
Diandra berusaha menghindari sentuhan dari sang suami karena jujur saja perasaannya benar-benar tidak menentu saat ini. Ia berjalan menuju ke arah pintu utama dan membiarkan sang suami menggendong putranya.
Untuk mengalihkan perhatian dari Austin agar tidak curiga pada sikapnya yang ingin menghindar atas sentuhan, kini menuju ke arah dapur setelah sebelumnya berbicara dengan pria itu.
"Aku sangat haus dan ingin menyuruh pelayan membuatkan minuman dingin. Apa kamu ingin dibuatkan minuman hangat?" Diandra saat ini menunggu jawaban dari pria yang masih menggendong putranya.
Austin saat ini langsung menggelengkan kepala karena tidak suka minuman manis. "Aku minum air putih hangat saja di dalam kamar, Sayang."
Sebenarnya Diandra sudah menduga jika sang suami akan mengatakan hal itu karena selama ini memang kebiasaan selalu minum air hangat tanpa menambahkan apapun.
Ia sebenarnya hanya berbasa-basi agar tidak dicurigai bahwa saat ini sudah mengingat tentang masa lalu yang dilupakan akibat kecelakaan dengan Yoshi. "Baiklah, kalau begitu. Tidurkan Aksa pada posisi tengkurap saja karena pasti lukanya sangat sakit jika tidur telentang."
Tanpa pikir panjang, pastiin seketika mengangguk-anggukkan kepala dan berjalan menuju ke kamar utama karena memang selama ini tidur bertiga di atas satu ranjang.
Sementara itu, Diandra saat ini bernapas lega karena Akhirnya bisa sejenak menghindar dari pria yang membuat perasaannya tidak menentu karena bingung harus bagaimana menghadapinya, kini melangkahkan kaki jenjang yang menuju ke arah dapur.
"Anda ingin dibuatkan apa, Nyonya Diandra?" tanya wanita paruh baya yang selama ini menjadi pelayan utama di rumah itu. Tadi ia mendengar suara dari jangan nyonya rumah yang ingin dibuatkan minuman, jadi memastikannya sendiri.
Diandra yang sebenarnya tadi hanya beralasan agar bisa menghindar dari sang suami, kini menggelengkan kepala. "Bibik lanjutkan saja pekerjaan yang lain karena aku ingin membuat minuman sendiri."
Tidak ingin banyak bertanya pada sang majikan yang kebetulan hari ini tidak menyuruh, sehingga mengiyakan dan membungkuk hormat sebelum pergi.
'Tumben nyonya tidak menyuruhku menyuruhku? Biasanya apa-apa selalu menyuruh karena memang diperintahkan oleh tuan Austin agar tidak melakukan pekerjaan apapun di dapur.'
'Nyonya Diandra benar-benar sangat beruntung karena memiliki seorang suami yang menjadikannya ratu di rumah ini,' gumam sang pelayan yang saat ini berlalu pergi meninggalkan majikannya yang membuka kulkas.
Saat ingin, Diandra berdiri di depan mesin pendingin dan terdiam di sana seperti tengah mencari kesejukan. Padahal sebenarnya yang terasa panas bukanlah tubuhnya, melainkan hatinya karena tidak bisa tenang setelah hari ini ingatannya kembali.
Terlalu ada banyak rahasia yang tidak diketahuinya saat ini dan membuatnya mudah menikah dengan Austin beberapa bulan setelah kecelakaan. Bahkan ia tidak tahu kapan statusnya menjadi janda karena tidak mungkin Austin menikahinya saat ia masih berstatus sebagai istri Yoshi.
Saat merasa wajahnya kedinginan, Diandra saat ini mengambil sirup dengan rasa jeruk dan menuangkannya pada gelas, selalu menambahkan air dingin.
Kemudian membawanya ke meja dan duduk di sana. Ia saat ini membuat gerakan mengetuk-ngetuk meja untuk mencari tahu hal yang tidak ia ketahui sampai sekarang.
Merasa sangat haus pada tenggorokannya, saat ini ia memilih untuk meneguk minuman yang baru saja dibuat. Hingga beberapa saat kemudian ia terdiam ketika menatap ke arah dapur yang sangat bersih karena pelayan selalu menjaga kebersihan.
__ADS_1
Ia bahkan mengingat ultimatum dari sang suami yang tidak memperbolehkannya memasak meskipun sudah bisa berjalan. Austin menyuruhnya untuk fokus mengurus diri sendiri, suami serta putranya.
Sementara pekerjaan rumah sudah di handle oleh pelayan yang memang dibayar untuk melakukan pekerjaan rumah tangga. Mengingat akan hal itu, Diandra saat ini makin dibuat bimbang dengan perasaannya sendiri.
Antara benci, dendam dan cinta seolah bercampur menjadi satu dan membuatnya sangat bimbang dengan perasaannya pada Austin yang diketahui mempunyai perasaan sangat dalam padanya karena sudah membuktikan kesabaran dalam mencintai wanita cacat sepertinya.
'Apa yang kau cari sebenarnya, Diandra? Bukankah Austin sudah membuktikan cintanya padamu begitu besar karena tidak memperdulikan kondisimu yang cacat dulu? Bahkan dia langsung menikahimu tanpa menunggu kakimu sembuh, selalu merawat dan melakukan apapun untukmu,' lirih Diandra yang saat ini merasa kebingungan untuk menentukan jalan yang harus dipilih.
Antara berpura-pura tetap amnesia padahal sudah mengingat semuanya, atau mencari tahu konspirasi yang diciptakan oleh pria itu dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Yoshi di malam kecelakaan.
'Aku sangat yakin jika Yoshi masih hidup karena tidak ada kabar yang mengatakan jika sudah meninggal karena kecelakaan. Lalu, sebenarnya dia berada di mana sekarang?' gumam Diandra yang berpikir bahwa hidupnya pun tidak akan tenang jika tidak mencari tahu semua hal yang terjadi setelah ia bisa mengingat masa lalu yang sempat hilang.
Ia bahkan saat ini tengah mencari tahu hal terbaik yang bisa dilakukannya tanpa menimbulkan kecurigaan Austin Matteo serta para bodyguard yang mengawalnya.
'Sebenarnya aku bisa mencari tahu dengan pergi ke perusahaan Yoshi. Apakah dia ada di sana atau tidak? Atau bertanya pada beberapa staf perusahaan,' gumam Diandra yang saat ini sibuk dengan pemikirannya dan berjenggit kaget ketika mendengar suara bariton dari sang suami yang berjalan mendekat.
"Sayang, kenapa lama sekali? Aku bahkan menunggumu di dalam kamar dari tadi, tapi tidak kunjung kembali dan malah duduk sendirian di sini. Apa yang sebenarnya kamu pikirkan?" Austin saat ini mengerutkan kening karena merasa aneh melihat sikap sang istri duduk sendirian di ruang makan.
Diandra yang saat ini menormalkan perasaannya karena barusan sangat terkejut dan membuat degup jantungnya berdebar kencang seperti seorang pencuri yang ketahuan.
Diandra bahkan saat ini mengulurkan gelas berisi jus jeruk di tangannya pada sang suami untuk berakting agar tidak dicurigai. "Apa kamu mau mencobanya? Ini sangat segar."
Refleks Austin menggelengkan kepala karena saat ini memilih untuk mendapatkan tubuh di dekat kursi sang istri dan merapikan anak rambut yang sedikit berantakan agar bisa leluasa menatap wajah cantik yang selalu dipujanya tersebut.
"Aku pasti langsung merasa tenggorokanku gatal jika minum itu. Terbiasa minum air hangat, sehingga rasanya langsung tidak nyaman ketika minum air es. Kamu harus mengurangi minuman, Sayang karena itu sangat tidak baik untuk kesehatan. Jaga sehatmu sebelum sakitmu." Ia bahkan terkekeh geli ketika mengatakan kalimat terakhir.
"Kamu seperti layaknya seorang penceramah saja," ucap Diandra yang mengungkapkan nada protes karena sering mendapatkan omelan dari pria itu jika minum yang dingin.
Padahal ia selama ini sangat menyukai minuman dingin yang sangat segar dan membuatnya mencoba aneka ragam jenis es yang ada di kota. Jadi, sangat sulit untuk berhenti karena terbiasa minum minuman yang berhasil menyegarkan tenggorokannya.
"Iya ... iya, aku akan mengurangi mengkonsumsi minuman dingin. Dari seminggu lima kali, menjadi empat kali, lalu jadi tiga kali, dua kali dan tidak sama sekali." Bahkan ia saja tidak yakin bisa melakukannya, tapi tetap saja menuruti dengan berbicara seperti itu.
Hingga ia pun saat ini memilih untuk tidak menghabiskan jus jeruk buatannya Karena memang tadi hanya ingin menghindar dari pria di sebelahnya tersebut dan ternyata gagal karena tetap saja menghampirinya.
'Aku tidak akan pernah bisa menghindarinya jika masih tinggal dalam satu rumah seperti ini,' gumam Diandra yang saat ini berpikir ia akan mencari tahu semua hal yang mengganggu pikirannya agar bisa memutuskan apa yang selanjutnya akan dilakukan.
__ADS_1
Austin yang saat ini seperti melihat rasa kesal dari sang istri, tidak ingin membiarkannya berlarut-larut dan meraih gelas yang masih tersisa separuh dan jeruk itu.
"Sayang jika ini tidak dihabiskan, Sayang. Habiskan ini dan jangan merajuk seperti ini. Kamu bisa memulainya perlahan-lahan dan tidak perlu memaksakan diri, oke." Kemudian memberikan gelas berisi jus jeruk tersebut pada sang istri.
Diandra yang merasa badmood hari ini, kini menggelengkan kepala karena tidak ingin menghabiskan minuman yang dibuatnya. Awalnya ia berpikir jika Austin tidak akan memaksanya dan membiarkan ia berbuat sesuka hati, tapi kini melihat sang suami menghabiskan jus jeruk buatannya tadi.
Padahal ia tahu jika Austin tidak pernah menyukai minuman sirup yang selalu mengatakan mengandung bahan pengawet dan tidak sehat untuk tubuh karena menyerang organ dalam seperti ginjal.
Namun, seolah tidak ingin membuatnya kesal, sehingga menghabiskannya tepat di depannya. Bahkan berbicara sesuatu hal yang membuatnya merasa sesak di dada. Apalagi melihat ekspresi wajah Austin yang seperti biasanya.
"Ini sangat segar dan sayang sekali jika dibuang, Sayang." Austin yang baru saja menekuk habis jus jeruk yang masih tersisa separuh itu, kini menaruh kembali gelas kosong itu di atas meja.
Ia rasa khawatir jika mood sang istri berubah buruk karena malam ini berencana untuk kembali menebar benih agar bisa segera hamil anak kedua. Jadi, harus membuat mood wanita yang duduk di sebelahnya tersebut baik.
"Ayo, kita kembali ke kamar, Sayang. Aku mau mandi karena sangat gerah. Biasanya kamu yang mengambilkan pakaian ganti, makanya tadi menunggu kamu kembali. Ternyata tidak kunjung kembali dan akhirnya aku ke sini," ucap Austin yang saat ini bangkit berdiri dan mengeluarkan tangannya seperti biasa pada Diandra.
Diandra yang saat ini menelan saliva dengan kasar karena melihat telapak tangan sang suami yang menunggu tanggapannya. Ia merasa tidak bisa menghindar lagi dan akhirnya melakukan hal yang biasa dilakukan.
Hingga ia pun kini menyambut uluran tangan Austin dan berjalan keluar dari ruang makan lucu ke kamar yang ada di sebelah kanan dari depan. "Aku tadi berniat hanya sebentar di ruang makan, tapi malah kebablasan dengan bersantai menikmati minuman dingin yang sangat nikmat dan menyegarkan tenggorokanku."
Saat baru saja menutup mulut, Diandra membulatkan mata begitu mendapatkan serangan tiba-tiba saat masuk ke dalam kamar karena bibirnya dibungkam oleh sang suami.
Ingin sekali ia mendorongnya karena tidak ingin melakukan itu saat suasana hatinya sedang buruk, tapi tidak bisa melakukannya karena khawatir ketahuan dan rencananya gagal.
Austin yang merasa sangat gemas ketika melihat sang istri berbicara, sehingga tidak bisa menahan diri dan akhirnya mencium bibir sensual yang selalu menjadi candunya tersebut.
Hingga ciuman yang awalnya hanyalah sebuah kecupan lembut, kini semakin lama berubah memanas karena ia semakin **********.
Namun, saat merasa gairahnya sudah bangkit ketika mencium bibir sang istri, Austin sangat terkejut ketika tiba-tiba Diandra jatuh pingsan dan seketika ditahan oleh tangannya dan tidak sampai jatuh terhempas ke lantai.
"Sayaaang!" teriak Austin yang saat ini membulatkan mata karena merasa sangat terkejut dengan apa yang terjadi pada sang istri karena jatuh pingsan.
'Apa yang sebenarnya terjadi pada istriku? Apa yang membuatnya tiba-tiba pingsan saat aku menciumnya,' gumam Austin yang saat ini langsung bergerak menggendong Diandra dan menurunkan di atas ranjang sebelah kiri putranya.
Kemudian ia mencoba menepuk lembut pipi putih sang istri untuk menyadarkannya. "Sayang, sadarlah? Apa yang sebenarnya terjadi padamu? Jangan membuatku khawatir seperti ini."
__ADS_1
To be continued...