
Adi Putra yang saat ini sudah mendapatkan beberapa pertanyaan dari pihak kepolisian mengenai tentang beberapa transaksi dari rekening pribadinya pada sosok orang yang dicurigai tengah melakukan teror pada wanita yang tak lain adalah mantan istri dari keponakannya tersebut.
Ia bahkan saat ini juga ditetapkan sebagai tersangka seperti sang kakak dan sudah di bawa oleh aparat kepolisian. Bahkan ia juga sudah menghubungi pengacara agar segera berangkat ke perusahaan untuk mengurus semuanya.
Hingga semua staf perusahaan saat ini menatap ke arah atasannya yang berjalan bersama dengan dua polisi berjalan menuju ke arah lobi dan masuk ke dalam mobil polisi untuk meninggalkan area perusahaan Narendra.
Sementara itu, sang asisten pribadi yang tadi disuruh untuk mengurus semuanya dan juga sekaligus menghubungi keponakannya untuk mengabarkan bahwa saat ini pemimpin perusahaan sudah dibawa oleh polisi ke kantor polisi.
Ia saat ini tengah menunggu panggilan telepon diangkat karena tadi diberikan nomornya. Hingga beberapa saat kemudian mendengar suara bariton dari seberang telepon dan membuatnya langsung mengabarkan mengenai sebuah semuanya.
"Jadi, ceritanya seperti itu, Tuan Yoshi. Tuan Adi Putra ditetapkan sebagai tersangka yang menyuruh orang untuk melakukan aksi teror pada nyonya Diandra," ucap sang asisten yang saat ini baru saja menyelesaikan penjelasannya sesuai dengan apa yang tadi dilihatnya.
Sementara itu, sosok pria yang tak lain adalah Yoshi saat ini merasa sangat syok di ruangan. Ia bahkan sama sekali tidak bisa berkomentar apapun lagi karena keluarganya mendapatkan masalah karena mengusik ketenangan Diandra.
Ia tadinya berharap banyak pada sang paman agar mengurus ibunya yang juga dipanggil oleh polisi atas kasus percobaan pembunuhan.
Hingga saat ini memegangi kepalanya yang terasa pusing akibat ia terlalu memikirkan keadaan dari orang-orang yang disayangi sudah berada di kantor polisi dan mungkin akan menghabiskan waktu di balik jeruji besi.
"Baiklah. Aku akan menyelesaikan semuanya, tapi membutuhkan waktu. Tolong urus masalah perusahaan terlebih dulu sebelum aku kembali ke Jakarta," ucap Yoshi pada sang asisten yang sudah bekerja puluhan tahun karena semenjak sang ayah dulu memimpin.
Ia sangat mempercayai pria paruh baya tersebut karena sudah mendedikasikan seluruh hidupnya di perusahaan sang ayah dari dulu hingga sekarang. Bahkan suara Yoshi saat ini terdekat di tenggorokan dan serak ketika mengakhiri semuanya.
"Baik, Tuan Yoshi. Serahkan saja semuanya pada saya. Saya tunggu kedatangan anda ke Jakarta. Anda harus kuat menjalani ini setelah sadar dari koma karena semuanya merupakan garis takdir dari Tuhan untuk keluarga dan juga Anda sendiri," ucap sang asisten yang saat ini sudah berusaha untuk menghibur putra dari pria yang sangat ia hormati sampai sekarang.
Meskipun sudah lama meninggal, ia masih bekerja di sana karena dipercayai oleh atasan dan membuatnya bertanggung jawab untuk mengurus semuanya saat masalah yang terjadi hari ini melibatkan wakil presiden direktur yang baru saja dibawa oleh para polisi beberapa saat lalu.
"Semoga semua masalah buruk yang terjadi di keluarga Narendra segera berakhir dan tuan Yoshi kembali ke Jakarta dalam keadaan sehat." Ia ya saat ini berada di ruang kerjanya sambil menatap ke arah laptop yang berisi tentang laporan dari polisi tadi mengenai penyebab ditangkapnya pimpinan perusahaan.
Sementara itu, di tempat yang berbeda, ya itu rumah sakit yang ada di London, saat ini terlihat Yoshi tengah menatap ke arah kedua kakinya. Ia benar-benar merasa menjadi seorang pria tidak berguna karena tidak bisa melakukan apapun saat ini.
"Bahkan semua orang yang kusayangi mengalami masalah dan membutuhkan bantuanku, tapi aku masih berdiam diri di sini tanpa melakukan apapun karena tidak bisa berjalan. Apa lebih baik aku mati saja agar semuanya tidak membuatku merasa menjadi orang yang tidak berguna?" Yoshi saat ini tengah memikirkan sebuah cara untuk membantu paman serta sang ibu.
Ia menatap kedua kaki serta berpikir jika saat ini harus berbicara dengan Austin Matteo, tapi saat mengingat jika teleponnya tadi sama sekali tidak diangkat, membuatnya merasa akan percuma.
"Aku harus bertemu secara langsung dengannya untuk membicarakan tentang masalah ini. Bukankah dia terlalu kejam karena membuat paman dan juga mama harus dipanggil pihak kepolisian?" Yoshi saat ini benar-benar tidak habis pikir dengan tuntutan dari Austin.
Padahal sama sekali tidak terjadi apapun pada Diandra dan mereka hidup berbahagia, sedangkan aku di sini hidup menderita karena sendirian dan juga keadaanku tidak bisa berjalan. Tapi dia sengaja membuat masalah dengan keluargaku."
Yoshi saat ini benar-benar merasa sangat kesal dan marah pada pria yang dianggap telah merebut segala kebahagiaan yang harusnya dirasakan olehnya. Kini, ia menggenggam erat telapak tangannya untuk menormalkan amarah yang membuncah di dada dan bergemuruh hebat.
"Apakah perlu aku membunuhmu karena telah membuat orang-orang yang kusayangi harus mendekam di balik jeruji besi? Biar aku saja yang dipenjara dan keluargaku bebas," ucapnya dengan raut wajah dipenuhi oleh kekhawatiran ketika membayangkan jika sang ibu yang sudah tua menghabiskan waktu di balik sel yang dingin.
Ia saat ini menggelengkan kepala berkali-kali karena membayangkan hal itu saja membuatnya tidak tega pada wanita paruh baya yang sangat disayangi tersebut.
__ADS_1
"Tidak! Aku harus melakukan sesuatu!" Yoshi saat ini langsung meraih ponsel miliknya dan menghubungi cleaning service untuk membantunya keluar dari rumah sakit dan menuju ke bandara untuk pulang ke Jakarta.
Namun, ia saat ini memilih untuk memesan tiket terlebih dahulu dan tidak memperdulikan jika harganya jauh lebih mahal karena mendadak. Saat ia sudah menemukan dan memesan tiket yang waktunya masih lama dari saat ini, ia segera menghubungi cleaning service tersebut agar membantunya mengurus semua yang dibutuhkan.
Ia tidak tahu harus meminta bantuan siapa karena memang di London tidak mempunyai siapapun selain ibunya yang selalu merawat dengan baik ketika mengalami koma.
"Tolong datang ke ruangan sekarang karena ada yang ingin ku bicarakan denganmu dan ini sangat penting."
"Baik, Tuan. Kebetulan pekerjaan saya sudah selesai hari ini dan akan pulang sebentar lagi. Saya akan langsung ke atas untuk menemui Anda," ucap pria yang berprofesi sebagai cleaning service dan saat ini berkemas karena sudah selesai bekerja dan digantikan dengan shift yang lain.
Sementara itu, Yoshi saat ini merasa lega karena pria itu sudah selesai bekerja dan pastinya akan bisa membantu mengurusnya untuk keluar dari rumah sakit hari ini juga.
"Akhirnya aku bisa pergi dari rumah sakit ini yang sudah menyelamatkanku dari maut. Mungkin jika aku tidak dirawat di rumah sakit ini dan tetap di Jakarta, kondisiku masih sama atau mungkin sudah meninggal dan tidak akan bisa melihat dunia ini lagi," ucap Yoshi yang hanya bisa diam tanpa melakukan apapun untuk berkemas karena memang masih belum bisa bergerak.
Ia berpikir tidak memberitahu sang ibu karena khawatir jika terjadi sesuatu hal yang buruk pada wanita paruh baya yang sangat disayanginya itu.
"Ma, aku harap Mama tidak marah padaku karena pulang ke Jakarta tanpa memberitahu," ucap Yoshi yang saat ini masih bersabar menunggu lini service tersebut datang dan membantunya untuk berkemas.
Ia yang saat ini ingin mempercepat proses ia pulang, kini memencet tombol untuk memanggil perawat sekaligus meminta bantuan untuk membawakan surat pernyataan seperti yang dikatakan oleh dokter tadi.
Hingga beberapa saat kemudian terlihat pintu yang terbuka dan seorang wanita berseragam biru telah masuk ke dalam.
"Ada yang ada butuhkan?" tanya wanita dengan rambut keemasan nya saat ini mengerutkan kening melihat wajah pucat dari pasien.
Yoshi saat ini menceritakan semuanya dan meminta bantuan agar memudahkannya bisa segera pulang.
Sang perawat seolah sama sekali tidak percaya dengan niat dari pria di hadapannya karena kondisinya bahkan belum membaik dan juga tidak bisa berjalan.
"Anda yakin ingin pergi saat masih belum pulih sepenuhnya? Ini bisa membahayakan keadaan Anda jika nanti sampai terjatuh dari kursi roda," ucap sang perawat yang sebenarnya merasa sangat iba pada pasien tersebut dan ingin sekali menasehati agar berubah pikiran.
Meskipun keluarga mengalami banyak masalah, tetap saja merasa jika pria itu pun juga memiliki masalah yang yang juga jauh lebih besar karena masih belum bisa berjalan sampai saat ini.
Yoshi saat ini hanya menggelengkan kepala karena jujur saja satu-satunya yang diinginkan hanyalah ingin membantu ibu dan pamannya dan tidak membiarkan mereka sendirian.
"Terima kasih karena memikirkan keadaan saya, Suster. Tapi saya lebih baik dirawat di tanah air dan bisa setiap hari melihat orang tua serta keluarga daripada berada di sini sendirian dan bertanya-tanya serta mengkhawatirkan keadaan dari paman serta ibu saya yang berada di kantor polisi," ucap Yoshi yang saat ini sudah sangat lelah dengan apa yang terjadi.
Ia ingin sekali berteriak di ruangan itu untuk melampiaskan semua yang dirasakannya, tapi tidak mungkin melakukannya karena hanya akan mengganggu dan menimbulkan kebisingan serta kekhawatiran dari para aparat medis.
Sementara itu, sang perawat yang mengerti dengan masalah dari pasien dan memilih untuk bertekad pulang ke Jakarta. "Baiklah. Jika memang itu keputusan yang terbaik menurut Anda, saya akan membantu untuk mengurusnya."
Kemudian saat ini beranjak pergi setelah berbalik badan dan berpamitan pada pasien untuk segera mengurus semua syarat untuk pulang dari rumah sakit.
Berbeda dengan Yoshi yang masih terdiam begitu melihat wanita tersebut keluar dari ruangannya dan kembali kesunyian yang dirasakan. "Apa selamanya aku akan merasakan kesepian dan tidak bersemangat hidup seperti ini?"
__ADS_1
"Mungkin jika mama dan juga paman keluar dari penjara, hidupku pun tetap tidak berarti karena merasa seperti sudah kehilangan semua semangat hidup semenjak mengalami kecelakaan ketika baru saja menikah dengan Diandra," ucap Yoshi yang hanya bisa berkeluh kesah di dalam hati.
Ia yang baru saja mengungkapkan semua perasaan yang dirasakan, kini melihat pria yang dari tadi ditunggunya.
"Selamat sore, Tuan. Apa yang ingin Anda suruh untuk saya kerjakan?" tanya sang cleaning service yang saat ini bisa melihat raut wajah murung yang saat ini terlihat jelas.
Yoshi seketika merasa sangat lega begitu melihat pria yang akan disuruhnya membantu untuk mengurus semuanya. "Tolong bantu aku untuk berkemas karena hari ini akan pulang ke apartemen mengambil semua barang-barangku."
"Aku pun ingin kau membantuku mengantarkan ke bandara karena sudah memesan tiket untuk pulang ke Jakarta," ucap Yoshi yang saat ini melihat pria tersebut terkejut atas pengakuannya.
"Anda pulang dalam keadaan seperti ini? Anda bukannya belum sembuh dan masih belum bisa berjalan?" tanya pria yang saat ini memakai seragam berwarna hijau.
Yoshi sebenarnya merasa tidak punya daya untuk menjelaskan tentang apa yang terjadi padanya, tapi ia juga butuh seseorang untuk berkeluh kesah dan akhirnya menjelaskan semua masalah yang terjadi.
Hingga pria tersebut seketika membulatkan mata serta membekap mulut karena sangat terkejut atas apa yang baru saja didengarnya.
"Maafkan saya, Tuan karena tidak tahu apa yang terjadi pada Anda. Semoga semua masalah yang terjadi pada Anda bisa segera diselesaikan. Saya akan membantu Anda untuk berkemas dan mengantarkan ke bandara."
Kemudian langsung bergerak dengan cekatan membereskan semua barang yang ada di ruangan tersebut. Ia benar-benar merasa kasihan pada pria itu karena masih muda sudah merasakan banyak masalah dalam hidupnya.
Bahkan harus merelakan kakinya yang belum bisa berjalan setelah mengalami koma. Saat ia ibu memasukkan barang-barang yang akan dibawa pulang, seketika menoleh ke arah pria tersebut dan membulatkan mata atas apa yang dikatakan.
"Aku tidak akan membawa banyak barang saat pulang karena kondisiku yang seperti saat ini. Jadi, ambil saja semua barang yang ada di sini dan juga nanti berada di apartemen karena aku sudah tidak membutuhkannya."
"Memang hanya ada pakaian serta beberapa barang lain dan bisa kamu jual jika tidak mau memakainya," ucap Yoshi yang saat ini berpikir bahwa ia akan pulang dengan tangan kosong tanpa membawa barang-barangnya.
Ia berpikir untuk membawa diri saja sudah susah dan tidak mungkin membawa koper berisi barang-barangnya yang hanya akan membuatnya terlihat seperti orang yang menyedihkan ketika berada di bandara."
Membayangkan akan menghabiskan seluruh waktunya di kursi roda saja sudah membuatnya merasa sangat putus asa. Mungkin jika sang ibu serta pamannya tidak mengalami masalah, iya tidak mungkin berani menampakkan diri di Jakarta dengan keadaannya yang sangat menyedihkan.
'Ya Allah, kuatkan aku menjalani semua cobaanmu ini. Aku ingin selalu berada di jalan-Mu dan tidak tersesat karena masalah yang kuhadapi saat ini. Lindungi aku dan keluargaku agar tidak makin terpuruk dengan apa yang kami hadapi,' gumam Yoshi yang saat ini memikirkan keadaan dari orang-orang yang disayanginya.
Ia bahkan melihat jika sang cleaning service seolah merasa bingung dengan apa yang baru saja dikatakannya.
"Tuan, bahkan barang-barang Anda terlalu banyak dan tidak mungkin untuk saya. Ini bahkan jika jika dijual pasti akan mahal harganya" ucap pria yang saat ini tengah melihat beberapa pakaian dengan brand mahal dan tidak mungkin bisa ia beli bekasnya, tapi sekarang malah mendapatkan semuanya secara gratis.
Yoshi mengetahui bagaimana perasaan pria itu karena mendapatkan sesuatu yang tidak pernah dimiliki, sehingga saat ini hanya tersenyum simpul dan meyakinkan pria itu agar tidak merasa ragu.
"Aku sama sekali tidak bercanda dan semua memang kuberikan padamu. Kau sudah banyak membantuku saat aku tidak punya siapa-siapa. Jadi, sudah sewajarnya aku memberikan sesuatu untukmu yang bahkan menurutku sudah tidak berguna lagi." Yoshi saat ini melihat jika pria tersebut terlihat berbinar wajahnya seperti mendapatkan undian berhadiah.
Ia berpikir jika itu merupakan sebuah hal kecil baginya, tapi merupakan hal besar bagi pria itu. Saat melihat terlalu wajah pria itu berbinar, merasa jika saat ini kebahagiaan seseorang sangatlah berbeda-beda dan tidak bisa diukur dengan materi.
Meskipun jelas terlihat dari pria itu yang merasa sangat senang diberikan sesuatu yang berhubungan dengan materi, berbanding terbalik dengan dirinya yang memiliki semuanya itu, tapi tidak bahagia ataupun tersenyum seperti cleaning service tersebut.
__ADS_1
"Bahagia pria itu sangat sederhana, sedangkan bahagiaku sangatlah berat,' gumam Yoshi yang saat ini merasa seperti hendak menyerah karena tidak kuat menjalani semuanya sendirian dengan kondisi seperti orang tidak berdaya sama sekali.
To be continued...