Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Apa maunya?


__ADS_3

Diandra yang saat ini tengah menggendong putranya, sangat terkejut dan tidak pernah menyangka akan bertemu dengan pria yang terlihat sangat bahagia bersama anak dan istrinya.


'Ya Allah, kenapa aku harus melihat semua ini? Apa rencana-Mu padaku? Hingga aku bisa bertemu dengan bajingan ini di hari pertama berada di Jakarta? Apa inilah pepatah 'Dunia tak selebar daun kelor?'


'Bahkan Jakarta sangat luas, tapi kenapa aku bisa bertemu dengannya di sini dan melihat kebahagiaan si pembohong itu?' lirih Diandra dengan perasaan berkecamuk.


Refleks tangan kanannya mengepal dan ia berniat untuk segera pergi dari tempat itu. Namun, saat ia berniat untuk memalingkan wajah, tatapan pria itu yang terlihat sangat berbeda sudah kembali menatap ke arah bocah perempuan di gendongannya.


Ia merasakan tatapan sosok pria yang teramat sangat dibenci, yaitu Austin, seolah menegaskan tidak pernah melihat dan mengenalnya karena hanya sekilas saja memandang dan tengah memegangi pelipisnya.


Sama sekali tidak ada rasa shock ataupun terkejut seperti dirinya dan hal itu membuatnya merasa sangat aneh.


Diandra saat ini sedang menelan kasar salivanya, berniat untuk segera pergi dari tempat yang menyesakkan dada.


Namun, itu hanya menjadi rencananya semata saat Aksa tiba-tiba merengek minta turun dari gendongannya dan begitu ia turunkan, langsung berlari ke arah ke depan dengan mengulurkan tangan.


"Aksa, tunggu!" teriak Diandra yang merasa sangat kebingungan karena sebenarnya ia ingin segera angkat kaki dari sana.


Ia tidak mau Austin melihat Aksa dan jika sampai ketahuan jati diri putranya, maka hidupnya akan hancur.


Diandra mendengar suara Aksa ketika mengarahkan tangan mungilnya untuk meminta balon karena semua anak-anak yang lain sudah memegang benda kesukaan para anak kecil tersebut.


"Alon ... Alon," seru bocah laki-laki berusia 2 tahun yang masih belum jelas berucap tersebut.

__ADS_1


"Sayang, tidak boleh begitu. Ayo, Mama akan belikan banyak balon di sana. Ayo, kita membeli balon." Diandra berniat untuk menggendong putranya.


Sementara itu, wanita cantik yang terlihat tersenyum saat menatap ulah menggemaskan dari bocah laki-laki sepantaran dengan putrinya, langsung mengambil balon dan memberikannya.


"Sayang mau balon?" Menarik tangannya ke belakang saat dilihatnya bocah laki-laki tersebut berniat untuk meraih balon. "Sebutkan dulu namanya, baru Tante kasih balonnya."


"Asa," ucap Aksa yang kini hanya fokus pada balon di tangan wanita itu.


Sementara itu, Diandra yang dari tadi fokus menatap ke arah interaksi antara putranya dan wanita cantik tersebut, tidak berani menatap ke arah sosok pria yang baru saja mengeluarkan suara baritonnya.


Suara yang masih sama seperti tiga tahun lalu, tegas dan penuh penekanan. Namun, kali ini ia merasa sangat aneh dan berpikir jika Austin tengah berpura-pura tidak mengenalnya di depan sang istri karena khawatir jika ia berpikir macam-macam.


"Cepat berikan balonnya, kasihan. Nanti Aksa menangis," ucap Austin yang sekilas melirik ke arah wanita di sebelah kirinya.


"Ini balonnya, Sayang?" Ratna berniat untuk mengarahkan tangannya mengusap rambut anak kecil yang menurutnya sangat menggemaskan tersebut, tapi gagal melakukannya.


Bahkan ia merasa aneh saat melihat tatapan wanita yang merupakan ibu dari anak laki-laki menggemaskan tersebut seperti tidak menyukainya. Apalagi saat ini wanita itu langsung menggendong putranya, seolah tidak mengizinkannya sekedar menyentuh rambut anak laki-laki itu.


'Songong sekali wanita ini. Apa yang ada di pikirannya sebenarnya? Apa aku adalah kuman yang paling dihindari? Menyebalkan sekali,' umpat Ratna yang kini sangat kesal melihat wanita yang tiba-tiba muncul dan membuatnya sangat ilfil.


Diandra yang tidak ingin berlama-lama di tempat itu, apalagi ia tidak ingin jika putranya disentuh oleh istri pria yang telah menghancurkan hidupnya, langsung berpamitan setelah menggendong Aksa.


"Terima kasih atas balonnya dan selamat ulang tahun untuk putri Anda." Tanpa berniat untuk menunggu tanggapan dari wanita tersebut, Diandra sudah berjalan menuju ke arah kerumunan orang dan berlalu pergi setelah diberikan jalan.

__ADS_1


Bahkan sepanjang perjalanan menuju ke arah pintu keluar Mall, sibuk mengumpat untuk meluapkan semua emosinya. "Ini benar-benar sangat gila! Takdir macam apa ini?"


"Apa aku harus melihat kebahagiaan bajingan itu yang bisa hidup normal sebagai pasangan suami istri, untuk menunjukkan bahwa aku tidak berhak merasakannya?" sarkas Diandra yang merasa sangat frustasi, sudah berjalan cepat menuju ke arah mobil dan sibuk mengumpat nasib buruknya.


Bahkan ia sama sekali tidak menyangka jika hidupnya yang sangat tenang selama tiga tahun belakangan ini seketika berubah menjadi seperti di neraka.


"Sialan! Bahkan bajingan itu berpura-pura tidak mengenalku di depan istrinya. Pasti dia takut aku akan menghancurkan kebahagiaan mereka jika sampai menceritakan tentang masa lalu kami."


Sambil mengumpat saat berjalan dan tidak perduli tatapan beberapa orang yang melintas, Diandra kini sudah tiba di dekat mobil.


Karena merasa sangat muak dengan hari pertama di Jakarta malah bertemu dengan Austin yang notabene adalah ayah biologis dari putra yang sangat disayanginya.


Diandra kini buru-buru membuka pintu dan menurunkan putranya di kursi depan. Bahkan langsung memakaikan sabuk pengaman. "Duduk yang manis, ya Sayang." Mengusap lembut rambut hitam berkilat putranya yang tengah fokus pada balon di tangan.


Aksa hanya menganggukkan kepala sambil memainkan balon yang dari tadi ada dalam genggamannya.


Sementara itu, Diandra pun menutup pintu dan masuk dari sisi samping kanan. Begitu mendaratkan tubuhnya di balik kemudi, ia yang baru saja memasang sabuk pengaman, berniat untuk menyalakan mesin mobil.


Tapi saat ini dilihatnya sosok pria yang barusan diumpatnya berjalan menuju ke arahnya. Buru-buru ia menyalakan mesin mobil dan berniat untuk segera meninggalkan Mall.


Namun, melihat Austin sedikit berlari dan mengetuk kaca mobilnya. 'Sialan! Ngapain bajingan itu datang? Apa maunya? Apa jangan-jangan, si berengsek itu tahu jika Aksa adalah darah dagingnya?'


'Aah ... tidak mungkin! Mana mungkin dia tahu karena wajah Aksa mirip denganku, seperti yang sering dikatakan oleh nyonya Citra. Jika Aksa adalah versi perempuan aku saat masih kecil,' gumam Diandra yang kini berusaha untuk menormalkan perasaannya kala melihat Austin masih berdiri di sebelah mobilnya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2