Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Lebih protektif


__ADS_3

Austin yang kini sudah mengungkung sosok wanita yang ada di sebelahnya, kini tidak suka melihat Diandra memalingkan wajahnya saat ia menunjukkan sesuatu.


Ia tadi membuka situs yang biasanya ditonton bersama dengan beberapa sahabatnya. "Jangan bilang kamu juga belum pernah melihat video seperti ini?"


Diandra yang dari tadi memalingkan wajahnya, kini masih merasa risi dengan suara-suara yang dianggap sangat tidak nyaman untuk didengar. Apalagi merasa tubuhnya seketika meremang.


Bahkan tangan dengan jemari kuat itu tengah mengarahkan wajahnya yang berpaling agar kembali menoleh ke arah pria itu dan kini ia seketika bersitatap dengan iris tajam berkilat dari pria yang tiba-tiba merubah posisi.


Secepat kilat Austin kini bergerak dan sudah mengungkung kedua sisi wanita di bawahnya yang terlihat memerah wajahnya saat ditatap olehnya dengan jarak hanya beberapa senti.


Entah mengapa ia merasa sangat senang melihat raut wajah memerah sekaligus memperlihatkan sebuah kebingungan.


Wajah yang sangat polos itu membuat Austin lebih bersemangat untuk semakin mengerjai wanita di bawahnya. "Kamu belum menjawab pertanyaanku. Cepat jawab sekarang!"


Diandra merasa apa yang dilakukan oleh Austin hari ini terlalu berlebihan. Tadinya ia berpikir cepat melakukannya dan langsung pergi dari apartemen pria yang telah membeli keperawanannya.


Namun, semua tidak sesuai dengan ekspektasi yang dibangun karena ternyata Austin malah seperti menjadikan ia pemilik dan menganggapnya sebuah barang.


Tidak akan dibuang sebelum bosan setelah mengerti jika saat ini pria itu ingin ia menghabiskan waktu semalaman di sana.


Sekarang malah pria itu seolah-olah tengah menunda-nunda semuanya seperti tengah bersama seorang kekasih saja. Kini, ia menatap ke arah sosok pria yang masih mengunci tatapannya.


"Saya memang tidak pernah melihat sesuatu yang haram untuk dilihat. Buat apa melihat sesuatu yang hanya menyebabkan kemudharatan semata. Memangnya apa untungnya melihat video seperti itu?"


"Tanpa melihatnya, nanti juga tahu sendiri setelah menikah dan akan melakukannya dengan pasangan yang sah." Meskipun merasa tertampar dengan jawaban sendiri, tapi Diandra hanya fokus untuk menjawab sesuai dengan apa yang ia pikirkan.


Berharap pria itu segera menjauh dan melepaskan kuasa. Namun, harapannya hanya semu karena kembali mendapatkan sebuah pertanyaan yang membuatnya kali ini merasa lidahnya tiba-tiba kelu.


Saat kalimat terakhir membuat Austin sangat penasaran dan ingin mengetahui sesuatu yang lebih jauh, kini tersenyum smirk dan menelusuri setiap sudut bibir sensual yang membuatnya ingin membungkamnya.


"Apakah kamu berencana untuk menikah? Lalu, apa kamu pikir ada pria yang mau denganmu setelah tidak perawan? Semua pria di dunia ini sangat egois dan ingin mendapatkan wanita yang masih tersegel dan belum dibuka oleh laki-laki manapun."


Sengaja Austin mengatakan hal itu untuk mengingatkan Diandra agar tidak berpikir untuk menikah dengan pria lain karena setelah hari ini, sudah menganggap bahwa wanita itu hanya miliknya.


Meskipun ia tidak mengatakan secara langsung pada Diandra, tapi akan lama menunjukkan kekuasaannya Agat tidak lari darinya. Jadi, tidak mengizinkan wanita itu berhubungan dengan pria lain apalagi menikah.


Wajah Diandra yang semakin memerah karena saat ini ingin sekali mengangkat tangan untuk menampar wajah di hadapannya tersebut.


'Bisa-bisanya bajingan berkata seperti itu setelah berniat menghancurkan masa depanku? Apakah aku bahkan tidak punya hak untuk bermimpi dicintai pria yang tulus tanpa memperdulikan masa lalu?'

__ADS_1


Tidak ingin meladeni kalimat bagai anak panah menancap tepat di jantung, kini Diandra hanya berpura-pura bersikap biasa dan menggelengkan kepala.


"Saya tidak tahu dan sama sekali tidak memikirkan itu, Tuan Austin. Apa bisa kita mulai sekarang dan menyelesaikan semuanya? Saya sudah sangat lelah sekaligus mengantuk."


Meskipun merasa jijik karena bersikap seolah sangat mengharapkan bisa segera bercinta dengan pria itu, kini Diandra merasa sangat muak, tapi tidak bisa melakukan apapun, sehingga menahan perasaannya yang tengah bergejolak.


Bahkan seperti gunung berapi yang akan memuntahkan lava panasnya dan menghanguskan siapapun yang menghalangi jalan. Itu sangatlah mewakili perasaan seorang Diandra.


Hingga ia merasa lega kala pria di atas tubuhnya telah menyingkir dan kini posisinya sudah berubah duduk di sebelah kanannya.


Hingga ia pun kembali melihat saat pria di hadapannya kembali meraih ponsel yang tadi sempat dimatikan dan menunjukkan padanya.


"Lakukan ini terlebih dahulu! Bukankah kamu yang menginginkannya? Lagipula sekarang kamu sudah tidak perlu susah-susah atau kebingungan untuk mencari uang lagi. Cuma lakukan sesuai dengan apa yang kamu lihat ini."


"Inilah alasannya aku ingin kamu melihatnya! Agar tahu bahwa tugasmu adalah seperti yang dilakukan oleh wanita ini." Austin kini ingin terbahak melihat respon dari wanita dengan wajah terkejut itu.


Bahkan menganggap jika saat ini Diandra seperti pepatah 'senjata makan tuan' sangat mewakili wanita itu. Hingga ia seketika menggelengkan kepala saat melihat jawaban bernada penolakan.


"Saya tidak bisa melakukannya, Tuan Austin. Jangan paksa saya!" Diandra sangat mual saat melihat apa yang dilakukan oleh wanita di layar ponsel tersebut, sehingga ia memilih untuk menolak.


Tanpa memperdulikan apapun karena yang ingin dilakukan hanyalah ingin segera mengakhiri momen paling menyiksa dan menjijikkan sepanjang sejarah hidupnya.


Tanpa aba-aba atau pun meminta izin pada wanita yang terbaring di atas ranjangnya, kini langsung melakukan apapun sesuka hati.


Apalagi seluruh urat syarafnya menegang dan gejolak gairah serasa membakar seluruh tubuhnya, sehingga saat ini hanya pelepasan yang menjadi tujuan utama bagi seorang Austin.


Sementara itu, Diandra tadinya nenolak, kini harus merasakan semua perbuatan pria yang terkesan memaksanya tanpa memperdulikan penolakannya barusan.


Ia kini bisa melihat wajah memerah pria yang dikuasai oleh hasrat dan sudah membuatnya menjerit kesakitan. Tubuhnya seperti terbelah saat itu juga dan ia merasa saat ini dunianya runtuh.


Diandra hanya bisa menahan kesakitan fisik dan psikis akibat perbuatan liar pria yang tidak ingin dilihatnya. Namun, saat berusaha untuk memejamkan mata, mendengar suara bariton pria yang sudah mengarahkan tatapan tajam mengintimidasi.


"Tatap aku dan jangan pernah memejamkan mata atau memalingkan wajahmu, Diandra!" ujar Austin yang kini ingin Diandra hanya menatapnya dan tidak akan pernah melupakan apapun yang ia lakukan hari ini.


Austin ingin meninggalkan kenangan yang tidak akan pernah terlupakan sepanjang sejarah hidup seorang Diandra karena malam ini adalah malam bersejarah di antara mereka berdua.


'Kita akan selalu mengenang momen paling penting dalam hidup kita, Diandra. Selamanya kamu dan aku akan mengingat pernah berakhir di ranjang yang sama saat tengah malam untuk mencapai kenikmatan hakiki.'


Diandra ingin menangis tersedu-sedu saat harga dirinya telah musnah di tangan pria yang sama sekali tidak memperhatikan perasaannya sama sekali.

__ADS_1


Bahkan ia harus melihat dengan jelas dengan kedua matanya saat wajah pria dengan napas terengah itu ketika meremukkan tulang-tulangnya.


Ia ingin berteriak bahwa saat ini sedang kesakitan, tapi sadar bahwa itu tidak akan membuat seorang pria yang dianggap bajingan itu berhenti menyiksanya.


Diandra seolah melihat sesuatu paling menakutkan sekaligus menjijikkan dengan mata kepala sendiri. Hal paling menyesakkan dan semakin membuatnya hancur saat ini selain tubuhnya yang serasa terbelah saat ini adalah melihat wajah pria yang telah menghancurkan masa depannya tanpa merasa bersalah sama sekali.


Namun, Diandra berusaha kuat setelah ia memikirkan jika sang ibu tidak lagi akan bersedih dan menangis saat kebingungan untuk mendapatkan uang dengan nominal yang tidak sedikit.


'Bertahanlah, Diandra. Semuanya akan baik-baik saja. Hanya malam ini. Anggap setelah malam ini, Diandra Ishana telah mati. Jadilah wanita yang baru dan meninggalkan semua kenangan buruk malam ini.'


Malam ini, ruangan kamar itu menjadi saksi atas kehancuran seorang Diandra Ishana yang kehilangan kesucian yang selama ini dijaga dan hanya ingin diberikan pada pria yang menjadi suaminya.


Namun, hancur dalam sekejap karena ia tidak tahu apakah bisa menjalani hidup setelah hari ini. Karena rasanya sekarang ingin mengakhiri hidupnya saja.


Sementara itu, sosok Austin yang saat ini tengah sibuk memuaskan hasrat tanpa memperdulikan apa yang dirasakan oleh Diandra karena dari tadi hanya diam dengan wajah datar


Seolah ketika menatap ke arahnya, ada sebersit kebencian yang ditunjukkan padanya. Ia tadinya ingin bersikap lembut pada Diandra, tapi kalah dengan gejolak gairah yang dirasakan karena satu-satunya yang ingin dilakukan hanyalah memuaskan hasrat.


Hingga ia pun mencapai apa yang dari tadi diharapkan hingga terjatuh lemas. Deru napas memburu kini seolah mewakili bagaimana ia sudah memforsir tenaga lebih banyak hari ini.


"Luar biasa, Sayang," lirih Austin yang kini berbicara tanpa tanpa berniat untuk mengangkat wajah karena tengah menormalkan deru napas memburu.


Ia benar-benar merasa sangat puas hari ini karena bisa menyalurkan hasrat pada wanita yang dianggapnya sangat tepat dan tidak pernah menyesali melakukannya dengan dasar sebuah pembelian.


Berpikir jika Diandra yang sengaja menawarkannya dan ia kini seketika bangkit dari posisinya begitu mendengar suara lirih dari wanita di hadapannya.


"Apa saya boleh menghubungi ibu untuk menanyakan keadaan ayah? Dari tadi saya memikirkan tentang telpon ibu yang belum sempat kuangkat." Diandra ingin segera menyingkir dari pria itu dengan menggunakan alasan masuk akal.


Selain ia ingin segera menghindar, juga merasa khawatir jika ibunya berpikir macam-macam karena tidak mengangkat panggilan.


Awalnya Austin ingin berbicara setelah bercinta, bagaimana mengenai penilaian Diandra padanya saat pertama kali melakukannya pada wanita itu. Namun, pertanyaan Diandra membuatnya kehilangan mood dan kini beranjak turun dari ranjang.


Ia mengambil ponsel milik Diandra di dalam tas yang ada di atas meja dan mengaktifkan saat kembali. Kemudian menelpon kontak ibu karena sekarang berpikir bahwa setelah hari ini, akan lebih protektif pada wanita yang kini sudah menyembunyikan diri di bawah selimut.


Ia ingin memastikan terlebih dulu apakah suara di seberang telpon adalah wanita, baru menyerahkan pada Diandra.


'Aku tidak ingin kamu menipuku atau menerima telpon dari pria lain setelah hari ini,' gumam Austin yang kini merasa lega karena benar-benar mendengar suara seorang wanita dan langsung menyerahkan pada Diandra.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2