Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Tidak berwenang


__ADS_3

Selama berjalan menuju ke arah apartemen, dengan pikiran berkecamuk, Asmita Cempaka benar-benar tidak bisa lagi berpikir jernih saat ini karena dipenuhi oleh kekhawatiran tentang file di laptop yang berisi banyaknya foto Diandra ya sudah ia edit dengan hal-hal yang mengerikan.


Seperti memakai efek darah, pisau dan masih banyak lagi yang tentu saja membuatnya seperti menjadi seorang pelaku pembunuhan. Ia saat ini benar-benar tidak tahu apa yang akan dilakukannya untuk menghapus semua file itu.


Dengan berjalan gontai menuju ke apartemen setelah keluar dari lift, ia pun kini telah tiba di depan unit apartemen yang selama ini menjadi tempat menyimpan semua barang-barangnya.


Meskipun ia jarang pulang ke apartemen karena menghabiskan waktu di rumah sakit untuk menjaga, tapi terkadang sesekali ia ke apartemen untuk mengambil sesuatu.


Itu karena putranya memang dulu masih koma dan bisa ditinggal pulang cukup lama dan ia habiskan waktu dengan cara membuat foto-foto Diandra dipenuhi oleh hal-hal yang membuatnya ingin melakukannya di dunia nyata.


'Aku dulu sangat membenci Diandra ketika putraku mengalami koma, sehingga merubah banyak fotonya seperti mendapatkan kemalangan, aku benar-benar tidak pernah berpikir jika akan diperiksa oleh polisi.'


Ia yang saat ini baru saja memencet passcode apartemen, segera masuk ke dalam dan mempersilakan para polisi untuk memeriksa. Bahkan bersikap seolah ia sama sekali tidak merasa khawatir jika sampai ketahuan dan saat ini berakting seperti seorang wanita yang tenang.


'Tenang dan jangan gugup,' gumam Asmita Cempaka yang saat ini berjalan masuk ke dalam menuju ke kamarnya.


"Saya akan ganti baju dulu serta mengemas pakaian," ucapnya yang saat ini berharap dua pria tersebut tidak mempersulitnya karena akan mengunci pintu serta menghapus file-file yang ada di laptopnya.


Ia memang menyimpan laptop di dalam kamar dan bukan di ruang khusus, sehingga peradaban bisa melakukannya sebelum polisi memeriksanya.


"Tunggu! Saya harus memeriksa ruangan Anda terlebih dahulu. Tolong ditunjukkan sekarang juga, di mana ruangan pribadi Anda," ucap salah satu pria berseragam tersebut saat rekannya yang lain memeriksa ke tempat-tempat yang dirasa ada beberapa bukti yang harus ditemukan untuk diserahkan pada pihak kepolisian.


Asmita Cempaka merasa tubuhnya sangat lemas saat ini karena tidak tahu harus bagaimana lagi menghindar dari para polisi yang hendak mencari bukti tentang perbuatannya yang selama ini mengancam keluarga Austin Matteo dan Diandra.


Ia berakting tersenyum simpul agar tidak dicurigai oleh pria berseragam tersebut. "Silakan saja," ucapnya yang saat ini membuka pintu yang dikunci dari luar dan masuk ke dalam diikuti oleh polisi itu.


'Rasanya sekarang aku ingin menghabisi ini agar tidak mengetahui file yang kusembunyikan di laptop. Aku harus bagaimana sekarang,' gumamnya yang saat ini berpura-pura untuk membereskan make up miliknya di atas meja.


Ia memang menyimpan laptop di laci paling bawah dan berharap pria itu tidak sampai mengeceknya. 'Semoga dia sibuk dengan yang lain dan bukan pada laci ini,' gumamnya yang saat ini mengambil koper miliknya yang disimpan di lemari kaca besar yang ada di sudut sebelah kanan.


Saat ia kini fokus untuk berkemas dengan memasukkan pakaiannya ke dalam koper, sesekali melirik ke arah polisi yang sudah sibuk memeriksa dengan membuka satu persatu laci di sebelah kiri tempat ia berdiri.


Ia seolah menunggu detik demi detik laptop miliknya disita jika sampai ketahuan. Saat ini perasaan tidak menyentuh diri menentu dirasakan olehnya dan membuatnya tidak bisa berpikir.


'Seandainya aku memiliki kemampuan khusus untuk menghilangkan laptop itu agar tidak terlihat oleh mata polisi, mungkin tidak akan sepanik ini,' gumam Asmita Cempaka yang saat ini seolah merasa pasrah atas apa yang mungkin akan dilakukan oleh pria berseragam tersebut.


Ia berusaha memenuhi pikirannya dengan energi positif bahwa itu hanyalah sebuah foto yang diedit olehnya.


'Tenang karena itu hanyalah sebuah hal yang tidak berarti. Itu bahkan bukan merupakan pembunuhan sebenarnya karena hanya ingin mengancam. Itu tidak mungkin memberatkan hukumanku, kan?' hukumannya untuk mencoba menenangkan pikiran agar tidak terlihat seperti seorang wanita yang tertekan karena kekhawatiran luar biasa yang dirasakan.


Saat ia baru saja selesai memasukkan semua barang-barangnya, kecuali laptop, kini melirik sekilas ke arah polisi yang hampir berjalan mendekati meja rias.


"Apa Anda bisa keluar sebentar Karena saya hanya akan mengganti pakaian sebentar?" ucapnya yang sangat berharap pada keajaiban datang dengan anggukan kepala dari polisi yang saat ini sudah berada di depan meja riasnya.


Sementara itu, sang polisi saat ini tidak menjawab karena sudah mulai membuka satu persatu laci di hadapannya untuk memeriksa.


"Tinggal ini yang belum diperiksa. Tunggu sebentar lagi," ucap sang polisi yang berharap bisa menemukan sesuatu di apartemen karena harus melaporkan semuanya pada atasan untuk dibuat sebuah laporan.


Hingga ia membuka laci terakhir dan melihat ada laptop di sana. Berpikir ada sesuatu di dalamnya, kini pria berseragam tersebut membawa benda tersebut keluar.


"Silakan berganti pakaian," ucapkan polisi yang saat ini sudah bisa mencium ada sesuatu di dalam laptop itu karena tingkah wanita paruh baya tersebut sangat mencurigakan ketika gugup dan ia bisa melihatnya dengan mudah.

__ADS_1


Itulah kenapa ia tadi merasa ada sesuatu yang disembunyikan wanita itu dan tidak menuruti perkataan untuk berganti pakaian sebelum menemukan sesuatu.


Kini, ia melihat perubahan wanita tersebut ketika ia berhasil membawa laptop di tangannya, sehingga semakin mencurigai jika ada sesuatu di dalam sana dan berpikir harus segera memeriksanya.


Ia pun kini menutup pintu dan berniat untuk segera membuka apa yang ada di dalam laptop tersebut.


Dengan memanggil rekannya, ia saat ini mulai menekan tombol power dan menunggu hingga laptop menyala.


"Sepertinya ada sesuatu di dalam sini," perilaku mencurigakan dari wanita yang tadi seolah tidak mau ia memeriksa laci yang menjadi tempat laptop tersebut berada.


"Kalau begitu, laptop ini bisa dijadikan bukti yang nantinya membuat kita tidak akan dimarahi oleh atasan karena tidak menemukan bukti apapun," ucapnya yang sudah duduk di sebelah makanya untuk memeriksa semua hal yang ada di dalam sana.


Hingga beberapa saat kemudian sudah memeriksa satu persatu file yang ada di laptop tersebut. Bahkan selama beberapa menit berlalu memeriksa, belum menemukan sesuatu dan membuat mereka sangat kecewa.


Namun, tidak menyerah dan terus melakukan usaha untuk mengecek apa yang ada di dalamnya. Saat fokus dengan pekerjaan, mendengar suara pintu ruangan kamar yang terbuka dan tentu saja melihat wanita paruh baya tersebut sudah berganti pakaian dan menarik koper keluar.


"Saya sekarang sudah siap. Apakah akan berangkat sekarang ke bandara?" tanya Asmita Cempaka yang saat ini berharap tidak ditemukan apapun dari laptopnya.


Apalagi ia memang menaruh file berisi semua foto-foto Diandra yang sudah dieditnya tersebut di salah satu file rahasia. Jika para pria tersebut adalah ahli IT, mungkin akan dengan mudah menemukannya.


Namun, saat ini berbeda karena mereka hanyalah dua orang polisi yang mungkin tidak terlalu ahli untuk memeriksa beberapa file rahasia yang disembunyikannya.


'Semoga file rahasia yang disembunyikan tidak ditemukan oleh mereka,' gumamnya yang saat ini masih berdiri tak jauh dari hadapan dua pria berseragam tersebut.


"Silakan Anda tunggu dulu di sana karena masih memeriksa ini," sahut dia berseragam yang duduk di sebelah rekannya ketika fokus memeriksa layar laptop.


"Baik." Kini, Asmita Cempaka sudah mendaratkan tubuhnya di sofa yang berhadapan dengan dua pria tersebut ketika fokus dengan laptop miliknya.


'Semoga mereka tidak menemukan apapun dari sana,' gumam Asmita Cempaka yang saat ini merasa degup jantungnya tidak beraturan.


Hingga detik berganti menit dan mendengar suara bariton dari pria yang saat ini seperti baru saja menemukan emas dan membuatnya sadar jika itu adalah sesuatu yang disembunyikannya.


"Apa ini Anda yang membuatnya, Nyonya?" tanya salah satu pria berseragam yang saat ini seketika tersenyum menyeringai begitu menemukan sesuatu yang dari tadi dicarinya.


Sementara itu, Asmita Cempaka seolah sudah mengetahui apa yang ditanyakan pria itu tanpa beranjak untuk melihat layar laptop miliknya. Ia akhirnya terpaksa mengakui tanpa harus melihat untuk bergerak dari tempat duduk.


"Iya, itu adalah milik saya," ucapnya tanpa merasa ragu dengan perasaan membuncah dan bergemuruh hingga seperti hendak meledak saat itu juga.


Ia gerakan saat ini hanya bisa mengumpat di dalam hati karena dua pria tersebut telah menemukan rahasia besar yang ia miliki selama ini.


'Sial! Aku bahkan sekarang tidak berkutik di depan dua pria ini,' gumam Asmita Cempaka yang tadinya tidak ingin melihat apa yang ditanyakan oleh pria berseragam tersebut.


Namun, sekarang laptop diputar agar ia bisa melihatnya dan tentu saja sudah bisa menebaknya itu apa. Kini, ia mematuhi perintah dari polisi itu untuk menatap ke arah layar laptop miliknya.


"Apa Anda selalu melakukan hal seperti ini pada foto ini hingga menjadi koleksi yang sangat luar biasa," ucap pria berseragam yang menunjukkan semua foto seorang wanita yang sudah diedit seperti mendapatkan sebuah kemalangan.


Itu memang hanyalah sebuah foto dan mungkin tidak dianggap penting atau dianggap sebuah hiburan oleh orang-orang tertentu, tapi bukan oleh Asmita Cempaka ya selama ini menghilangkan perasaan hancur ketika putranya tidak kunjung sadar dari koma.


Ia dari dulu meluapkan amarahnya dengan cara seperti itu karena memang berpikir jika Diandra adalah orang yang harusnya bertanggung jawab atas apa yang dialami oleh putranya.


Dengan menatap ke arah foto-foto dia adalah yang sudah diedit seperti mengalami kemalangan dan kematian, ia hanya diam karena khawatir takut melakukan kesalahan atau salah menjawab.

__ADS_1


'Apa aku harus mengakui atau menolak mengakuinya? Apa kira-kira yang akan terjadi jika aku mengelak?' gumam Asmita Cempaka yang berpikir jika ketika ada pengacara di dekatnya, mungkin menyuruhnya untuk diam agar tidak salah berbicara dan menjadi pertimbangan untuk tuntutan serta mendapatkan hukuman.


Dua pria berseragam tersebut saling bersitatap dan kini merasa yakin jika itu memang merupakan hasil pekerjaan dari wanita paruh baya itu. Akhirnya mereka saat ini mengerti dan tidak perlu bertanya lagi.


"Baiklah kalau begitu," ucap pria berseragam yang kini mematikan tombol power setelah mengembalikan semuanya.


"Kita berangkat sekarang," ucap salah satu rekan yang lain yang berniat untuk menyita laptop tersebut sebagai barang bukti untuk dibawa ke kantor polisi.


Sementara itu, Asmita Cempaka saat ini sudah tidak bisa lagi berkata-kata dan membuatnya berpikir jika apa yang dilakukannya akan percuma, sehingga pasrah pada apa yang akan dilakukan oleh dua polisi tersebut.


'Sial! Aku akan tidak bisa melakukan apapun sekarang dan perbuatanku sudah ketahuan karena akan menjadikan itu sebagai bukti yang digunakan untuk semakin menuntutku,' gumamnya yang saat ini bangkit berdiri dari sofa dan diikuti oleh dua polisi tersebut.


Saat berpikir ada sesuatu hal yang terlupa, kini asmita Cempaka berjalan masuk ke dalam ruangan setelah sebelumnya mengatakan pada polisi.


Hingga ia yang berjalan masuk ke dalam ruangan kamar malah dibuntuti salah satu pria berseragam tersebut karena mencurigainya menyembunyikan sesuatu.


"Ada apa, Nyonya?" tanya ia dengan tubuh tinggi tegak yang saat ini mempunyai bahu lebar tersebut.


Asmita Cempaka yang tadi tiba-tiba mengingat foto keluarga yang disimpan di dalam laci sebelah ranjangnya, sehingga kini menunjukkannya setelah mengambilnya dari sana.


"Ini yang ketinggalan. Apa Anda juga mau membawanya seperti laptop saya?" sindir Asmita Cempaka yang saat ini berpikir jika tidak ada lagi yang bisa membuatnya lolos dari tuduhan melakukan ancaman pada Diandra.


Refleks polisi hanya menggelengkan kepala karena merasa itu tidaklah penting dan kini berjalan keluar mengikuti wanita paruh baya tersebut.


Ia kini menatap siluet wanita yang dianggap seperti seorang psco tersebut. Hingga ia berpikir jika siapapun orang bisa melakukan hal gila jika sudah dikuasai oleh kebencian.


'Wanita ini seharusnya sudah beristirahat di rumah karena tidak lagi muda, tapi sepertinya harus menghabiskan waktu di penjara karena mempertanggungjawabkan perbuatannya,' gumam sang polisi yang ini memberikan kode pada sahabatnya jika sudah selesai agar segera meninggalkan apartemen tersebut di


"Kita berangkat sekarang!" ucap pria yang saat ini membawa laptop setelah diberikan kode oleh sahabatnya.


Kemudian tiga orang tersebut berlalu meninggalkan apartemen menuju ke arah lift.


Awalnya Asmita Cempaka berpikir jika akan langsung diantar ke bandara dan sudah diatur kepulangannya, tapi ternyata tidak begitu mendengar suara bariton dari pria yang berada di belakangnya dan membuatnya menoleh.


"Kita akan ke kantor polisi dulu, Nona. Harus ada laporan dan juga bukti agar Anda segera bisa kembali ke negaranya." Pria itu begini kita mau mencet tombol lift dan masuk ke dalam agar membawa mereka ke lobi apartemen.


Sementara itu, berbeda dengan yang saat ini dipikirkan Asmita Cempaka ketika sangat lemas mendengar apa yang baru saja ia dengar dari salah satu polisi tersebut.


"Apa aku harus menginap terlebih dulu di sel kepolisian di sini?" Akhirnya ia sudah tidak tahan dan ingin tahu akan bernasib seperti apa berada di kantor polisi.


Sementara itu, dua pria berseragam tersebut saling bersitatap karena merasa tidak enak menjelaskan pada seorang wanita paruh baya.


Hingga salah satu polisi mewakili rekannya karena mendapatkan kode agar menjelaskan. "Semua melalui prosedur dan jika semuanya sudah selesai, Anda akan segera kembali ke tanah air dan disambut oleh para polisi di sana yang menunggu di bandara."


"Jadi, perlu dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu sebelum memulangkan Anda. Jadi, untuk masalah menginap di tahanan, Anda tenang saja karena itu tidak akan terjadi." Ia tidak ingin wanita paruh baya tersebut salah paham dengan aturan yang ada di kantor polisi.


"Kami sama sekali tidak berhak atau berwenang memberikan hukuman di sini karena yang berhak adalah kepolisian negara Anda setelah diputuskan Anda bersalah." Kemudian mereka berjalan keluar dari lift setelah pintu kotak besi tersebut terbuka dan langsung menuju ke arah mobil yang terparkir di tempatnya.


Kini, ada sedikit kelegaan meskipun tidak benar-benar lega, tapi Asmita Cempaka saat ini merasa tidak takut lagi karena tidak akan tidur di balik jeruji besi yang dingin tanpa selimut tebal yang biasa membuat tubuhnya hangat.


Hingga ia yang sudah menarik koper miliknya, masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi belakang seperti beberapa saat yang lalu. Ia melihat para polisi itu sudah masuk di kursi depan dan kini mobil melaju meninggalkan area apartemen menuju ke kantor polisi.

__ADS_1


To be continued....


__ADS_2