Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Kita belum selesai


__ADS_3

Diandra saat ini telah berpindah ke lengan kuat pria yang berjalan keluar ruangan. Ia bahkan melingkarkan lengannya di leher suami yang tersenyum nakal padanya.


"Dasar suami mesum!" Diandra yang kini sedang mencibir sambil cekikikan dan gemas melihat pria yang sangat dicintainya itu tergerak untuk mencium pipi putih pria berahang tegas itu.


Sementara itu, Austin yang beberapa hari tidak memeluk istrinya saat tidur, kini sangat senang karena berpikir bisa kembali berbulan madu untuk menghilangkan rasa rindu selama tiga hari berpisah.


"Suamimu hanya cabul padamu karena sama sekali tidak tertarik pada wanita lain. Mengapa tidak menunggu sampai tiba di kamar? Jadi kamu bisa menciumku sesukamu."


Diandra yang mengetahui perjalanan bisnis suaminya, merasa kembalinya pria yang dicintainya sangat cepat. Jadi, merasa sangat aneh dan tidak sabar untuk mencari tahu.


"Sayang, kenapa kamu pulang cepat sekali? Aku tahu perjalanan lewat udara bisa memakan waktu hingga 15 jam. Lalu kenapa kamu pulang sekarang?"


"Aku hanya butuh 2 jam untuk bertemu rekan bisnis, setelah itu tanpa istirahat langsung pulang. Bagaimana aku bisa istirahat di hotel tanpa istri cantikku ini?" Austin yang baru saja tutup mulut sudah sampai di depan kamar yang selama ini kosong.


"Karena kita tidak bisa berhubungan di kamar utama saat Aksa ada, jadi tetap di sini, oke!" Austin menunjuk ke depan untuk memberikan kode agar istrinya segera membukakan pintu.


Memahami apa yang diinginkan suami, kini Diandra segera membukakan pintu karena khawatir jika terlalu lama menggendongnya akan menguras tenaga dan kelelahan.


Apalagi baru saja melakukan perjalanan jauh dan pasti sangat lelah. "Sayang, kamu pasti sangat lelah. Apa kamu tidak istirahat saja? Bulan madu kita tunda saja karena aku tidak ingin kamu lelah dan berakhir sakit."


Ekspresi khawatir di wajah itu sangat jelas terlihat dari sosok wanita yang sangat ia cintai dan itu membuat Austin semakin mencintai istrinya.


Ia hanya tersenyum tipis dan membaringkan tubuh seksi wanita itu dengan wajah memerah karena malu ketika mengungkapkan jawaban vulgar sambil berbisik di dekat daun telinganya.


"Padahal, jika aku menahan nafsuku, itu akan menyakitiku. Aku telah diracuni oleh tubuhmu dan tidak akan bisa berhenti sebelum bercinta hari ini."


Tanpa menunggu respon dari sang istri, Austin menarik diri dan berbalik mendekatkan wajahnya karena telah lama mengincar bibir merah merekah yang selalu membuatnya ketagihan.


Tentu saja kini ia telah membungkam bibir sensual itu dan ******* serta menyesap dengan penuh nafsu. Gairahnya bahkan sudah mulai naik dan semakin liar karena tangannya tidak tinggal diam.


Diandra yang kini membalas ciuman mesra dan memabukkan dari sosok laki-laki begitu liar hingga menimbulkan hasrat yang luar biasa.


Bahkan tengkuk pun langsung merinding saat urat saraf menegang ketika sang suami menyentuhnya.


Ia menggeliat hebat dan menikmati setiap sentuhan penuh kenikmatan yang dikirim oleh suaminya.

__ADS_1


Awalnya ia menikmati setiap gelombang kenikmatan yang dikirimkan oleh suaminya dengan memejamkan mata, tapi patuh begitu menerima perintah.


Kemudian menelusuri otot perut yang sangat kencang yang memperlihatkan tubuh sixpack.


Bahkan, sangat memuja tubuh suaminya yang menurutnya sangat seksi dan tergila-gila itu.


Sementara itu, Austin kini tersenyum saat melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan istrinya. Bahwa sang istri seperti makanan siap saji yang bisa dimakan dalam sekejap.


Jika biasanya sang istri terlihat malu-malu saat melakukan hal tersebut, tapi kali ini tidak seperti itu karena hanya diam saja. Seperti pasrah dengan apa yang dilakukan.


"Sayang, aku sangat tersiksa saat tidak bersamamu selama tiga hari." Austin kini hanya ingin mendengar suara ******* seksi yang membuatnya sangat bersemangat.


Ia bahkan mengira kali ini ingin memuaskan hasratnya dengan tidak membiarkan istri tidur nyenyak. Sampai satu-satunya hal yang mereka kejar hanyalah puncak kenikmatan .


Dengan gerakan lincah, ia mulai sibuk dan merasakan jemari istrinya di rambutnya.


"Sayang ...."


Diandra tak berhenti mengerang dan menggeliat saat urat syarafnya menegang.


Entah sudah berapa lama Austin sibuk membuat sang istri mengeluarkan suara seksi. Hingga beberapa saat kemudian, terdengar lagi suara wanita yang tak sabar ingin merasakan kekuatannya di atas ranjang.


"Sayang, lakukan sekarang! Aku tidak tahan lagi." Tanpa merasa sungkan, Diandra mengatakannya.


Merasakan detak jantung serta kulit menyatu satu sama lain dan ikatan batin antara suami istri untuk mencapai puncak kenikmatan dengan saling berpelukan erat.


Kini, Austin mendongak dan bangkit dari posisinya. "Sabar, sayang. Kamu terlalu terburu-buru."


"Itu karena kamu menyiksaku." Kini, Diandra tak berkedip melihat wajah sang suami yang tampan dan tubuh sixpack yang bertelanjang dada.


Diandra yang sedari tadi terdiam di tempatnya terbaring, kini teringat kejadian saat mereka menghabiskan waktu kemarin dengan melakukan hal-hal liar di kamar hotel.


"Lakukan tugasmu, Sayang," ucap Austin yang kini memerintah.


Karena tidak mungkin menolak, akhirnya menganggukkan kepalanya. "Sebentar."

__ADS_1


"Ya, Sayang." Austin kembali merasa sangat senang karena istrinya tidak menolak apapun yang diinginkannya.


Merasa menjadi laki-laki yang sangat beruntung karena memiliki istri yang penurut dan sangat mencintainya, sehingga ia tidak lagi khawatir jika wanita yang mulai membuatnya tegang itu pergi meninggalkannya.


Diandra yang kini sibuk memuaskan hasrat pria yang mulai meraung keras karena ulahnya, tak bisa berhenti karena berharap suaminya puas dan tidak mencari kepuasan dari wanita lain.


Hingga tersenyum saat melihat pria jangkung itu langsung menarik diri dan langsung mendorongnya hingga terjatuh terlentang.


"Aku tidak tahan sekarang, Sayang."


Diandra hanya tertawa melihat wajahnya yang memerah karena menahan hasrat yang membara.


Suara napas panjang terdengar sangat jelas dari mereka berdua yang sama-sama merasakan syaraf mereka menegang.


"I love you," ucap Austin sebelum kembali menyiksa istrinya.


"Aku pun mencintaimu." Diandra yang baru saja menjawab dengan wajah berseri-seri, kini mendengar suara samar. "Sayang, apakah kamu mendengar sesuatu?"


Austin yang hendak melanjutkan aksinya tidak jadi karena pertanyaan serius dari istrinya. Namun, ia menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak mendengar apa-apa. Seperti apa suaranya?" Saat ia menunggu jawaban dari sang istri, kini mengerti apa yang didengar Diandra.


Tentu ia sangat kesal karena gagal dan harus menunda momen intim mereka. "Putramu kehilangan ibunya, jadi dia menangis. Sial! Kita sudah seperti ini, bukankah kita harus berhenti?"


"Hanya ditunda, Sayang. Hanya sesaat dan tidak ditunda selamanya. Sebenarnya Diandra pun merasa sangat kecewa, tapi menyadari bahwa tugas seorang ibu juga perlu dijalankan dengan setulus hati."


"Mama!"


Refleks Diandra mendorong tubuh Austin dan melihatnya terjatuh di kasur. "Cepat dan urus Aksa karena nanti akan membangunkan semua orang dan kita akan tertangkap di sini.


“Tolong ambilkan pakaianku,” kata Diandra yang tidak mungkin telanjang di depan putranya.


"Belum, kita belum selesai. Biar aku yang urus Aksa dulu."


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2