
"Aku ingin putra-putri kita secepatnya dinikahkan karena hari ini melihat mereka berciuman saat hari pertama bekerja bersama. Aku tidak bisa menjamin putraku bisa menahan diri lebih lama." Malik Matteo berbicara di telpon sambil melirik ke arah putranya dan Diandra yang saling bertatapan.
"Kamu tidak keberatan, kan jika pernikahan sederhana dilakukan esok hari?" ujar pria dengan setelan jas lengkap berwarna hitam tersebut dan mendengar suara bariton dari putranya.
"Tentu saja tidak jika itu merupakan hal terbaik untuk putra-putri kita. Aku akan menuruti saja karena memang lebih cepat lebih baik," sahut ayah Diandra yang kini justru merasa lega jika Diandra akhirnya menikah dengan pria yang baik dan sangat mencintai putrinya.
Austin yang awalnya merasa sangat senang karena akan segera menikah dengan wanita pujaan hati, kini langsung menyahut. "Papa yakin akan menikahkan kami besok?"
"Dengan pernikahan sederhana?" Austin masih belum percaya karena selama ini selalu terbebani dengan perintah dari orang tua yang menyuruhnya untuk menikah dan akan dibanggakan pada semua rekan bisnis ayah dan ibunya.
Orang tuanya mengatakan akan menggelar pesta pernikahan megah karena merupakan putra satu-satunya. Namun, begitu mendengar sang ayah mengatakan seperti tidak akan ada pesta, berpikir jika mungkin merasa malu karena calon istrinya hanya bisa duduk di kursi roda.
'Apa papa merasa malu pada semua rekan bisnis dan sanak saudara karena Diandra tidak bisa berjalan lagi?' gumam Austin yang kini melihat sang ayah mematikan sambungan telpon.
Begitu mendapatkan persetujuan dari ayah Diandra, tadi Malik Matteo langsung mematikan sambungan telpon dan memasukkan ke dalam saku celana dan bisa mengerti arti tatapan dari putranya.
__ADS_1
'Dasar bodoh! Seharusnya tahu bahwa aku melakukan ini karena ingin melindungi Diandra agar tidak ada para pemburu berita yang mengincar,' gumam Malik Matteo yang kini menatap putranya, beberapa saat kemudian beralih pada Diandra.
"Aku pinjam calon suamimu sebentar." Kemudian menarik lengan putranya keluar dari ruangan agar bisa berbicara dengan leluasa.
Sementara itu, Diandra sebenarnya paling tidak suka dengan sebuah rahasia yang tidak diketahui jika anak laki-laki dan ayah itu keluar dari ruangan. Namun, berpikir jika saat ini tidak pantas membantah, sehingga hanya tersenyum tipis.
'Kenapa papa membawa keluar Austin? Apa papa berpikir jika aku bukan keluarga mereka?' gumam Diandra yang melihat ayah dan anak itu baru saja menghilang di balik pintu.
Kemudian melihat posisinya saat ini yang masih duduk di atas meja dari semenjak bos besar datang. Refleks menepuk jidat dan berpikir jika berubah sangat tidak sopan karena berbuat sesuka hati.
"Jika aku turun, mungkin akan melukai tubuhku dan malah menjadi masalah. Apakah papa akan memberikan sebuah hukuman pada Austin karena melihat kami berciuman? Mungkinkah merasa tidak enak jika melakukan di depanku?"
Saat Diandra tengah sibuk bertanya-tanya mengapa calon mertuanya keluar, sedangkan yang terjadi di luar ruangan kerja tersebut, terlihat Austin meringis menahan rasa nyeri pada lengan.
Itu karena sosok ayahnya tersebut mengarahkan tinju begitu berhasil lolos dari calon menantu. "Dasar pria mesum yang tidak tahu malu! Apa kau ingin kembali menghamili Diandra"
__ADS_1
Austin yang saat ini masih mengusap lengannya karena nyeri, refleks menyadari jika tadi tidak bisa berhenti begitu Diandra menciumnya. Mungkin perkataan sang ayah akan menjadi kenyataan.
"Maafkan aku, Pa. Aku sangat merindukan Diandra dan begitu menyentuhnya hari ini, tidak bisa berhenti. Mungkin jika Papa tidak datang, aku kembali menghamilinya." Austin menampar wajahnya karena sadar telah melakukan kesalahan.
"Aku memang seorang bajingan sampai kapan pun!" Ia baru memukul wajah dua kali, tetapi tangannya ditahan oleh sosok pria paruh baya di hadapannya.
"Jangan bertindak bodoh!" Beberapa saat kemudian, ia berkacak pinggang dengan mengarahkan tatapan tajam.
"Dengarkan Papa baik-baik! Kamu bebas bercinta setiap hari dengan Diandra setelah menikah nanti, tapi jangan sampai hamil. Apa kamu tahu maksudku?"
Sementara itu, Austin hanya mengangguk perlahan karena menyadari kesalahannya. "Aku paham karena dulu adalah seorang putra yang susah diatur dan keluar masuk rumah sakit karena perkelahian antar sekolah."
"Aku tidak mungkin akan membiarkan Diandra hidup menderita karena hamil ketika dalam keadaan cacat. Aku akan berjanji pada diriku sendiri jika akan sangat berhati-hati nanti." Austin yang terlihat sangat menyesal, mendadak mengingat sesuatu yang tadi diajukan pada sang ayah.
To be continued...
__ADS_1