tersebut mengusap lembut pipinya, kini melakukan hal sama untuk mengungkapkan cintanya yang begitu besar dan baru disadari olehnya.
"Sama-sama, Sayang. Sebenarnya kamu tidak perlu berterima kasih karena semua yang kulakukan sangat tulus. Semoga rumah tangga kita akan selamanya bahagia seperti ini karena aku tidak akan membiarkan ada satupun orang yang menghancurkannya." Austin sebenarnya ingin sekali segera ******* bibir sensual sang istri dan tentu saja meledakkan gairah di atas ranjang perawatan tersebut.
Namun, ia sadar tidak bisa melakukan itu karena berpikir jika sang istri masih hamil di trimester pertama dan juga mendapatkan pesan dari dokter untuk selalu menjaga perasaan serta kondisi tubuhnya.
"Sayang, bukannya aku tidak mau melakukannya, tapi khawatir terjadi yang sesuatu yang buruk pada anak-anak kita di dalam sini." Ia sudah mengusap lembut perut datar wanita yang masih telentang di atas ranjang perawatan.
Apalagi mengetahui jika janin yang ada di rahim sang istri adalah kembar dan sangat beresiko, sehingga sangat takut jika terjadi sesuatu yang buruk.
"Apa kata dokter tadi?" Diandra yang kini memikirkan perkataan dari sang suami, berubah khawatir karena memang baru pertama kali hamil bayi kembar.
Ia merasa malu pada diri sendiri karena malah menggoda sang suami yang bahkan mengerti dengan kebaikannya dan mampu menahan diri.
"Kondisimu kandunganmu sangat lemah, Sayang. Kamu juga tidak boleh banyak pikiran dan harus selalu merasa senang sekaligus bahagia agar dua bayi kembar yang ada di janinmu ini baik-baik saja. Kata dokter, jika ibunya stres, bayi di kandungan akan beberapa kali lipat lebih stres." Ia sebenarnya tahu apa yang menjadi penyebab sang istri banyak pikiran.
Jadi, tidak ingin menyalahkan ataupun membahas lebih lanjut karena hanya berpesan agar lebih menjaga kesehatan dan juga tidak banyak pikiran. "Kamu harus fokus pada kandunganmu yang masih rentan, Sayang. Semoga anak-anak kita lahir ke dunia ini dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun."
Ia berjanji pada diri sendiri untuk memberikan semua yang terbaik karena dulu tidak bisa melakukannya ketika hamil Aksa—anak sulung mereka.
Diandra saat ini menatap ke arah tangan dengan buku-buku kuat yang mengusap perutnya yang datar. Ia kini merasa jika menjadi seorang ibu dengan tanggung jawab besar karena ada dua janin di dalam rahimnya.
"Aku bahkan tidak pernah membayangkan bisa memiliki anak kembar, tapi pastinya akan sangat menyenangkan dan juga lebih berat merawat serta menjaga mereka." Ia kini mengikuti gerakan sang suami.
Saat Austin fokus pada perut datar sang istri, jadi berlari menatap ke arah wajah cantik wanita yang sangat dipujanya tersebut. "Aku akan membantumu, Sayang. Meskipun tidak sepenuhnya karena tetap seorang ibu yang bisa melakukannya, tapi kita bisa berbagi tugas, kan?"
Diandra yang tersenyum serta menganggukkan kepala karena merasa sangat bahagia ketika kehamilan yang kedua mendapatkan perhatian penuh dari sang suami. "Ya, aku kita akan membiarkanmu hanya asyik membuat saja, tapi juga harus merasakan repotnya mengurus anak.
"Apalagi kamu dulu tidak melihat bagaimana aku berjuang sendiri ketika merawat Aksa. Semoga anak-anak kita dilindungi oleh Tuhan." Diandra yang saat ini mengingat sesuatu, ingin mengatakan pada sang suami.
"Iya, aku pasti akan membantumu, Sayang." Austin saat ini melihat raut wajah Diandra yang seperti tengah menahan sesuatu. "Ada apa, Sayang?"
__ADS_1
"Aku merasa bersalah pada Aisyah dan juga putrinya karena telah merebutmu. Apa yang terjadi padanya? Bukankah dia kehilangan sosok ayah? Suruh saja kembali ke Indonesia. Aku tidak bisa hidup tenang jika mengetahui sepupumu dan juga putrinya pergi hanya gara-gara aku." Diandra benar-benar tidak menyangka jika efek kehadirannya menyusahkan banyak orang.
Sementara itu, Austin saat ini hanya terkekeh beli mendengarnya karena sebenarnya sepupunya juga mendapatkan tawaran dari luar negeri dan sekarang mencari hubungan dengan seorang pria berkebangsaan Jerman.
"Kamu tidak perlu merasa bersalah ataupun khawatir padanya karena dia sudah hidup bahagia. Dia mendapatkan pekerjaan yang bagus di luar negeri dan juga sebentar lagi akan menikah. Nanti saat dia menikah, kita akan datang ke sana," ucap Austin yang saat ini bergerak naik ke atas ranjang karena ingin tidur di sebelah sang istri.
Ya, kali ini ia ingin tidur dengan memeluk tanpa melakukan apapun. Tentu saja menahan hasratnya karena tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada calon anak-anaknya di rahim Diandra.
"Ini sudah malam, Sayang. Sekarang kita tidur agar besok bisa menjalani hari dengan baik. Besok adalah lembaran baru dari hubungan kita karena kamu sudah pulih dari amnesia. Semuanya akan terasa berbeda dan lebih bermakna karena tidak ada lagi kepalsuan ataupun kebohongan di antara kita." Ia pun melingkarkan tangannya pada perut datar sang istri.
Diandra yang tadinya merasa sangat lega karena apa yang ditakutkan tidak terjadi, sehingga tidak merasa bersalah berlebihan pada sepupu sang suami.
"Syukurlah jika semuanya baik-baik saja. Aku benar-benar merasa bersalah pada sepupumu itu begitu mengetahui jika kamu menyuruhnya pergi agar tidak bertemu denganku." Diandra yang berniat untuk memejamkan mata karena juga sangat mengantuk, tapi ingin mengetahui sesuatu.
"Kapan aku bisa pulang ke rumah? Kasihan Aksa di rumah bersama dengan para pelayan. Pasti sangat merindukanku. Kenapa tadi tidak menyuruh orang tua kita untuk menginap di rumah?" Diandra menepuk jidat karena yang dari tadi dipikirkan hanyalah kebencian serta kemurkaan.
Hingga ia merupakan putranya yang dijaga oleh bodyguard ketika ia masuk ke ruang IGD dan berakhir pingsan. "Aksa, aku ingin menelponnya. Kamu lakukan video call."
"Pasti tanpa disuruh, orang tua kita sudah berada di rumah bersama dengan Aksa, Sayang. Besok pagi saja menelpon Aksa karena pasti sekarang sudah tertidur. Sekarang ayo kita tidur. Aku lebih baik tidur daripada berhasrat padamu." Saat baru saja menutup mulut, merasa sangat terkejut karena pintu terbuka.
Diandra pun merasa demikian karena tidak menyangka jika perawat akan datang saat malam. Refleks ia menyuruh sang suami untuk turun karena merasa malu.
"Maaf, mengganggu. Saya mau memeriksa kondisi Anda, Nyonya." Sang perawat yang tadi memang belum memeriksa tensi pasien, ini langsung bergerak melaksanakan tugasnya.
Sementara itu, Diandra yang hanya menganggukkan kepala sebagai persetujuan dan merasa lega karena sang suami sudah turun dari ranjang, kini menatap ke arah perawat di hadapannya.
'Apakah perawat ini berpura-pura atau benar-benar memeriksa tensiku?' gumam Diandra berpikir jika wanita berseragam putih tersebut benar-benar memeriksanya.
Austin hanya menggaruk rambutnya yang tidak gatal sambil terkekeh. "Tentu saja, Sayang karena itu sebagai ucapan terima kasihku. Suamimu ini adalah tipe pria yang suka membalas budi."
Kemudian beralih menatap ke arah perawat di hadapannya. "Nanti sekalian aku kasih bonus untuk perawat ini. Meskipun dia tidak ada hubungannya dengan sandiwaraku, tapi aku berbaik hati karena saat ini mendengar pembicaraan kita."
"Terima kasih, Tuan," sahut perawat yang saat ini mencatat tensi dari pasien.
"Sama-sama, Suster." Austin saat ini tersenyum pada perawat dan ketika beralih menatap sang istri, mengerutkan kening karena melihat tatapan tajam yang diarahkan padanya.
Ia merasa heran kenapa Diandra seperti kesal padanya. Begitu perawat berjalan keluar dan menghilang di balik pintu, ia saat ini terdiam karena bingung harus berkata apa.
"Dasar pria penggoda!" sarkas Diandra yang saat ini merasa kesal melihat sang suami tersenyum pada wanita lain.
"Apa kamu sedang cemburu, Sayang?" Austin yang tadinya merasa bingung sekaligus heran kenapa sikap sang istri berubah tiba-tiba, seketika berpikir jika wanita di hadapannya tersebut Tengah menunjukkan cintanya.
Diandra seketika memalingkan wajah karena merasa kesal. "Siapa juga yang cemburu. Sudahlah. Aku mau tidur dan tidak ingin diganggu. Kamu tidur dirancang sendiri saja sana!" Ia akan menuju ke arah ranjang perawatan sebelah.
Melihat sikap menggemaskan dari sang istri, Austin malah tertawa terbahak-bahak. "Astaga, Sayang. Jika cemburu, lebih baik jujur saja dan mengakui daripada memendam di hati karena aku tidak ingin suasana hatimu berubah buruk hanya gara-gara hal sepele."
"Aku tidak cemburu!" sarkas Diandra yang saat ini memilih memejamkan mata dan tidak ingin menatap ke arah pria yang membuatnya kesal.
Namun, ia merasakan pergerakan dari sang suami yang naik ke atas ranjang dan langsung berbaring di sebelahnya sambil memeluk. Ia mencoba untuk menghindar dan menggerakkan tubuhnya.
__ADS_1
"Iih ... Lepaskan! Bukannya sudah kubilang tidur di sana dan jangan menggangguku!" Diandra yang benar-benar sangat kesal karena jujur saja ia sangat tidak suka sang suami tersenyum pada wanita lain.
Apalagi mengetahui jika dulunya Austin Matteo adalah seorang Playboy dengan banyak wanita. Ia sebenarnya sangat mempercayai sang suami dan tidak takut jika berselingkuh, tapi yang ditakuti adalah ada wanita yang berusaha untuk menggoda dan melakukan segala cara demi bisa mendapatkan pria mapan dan tampan.
Austin yang mengetahui jika seorang wanita selalu bersikap lain di mulut lain di hati, jadi tidak memperdulikan penolakan itu dan tetap memeluk dengan erat.
"Tidak mau! Aku tetap akan tidur di sini. Berteriaklah sepuasmu, tapi aku tidak akan pergi." Austin ini semakin mengeratkan pelukannya tanpa memperdulikan pergerakan dari Diandra yang seperti menolak untuk dipeluk.
Hingga ia tersenyum senang karena sudah tidak mendapatkan penolakan setelah beberapa saat berlalu.
"Menyebalkan!" sahut Diandra yang saat ini mengerucutkan bibir meskipun di dalam hati sangat senang karena sang suami tidak mendengarkan perintahnya.
'Suamiku memang sangat pengertian dan tahu apa yang kuinginkan karena aku ingin tidur dipeluk olehnya,' gumam Diandra yang masih memejamkan matanya.
Akhirnya ia kini menikmati nyamannya dipeluk oleh sang suami sambil tersenyum simpul. Hingga suara bisikan pria di sampingnya membuat bulu kuduk meremang.
Austin sebenarnya merasa sangat senang melihat sang istri cemburu, tapi sekaligus khawatir jika hal tersebut malah meregangkan hubungan mereka yang sudah jauh lebih baik. "Sayang, kalau ada yang salah dengan perbuatanku dan kamu tidak suka, langsung bilang saja karena seorang pria itu mayoritas tidak peka."
"Sedangkan para wanita ingin seorang pria selalu mengerti apa yang diinginkan. Jadi, aku harap kita tidak bertengkar hanya gara-gara masalah sepele atau kesalahpahaman." Austin yang mengenal banyak wanita di masa lalu, sering mendengar itu dan dari dulu sangat kesal.
Namun, baru kali ini bersabar menghadapi seorang wanita, yaitu istri sendiri. Ia bahkan sudah menggoda dengan menjilat leher putih dan jenjang di hadapannya.
"Issh ... geli!" Diandra seketika menggeser kepalanya agar sang suami tidak melanjutkan perbuatan akalnya.
Ia akhirnya membuka kelopak mata dan menatap tajam pria yang malah menertawakannya dan membuatnya kesal, sehingga langsung mencubit pinggang kokoh itu.
"Jangan melakukannya lagi atau kugigit tanganmu!" Diandra sebenarnya membenarkan perkataan dari sang suami karena memang itu yang diinginkan.
Ia ingin suami selalu peka padanya dan mengerti apapun yang diinginkan, tapi memang pada kenyataannya, seorang pria jarang bisa mengerti dan memahaminya.
Namun, ia akui jika pria yang ada di hadapannya tersebut sangatlah peka dan selalu mengerti apa yang diinginkan. Contohnya adalah melarang tidur bersamanya, tapi tidak didengarkan dan itu membuatnya sangat senang.
"Suami harus peka pada apapun yang diinginkan istri tanpa dijelaskan. Itu adalah hukum dalam berumah tangga yang sudah tidak bisa diganggu gugat!" sahut Diandra yang sebenarnya ingin tertawa mendengar perkataannya sendiri yang dianggap sangat konyol.
Namun, ia tetap berakting seperti tengah menunjukkan kekuasaan sebagai seorang istri yang lebih tinggi dibandingkan suami.
"Itu adalah sebuah hal yang sangat berat, Sayang. Aku hanyalah manusia biasa, bukan seorang peramal. Tapi aku akan mencobanya. Semoga tidak selalu mendapatkan kemurkaanmu karena tidak menjadi seorang suami peka." Ia kini kembali bergerak untuk mendekatkan tubuhnya agar bisa memeluk erat.
"Baiklah. Sekarang kita tidur. Besok aku akan menanyakan pada dokter, apakah mengizinkanmu pulang." Kemudian memejamkan mata dan berharap jika segera tertidur.
Berbeda dengan Diandra yang saat ini tidak mengantuk dan ingin mendengar semua cerita tentang masa lalu yang tidak diketahui ketika ia pergi dan pria itu mengalami amnesia. "Temani aku begadang. Jadi, jangan tidur."
Austin yang bahkan saat ini sudah menguap, kini kembali membuka matanya. "Baiklah. Aku akan menemanimu dan menceritakan masa lalu setelah kamu pergi dariku."
Meskipun sebenarnya merasa sangat mengantuk, Austin tetap menceritakan hal-hal yang dulu dialami saat sebelum hilang ingatan dan sesudahnya
Sementara Diandra mendengarkan dengan sangat serius karena memang ingin mengetahui apa saja yang tidak diketahuinya. Hingga lama-kelamaan tanpa sadar ia tertidur dan memejamkan kedua mata.
Melihat sang istri sudah memejamkan mata setelah setengah jam ia bercerita, Austin tersenyum simpul dan mencium keningnya. "Selamat malam, Istriku. Mimpi yang indah. I love you."
__ADS_1
To be continued...