Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Bagaimana rasanya?


__ADS_3

Yoshi yang tadi tengah mengaduk makanannya, merasa terkejut dengan perbuatan tiba-tiba dari Diandra yang memeluknya dari belakang. Ia bahkan merasa sangat beruntung ketika bisa melihat sikap manis dari wanita yang selama ini sangat dingin padanya.


'Aku tidak sedang bermimpi, kan? Diandra memelukku dan berbicara sangat manis?' lirih Yoshi yang kini mencoba untuk memastikan dengan cara mencubit pipi sendiri.


Hingga ia seketika tersenyum simpul saat menyadari jika apa yang baru saja dialaminya adalah sebuah kenyataan, bukan mimpi. Namun, mendengar nada protes dari sosok wanita yang saat ini tengah merenggangkan pelukannya.


"Yoshi! Kenapa malah diam? Apa aku kurang ajar padamu?" tanya Diandra yang saat ini melepaskan pelukan dan menarik diri untuk memberikan sebuah jarak.


'Apa aku sudah membuatnya ilfil? Hingga hanya diam saja seperti ini?' gumam Diandra yang saat ini tengah menatap ke arah sosok pria yang berbalik badan menatap ke arahnya.


Sebenarnya Yoshi dari tadi masih belum mempercayai semua yang dialami hari ini, hingga ia pun mematikan kompor terlebih dahulu sebelum menanggapi sosok wanita yang ada di belakangnya.


Begitu melihat Diandra, ia refleks langsung meraih telapak tangan dengan jemari lentik itu dan mengarahkan pada pipinya. "Cubit aku sekali lagi untuk menyadarkan bahwa semua ini bukanlah mimpi karena tadi aku sudah melakukannya, tapi masih ragu."


Yoshi bahkan sudah menatap intens wajah cantik wanita yang terlihat terkekeh melihat responnya.

__ADS_1


"Dasar lebay!" Refleks Diandra mencubit gemas kedua sisi pipi putih sosok pria yang ada di hadapannya tersebut. "Ini bukan mimpi karena masih belum tidur. Lagipula ini masih sore. Aku pun belum makan. Apa masakanmu sudah siap?"


Diandra yang kini menurunkan tangan setelah mencubit gemas sosok pria yang terlihat seperti berubah menjadi orang bodoh, tapi ditahan oleh tangan dengan buku-buku kuat Yoshi.


"Benarkah ini bukan mimpi? Wah ... sepertinya aku harus merayakannya karena melihat seorang Diandra yang selama ini sangat datar dan dingin bisa berubah sehangat ini. Rasa-rasanya seperti baru saja melihat es batu mencair." Yoshi masih belum melepaskan kuasa.


Ia dari tadi masih menahan kedua tangan sosok wanita yang membuatnya hari ini menjadi seorang pria beruntung karena bisa melihat seorang Diandra luluh dan bersikap romantis padanya.


Kemudian mencium punggung tangan dengan jemari lentik itu. "Sayang, aku sangat mencintaimu dan berharap kita segera menikah. Kemudian setiap hari bisa bersama seperti ini."


Ia kini ingin mengungkapkan semuanya agar Diandra tahu betapa besar rasa cinta yang dimilikinya untuk wanita yang telah berhasil memporak-porandakan hatinya.


"Aku tidak kuat menahan rindu, jadi berpikir agar kita segera tinggal satu rumah saja. Aku ingin kamu selalu ada di depan mataku agar tidak lagi tersiksa memendam rasa kangen," seru Yoshi yang kini malah melihat ekspresi Diandra tertawa. Seolah malah menertawakan keseriusannya saat ini.


"Dasar lebay! Kamu malah terlihat seperti seorang anak remaja yang baru jatuh cinta saja. Bisa-bisanya kamu mencintaiku saat kita baru saja saling mengenal. Sebenarnya apa yang membuatmu bisa berubah sebodoh ini?" tanya Diandra ketika masih meragukan apa yang diungkapkan oleh Yoshi.

__ADS_1


Meskipun ia tahu jika Yoshi sangat tulus, tapi tetap saja ia masih merasa heran dan belum sepenuhnya yakin. Apalagi ia tahu jika pria di hadapannya tersebut punya banyak penggemar dan pastinya banyak yang lebih cantik dari dirinya.


Yoshi yang merasa diremehkan ketulusannya, kini berjalan semakin mendekati Diandra dan melingkarkan tangannya untuk mengunci posisi wanita itu agar tidak bisa kabur darinya.


Kemudian menatap tajam wanita yang dianggap kembali ke mode datar. "Apa yang harus kulakukan agar kamu percaya sepenuhnya padaku? Katakan saja agar aku tidak disepelekan olehmu."


Bahkan saat ini ia bisa melihat bibir sensual merah jambu yang ada di hadapannya dan membuatnya berpikir satu hal.


Diandra yang saat merasa tidak nyaman ketika tubuhnya dikungkung oleh pria yang menatap tidak berkedip ke arahnya. "Lepaskan dulu tanganmu! Rasanya aku tidak bisa bernapas pada posisi seperti ini."


Saat Diandra berusaha untuk melepaskan kuasa dari pinggangnya, seketika membulatkan mata begitu mendengar suara bariton dari Yoshi.


"Sayang, berciuman itu rasanya bagaimana? Apa kamu mau mengajariku? Aku belum pernah sekalipun berciuman dan melihat bibirmu, membuatku ingin merasakannya," ucap Yoshi yang saat ini seolah terhipnotis begitu menatap bibir merah jambu yang sangat menggoda di hadapannya.


"Apa bibirku harus monyong ke depan seperti ini?" Yoshi mempraktekan bibirnya yang sudah dikerucutkan seperti bebek.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2