Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Tidak memperdulikan kebenaran


__ADS_3

Yoshi yang beberapa saat lalu menunggu sambungan telepon dijawab oleh Austin Matteo, begitu mendengar suara bariton dari seberang telepon, seketika mengungkapkan apa yang dirasakan begitu melihat sang ibu didatangi oleh kepolisian.


"Apa maumu sebenarnya, Austin Matteo? Apa kau tidak punya hati saat membuat seorang wanita paruh baya harus berurusan dengan kepolisian? Bagaimana jika mamamu yang merasakannya? Apa yang kau rasakan?" Ia bahkan tidak bisa lagi berpikir jernih saat ini selain meluapkan kemurkaannya pada Austin Matteo.


Tadinya ia ingin mengetahui tuntutan dari Austin Matteo apa saja, tapi berpikir untuk melampiaskan amarahnya terlebih dahulu karena saat ini sangat marah melihat keadaan wanita yang telah melahirkannya sebentar lagi akan digelandang oleh polisi.


Sementara itu, di seberang telpon, Austin yang memang belum mengatakan semua kejahatan dari ibu Yoshi, kini akan mengungkapkan semua hal yang masih ia simpan bukti-buktinya.


Berharap dengan begitu, Yoshi tidak bisa lagi menyalahkannya, tapi merasa malu mempunyai seorang ibu yang sangat jahat dan rela melakukan apa saja demi bisa menyakiti seorang Diandra.


"Aku hanya ingin melindungi anak dan istriku dari wanita jahat yang tidak punya perasaan seperti mamamu. Aku tahu jika kau sebagai anak harus menyayangi satu-satunya orang tua yang dimiliki, tapi tetap harus patuh pada hukum karena siapapun yang melakukan kesalahan, harus bertanggung jawab atas perbuatannya."


Bahkan saat ini Austin tengah melihat sang istri yang tidak bisa menghilangkan raut wajah penuh kekhawatiran. Ia tahu jika Diandra sebenarnya tidak tega melihat ibu pria itu mendekam di penjara.


Namun, memilih patuh padanya dan mempertahankan rumah tangga mereka daripada harus membela orang yang bahkan tidak akan pernah bisa membuka hati untuk menerima takdir dengan lapang dada.


Hanya kebencian yang dirasakan oleh pria itu padanya dan ia sama sekali tidak perduli asalkan keluarga kecilnya bahagia.


Yoshi sebenarnya ingin berteriak untuk melampiaskan amarahnya pada Austin Matteo, tapi karena ada polisi, hanya bisa berbicara dengan nada tegas penuh kekecewaan yang teramat dalam pada keputusan pria itu.


"Apa tuntutanmu pada mamaku di kepolisian? Aku ingin tahu tentang hal apa yang membuatmu bisa bertindak sejauh ini." Saat ia terdiam di tempatnya sambil menatap ke arah sang ibu yang masih berbicara dengan polisi, mengucapkan kedua mata saat merasa jika apa yang dikatakan oleh Austin hanyalah sebuah omong kosong.

__ADS_1


Austin kini mulai menceritakan tentang aksi teror yang dialami selama beberapa minggu terakhir ini. Bahkan lebih menekankan pada foto Diandra yang bersimbah darah. Seolah ada yang sangat ingin membunuh sang istri.


Hal itu membuatnya tidak bisa tinggal diam dan melihat sang istri disakiti oleh orang lain, apalagi jika sampai melibatkan nyawa, pastinya akan membuatnya merasa tidak berguna hidup di dunia karena tidak menjaga sang istri dengan baik.


"Jika kau berada di posisiku, apakah kau akan melindungi istrimu atau melindungi ibu dari orang yang kau benci?" sarkas Austin yang saat ini menunggu hingga Yoshi kembali berbicara.


Sampai di mana keheningan saat ini tercipta dan membuatnya mereka sama-sama tengah memikirkan masalah yang menimpa di kehidupan masing-masing dengan versi berbeda.


Sementara Diandra yang dari tadi mendengar sosok pria yang tak lain adalah mantan suaminya kecewa, hanya terdiam karena khawatir salah berbicara. Apalagi saat ini 2 pria itu sama-sama sensitif.


'Ya Allah, apa jalan keluar untuk kami bertiga? Sepertinya Engkau lebih menyayangi Yoshi karena memberikan cobaan bertubi-tubi, tapi hamba yakin jika cobaan itu tidak akan diberikan padanya jika melebihi batas kemampuan,' gumam Diandra yang tidak ingin membuat otaknya terlalu diforsir karena benar-benar sangat pusing.


Bahkan saat ini mobil yang dikemudikan oleh sang supir baru saja masuk ke dalam pintu gerbang yang diulang tinggi yang ada di rumah keluarganya. Ia bahkan saat ini sangat merindukan rumahnya yang menjadi surga terindah baginya.


Austin mengangguk setuju dan masih mendengar suara dari Yoshi yang mengumpat padanya.


"Lebih baik kau tarik tuntutanmu sekarang atau ingin ada peperangan di antara kita? Aku akan melindungi mamaku meski apapun yang terjadi. Bahkan akan melakukan apapun untuk kebebasannya," sarkasnya dengan perasaan yang dipenuhi oleh kekhawatiran.


Kini, Austin menyadari jika seorang Yoshi bukanlah tipe pria dewasa yang bisa bersikap bijak sesuai logika dan fakta karena meskipun sudah mendengarkan tentang tuduhannya, menganggap jika itu hanyalah sebuah omong kosong semata.


"Jadi, kau sekarang menantangku? Apakah kau mempunyai sebuah hal yang bisa membuatku mencabut tuntutan? Aku mungkin akan mempertimbangkannya jika itu menarik," ucapnya yang saat ini hanya ingin mengorek seperti apa sosok Yoshi yang ingin berbakti pada ibunya.

__ADS_1


Saat Yoshi merasa jika Austin akan memberikannya kesempatan, sehingga saat ini berbicara mengenai tawarannya.


"Aku akan memberikan saham milikku secara cuma-cuma. Kau akan memilikinya tanpa Syarat. Apakah kau mau menerimanya?"


Dari dulu Yoshi tidak pernah bekerja dengan cara menjadi seorang penjilat untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Bahkan ini adalah pertama kalinya melakukannya demi sang ibu yang ternyata sangat membenci Diandra dan ingin menyakiti wanita itu.


Namun, tetap saja tidak ingin melihat mamanya dipenjara. "Bagaimana? Apa kau mau mencabut tuntutanmu?"


Refleks Austin tertawa terbahak-bahak karena mengetahui bagaimana sifat asli seseorang setelah berhubungan dengan uang. Bahkan menganggap jika Yoshi sanggup mengorbankan apapun untuk sang ibu dan mungkin termasuk Diandra.


"Terima kasih, Yoshi karena kau telah menunjukkan jika hati Diandra harus selamanya menjadi milikku karena jika kalian menjadi pasangan suami istri, yang ada hanya penderitaan yang akan didapatkannya," sindir Austin pada Yoshi yang dianggapnya tidak dewasa dalam menjalin hubungan.


Yoshi benar-benar tidak bisa mencari tahu tentang apa maksud kalimat ambigu dari Austin. "Apa maksudmu sebenarnya?"


Austin kini merasa kasihan pada Yoshi yang hidup dalam keterpaksaan karena balas budi dan atas nama berbakti pada sang ibu yang bahkan melakukan kesalahan, tapi ingin menutup mata.


Lama-kelamaan akan hidup dengan pertanyaan paling mendasar, yaitu apakah pria itu akan selamanya bersama orang tuanya? Apakah akan selamanya hidup tanpa pasangan maupun karir?


Ia masih terus bertanya-tanya pada sosok pria yang membuatnya makin yakin bahwa pria itu hanya akan mencurahkan hidupnya untuk sang ibu.


"Kau bahkan tidak memperdulikan kebenaran hanya atas nama baktimu pada mamamu yang bahkan menginginkan kematian Diandra. Apakah pantas aku menyebutnya cinta?" sarkas Austin yang saat ini langsung mematikan sambungan telepon karena berpikir akan percuma berbicara dengan Yoshi.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2