
Begitu tiba di kantor, Austin menghubungi staf divisi yang menaungi Diandra agar menyuruh wanita itu datang ke ruangannya begitu tiba di perusahaan. Ia masih mencoba untuk berpikir positif mengenai Diandra hari ini akan datang bekerja seperti biasa.
Kini, ia mengempaskan tubuhnya di kursi kerja dan menatap ke arah foto wanita cantik yang membuatnya merasa tergila-gila. Sebenarnya ia merasa yakin jika apa yang dirasakan adalah sebuah obsesi.
Namun, saat ini ia sama sekali tidak memperdulikan apapun karena satu-satunya yang diharapkan adalah hanya ingin bertemu dengan Diandra. Kini, ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kerja yang terasa sepi dan menurutnya jauh berbeda dari biasanya.
Itu semua karena kemarin ia sangat bersemangat berada di kantor saat ada Diandra yang bisa disuruh-suruh dan juga bisa memandang sepuas hati ketika berada di ruangannya, tapi sekarang justru kebalikannya.
"Jika Diandra benar-benar pergi, berarti apa yang kutakutkan menjadi kenyataan. Apa yang harus kulakukan jika itu terjadi?" lirih Austin yang saat ini tidak bisa lagi menahan kemurkaan ketika pikirannya dipenuhi oleh kekhawatiran luar biasa saat mengingat sosok wanita yang membuatnya kecanduan.
"Aku hanya menginginkanmu, Diandra. Sekarang kau ada di mana? Kenapa pergi dari tempat kos setelah kita bercinta? Sekarang kau pun belum datang juga karena masih belum ada yang menghubungiku."
Austin kini melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kiri dan menyadari jika waktu sudah menunjukkan jam kerja.
"Apa Diandra benar-benar belum datang juga?" Austin kini kembali menghubungi staf yang merupakan senior Diandra.
"Bagaimana? Apa pegawai baru belum datang juga?" Austin berbicara dengan nada kesal dan tidak sabar ingin mengetahui mengenai Diandra.
Hingga kembali mendengar jawaban yang membuatnya merasa sangat kecewa dan semakin mengkhawatirkan sosok wanita yang tengah memporak-porandakan hatinya.
__ADS_1
"Belum, Presdir. Diandra sampai sekarang belum datang. Mungkin terlambat karena kemarin juga datang tidak tepat waktu."
Rahang Austin seketika mengeras karena kekhawatirannya benar-benar terjadi dan membuatnya merasa sangat marah pada Diandra karena pergi tanpa pamit dari apartemen.
"Baiklah! Sepertinya ia tidak akan datang." Austin langsung mematikan sambungan telpon tanpa berniat untuk menunggu tanggapan.
Hingga ia seketika mengangkat pandangan begitu melihat pintu terbuka setelah sebelumnya diketuk dari luar. Ia bisa melihat asisten pribadinya kini membawa iPad di tangan kiri dan beberapa dokumen di tanah kanan.
"Selamat pagi, Presdir. Saya ...." Daffa Ibrahim tidak melanjutkan perkataannya karena dipotong oleh suara bariton penuh dengan amarah dan membuat bulu kuduk meremang bagi siapapun yang mendengar.
"Jangan bertele-tele! Cepat katakan di mana lokasi Diandra terakhir kali!" sarkas Austin yang kini berdiri dari kursi.
Karena ia ingin segera mencari keberadaan wanita yang telah kabur darinya. 'Meskipun Diandra lari ke lubang semut sekalipun, aku akan menemukannya.'
Sementara itu, sang asisten yang kini berjalan mendekati bosnya, menaruh dokumen di atas meja dan membuka iPad kerjanya. Kemudian menunjuk daftar dari beberapa lokasi yang diambil melalui GPS bosnya.
Ia bahkan tahu bahwa lokasi apartemen bosnya termasuk dalam catatan tiga terakhir dan membuatnya berpikir bahwa atasannya tersebut tengah memiliki hubungan dengan pegawai baru perusahaan.
"Lokasi terakhir menunjukkan bahwa nona Diandra ada di hotel ini, Presdir." Daffa merasa sangat aneh melihat sikap berlebihan bosnya karena biasanya tidak pernah memberikan sebuah tugas yang berhubungan dengan kekasih maupun gebetan saat berada di perusahaan.
__ADS_1
'Bos jadi tidak profesional semenjak bertemu dengan pegawai baru yang masuk karena campur tangan presdir. Selama ini ia juga tidak pernah merasa bingung mengenai wanita karena selama di kantor, selalu fokus bekerja.'
Austin yang langsung merebut iPad dari tangan asistennya, kini ingin melihat sendiri untuk memastikan dan ia mengerjapkan mata karena semakin dibuat terkejut.
"Hotel? Apa yang dilakukannya di hotel? Apa yang menjemputnya adalah seorang pria? Jika benar, apa yang Diandra lakukan di hotel bersama seorang pria?"
Tidak ingin berbagai macam pertanyaan memenuhi kepalanya, kini Austin langsung berjalan keluar dari ruangan kerjanya dan menepuk pundak kokoh asistennya.
"Cancel semua jadwal pertemuan hari ini karena ada hal penting yang harus kubereskan!"
"Baik, Presdir," ujar Daffa Ibrahim yang kini melihat siluet belakang pria yang sudah keluar dari pintu tanpa menoleh ke belakang lagi.
Sementara itu, Austin yang saat ini sudah melangkahkan kakinya menuju ke arah lift, kini sibuk dengan pikirannya sendiri karena dipenuhi oleh hal-hal negatif mengenai Diandra.
"Diandra, apa yang sebenarnya ada di otakmu sekarang? Bukankah aku sudah membantumu untuk biaya operasi ayahmu? Kenapa malah kamu menghilang begitu saja?"
"Semoga ia tengah beristirahat di hotel tanpa ada siapapun yang menemaninya.
Aku tidak akan pernah bisa tenang sebelum memastikan Diandra masih berada di hotel," gumam Austin yang saat ini tidak lagi bisa bersabar agar bisa segera melihat Diandra.
__ADS_1
Austin bahkan berjalan terburu-buru begitu keluar dari ruangan kotak besi itu menuju ke lobi perusahaan agar bisa segera tiba di mobilnya yang terparkir rapi di parkiran.
To be continued...