
Selama jalanan menuju ke taman kota yang menjadi tempat pertemuan antara ia dan Diandra, Austin bahkan beberapa kali menyuruh asisten pribadinya yang berada di balik kemudi tersebut menambah kecepatan.
Sepanjang perjalanan, Austin merasa sangat khawatir pada wanita yang sangat berani mengajaknya bertemu di tengah malam. Berpikir mungkin akan ada kurang jahat yang bisa saja menyakiti wanita itu, sehingga membuatnya merasa sangat khawatir.
"Tambah kecepatan!" sarkas Austin yang merasa jika pria di balik kemudi tersebut tidak mendengarkan perintahnya.
Sementara itu, Daffa Ibrahim yang dari tadi sudah menambah kecepatan, tapi tetap kurang juga karena mendapat perintah terus-menerus, membuatnya membuka suara.
"Tuan Austin, saya masih perjaka karena belum menikah dan belum merasakan bagaimana rasanya surga dunia seperti yang dikatakan orang-orang. Jika saya menambah kecepatan lebih dari ini, bisa-bisa malah tidak sampai di taman, tapi di kuburan."
"Saya masih ingin hidup, Bos." Berbicara dengan pandangan fokus ke arah depan karena kali ini mengemudikan kendaraan melebihi biasanya.
Apalagi ia cara mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi karena selalu berangkat kemanapun lebih awal agar tidak diburu waktu. Ia hanya bisa mengumpat di dalam hati untuk meluapkan kekesalan pada pria yang duduk di kursi belakang tersebut.
__ADS_1
'Sebenarnya bos ingin bertemu dengan siapa tengah malam begini? Kenapa harus selalu merepotkanku saat jam istirahat dan harusnya sudah bergelung dengan selimut hangat di dalam kamar sambil mimpi indah,' gumam Daffa yang merasa senang karena pria yang selama ini menggajinya dengan cukup tinggi tersebut hanya diam saja.
Seolah membenarkan apa yang baru saja ia ungkapkan mengenai posisinya. Refleks ia melirik sekilas ke arah spion agar bisa melihat pria yang saat ini ada di kursi belakang.
'Apa yang sebenarnya tengah dipikirkan oleh bos? Mendadak cerewet dan berubah diam seperti tengah menanggung beban masalah yang berat saja.' Daffa masih menunggu respon dari bosnya dengan mengendarai mobilnya menuju ke arah taman kota.
Sementara itu di sisi lain, sosok pria yang saat ini tengah menatap ke arah depan, yaitu Austin seolah tertampar dengan perkataan dari asisten pribadinya.
'*Benar juga apa yang dikatakan oleh Daffa. Jika mobil ini mengalami kecelakaan, yang ada akan benar-benar berakhir di pemakaman.'
"Diandra akan baik-baik saja," lirih Austin yang kini berusaha untuk berpikir positif.
"Oh ... jadi Tuan Austin mau menemui nona Diandra?" tanya Daffa yang kini mulai mengerti penyebab kegilaan dari bosnya tersebut.
__ADS_1
Hingga ia yang kini merasa sangat lega karena akhirnya tiba di tempat yang akan menjadi pertemuan antara bos dengan wanita yang sangat dipuja-puja. Ia memarkirkan mobil di tempat yang tersedia dan menatap ke arah area taman yang sangat sepi.
"Sepertinya nona Diandra belum tiba di sini, Tuan Austin." Daffa berbicara sambil mematikan mesin mobil.
Namun, tanggapan dari bosnya membuatnya merasa sangat kesal, tapi hanya diam saja.
"Dasar bodoh! Bahkan dari dalam mobil saja aku tahu jika Diandra sudah datang," sarkas Austin sambil menatap ke arah ponsel miliknya.
Di mana di sana ada pesan dari Diandra yang mengirimkan lokasinya berada, yaitu di pinggir jalan raya. 'Ternyata Diandra berada di pinggir jalan raya agar tidak ada yang berbuat macam-macam padanya.'
'Cintaku memang sangat pintar,' gumam Austin yang kini buru-buru keluar dari mobil dan langsung menemui wanita yang sangat dirindukannya.
"Kau di sini saja karena nanti aku ingin mengantar cintaku pulang karena tidak mungkin membiarkannya sendirian berjalan di tengah malam seperti ini." Austin sekilas melihat ke depan dan langsung keluar begitu asisten pribadinya tersebut mengiyakan dengan singkat.
__ADS_1
To be continued....