Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Merasa sangat malu


__ADS_3

Setelah beberapa menit berlalu, Austin menceritakan kejadian yang beberapa tahun lalu. Ia berharap jika wanita di atas ranjang yang tadi sangat dikhawatirkannya karena berubah pucat, tapi mengatakan tidak apa-apa karena sudah terbiasa, lebih mempercayainya.


"Jadi, seperti itu cerita yang sebenarnya dan jangan mempercayai seorang wanita jahat. Wanita itu bahkan rela melakukan apapun untuk menghancurkan hubungan kita karena tidak ingin melihatmu hidup bahagia." Masih belum puas untuk mengingatkan jika di dunia ini ada banyak orang yang jahat, agar sang istri lebih berhati-hati dan tidak tertipu dengan wajah-wajah penuh kemunafikan.


"Aku dan orang tuamu sama sekali tidak terima ketika dia menyebut kamu adalah wanita pembawa sial untuk Yoshi. Jadi, kamu harus berhati-hati dan menjauhi wanita itu demi keselamatan diri serta putra kita dan juga kandunganmu." Austin sebenarnya ingin sekali mengatakan tentang kebohongannya mengenai kecelakaan.


Hanya saja, masih belum punya nyali dan mengalihkan perhatian wanita yang kini terdiam seolah meresapi apa yang diceritakannya beberapa saat lalu.


"Sekarang kamu panggil saja orang tuamu dan suruh mereka menceritakan semuanya. Apakah sama dengan yang kau ceritakan atau aku berbohong padamu. Aku bahkan sama sekali tidak berniat untuk membuat Yoshi koma karena hanya ingin mengatakan hal sebenarnya." Ia mengingat kejadian beberapa tahun lalu, yang membuatnya juga merasa bersalah.


"Namun, jika tidak mengatakan hal yang sebenarnya, berpikir akan membuat keadaanmu tidak baik karena dokter mengatakan jika otakmu masih mengalami masalah. Jika wanita itu meminta tolong untuk berbohong dan mendatangkanmu ke sana untuk mengaku sebagai istri, padahal sudah bercerai, pasti terjadi sesuatu hal yang buruk padamu." Ia yang baru saja menutup mulut, melihat pintu yang terbuka dan sosok perawat melangkah masuk.


"Syukurlah Anda sudah sadar, Tuan. Biar saya cek dulu sebentar." Perawat yang tadi dipanggil oleh orang tua pasien untuk memastikan jika baik-baik saja dan tidak ada masalah di dalam ruangan, kini akting untuk memeriksa setelah pria tersebut mengangguk tanda setuju.


Ia bahkan saat ini memberikan kode dengan matanya dan berharap pria yang terbaring terlentang tersebut mengerti.


Austin saat ini tersenyum dan mengerjapkan mata karena mengerti jika orang tua atau mertuanya yang menyuruh wanita dengan seragam biru tersebut.


'Syukurlah hal yang paling kukhawatirkan tidak terjadi karena semua hanyalah sebuah kesalahpahaman,' gumam Austin yang saat ini membiarkan perawat mengecek tensi darahnya sambil menanyakan beberapa poin mengenai apa yang dirasakan setelah pertama kali sadar.

__ADS_1


Ia menjawab sesuai dengan yang tadi diarahkan oleh perawat sebelum Diandra sadar. Jadi, terdengar lancar dan tidak gugup saat berbohong.


Di sisi lain, Diandra yang tadinya memikirkan perkataan dari Austin benar atau hanyalah sebuah kebohongan untuk melindungi diri sendiri, teralihkan ketika perawat seperti tengah menggoda dengan tersenyum pada sang suami.


'Apa semua perawat bersikap seperti itu pada pasien? Atau hanya pada Austin karena memiliki wajah yang ....' Diandra bahkan tidak melanjutkan gumamannya untuk memuji sang suami yang memang sebenarnya memiliki paras rupawan.


Bahkan dulu sempat terpesona ketika pertama kali melihat di dalam lift saat melamar bekerja, tapi teralihkan ketika melihat sikap arogan dan seenak hati padanya. Hingga lama kelamaan berubah menjadi kebencian ketika meminta pertolongan, tapi malah dimanfaatkan.


Ia berdiam sejenak untuk menguraikan keheningan di dalam ruangan perawatan dan membuka mulut untuk meminta pertolongan. "Suster, kalau sudah selesai, tolong panggilkan orang tua serta mertua saya di depan. Maaf karena merepotkan."


Masih berusaha bersikap sopan meskipun sangat kesal pada wanita yang dianggap tengah berusaha untuk menggoda, ia kini berharap wanita itu segera menyelesaikan tugasnya. Apalagi ingin bertanya pada orang tuanya untuk menyamakan penjelasan Austin beberapa saat lalu.


Sang perawat yang tadinya menyuntikkan cairan biasa ke dalam selang infus, kini seketika menganggukkan kepala dan baru saja menyelesaikan tugas palsunya.


Sementara itu, Austin seketika menoleh ke arah Diandra karena benar-benar lega ketika kesalahpahaman sudah dicairkan. Ia berharap jika sang istri mengambil keputusan yang benar dan tidak memutuskan untuk berpisah.


"Jika nanti apa yang kukatakan sama dengan penjelasan dari orang tuamu, bersediakah kamu memaafkan kesalahanku di masa lalu? Bahkan Tuhan membukakan pintu maaf-Nya untuk orang-orang yang mau bertobat."


"Aku harap kamu berbesar hati dan melupakan kesalahanku padamu." Ia mengerutkan kening karena melihat ekspresi wajah sang istri yang terlihat memerah seperti tengah menahan marah.

__ADS_1


'Aku pikir istriku sudah tidak marah dan membenciku , tapi sepertinya tidak demikian. Dia masih kesal. Bagaimana caranya meluluhkan hatinya?' gumam Austin saat merasa bingung dengan apa yang harus dilakukan.


Hingga ia yang sama sekali tidak mendapatkan tanggapan dari sang istri, ini melihat orang tua serta mertua baru saja melangkah masuk dan berjalan mendekat untuk memastikan tidak terjadi apapun.


"Kalian baik-baik saja, kan?" tanya sang ibu yang terlihat paling khawatir padanya karena mengetahui jika dari dulu cintanya sangat besar pada Diandra.


Austin menganggukkan kepala sambil tersenyum simpul. "Iya, Ma. Aku dan istriku baik-baik saja. Hanya saja ...." Kalimatnya terpotong ketika melihat ibu mertua menghampiri putri tunggalnya.


"Kamu tidak mengambil keputusan untuk bercerai, kan?" Wanita paruh baya yang saat ini mengusap lengan putrinya, agar tidak terus merasakan emosi, berusaha untuk menenangkan dengan menyalurkan aura positif.


Diandra saat ini ingin mendengar secara langsung mengenai kejadian ketika di malam kecelakaan. Jadi, sama sekali tidak berniat menjawabnya. "Aku ingin tahu kejadian sebenarnya, tentang bagaimana aku bisa bercerai dengan Yoshi."


"Biar Ayah yang menceritakan semuanya," ucap ayah Diandra yang seketika merasa kesal ketika mengingat kejadian beberapa tahun lalu ketika mendapatkan hinaan sebagai orang dari kasta rendahan.


"Bahkan Ayah masih sangat ingat bagaimana ekspresi ketika mantan mertuamu itu menghina kami serta mengatakan jika kamu adalah wanita pembawa sial untuk putranya." Kemudian ia mulai menceritakan semua hal yang ingin diketahui oleh putrinya tanpa ada yang dikurangi maupun ditambah.


Diandra yang tadinya merasa seperti mendapatkan sebuah hujaman tombak tajam pada jantungnya karena ternyata wanita yang sangat dihormatinya, telah berbohong demi bisa menghancurkan hidupnya.


'Aku bahkan sangat menghormati mama sebagai ibu kandungku sendiri, tapi ternyata sangat membenciku dan menganggap aku adalah penyebab dari semua kemalangan yang dialami oleh Yoshi,' lirih Diandra yang kini merasa sesak di dada dan membuatnya tidak bisa berpikir jernih ketika membayangkan bagaimana orang tuanya dihina habis-habisan.

__ADS_1


'Aku akan membuat orang tuaku terhina karenaku. Maafkan aku, Ayah, Ibu?' Ia hanya bisa mengungkapkan di dalam hati karena merasa sangat malu pada orang tuanya serta semua orang yang ada di dalam ruangan itu.


To be continued...


__ADS_2