Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Pingsan


__ADS_3

Diandra saat ini bisa melihat kaki serta kepala Austin bersimbah darah dan tengah diobati. Ia yang selama ini takut dengan darah, menelan saliva dengan kasar ketika berjalan mendekat. Apalagi bisa mendengar suara rintihan dari pria yang tengah memejamkan mata tersebut.


"Diandra ... Sayang," lirih Austin yang saat ini tengah berpura-pura merintih dan memanggil dengan suara lirih agar sang istri percaya jika ia benar-benar kesakitan karena kecelakaan.


Bahkan ia tidak berani membuka mata karena tahu jika Diandra ada di sebelahnya. Tadi ia yang menyuruh perawat untuk memanggil sang istri, jadi langsung berakting kesakitan begitu melihat pria itu masuk dan di belakangnya ada Diandra.


'Semoga Diandra merasa iba padaku dan tidak jadi pergi meninggalkanku karena marah telah ku bohongi selama ini,' gumam Austin yang saat ini merasakan genggaman tangan dadi jemari lentik sang istri. Bahkan bisa mendengar suara merdu wanita yang sangat dihafalnya.


"Aku ada di sini," lirih Diandra yang saat ini ingin memberikan suntikan semangat agar pria yang tengah mendapatkan pertolongan dari tim medis tersebut lebih kuat.


Ia benar-benar sangat tidak tega melihat wajah sang suami dipenuhi oleh darah dan tengah dibersihkan serta diobati oleh para perawat yang bertugas pada bagian berbeda.

__ADS_1


"Bagaimana semua ini bisa terjadi padamu? Aku bahkan tadi belum sempat bertanya kepada Daffa karena langsung masuk ke sini untuk melihat keadaanmu setelah diberitahu oleh perawat," ucap Diandra dan saat ini masih belum melepaskan genggaman tangannya.


Diandra yang merasa sangat tidak tega melihat rintihan kesakitan dari sang suami, kini menatap ke arah salah satu pria yang menangani. "Apa suami saya tidak dibius saat diobati, Dokter? Kenapa masih terlihat sangat kesakitan seperti ini?"


Sang perawat yang menyamar menjadi dokter karena dibayar cukup besar untuk membuat sandiwara di ruangan itu, berniat untuk membuka suara menjelaskan kebohongan yang dirancang.


Namun, tidak jadi melakukannya begitu mendengar suara pria yang merupakan aktor utama di balik kejadian hari ini yang merupakan sebuah settingan semata.


"Sayang, kamu datang?" Austin yang tidak ingin sandiwaranya diketahui oleh Diandra gara-gara kecerobohan dari perawat yang mungkin tidak bisa berakting secara totalitas karena belum pernah melakukannya.


"Iya, aku di sini," ucap Diandra yang saat ini ingin menenangkan pria dengan bagian pelipis bersimbah darah. "Lebih baik kamu sekarang diam agar segera diobati oleh para tim medis."

__ADS_1


"Tidak! Aku takut tidak sempat mengatakannya padamu," lirih Austin yang kini tidak bisa melanjutkan perkataannya karena bibirnya sudah dibungkam oleh jemari lentik Diandra.


"Sudah, Diam dan jangan banyak bicara! Aku akan pergi jika kamu tidak diam dan membiarkan para dokter dan perawat menyelesaikan tugasnya untuk menyelamatkanmu." Diandra sebenarnya merasa sangat pusing saat ini.


Namun, berusaha untuk menahan diri agar tidak kehilangan kesadaran hanya gara-gara melihat banyaknya darah yang memenuhi wajah sang suami dan membuatnya khawatir.


"Selamatkan suami saya, Dokter! Lakukan semua yang terbaik untuk kesembuhannya." Diandra yang baru saja menyatukan kedua tangan untuk memohon secara tulus, kini pandangnya makin blur dan lama-kelamaan gelap.


Hingga ia memejamkan mata saat tidak bisa melihat apa-apa lagi dan tubuhnya jatuh terhuyung ke belakang.


"Sayang!" Refleks Austin menahan tubuh sang istri agar tidak terjerembab ke lantai.

__ADS_1


To be continued...


I


__ADS_2