Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Menolong korban kecelakaan


__ADS_3

Diandra yang tadi harus lembur karena ulah Austin, tidak berhenti meratapi nasibnya karena merasa sangat sedih ketika mengingat harus mencari uang untuk biaya operasi jantung sang ayah.


Ia berada dalam posisi yang sangat sulit saat ini karena harus fokus menyelesaikan pekerjaan di saat pikirannya tengah bercabang. Namun, Diandra saat ini berusaha untuk tetap menyelesaikan pekerjaan agar bisa segera pulang dan mencari solusi dari masalah yang dihadapi.


Usahanya berhasil karena pekerjaan selesai tepat waktu dan ia keluar dari perusahaan saat hari sudah gelap gulita dan disapa oleh security ketika pulang.


"Lembur, Mbak?" tanya security begitu melihat langkah kaki seolah tidak bertenaga karena efek kelelahan setelah lembur.


Diandra saat ini tersenyum dan menganggukkan kepala. "Iya, Pak. Syukurlah selesai tepat waktu dan bisa segera pulang."


"Hati-hati di jalan, Mbak karena sekarang banyak orang jahat yang menghalalkan segala cara untuk melakukan pencopetan. Apalagi sasarannya adalah para wanita yang pulang malam seperti Mbaknya. Oh ya, mau pulang naik apa?" Security merasa harus mengingatkan wanita di hadapannya agar lebih berhati-hati.


Niat Diandra hari ini sebenarnya ingin naik bus bersama dengan Adelia, tapi harus lembur dan saat ini baru saja keluar dari perusahaan. Awalnya ingin naik ojek online untuk pulang, tapi bulu kuduk meremang seketika ketika mendengar cerita dari pria yang usianya jauh di atasnya tersebut.


"Saya pulang naik bus saja, Pak agar lebih aman karena ada banyak orang." Kemudian ia melambaikan tangan setelah tersenyum simpul begitu melihat pria berseragam tersebut mengiyakan.


Diandra saat ini berjalan dengan pikiran yang dipenuhi oleh kekhawatiran dan ketakutan jika sampai tidak mendapatkan uang untuk biaya sang ayah, akan mengakibatkan sesuatu yang buruk.


Ia berjalan menyusui trotoar untuk menuju ke arah halte yang berada di sebelah kanan perusahaan dan untungnya tidak terlalu jauh, sehingga tidak membuatnya merasa takut jika ada orang jahat ketika pulang dalam suasana penuh dengan kegelapan.


Sebenarnya malam ini sangat indah karena banyak bintang bertaburan menghiasi langit dan membentuk gugusan yang terlihat menyilaukan mata.


Namun, keindahan itu berbanding terbalik dengan suasana gelap di hati Diandra saat ini. Ia seketika menjalankan tubuhnya begitu tiba di hotel dan menunggu hingga bus tiba.


Dengan menatap ke sembarang arah, ia mengingat akan perkataan dari pria yang sangat dibenci karena memanfaatkan kemalangannya untuk bisa menikmati tubuhnya.


'Apakah ketika aku tidak bisa mendapatkan uangnya, lebih baik menyerahkan jaminan sesuai dengan yang dikatakan oleh bajingan berengsek itu?'


Namun, Diandra beberapa kali menggelengkan kepala karena masih berusaha untuk berpikir positif bahwa ia bisa mendapatkan uang untuk biaya rumah sakit.


'Tidak! Jangan bodoh, Diandra! Pasti Ada cara lain untuk mendapatkan uangnya. Tapi, sku harus meminjam uang sebanyak itu dari siapa? Aku tidak kenal siapa-siapa di sini.'


'Hanya tetangga kos yang pastinya hanya memiliki gaji pas-pasan, bukan seorang konglomerat yang banyak uang.' Diandra masih sibuk memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan uang tanpa menggadaikan tubuhnya.


Lamunannya seketika buyar begitu mendengar suara hantaman keras dari seberang jalan dan membuatnya mengangkat pandangan yang dari tadi menatap kosong ke sembarang arah.


Bahkan beberapa orang yang duduk di sebelahnya, baik pria maupun wanita juga melakukan hal sama dengan bangkit berdiri dan menatap ke arah kendaraan yang baru saja menabrak sebuah pohon.


"Astaghfirullah!" Diandra mengusap dada begitu melihat kecelakaan tunggal di seberang jalan.


Karena merasa sangat khawatir dan ingin melihat keadaan dari korban kecelakaan, ia segera menyeberang jalan bersama beberapa orang yang ingin melakukan hal sama sepertinya.

__ADS_1


Entah itu ingin melihat ataupun menolong, semua orang mempunyai pemikiran berbeda. Namun, Diandra berniat untuk menolong korban yang mengalami kecelakaan.


Karena ia dulu pernah merasakan bagaimana rasanya ketika kecelakaan dan merasa berterima kasih serta bersyukur ada yang mau menolong membawa ke rumah sakit. Jadi, ia ingin melakukan hal sama.


Begitu melihat kerumunan orang yang sudah memeriksa keadaan korban di dalam mobil, Diandra saat ini ingin segera mengetahui bagaimana nasib dari seseorang yang ternyata adalah wanita dibalik kemudi sudah tidak sadarkan diri.


"Tolong bantu untuk membuka pintu mobil. Apakah ada yang bisa?" tanya Diandra saat menatap ke arah semua orang yang berkerumun.


Ia berharap ada orang bengkel yang ahli dan bisa membuka mobil. Namun, di saat bersamaan mendengar suara seseorang yang berteriak.


"Wanita itu bergerak!" seru seorang pria yang langsung mencoba untuk mengetuk beberapa kali agar wanita di balik kemudi tersebut membuka mobil.


Diandra pun berjalan mendekat untuk melakukan hal yang sama dengan mengetuk beberapa kali kaca mobil mewah berwarna putih itu.


"Nona! Buka pintunya!" Diandra berharap wanita yang berada di dalam mobil segera membuka pintu agar bisa mengetahui bagaimana keadaan korban kecelakaan tunggal itu.


Hingga beberapa saat kemudian ia melihat pintu terbuka dan langsung mengecek keadaan wanita yang sudah bersimbah darah pada bagian kepala.


"Astaghfirullah, Nona berdarah!" Diandra yang merasa sangat lega saat pintu terbuka, tapi begitu melihat darah, merasa sangat khawatir jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada wanita yang sudah bersandar sambil mengeluarkan ponsel.


"Tolong aku! Hubungi kontak dengan nama Yoshi!" lirih yang meringis kesakitan dan memejamkan mata karena tidak kuat merasakan rasa sakit pada bagian kepala.


"Anda harus dibawa ke rumah sakit dulu, Nona." Saat Diandra baru saja menutup mulut, melihat wanita yang bersandar di jok mobil tersebut sudah kehilangan kesadaran dan membuatnya sangat khawatir.


Bahkan ia meminta bantuan beberapa laki-laki untuk mengangkat tubuh wanita itu karena tidak mungkin ia melakukannya sendiri.


Beberapa saat kemudian, taksi yang dipesan datang dan Diandra masuk ke dalam. Ia duduk di kursi depan, sedangkan korban kecelakaan berada di belakang.


"Tolong panggil polisi untuk mengurus mobilnya!" Diandra lagi dibantu oleh seorang pria yang menawarkan diri untuk mengurus mobil yang sudah besok di bagian depan tersebut.


Jadi, ia merasa sangat lega dan kini baru sempat menghubungi seseorang yang tadi dimaksudkan oleh wanita tersebut karena tadi fokus untuk segera membawa ke rumah sakit.


Diandra memencet tombol hijau begitu menemukan nama yang disebutkan oleh korban dan menunggu hingga panggilan telpon darinya diangkat.


Hingga ia seketika membuka suara begitu mendengar suara bariton dari seorang pria.


"Ya, ada apa? Tumben menelpon," sahut suara bariton dari seberang telpon.


"Halo, Tuan Yoshi. Saya saat ini memegang ponsel wanita yang mengalami kecelakaan tunggal karena menabrak pohon besar di tepi jalan di area dekat perusahaan tempat kerja. Sekarang tengah membawa nona ini ke rumah sakit terdekat."


Diandra seketika menjauhkan ponsel dari telinga begitu mendengar suara teriakan dari seberang telpon dan bisa dipahami bahwa saat ini sangat terkejut mendengar berita buruk mengenai kecelakaan.

__ADS_1


"Apa? Kecelakaan? Bagaimana keadaan Nauraku sekarang? Di mana kecelakaannya? Aku akan segera ke sana."


Diandra kemudian menjelaskan kronologi cerita dan juga tempat yang menjadi kemalangan dari wanita cantik yang masih tidak sadarkan diri di belakang.


"Saya akan membawa ke rumah sakit terdekat. Jadi, nanti Anda langsung saja ke ruangan gawat darurat."


"Baiklah, aku sudah dalam perjalanan menuju ke sana. Terima kasih karena sudah menolong Nauraku."


"Iya, Tuan. Saya tunggu Anda di sana." Diandra merasa sangat lega bisa berbicara dengan seseorang yang berhubungan dengan korban kecelakaan tersebut.


Kemudian mematikan sambungan telepon dan menaruh benda pipih yang diketahui memiliki harga sangat mahal dan tidak mungkin bisa dibelinya begitu melihat simbol di bagian belakang ponsel.


'Nauraku? Apa pria itu adalah kekasih dari wanita itu? Kenapa tidak menghubungi orang tua atau sanak saudara? Tapi malah menghubungi kekasihnya.'


'Sepertinya wanita ini takut jika orang tuanya mengetahui, akan dimarahi,' gumam Diandra yang saat ini menebak-nebak tentang hubungan antara korban kecelakaan dengan pria yang baru saja dihubungi.


Lamunannya seketika buyar begitu mendengar suara bariton dari pria dibalik kemudi.


"Kita sudah tiba di rumah sakit, Nona." Saya akan langsung memanggil perawat di UGD akan membawa brankar untuk wanita itu," sahut sang sopir yang saat ini mematikan mesin mobil dan keluar setelah melihat wanita di sebelahnya menganggukkan kepala.


Diandra pun buru-buru keluar dari mobil dan membuka pintu bagian belakang untuk memeriksa apakah wanita tersebut masih tidak sadarkan diri. Begitu melihat tidak ada tanda-tanda kesadaran, membuatnya merapal doa.


"Semoga keadaan wanita ini tidak parah dan bisa segera ditangani oleh para tim dokter."


Indra pendengaran Diandra menangkap suara roda dari brankar semakin jelas dan membuatnya menoleh ke arah sumber suara. Begitu melihat dua perawat pria dan wanita semakin mendekat, kini seketika menunjukkan korban yang berada di dalam taksi.


Meskipun dengan agak kesusahan untuk mengangkat tubuh pasien, akhirnya bisa berpindah ke atas brankar dan langsung dibawa ke IGD.


"Apa Anda kerabat dari pasien?" tanya perawat wanita yang saat ini menoleh ke arah belakang.


Refleks Diandra menggelengkan kepala untuk tidak membenarkan dan menjelaskan. "Saya saksi di tempat kejadian kecelakaan tunggal dari wanita ini. Sebentar lagi, rasanya akan datang karena tadi sudah saya hubungi."


"Baiklah. Nanti suruh kerabat dari pasien untuk mengurus pendaftaran." Kemudian menyuruh wanita itu menunggu di luar ruangan.


"Iya." Diandra kini duduk di kursi yang tersedia dan menunggu hingga pria yang tadi dihubungi datang.


Bahkan ia saat ini tidak menyadari bahwa waktu sudah semakin larut karena menunjukkan pukul sembilan malam. Diandra tidak nyaman karena tubuhnya yang terasa sangat lengket karena sampai malam begini belum mandi.


Ia hari ini benar-benar sangat lelah jiwa dan raga, khususnya pikiran yang hari ini seharian diforsir. Saat ia menundukkan kepala untuk melemaskan otot-otot tubuh yang kaku, mendengar suara bariton dari pria dengan sepatu berwarna hitam berdiri di hadapannya.


"Apakah kamu yang tadi menolong Nauraku?"

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2