
Beberapa bulan kemudian...
Setelah cukup lama Diandra membuat sang suami bertahan untuk tidak menyentuhnya, hari ini ia siap untuk menerima pria yang sangat dicintainya itu seutuhnya dengan mengatakan akan melaksanakan kewajiban sebagai seorang istri.
Jadi, mengajak ke hotel setelah melakukan terapi. Kini, ia tengah menatap langit-langit kamar. Hingga ia tersadar dari lamunannya begitu melihat sosok pria yang berdiri menjulang di hadapannya tersebut mendaratkan tubuh di sebelahnya dan membungkuk untuk bergerak mendekatkan wajah.
Tentu saja ia tahu apa yang akan terjadi saat suami sudah kembali menyesap dan ******* bibirnya. Namun, beberapa kali ia merasakan bukti cinta Austin begitu melepaskan pagutan dan beralih mengecup kening, mata, hidung dan kedua pipinya.
Perlakuan penuh kelembutan dari suami membuatnya benar-benar sangat terharu. Hingga ia berjanji tidak akan pernah berpaling dari pria sebaik suaminya tersebut.
'Meskipun aku selama ini merasa tersiksa dengan kondisi kakiku yang cacat, tapi sangat beruntung bisa memiliki suami yang sangat mencintaiku tanpa memperdulikan kekuranganku.'
Austin kini berbisik di dekat daun telinga Diandra untuk mengungkapkan kebahagiaan. "I love you. Apa kamu benar-benar sudah siap, Sayang? Aku ingin memastikannya sekali lagi."
"I love you too," sahut Diandra yang kini tersenyum sambil menganggukkan kepala tanda setuju.
__ADS_1
Mendapatkan lampu merah dari istri, seketika wajah Austin berbinar dan bercahaya dan ia kembali membungkam bibir sensual Diandra yang menjadi candu untuknya. Bahkan tangannya sudah bergerak melepaskan satu persatu kancing kemeja istri.
Kemudian langsung meremas pada salah satu benda padat yang membusung di hadapan. Tidak hanya itu, ia menggerakkan tangan wanita yang hanya diam saja tersebut untuk melakukan hal sama.
Ia ingin Diandra juga bersikap agresif dengan membuka kancing kemejanya. Berharap sama-sama saling membutuhkan dan mendambakan. Hingga ia tersenyum saat sang istri sudah bergerak melakukan perintahnya.
Diandra yang awalnya hanya menikmati dan membalas ciuman Austin, merasa sangat terkejut pada tuntutan suami. Namun, insting bergerak sesuai dengan gairah yang mulai bergejolak.
Hingga keduanya kini sama-sama bergairah dan saling menuntut ketika ciuman bertambah liar. Bahkan kini sudah setengah telanjang karena penutup bagian atas tubuh tiada lagi.
Sementara itu, Diandra hanya pasrah atas apapun yang akan dilakukan oleh pria yang baru saja melucuti pakaiannya tanpa tersisa. Hingga ia menggelinjang hebat begitu merasakan kenikmatan luar biasa yang menghantam tubuhnya kala pria di bawah sana sudah sibuk menyesap di bagian paling sensitif.
"Sayang!" Diandra mendesah dengan meremas rambut hitam berkilat pria yang terus mengirimkan gelombang kenikmatan di setiap urat syarafnya.
Bahkan beberapa kali ia mengangkat pinggul dengan tidak berhenti merintih. Ia tidak ingin suami berhenti dan terus menyiksanya perlahan-lahan hingga tubuhnya melebur dalam gelombang spektakuler dari definisi orgasme yang dicapai.
__ADS_1
Hingga ia pun kembali membuka suara begitu tidak kuat lagi menahan gejolak gairah tertahan yang dirasakan. "Sayang, lakukan sekarang!"
Mendapatkan lampu hijau dari wanita yang dari tadi menghiasi ruangan kamar hotel dengan ******* paling merdu, Austin kini bangkit dari posisi dan turun dari ranjang.
"Sabar, Sayang," seru Austin yang kini tertawa kecil dan bergerak untuk menurunkan celana panjang hitam yang dikenakan.
Namun, suara dering telpon membuatnya mengalihkan perhatian ke arah lantai meja karena tadi meletakkan ponsel di sana. Bahkan wajahnya berubah kesal.
"Siapa yang mengganggu? Seharusnya aku tadi menonaktifkan ponselku." Austin kini berjalan mengambil ponsel miliknya dan berniat untuk mematikan.
Namun, ia tidak jadi melakukannya karena melihat jika detektif yang menelpon. 'Kenapa detektif menelpon? Apakah ada kabar mengenai Yoshi?'
Austin yang hanya bisa bergumam sendiri di dalam hati, kini mendengar suara dari wanita yang bergerak menutupi tubuh polos dengan selimut tebal berwarna putih.
"Siapa yang menelpon, Sayang?" Diandra yang merasa sangat malu karena telanjang dan sosok pria yang memunggungi terlihat tidak jadi menonaktifkan ponsel, sehingga merasa penasaran dan berpikir jika itu adalah telpon penting.
__ADS_1
To be continued...