Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Bertahan hidup di kota besar


__ADS_3

Austin yang sebelumnya menatap intens sambil menunggu jawaban dari Diandra yang dianggap terlalu banyak berpikir, sehingga sibuk mengumpat di dalam hati.


'Sebenarnya apa alasan wanita ini terlalu banyak berpikir dan mempertimbangkan? Sepertinya aku harus selalu bersabar untuk mengalahkan tipe wanita seperti ini.'


'Rasanya sangat menantang dan aku bisa sedikit menguji kesabaran. Sepertinya ia tidak tahu jika biasanya para wanita yang selalu bersabar menghadapiku karena sangat tergila-gila padaku. Tidak apa-apa, ini semua demi harga diri agar si berengsek itu tidak mengejekku.'


Hingga ia pun seketika tersenyum lebar begitu mendengar jawaban dari Diandra yang menerima tawarannya meskipun harus banyak drama yang menghiasi untuk sampai pada titik itu.


Sementara itu, Diandra memiliki sebuah alasan yang sangat kuat begitu menjabat tangan pria yang terlihat sangat puas dan terlihat jelas dari wajah dengan rahang tegas itu.


Sebenarnya beberapa saat lalu, Diandra merasa ragu untuk menerima tawaran dari pria di depannya.


Namun, semua berubah ketika ingatannya sampai pada kejadian ketika pria tua yang mengincar dirinya untuk dijadikan istri bersama istri-istri yang lain, membuatnya bergidik ngeri dan menganggap lebih baik berpura-pura menjadi kekasih pria di hadapannya tersebut.


Hanya berpura-pura dan menganggap itu hanyalah sebuah hal yang sepele tanpa memikirkan harga dirinya yang sangat ia banggakan selama ini.


Apalagi harus menjadi anak berbakti untuk membalas semua jasa-jasa orang tua yang telah membuatnya bisa bernapas sampai sekarang dan menjadi dewasa, sehingga bisa bekerja, sampai akhirnya membuat mereka bangga.


Hingga saat ia menjabat tangan dengan buku-buku kuat tersebut, tapi tidak kunjung dilepaskan, refleks mengingat sesuatu. "Aku mempunyai sebuah syarat, Tuan karena sebagai sebuah antisipasi."


"Katakan saja apa syaratnya. Aku pasti akan langsung memenuhi keinginanmu itu. Ini semua kulakukan karena ingin menjaga nama baikku agar tidak diejek oleh pria yang ada di dalam sana."


Tentu saja perkataan dari pria yang terlihat sangat santai itu membuatnya kesal, seolah seperti mudah untuk dipenuhi tanpa berpikir. Padahal ia belum mengatakan hal yang akan menjadi syaratnya.


Melihat wanita itu tidak langsung menjawab dan seperti ragu, Austin kini mulai menebak. "Apa syaratmu asal uang?"


Refleks Diandra menggelengkan kepalanya karena bertambah semakin kesal. "Bukan. Meskipun saya miskin, tapi tidak membutuhkan uangmu."

__ADS_1


"Itu sama saja dengan uang haram. Hanya satu syarat yang sepertinya akan sulit Anda penuhi."


Merasa sangat penasaran dengan apa yang tidak bisa ia lakukan dan itu berarti menghina harga dirinya, sehingga saat ini Austin makin penasaran. "Cepat katakan saja!"


Tidak ingin membuang waktu, kini Diandra mengungkapkan jawabannya. "Anda harus menghormati saya sebagai seorang perempuan karena Anda pun lahir dari seorang wanita, kan?"


"Jadi, meskipun saya hanyalah orang miskin, dan Anda adalah orang kaya, tidak boleh berbuat sesuka hati."


"Hormat dalam arti bagaimana maksudmu? Apa kamu ingin aku membungkuk hormat padamu saat melihatmu datang?" Austin sebenarnya ingin terbahak karena merasa permintaan dari wanita di hadapannya tersebut sangat konyol, tetapi seketika tertampar begitu memahami keinginannya.


Untuk sesaat Diandra menepuk jidat karena sudah bisa menduga jika pria yang bukan merupakan orang sembarangan tersebut tidak akan paham, sehingga memilih untuk mengungkapkan apa yang diinginkan dengan mengarahkan tatapan pada tangan yang masih belum melepaskan kuasa.


"Jangan pernah ada sentuhan fisik. Saya sangat hafal dengan ulah para playboy yang suka gatal seperti Anda."


Austin refleks menunduk ke arah tangannya yang dari tadi menjabat tangan dengan jemari lentik itu. Kalimat ejekan tersebut seolah berhasil menamparnya secara terang-terangan.


“Aku pikir kau akan meminta syarat yang aneh-aneh. Ternyata hanya itu. Baiklah. Itu bukan masalah bagiku."


Diandra seketika mengerutkan kening karena merasa heran dengan tanggapan datar pria yang seolah meremehkan syaratnya saat mempertahankan separuh harga.


"Sepertinya Anda menganggap bahwa uang adalah segalanya dan bisa membeli harga diri saya. Mungkin syarat yang baru saya ajukan adalah hal yang tidak penting bagi bagi pria kaya seperti Anda, tapi itu sangat berharga bagi orang miskin seperti saya."


"Orang miskin memang tidak punya harta untuk dibanggakan, tapi mempunyai harga diri yang dijunjung tinggi. Jadi, tolong hormati saya sebagai seorang wanita, bukan sebagai wanita yang bekerja sama demi sebuah kebohongan.”


Karena tidak ingin membuang-buang waktu dan membuat temannya menunggu lama di dalam, akhirnya Austin hanya menganggukkan kepala.


“Iya, aku paham apa yang kau maksud karena bukan seorang anak kecil. Lagipula siapa juga yang mau menyentuhmu wanita jelek dengan badan macam triplek kurang gizi sepertimu? Kau bahkan seperti kurang gizi karena sama sekali tidak seksi. Tidak seperti para wanita yang selama ini dekat denganku."

__ADS_1


"Lagipula, kamu bukanlah tipeku karena lebih menyukai wanita cantik dan seksi. Bukan wanita jelek dan kurus sepertimu." Austin kini memberikan kode dengan tangan menunjuk ke arah ruangan kerja. "Ayo, kita masuk sekarang."


Meskipun merasa sangat kesal karena diejek, tapi Diandra menyadari jika apa yang dikatakan oleh pria itu memang benar adanya. Bahwa ia semakin bertambah kurus karena selama tinggal di Jakarta harus irit dan jarang makan.


Hingga memiliki penyakit pada lambung yang sering sekali kambuh. Ia mulai mengerti apa yang sering dikatakan oleh orang-orang, bahwa cara cepat untuk kurus adalah saat sakit.


Sementara diet sama sekali tidak bisa menandingi drastisnya berat badan turun ketika diet. 'Tidak perlu memikirkan perkataan dari pria sialan ini karena hanya akan membuat darah tinggi.'


Apalagi tidak ada yang bisa dilakukannya karena menyadari bahwa apa yang dikatakan pria di hadapannya memang benar adanya.


“Syukurlah kalau begitu. Jadi Saud sekarang tidak akan tertekan dengan sikap Anda yang kurang ajar." Diandra berbicara dengan nada penuh ejekan dan tersenyum simpul untuk menyembunyikan kekesalan karena pertama kali diejek kurang gizi oleh seorang pria.


Tentu saja Austin merasa sangat kesal karena tidak berhasil membuat malu wanita yang seolah sama sekali tidak tertarik pada pria yang sempurna sepertinya.


Namun, tidak bisa memberikan sebuah pelajaran dan berakting tidak terjadi sesuatu.


“Baru kali ini aku bertemu wanita macam dirimu. Apa kau sama sekali tidak merasa malu padaku? Sepertinya kau sudah terbiasa mendengar ejekan orang lain."


"Apa selama ini semua pria mengejek penampilanmu? Hingga kau terbiasa dan sudah tidak terkejut lagi?"


Merasa membuang waktu jika melanjutkan berbicara yang tidak ada ujungnya, Diandra kini memilih untuk melangkahkan kaki jenjangnya ke arah ruang kerja pria itu tanpa menoleh lagi ke belakang.


"Saatnya bekerja," lirih Diandra yang menganggap bahwa kerja sama untuk berakting sebagai kekasih pria itu adalah sebuah pekerjaan.


Bahwa itu merupakan sebuah batu loncatan untuknya bisa diterima bekerja di sebuah perusahaan dan berharap akan bisa bertahan hidup di kota besar yang keras.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2