
Diandra yang saat ini geleng-geleng kepala begitu mendengar perkataan dari sang suami yang dianggap sangat nakal karena langsung berniat untuk menghamilinya setelah bisa berjalan kembali. Ia ketika mencubit pinggang kokoh dari sang suami yang saat ini tersenyum menyeringai sambil mengedipkan mata padanya.
"Dasar mesum! Istrimu baru saja berjalan, bisa-bisanya langsung ingin menghamiliku," keluh Diandra yang saat ini bahkan belum mempunyai pikiran untuk hamil lagi setelah bisa berjalan karena tadi hanya ingin memberikan kejutan pada sang suami.
Ia tadinya berpikir jika pria dengan paras rupawan tersebut akan sangat bahagia setelah melihatnya kembali normal. Namun, ternyata malah mempunyai pikiran untuk menambah momongan.
Sementara itu, Austin yang saat ini hanya tertawa melihat ekspresi wajah menggemaskan sang istri ketika mengerucutkan bibir dan membuatnya gemas. "Sayang, kita sudah menunda untuk memiliki anak selama satu tahun lho."
"Apa kamu tidak ingin memiliki anak perempuan? Pasti nanti sangat cantik seperti mamanya," ucap Austin yang dari dulu merasa bersalah karena tidak bisa menemani Diandra ketika hamil Aksa.
Jadi, ia ingin menebus kesalahan dan menjadikan wanita itu layaknya ratu saat nanti hamil anak kedua. "Bagaimana?" tanya Austin yang saat ini menunggu jawaban dari sang istri dan berharap mengiyakan keinginannya untuk memiliki anak kedua.
Bahkan ia merasa jika putranya sudah pantas memiliki adik dan pastinya akan sangat senang. Ia melihat Diandra yang tengah memikirkan jawaban atas pertanyaannya.
Diandra masih terdiam karena bingung. Jujur saja ia ingin menikmati momen bahagianya bersama suami dan Aksa. Ia ingin Aksa mendapatkan kasih sayang penuh karena setelah ia hamil dan melahirkan, mungkin tidak bisa sepenuhnya memberikan perhatian.
"Sayang, Aksa tahun ini masih berusia 4 tahun. Menurutku ia masih terlalu kecil untuk mempunyai adik. Nanti kurang mendapatkan perhatianku dan merasa iri pada adiknya, bagaimana?" Diandra berencana untuk hamil lagi setelah Aksa berusia 5 tahun karena berpikir itu sudah cukup usia untuk memiliki seorang adik.
Namun, pemikirannya tidak sama dengan sang suami yang tetap kekeh untuk menambah momongan.
"Sekarang Aksa berusia 4 tahun dan saat kamu melahirkan, dia berusia 5 tahun dan itu sudah sangat pas untuk memiliki adik, Sayang. Dia tidak akan kekurangan kasih sayang karena aku yakin jika kamu tetap memberikan perhatian meskipun sudah memiliki anak," ucap Austin yang masih berusaha untuk merayu agar sang istri setuju dengan pemikirannya.
Sementara itu, Diandra yang tengah mempertimbangkan perkataan dari sang suami, merasa masuk akal dan akhirnya mengangguk perlahan. "Baiklah. Terserah kamu saja, Sayang."
"Kok jawabannya seperti terpaksa saat setuju." Austin merasa tidak puas ketika sang istri tidak ikhlas mengiyakan keinginannya.
Jadi, sengaja mengungkapkan ada protes dan berharap mendengar jawaban yang lebih baik sesuai dengan pemikirannya yang sama-sama mengharapkan keturunan lagi.
Diandra yang merasa kesal, kembali mencubit pria di hadapannya tersebut untuk melampiaskan kekesalan. "Terus aku harus bilang bagaimana, Suamiku?"
"Ya, mungkin bilang seperti ini. Baiklah, Suamiku. Aku pun sudah tidak sabar ingin menimang bayi yang merupakan buah cinta Kita." Kemudian memperagakan saat menimang bayi dengan menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri.
Diandra saat ini seketika tertawa gemas melihat sang suami sangat lucu ketika memperagakan menimang bayi. "Kenapa aku merasa kata-kata itu sangat lebay dan alay, Sayang."
"Issh ... mana ada lebay dan alay, Sayang. Padahal itu adalah faktanya karena memang buah cinta kita akan hadir di sini." Kemudian Austin mengusap lembut perut datar sang istri yang akan kembali mengandung benihnya dan membuatnya sangat bersemangat sekaligus tidak sabar.
Bahkan sudah membayangkan jika sang istri akan memberikan keturunan lagi dan sangat berharap jika kali ini adalah anak perempuan yang semakin melengkapi kebahagiaan rumah tangganya.
Diandra yang saat ini hanya diam melihat tangan dengan buku-buku kuat tersebut meraba perutnya yang masih datar dan ada perasaan membuncah yang menyeruak ketika membayangkan bisa melahirkan keturunan yang memang merupakan buah cinta mereka.
__ADS_1
'Sepertinya suamiku memang menginginkan keturunan dari rahimku karena sangat mencintaiku. Apakah dulu ia juga melakukan seperti ini pada ibunya Aksa?' Kini, tiba-tiba ada pemikiran yang mengganggunya dan ingin membahas hal yang tidak pernah ditanyakan.
Diandra yang tadinya menunduk menatap ke arah tangan sang suami yang mengusap lembut perutnya, kini mengangkat pandangan dan menatap ke arah wajah dengan rahang tegas tersebut.
"Sayang, bolehkah aku bertanya padamu dan jawab aku dengan jujur." Menatap intens sang suami untuk mencari kejujuran dari iris tajam berkilat pria yang sangat dicintainya.
Sementara itu, Austin tiba-tiba merasa gugup dan khawatir ada sesuatu hal yang dipikirkan oleh Diandra mengenai masa lalu. Namun, ia berusaha untuk menyembunyikan perasaan yang sebenarnya dan menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.
"Tanya apa, Sayang? Aku pasti akan menjawabnya dengan jujur," ucapnya yang memilih untuk berbohong karena tidak mungkin ia berbicara jujur jika menyangkut masa lalu sang istri.
Kini, Diandra langsung mengungkapkan hal yang dari tadi mengganggunya. "Apa kamu juga bersikap seperti ini pada ibu kandungnya Aksa? Kamu juga memintanya untuk hamil benihmu?"
Akhirnya ia merasa lega bisa mengungkapkan pertanyaan yang dari dulu mengganjal di pikirannya dan tidak pernah membahas tentang wanita yang pernah menjadi masa lalu sang suami.
Austin saat ini merasa kebingungan untuk menjawab dan tengah merancang sebuah kebohongan di otaknya agar tidak membuat Diandra kecewa maupun terluka serta tersinggung.
'Benar kan apa yang aku takutkan karena berhubungan dengan masa lalu. Kira-kira kebohongan apalagi yang cocok untuk menutupi masa lalu kami,' gumam Austin yang saat ini masih berakting sangat santai dan menyembunyikan degup jantung tidak beraturan karena khawatir jika ketahuan berbohong.
Ia berdehem sejenak untuk menormalkan suaranya agar tidak terdengar bergetar karena efek gugup saat menceritakan karangan tentang wanita yang tidak ada di pikiran Diandra. Namun, sebelum itu ia sudah melingkarkan tangannya pada kedua sisi pinggang wanita dengan tubuh seksi tersebut.
"Sayang, bukankah aku pernah bilang padamu jika dulu melakukan kesalahan, sehingga hadir Aksa di dunia ini. Ya, saat itu aku benar-benar khilaf karena terbawa nafsu, tapi berbeda denganmu karena sangat mencintaimu dan kita sudah sah sebagai pasangan suami istri."
Namun, yang terjadi malah sebaliknya karena saat ini sang istri kembali mengungkapkan pertanyaan yang menohok dan membuatnya kebingungan menjawab.
"Jujurlah padaku, Sayang. Apakah kamu dulu sangat mencintai ibunya Aksa? Hingga melakukan hubungan intim sebelum menikah? Mana mungkin kamu melakukan hubungan **** jika tidak mencintainya." Memang Diandra menyadari mungkin akan sakit hati dan terluka ketika sang suami berbicara jujur.
Akan tetapi, ia tidak ingin tersiksa dengan berbagai macam pertanyaan yang menari-nari di otaknya selama ini karena penasaran dengan ibu kandung Aksa.
Hingga ia seketika terdiam begitu mendengar suara bariton dari sang suami yang tanpa berpikir panjang langsung menjawab pertanyaan sensitif itu.
"Aku dulu terobsesi untuk menaklukkannya dan belum ada cinta di antara kami. Apa sekarang kamu puas dengan jawabanku, Sayang? Atau kamu masih ingin menginterogasiku mengenai ibu kandung Aksa?" Austin yang tidak ingin membuat Diandra makin penasaran dengan masa lalu, sengaja mengatakan hal yang memang merupakan faktanya.
Bahwa dulu sangat terobsesi pada Diandra dan baru menyadari cintanya setelah kehilangan wanita yang memilih kabur saat ia ingin bertanggung jawab untuk menikahinya.
'Aku berbicara jujur dan tidak membohongi istriku. Semoga ia percaya dan tidak lagi mengungkit tentang masa lalu kelam di antara kami. Bahkan aku sangat berharap jika istriku tidak mengingat masa lalunya selamanya agar bisa hidup berbahagia,' gumam Austin yang saat ini dengan perasaan membuncah menunggu respon dari sang istri yang terlihat tengah memikirkan sesuatu.
Setelah mengetahui semua hal yang ingin diketahuinya, Diandra kini merasa bersalah karena membuat sang suami merasa tidak nyaman dengan pertanyaannya. Ia pun langsung menghambur memeluk erat tubuh Sang suami.
"Sayang, maafkan aku, ya! Sebenarnya aku tidak bermaksud apa-apa dengan bertanya tentang ibu kandung Aksa. Hanya saja, aku selama ini selalu bertanya-tanya seperti apa wanita itu. Apalagi sama sekali tidak ada fotonya. Apa kamu sama sekali tidak menyimpan fotonya?" Diandra yang sering memeriksa ponsel sang suami, hanya menemukan foto dirinya.
__ADS_1
Jadi, ia selalu merasa bahagia karena diratukan oleh pria yang dicintainya. Namun, tetap saja ada rasa penasaran tentang sosok wanita yang pernah mengisi ruang di hati sang suami di masa lalu.
Austin saat ini mengusap lembut punggung sang istri. "Bukankah kamu sudah lama tinggal bersamaku dan bisa mengecek semuanya? Jadi, sepertinya aku tidak perlu menjawabnya karena kamu sudah tahu jawabannya."
"Ya, karena hanya ada fotoku di ponselmu dan laptop kerjamu. Aku bahkan selama ini mencari foto wanita lain, tapi tidak menemukannya. Jadi, merasa penasaran seperti apa wanita itu. Apakah dia lebih cantik dariku? Atau jauh lebih seksi?"
Austin saat ini hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak. Bagiku, hanya kamulah wanita tercantik dan terseksi di dunia ini."
"Iiish ... malah ngegombal," sahut Diandra yang saat ini mengerucutkan bibir dan malah membuatnya menjerit saat tubuhnya terangkat ke atas karena sang suami sudah membopongnya menuju ke arah ruangan di sebelah kiri.
"Kamu terlalu banyak berbicara, sehingga kegiatan kita tertunda cukup lama, Sayang!" Austin yang saat ini sudah tidak sabar untuk segera menyatukan diri dan menebarkan benihnya di rahim wanita yang membuatnya ingin meneriakkan namanya berulang kali.
Kemudian merebahkan tubuh seringan bulu tersebut ke atas ranjang berukuran sedang yang merupakan tempat istirahatnya selama ini saat berada di kantor. "Tunggu sebentar, Sayang. Aku lupa mengunci pintu. Bisa gawat jika Daffa tiba-tiba masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu karena dia terkadang lupa melakukannya."
Tanpa menunggu jawaban dari sang istri yang sudah terlentang di atas ranjang dan ingin segera diterkamnya, Austin segera berbalik badan dan berjalan menuju pintu keluar.
Sementara itu, Diandra hanya terdiam menatap pria dengan bahu lebar tersebut. "Suamiku terlihat sangat bersemangat sekali untuk membuat anak."
Ia bahkan terkekeh geli mendengar perkataannya sendiri. Kemudian menatap ke arah langit-langit di ruangan berukuran 3 meter tersebut. "Bukankah ini benar-benar gila. Bisa-bisanya suamiku mempunyai pemikiran untuk bercinta di kantor."
Saat Diandra baru saja menutup mulut, indra pendengarannya menangkap suara dari luar dan membuatnya bertanya-tanya tentang siapa yang berbicara dengan sang suami di dalam ruang kerja.
Jadi, ia bangkit berdiri dari ranjang dan mendekatkan daun telinga pada pintu agar bisa mendengar pembicaraan sang suami. 'Siapa yang datang?'
Sementara itu, di luar ruangan, Austin yang tadinya berniat untuk mengunci pintu, tidak jadi melakukannya saat ada yang mengetuk dan beberapa saat kemudian pintu terbuka.
Ia melihat asistennya dan seorang pria yang sangat dikenalnya. "Kau?"
"Maaf, Presdir. Tuan ini memaksa untuk bisa bertemu dengan Anda. Padahal tadi sudah saya suruh untuk menunggu di luar dan malah ikut masuk," ucap Daffa yang tadi sudah berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan pria yang diketahui merupakan CEO perusahaan konsultan terbesar di Jakarta yang menggantikan posisi Yoshi Zaidan Narendra.
Tidak bisa menolak kedatangan pria yang merupakan saudara dari ibunya Yoshi, kini Austin memberikan kode pada asisten pribadinya agar keluar dan membiarkannya berbicara empat mata.
Meskipun ada Diandra di dalam ruangan sebelah, tidak membuatnya khawatir karena akan beralasan bertemu dengan rekan bisnis.
Daffa yang saat ini menuruti perintah bosnya tersebut untuk keluar dari ruangan dan membiarkan dua pria berbeda usia itu berbicara empat mata.
Sementara itu, sosok pria bernama Adi Putra tersebut mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan kerja pria yang setelah merebut posisi keponakannya. "Maaf datang tiba-tiba dan membuatmu terkejut. Ada suatu yang ingin kukatakan padamu."
"Katakan saja!" Austin merasa ada sesuatu hal yang sangat penting dan membuatnya penasaran.
__ADS_1
To be continued...