Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Mendapatkan dukungan penuh dari orang tua


__ADS_3

Austin sudah berada di bandara dan duduk di ruang tunggu karena mungkin beberapa menit lagi sudah diizinkan masuk ke dalam pesawat karena penerbangan akan dilakukan setengah jam lagi.


Ia saat ini menatap ke arah beberapa orang yang juga sama sepertinya, menunggu diizinkan masuk ke dalam pesawat. Hingga ia pun kini melihat ponsel miliknya dan mempunyai sebuah ide di kepala.


"Apa reaksimu saat aku menunjukkan tiket pesawat ini?" ujar Austin yang saat ini langsung mengirimkan bukti tiket pesawat menuju ke Jawa pada Diandra. Kemudian menuliskan pesan singkat.


Karena kamu tidak bisa melihat ayahmu yang baru saja dioperasi, jadi biar aku saja yang datang.


Kemudian ia langsung memencet tombol kirim dan menunggu pesannya dibaca serta dibalas oleh Diandra yang pastinya merasa sangat terkejut dan tidak pernah menduga apa yang dilakukan olehnya.


Saat ia menunggu pesannya dibaca oleh Diandra, seketika tersenyum menyeringai begitu tampilan menunjukkan centang biru.


"Wah ... ia langsung membaca pesanku. Apa Diandra akan membalas pesan?" Austin masih tidak berkedip menatap ke arah layar ponsel miliknya, tapi sama sekali tidak ada informasi mengetik dari sana.


Ia saat ini berpikir bahwa Diandra tidak mau membalas pesan darinya karena tidak berani atau merasa ketakutan jika sampai mengatakan semuanya pada orang tuanya.


"Sepertinya ia tidak berani membalas pesan dariku karena takut." Austin berniat untuk memasukkan ponsel miliknya ke dalam saku celana.


Namun, saat masih berada di tangannya, melihat ponselnya berdering dan menandakan nomor wanita yang tadi dikirimkan pesan. Ia seketika tersenyum menyeringai karena berpikir bahwa Diandra sangat takut ia pergi menemui orang tuanya di desa.


"Apa kamu takut jika aku mengatakan semuanya pada orang tuamu? Jika aku benar-benar mengatakan pada ayahmu bahwa ia sembuh karena putrinya menjual diri, pasti yang terjadi adalah hal buruk yang kamu takutkan."


Karena ingin tahu seperti apa reaksi dari Diandra, sehingga membuatnya langsung menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara dari seberang telpon yang membuatnya membulatkan mata dan mengepalkan tangan kanan untuk meluapkan amarah yang membuncah.


"Dasar pria berengsek! Kau benar-benar sudah tidak Laras karena berani menunjukkan mukamu di depan orang tua Diandra yang bahkan saat ini sedang tidak baik-baik saja. Jika sampai kau mengatakan hal-hal yang membuat ayah Diandra Anfal, aku akan membunuhmu, berengsek!"


Yoshi yang tadinya merasa penasaran siapa yang mengirimkan pesan pada Diandra dan seketika membuat wajah wanita itu murung, langsung merebut ponsel setelah menepikan kendaraan.


Hingga ia sudah kehilangan kesabaran dan langsung memencet tombol panggil untuk mengumpat pria yang menurutnya tidak tahu malu dan tidak punya perasaan.


Ia akan berteriak dan bisa melihat wajah kita dari Diandra ketika merasa gelisah serta ketakutan saat memikirkan sang ayah yang mungkin akan diberitahu oleh Austin mengenai menjual keperawanan demi pengobatan sang ayah.


Sementara itu, Austin yang tadinya langsung menjauhkan ponsel dari daun telinga karena mendengar suara memekakkan telinga dari pria yang sangat dibenci.


Namun, beberapa saat kemudian tertawa terbahak-bahak karena ingin mengintimidasi Diandra serta Yoshi. Ia bahkan saat ini merasa yakin jika Diandra bisa mendengar apa yang dikatakan.


"Apa yang akan kulakukan di sana pasti nanti dikabari oleh orang tua Diandra. Jadi, kau tidak perlu ikut campur karena ini adalah urusanku dengan Diandra. Di mana, dia? Apa ia tidak berani berbicara padaku? Hingga kau yang mewakilinya untuk mengancamku?"


Saat Austin merasa penasaran dengan keberadaan Diandra karena ingin mendengar suara wanita itu, beberapa saat kemudian harapannya menjadi terkabul.


Ia mendengar suara Diandra yang juga sama berteriak seperti Yoshi beberapa saat lalu. Bahkan ia seketika tersenyum menyeringai karena mendengar ada nada ketakutan dari teriakan bernada arogan itu.


"Kau memang benar-benar pria bajingan tidak tahu malu, Austin. Bagaimana mungkin kau berani menampakkan wajahmu di depan orang tuaku? Apa kau sudah gila karena tidak punya malu telah merusak putri mereka?" sarkas Diandra yang saat ini benar-benar tidak bisa menahan emosinya.


Ia tadinya tidak ingin membalas ataupun menelpon Austin, tapi karena berpikir jika orang tuanya mungkin akan sangat shock jika sampai pria itu mengatakan ia menjual diri demi bisa menyelamatkan sang ayah yang hendak operasi.

__ADS_1


Jadi, membuatnya terpaksa berbicara pada pria itu agar tidak membuat sang ayah terkena serangan jantung jika sampai mengetahuinya karena di dunia ini tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya hancur karena ingin menyelamatkan mengapa mereka.


Bahkan saat berbicara, wajahnya sudah


memerah karena amarah yang membuncah saat memikirkan pria yang sangat dibenci.


Namun, sekolah ancamannya sama sekali tidak membuat Austin merasa takut padanya ataupun iba dengan orang tuanya, sehingga Diandra saat ini meremas pakaian yang dikenakan dengan wajah menampilkan kemurkaan.


"Jika kau patuh padaku dan tidak membuat ulah, semua ini tidak akan terjadi, Sayang. Karena kau mengibarkan bendera perang pada Austin Matteo, maka akan kulayani dan kita lihat siapa di antara kita yang menang."


Austin yang merasa akan menang karena mengantongi bukti transfer, seketika ia langsung mematikan sambungan telpon karena tidak ingin berbicara dengan Diandra yang sedang marah.


Ia benar-benar yakin bahwa yang membuat Diandra sangat berani melawannya, itu karena ada Yoshi di sampingnya. Kini, ia mengepalkan tangan karena sangat kesal saat mendapatkan umpatan demi umpatan dari Diandra yang seolah sangat membencinya.


"Diandra, kamu sekarang sangat berani melawanku setelah aku menyelamatkan ayahmu. Baiklah, karena inilah yang kamu inginkan, aku akan membuktikan jika kamu tidak bisa berbuat apa-apa selain menyerahkan diri padaku." Austin seketika bangkit berdiri dari kursi begitu mendengar suara pengumuman untuk para penumpang.


Ia saat ini mengajukan mode pesawat karena tidak ingin berbicara dengan Diandra lagi. Itu karena ingin Diandra merasa kebingungan sekaligus ketakutan karena kedatangannya untuk mengunjungi orang tua wanita itu.


Padahal tujuan sebenarnya datang menemui orang tua Diandra bukanlah ingin mengatakan bahwa ia telah membeli keperawanan putri mereka agar bisa segera mendapatkan uang untuk operasi.


Namun, Austin datang menemui orang tua Diandra karena ingin melamar secara langsung pada orang tua wanita itu bahwa ia sangat serius ingin menikahi putri mereka.


Hanya saja, Diandra sudah terlanjur berpikiran jelek padanya, sehingga ia malas menjelaskan karena tidak akan dipercayai oleh wanita itu.


Langkah kaki panjang Austin saat ini menuju lorong yang menghubungkan dengan pintu pesawat. Sesekali ia mengembuskan napas kasar ketika mengingat semua penghinaan dan kemurkaan seorang Diandra padanya.


Austin yang saat ini sudah berada di dalam pesawat, kini mencari tempat duduk sesuai dengan nomor tiket pesawat.


Begitu menemukannya dan langsung mendaratkan tubuhnya di sana, ia masih terus terngiang-ngiang umpatan dari Diandra yang sangat membencinya seolah ia adalah pria paling berengsek di dunia ini.


'Sebenarnya apa kesalahanku hingga membuatnya sangat marah? Bukankah ia yang pertama datang ke apartemen untuk meminta bantuan agar memberikan uang untuk biaya operasi ayahnya?' Austin bahkan saat ini memijat pelipis karena benar-benar pusing menghadapi wanita seperti Diandra.


Bahkan ia berniat baik untuk bertanggung jawab dengan menikahi wanita yang telah ia renggut kesuciannya, tapi malah mendapatkan sebuah penghinaan dengan kalimat penolakan penuh kemurkaan.


Saat ini, Austin memilih bersandar pada kursi penumpang dan memejamkan mata. Ia bisa mendengar suara dari peragawati yang memberikan arahan sebelum pesawat lepas landas.


Austin bahkan tidak bisa berkonsentrasi saat ini karena fokus pada ingatan ketika Diandra mengumpatnya habis-habisan. Jujur saja ia merasa sangat terganggu dengan kemurkaan Diandra ditelpon tadi dan membuatnya kembali membuka kedua mata.


Ia saat ini tertawa miris ketika mengingat hal itu. "Apakah Aku seburuk itu di matamu, Diandra? Aku yang bertanggungjawab dengan menikahimu, tapi apa yang kudapatkan? Hanyalah sebuah penghinaan!"


Austin bahkan sama sekali tidak peduli dengan apa yang dipikirkan oleh beberapa penumpang di sekitarnya yang menatapnya dengan tatapan aneh. Karena saat ini yang dipikirkan hanyalah pandangan Diandra padanya sangatlah buruk.


Saat ini, ia beberapa saat untuk mencari sebuah jalan keluar dari masalah yang dihadapi. 'Bagaimana caranya mengubah pemikiran Diandra yang membenciku? Kenapa ia bisa bersikap berbeda pada Yoshi? Apa hebatnya pria itu?'


Austin benar-benar tidak bisa terima karena mengetahui bahwa Diandra menerima Yoshi dengan baik dan bersikap manis pada pria itu. Sementara padanya, sangat kasar dan selalu marah-marah.

__ADS_1


Ia tadi sengaja mengirimkan bukti tiket menuju ke Jawa karena berpikir bisa membuat Diandra takut padanya dan tidak lagi melawan, lalu menerima lamarannya.


Namun, hanyalah sebuah umpatan bertubi-tubi dan benar-benar merendahkan harga dirinya sebagai seorang pria yang ingin serius menjalani hubungan dengan seorang wanita.


Karena terasa sangat pusing tidak menemukan jawaban atas pertanyaan yang menari-nari di kepalanya, Austin berniat untuk mengistirahatkan otaknya karena jalannya membutuhkan waktu 1 jam lebih 30 menit.


Bahkan tadi sudah dijelaskan oleh asisten pribadinya bahwa rumah Diandra dari bandara masih satu jam perjalanan dengan naik mobil.


Akan ada yang menjemputnya di sana bandara karena memang sudah diurus oleh asisten pribadinya. Jadi, ia tidak akan bingung mencari kendaraan menuju ke rumah sakit yang menjadi tempat dirawatnya ayah Diandra.


Austin benar-benar tertidur dengan suara napas teratur terdengar di kursi penumpang yang ditempati. Terbiasa tidur dalam waktu beberapa menit bisa membuatnya lebih segar saat bangun nanti.


Sementara itu di tempat berbeda, yaitu di dalam mobil yang terparkir di pelataran pusat perbelanjaan, sosok wanita yang saat ini berurai air mata karena dikuasai oleh ketakutan saat membayangkan jika Austin benar-benar mengatakan kejadian sebenarnya pada orang tuanya.


Diandra merasa tidak akan bisa menghadapi orang tuanya jika sampai terjadi sesuatu hal yang buruk. Bahkan pengorbanannya pun akan sia-sia jika sampai sana ayah kembali terkena serangan jantung, serta sang ibu merasa sangat shock karena mendengar ia menjual diri.


"Tidak! Austin tidak boleh mengatakan itu pada ibu dan ayahku." Diandra saat ini menatap arah sosok pria yang dari tadi terdiam di balik kemudi.


"Yoshi, aku ingin pulang sekarang. Aku harus menghentikan Austin berbuat gila karena aku tahu ia bisa melakukan apapun, termasuk mengatakan tentang perbuatanku yang menjual diri. Jika ayahku sampai mendengarnya, sudah dipastikan pengorbananku akan sia-sia."


Kemudian Diandra saat ini membuka aplikasi pesan tiket pesawat setelah sebelumnya mendownload-nya. Kemudian mencari penerbangan secepatnya agar bisa menyusul Austin.


Sementara itu, Yoshi yang dari tadi tengah memikirkan jalan keluar untuk Diandra, memang berusaha untuk berpikir tenang dan tidak gugup seperti wanita itu.


Karena melihat kegelisahan dari Diandra, membuatnya tidak tega, tapi ia tidak setuju dengan perkataan barusan. Refleks ia langsung merebut ponsel dari tangan Diandra dan menatapnya pajang untuk menyadarkan wanita itu agar tidak gegabah mengambil keputusan yang akan disesali seumur hidup.


"Sadarlah, Diandra! Kamu selalu mengambil keputusan saat pikiranmu kacau. Apa kamu tidak ingat jika saat pergi ke tempat Austin karena pikiran kacau seperti ini dan berpikir hanya itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayahmu?"


"Padahal semuanya sudah selesai saat aku mentransfer uangnya, tapi kamu sekolah tidak mempercayai kuasa Tuhan. Jangan masuk ke lubang yang sama, Diandra!" Yoshi ingin menyadarkan wanita yang terlihat memerah wajahnya karena dipenuhi oleh kekhawatiran.


Bahkan dari tadi ia sedang mencari sebuah ide untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh Diandra, tapi wanita itu seolah meremehkannya dan tidak percaya padanya.


"Percayalah padaku! Aku akan membantumu karena kamu sekarang adalah calon istriku yang harus kulindungi. Aku pun makan melindungi orang tuamu dan memastikan bahwa mereka tidak akan mendengar hal itu." Menatap intens wajah pucat yang dipenuhi oleh kegelisahan itu.


Yoshi adalah seorang pria dan ia tahu seperti apa perasaan Austin. Bahwa pria itu juga sangat menginginkan Diandra untuk dinikahi. Jadi, menurutnya, tidak mungkin Austin membuka aib sendiri pada orang tua Diandra.


Diandra saat ini menyadari kecerobohannya, tapi tetap saja tidak bisa menghilangkan kekhawatiran yang dirasakan. Hingga ia berbicara sangat lirih dengan berurai air mata.


"Aku tidak akan bisa hidup tenang jika sampai Yoshi mengatakan bahwa aku menjual diri untuk menyelamatkan ayah." Diandra sama sekali tidak peduli dengan wajahnya yang mungkin sudah berubah sangat jelek karena dihiasi bulir kesedihan.


Hingga ia mendapatkan sebuah pencerahan dari perkataan Yoshi dan dianggap sangat masuk akal.


Yoshi saat ini menggelengkan kepala untuk membantah pemikiran Diandra yang dianggap sangat tidak masuk akal. "Aku sangat yakin jika Austin menemui orang tuamu bukan untuk mengatakan bahwa kamu menjual diri demi bisa menyelamatkan ayahmu."


"Sepertinya, tujuannya datang ke sana adalah untuk melamarmu agar mendapatkan dukungan penuh dari orang tua!" Yoshi menempatkan posisi sebagai seorang pria yang sangat tergila-gila pada wanita di hadapannya tersebut.

__ADS_1


Bahwa ia bisa melihat obsesi seorang Austin Matteo pada Diandra sangatlah besar dan tidak akan pernah berhenti sampai berhasil. Karena hal itulah, ia ingin segera menikahi Diandra agar Austin tidak berani lagi mengganggu wanita yang sudah bersuami.


To be continued...


__ADS_2