
Diandra yang tidak mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang diajukan, tadi menatap apa yang tengah dilakukan pria itu saat mengambil ponselnya miliknya.
Ia yang kini menarik selimut tebal berwarna putih di bawah kakinya untuk menutupi tubuh polosnya setelah jubah handuknya tadi disingkirkan oleh pria yang telah berhasil merenggut kesuciannya.
Bahkan ia tidak yakin apakah bisa melupakan kenangan buruk hari ini di seumur hidupnya karena hanya dengan melihat Austin, rasa ingin menampar wajah pria itu serta mencabik tubuh untuk melampiaskan amarah seolah sangat kuat.
Apalagi melihat sikap pria itu seolah ikut campur dengan urusan pribadinya dan membuat ia seperti tidak punya hak sama sekali dalam hidupnya. Namun, ia tidak mungkin mengungkapkan nada protesnya.
Saat mendengar suara sang ibu di seberang telpon, kini Diandra membuka suara sambil melihat bahwa pria itu masih berdiri di hadapannya.
"Halo, Diandra. Syukurlah kamu sudah mendapatkan uangnya. Jadi, besok ayahmu bisa segera dioperasi."
"Iya, Bu. Aku pinjam uang dari temanku dan syukurlah percaya mau meminjamkan padaku." Diandra yang masih tidak mengalihkan pandangan dari sosok wanita yang ada di hadapannya, kini merasa sangat lega ketika Austin tengah berjalan ke arah kamar mandi.
Hingga ia merasa sangat lega, seolah beban berat seketika menghilang dari pundaknya. Namun, ia merasa aneh ketika suara sang ibu tengah berbicara panjang lebar sebelum ia sempat bertanya mengenai bagaimana keadaan sang ayah.
"Iya, Ibu mengerti siapa orangnya. Temanmu sangat baik. Kamu harus bersikap baik padanya karena mempunyai teman sebaik itu. Meskipun Ibu sudah mengucapkan terima kasih tadi, tapi kamu juga harus sering mengucapkan terima kasih juga."
Diandra mengerutkan keningnya karena tidak paham dengan maksud sang ibu. Apalagi ia merasa sangat yakin jika Austin tidak pernah berbicara dengan sang ibu, jadi ingin mencari tahu apa yang sebenarnya dimaksud.
"Ibu sudah mengucapkan terima kasih pada temanku yang meminjamkan uang? Kapan?" tanya Diandra yang kini merasa bahwa mungkin Austin berbicara macam-macam pada ibunya mengenai ia menjual diri pada pria itu.
Diandra benar-benar sangat khawatir jika benar pria yang baru saja menikmati tubuhnya itu berbicara hal buruk mengenainya. Meskipun ia tahu bahwa sang ibu tidak bertanya apapun padanya, tapi paling tidak ingin tahu hal sebenarnya.
Sementara itu, Laksmi Mustika kini menjelaskan tentang pembicaraan ketika tadi berbicara dengan pria yang mengaku teman putrinya saat mengangkat telpon ketika putrinya tengah ke kamar mandi.
"Nak Yoshi benar-benar adalah teman yang sangat baik dan suka menolong, Diandra. Jadi, kalau bisa selalu jaga hubungan baikmu dengannya. Bahkan kita tidak punya jaminan apapun saat ia meminjamkan uang untuk biaya operasi jantung ayahmu, tapi tanpa ragu langsung meminta nomor rekening tadi."
Seketika tangan Diandra yang memegang ponsel bergetar hebat begitu mendengar penjelasan sang ibu. Ia sama sekali tidak tahu jika ternyata pria yang baru dijumpainya di rumah sakit bernama Yoshi tadi telah mentransfer uang tanpa sepengetahuannya.
'Ya Allah, apa yang terjadi sekarang? Bagaimana mungkin ini terjadi? Aku bahkan sudah menjual diri pada bajingan itu, tapi ternyata pria yang baru kutemui tadi langsung membantuku tanpa berkata apapun saat aku pergi.'
Diandra yang kini duduk di tepi ranjang, masih bergetar tangannya begitu mengetahui kenyataan pahit yang baru dialami. Ia bahkan sangat menyesal karena tadi tidak mengangkat telpon sang ibu demi bisa segera pergi menemui Austin agar bisa segera mendapatkan uang.
__ADS_1
Namun, ternyata sebelum itu, pria bernama Yoshi tadi telah memberikan uang yang bahkan dalam jumlah tidak sakit tanpa mengatakan apapun padanya.
Hingga saat ia tengah menormalkan gejolak perasaan yang membuncah, kini mendengar suara dari sang ibu sekaligus sosok pria yang baru saja keluar dari kamar mandi tengah berjalan mendekat.
"Diandra! Halo, Nak. Kamu masih di sana, kan? Kenapa hanya diam saja?" tanya Laksmi Mustika yang kini merasa khawatir terjadi sesuatu pada putrinya karena sama sekali tidak menanggapi.
Sementara itu, Diandra yang kini tidak bisa menormalkan perasaan berkecamuk, seketika menjatuhkan ponsel dari tangannya hingga terhempas ke lantai.
Bahkan ia saat ini merasa seolah kepalanya mendadak pusing dan pandangan blur ketika melihat pria yang berjalan cepat ke arahnya.
Tanpa memperdulikan rasa pusing di kepala, Diandra hendak membungkuk untuk buru-buru meraih ponsel miliknya di atas lantai, tapi tangannya bersentuhan dengan jemari milik pria yang telah membuatnya menjadi seorang wanita tidak punya harga diri yang bisa dibanggakan lagi.
Kini, Diandra tidak lagi berpikir jernih saat ini. Hingga ia menyingkirkan tangannya agar tidak bersentuhan dengan pria yang membuatnya merasa sangat trauma saat ini.
Austin yang merasa aneh melihat wajah pucat Diandra dan langsung mengambilkan ponsel milik wanita itu. Kemudian menyerahkannya tanpa bersuara karena ia tidak ingin suaranya didengar oleh sosok wanita di seberang telpon.
'Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa ia seperti baru saja mendapatkan kabar buruk? Apa ada sesuatu yang terjadi?' gumam Austin yang baru saja membersihkan diri di kamar mandi.
Ia kini merasa penasaran dengan apa yang dibicarakan oleh ibu dan anak itu, sehingga memencet tombol loudspeaker sebelum menyerahkannya pada Diandra agar bisa mendengar pembicaraan mereka.
'Tidak boleh! Bajingan ini tidak boleh mengetahui bahwa ada pria baik berhati malaikat yang menolongku tanpa meminta jaminan seperti penjahat wanita ini,' gumam Diandra yang saat ini tengah berusaha untuk mengalihkan pembicaraan agar sang ibu tidak mengungkit pria bernama Yoshi.
"Iya, Bu. Aku masih di sini. Tadi sedang membaca pesan teman. Tentu saja aku akan berterima kasih pada temanku yang berhati malaikat itu karena sudah mau membantuku." Diandra masih berbicara seperti seolah-olah yang dibicarakan adalah pria di sebelahnya.
"Akhirnya ayah besok bisa dioperasi. Ini sudah malam, Bu. Aku sangat mengantuk. Ibu juga istirahat sekarang dan jaga kesehatan agar tidak ikut sakit karena kelelahan menjaga di rumah sakit. Ibu tutup telponnya saja."
"Baiklah. Kamu juga baik-baik di sana, Nak,"
Kemudian langsung mematikan sambungan telpon dan begitu terputus, saat ini Diandra masih mencoba untuk berakting tidak terjadi apapun pada dirinya.
Padahal yang terjadi, ia ingin sekali mengakhiri hidupnya saat ini juga karena merasa menjadi wanita paling bodoh sedunia. Tadi ia asyik menyalahkan takdir buruk hidupnya dan sama sekali tidak percaya ada pertolongan Tuhan.
Hingga saat ini ia langsung ditunjukkan bahwa di dunia ingin tidak ada yang tidak mungkin. Bahwa semua atas izin yang lebih berkuasa dan bisa mengubah hal tidak mungkin menjadi mungkin.
__ADS_1
'Jadi, ini yang disebut dalam paham Islam, kun fayakun yang menggambarkan suatu hal yang sudah dikehendaki oleh Allah SWT, maka akan benar-benar terjadi tanpa terkecuali. Tidak ada kuasa yang lebih hebat, selain kuasa Allah SWT.'
'Seperti yang sering kudengar, ternyata arti kun fayakun mengajarkan umat untuk percaya dan yakin akan kekuasaan Allah SWT,' gumam Diandra yang kini mencoba untuk menguatkan hatinya agar tidak putus asa dan hancur hanya gara-gara pria di sebelahnya.
'Aku harus kuat. Jangan biarkan bajingan ini semakin membuatku terpuruk.' Lamunan dari Diandra seketika musnah begitu merasakan sentuhan di pipinya, sehingga langsung menyingkir dengan memalingkan wajah.
Ia benar-benar sangat jijik disentuh pria yang dianggap adalah pria paling jahat di dunia. Kebalikan dari pria bernama Yoshi yang membuatnya merasa sangat kagum dan berjanji akan menemui pria itu lagi besok.
Namun, sekarang ia berpikir harus menyelesaikan semua urusannya dengan pria yang terlihat memerah wajahnya karena kesal saat tidak gagal mengusap pipinya.
"Kenapa wajahmu terlihat sangat pucat?" Austin yang tadinya ingin memeriksa wajah Diandra, seketika kesal saat melihat wanita yang dikhawatirkan malah menghindarinya.
"Apa kamu sedang menghindariku? Atau kamu tidak ingin kusentuh karena jijik padaku?" sarkas Austin yang saat ini tidak bisa menghilangkan kekesalannya atas sikap yang ditunjukkan oleh Diandra kala mencoba untuk menghindarinya.
Hingga ia pun langsung merangkum kedua sisi pipi putih wanita di hadapannya sambil menatap tajam. "Sadarlah posisimu, Diandra! Jangan menjadi seorang wanita tidak tahu diri yang tidak tahu balas budi setelah kutolong!"
"Ingat! Nyawa ayahmu bisa selamat karenaku!" sarkas Austin yang mencoba untuk membuat Diandra sadar bahwa ia sudah menjadi Dewa penyelamat bagi wanita itu.
"Jika tidak ada aku, kamu sudah menjadi seorang pelacur dengan mengobral tubuhmu pada para pria hidung belang setiap malam. Jadi, ingat itu di kepalamu." Kemudian ia bangkit berdiri setelah melepaskan kuasa.
Austin sadar jika sampai ia melanjutkan kekesalan pada Diandra, malah akan kembali membuat wanita itu melayaninya untuk kedua kali. Namun, ia tidak tega saat melihat wajah Diandra pucat.
"Beristirahatlah! Besok pagi, aku akan mengantarmu pulang ke tempat kos. Kita bisa berangkat bekerja sama-sama." Kemudian berbalik badan menuju ke arah pintu keluar untuk merokok.
Menghilangkan amarahnya dengan merokok adalah sebuah cara bagi Austin saat ini untuk tidak membuat Diandra kelelahan dalam melayani gairahnya.
Sementara itu di sisi lain, Diandra hanya terdiam membisu di tempatnya dan hanya sebuah kebencian yang dirasakan saat ini kala melihat pria yang baru saja menghilang di balik pintu.
'Pria bajingan itu sangat menjijikkan. Ia sangat percaya diri seperti merasa adalah satu-satunya Dewa penolong untukku. Padahal yang terjadi justru sebaliknya, ada Yoshi yang sangat baik hati.'
'Aku tidak akan membiarkan bajingan itu tahu mengenai Yoshi dan akan merahasiakan ini darinya. Aku akan pergi malam ini setelah ia tertidur pulas,' gumam Diandra yang kini perlahan bangkit berdiri dan meringis menahan rasa nyeri pada bagian intinya.
Saat ia menoleh ke atas ranjang, melihat bercak darah yang menandakan sebuah bukti atas darah perawan yang selama ini dijaga dengan sangat baik telah dihancurkan oleh pria bernama Austin Matteo.
__ADS_1
"Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah memaafkanmu, Austin Matteo. Setelah hari ini, aku tidak ingin melihatmu lagi," umpat Diandra yang kini sudah melangkahkan kaki ke kamar mandi dengan tubuh terbalut selimut tebal berwarna putih.
To be continued...