Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Kedatangan Austin


__ADS_3

Sosok pria yang terlihat duduk di kursi kebesaran yang ada ruangan kerjanya tengah berkutat dengan beberapa dokumen di atas meja. Hari ini ada banyak dokumen yang harus diperiksa sebelum ditandatangani.


Pria yang tak lain adalah Austin Matteo bahkan satu bulan ini mencari semua informasi mengenai wanita yang menghilang dari pandangannya sebelum berbicara dengannya.


Namun, sayangnya tidak menemukan berita apapun tentang Diandra ya h seperti menghilang ditelan bumi


Akhirnya ia mencari tahu tentang kehidupan pribadi dari pria bernama Yoshi yang ternyata sudah menikahi seorang jaksa terkenal di Jakarta. Hanya saja berakhir dengan perceraian karena tidak ada kecocokan.


"Jika benar mereka saling mencintai, kenapa tidak menikah? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Austin yang kini tengah mengetuk bolpoin ke atas meja beberapa kali.


Meskipun ia mencoba untuk mengingat masa lalunya agar bisa memecahkan misteri, tapi yang terjadi hanya rasa nyeri yang kembali menyerang kepala dan semakin menyiksanya.


"Aaarggh .... selalu saja seperti ini. Ini benar-benar sangat menyiksa. Sampai kapan aku akan merasakan nyeri seperti ini?" Austin yang masih meringis menahan rasa nyeri, kini memegangi kepalanya.


Kemudian ia langsung membuka laci dan mengambil obat karena memang selalu membawa obat pereda nyeri jika rasa di kepalanya makin bertambah besar. Jika biasanya ia tidak minum obat saat sakitnya hanya ringan, tapi kali ini benar-benar sangat menyiksanya.

__ADS_1


Setelah minum dua butir obat, ia yang baru meletakkan gelas berisi air ke atas meja, mendengar suara dering ponselnya. Refleks ia meraih ponsel dan menggeser tombol hijau ke atas.


"Apa ada kabar baik, hingga kau menghubungku?" tanya Austin yang saat ini memicingkan mata kala detektif yang disuruhnya untuk mencari tahu tentang wanita bernama Diandra menelpon.


"Sepertinya Anda belum melihat berita terbaru yang sedang viral di media sosial. Wanita yang Anda cari akan menikah dengan Yoshi Zaidan Narendra. Hari ini kabarnya diadakan proses lamaran di puncak dan dua minggu lagi acara akad nikah digelar dan akan ada resepsi pernikahan di hotel mewah."


Sang detektif yang baru saja menutup mulut, seketika menjauhkan ponsel dari daun telinga begitu mendengar suara teriakan penuh kemurkaan dari pria yang merupakan pengusaha sukses tersebut.


Austin yang saat ini terlihat memerah wajahnya, kini mengepalkan tangan kirinya. "Dasar bodoh! Kenapa baru sekarang memberitahuku? Apa ada alamat rumah dari Diandra yang ternyata tinggal di puncak?"


Kemudian langsung bangkit berdiri setelah mematikan sambungan telpon sepihak. Ia pun berjalan keluar dari ruang kerja dan saat tiba di lift, mendengar suara notifikasi di ponselnya, langsung membukanya dan membaca alamat yang dikirimkan oleh detektif.


"Baik, Presdir," ucap sang asisten yang tengah memijat pelipisnya saat duduk di kursi kerjanya ketika mengecek beberapa dokumen.


Sementara di dalam lift, kini Austin yang ingin bertemu dengan Diandra dan sekali lagi bertanya, kini memegangi dadanya yang terasa seperti makin berdegup kencang.

__ADS_1


"Kenapa aku merasa hatiku terasa sakit dan tidak rela saat mendengar Diandra menikah dengan pria itu sebelum menjelaskan semuanya dengan jujur padaku? Aku yakin ada sesuatu yang membuatku ingin menghentikan mereka, tetapi apa?"


Beberapa saat kemudian, langkah kaki panjang Austin keluar dari lift dan berjalan menuju lobi Perusahaan. Saat ini ia hanya ingin bertemu Diandra dan meyakini bahwa dulu cintanya begitu besar.


Ia bahkan mengingat tentang anak laki-laki yang dulu bersama Diandra. "Aksa, apa dia adalah anak Yoshi? Tapi dulu tidak bisa menikahi Diandra karena dijodohkan oleh sang ayah yang mengidap penyakit mematikan. Lalu, apa yang kulakukan pada mereka?"


"Apa salahku yang dulu disebutkan oleh Diandra? Aku benar-benar bisa gila!" umpat Austin saat masuk ke dalam mobil dan mengemudikannya meninggalkan area perusahaan dengan kecepatan diatas rata-rata menuju ke puncak.


"Saat ini, pasti di sana ada banyak orang. Jadi, aku akan lebih mudah bertanya pada Diandra. Jika ia tidak mau menceritakan padaku, aku akan mengancam akan menghancurkan pernikahannya."


Selama menempuh perjalanan dua jam setengah dari Jakarta ke puncak Austin tengah memikirkan cara yang pas untuk tidak menjadi sebuah perdebatan panjang.


Hingga beberapa jam telah berlalu, kini mobil Austin sudah menepi di pinggir jalan begitu menemukan rumah Diandra. Ia bahkan kini melihat halaman luas yang sudah ada satu mobil mewah berwarna hitam yang terparkir rapi di sana.


Seolah tidak takut pada apapun, Austin langsung keluar dari mobil dan berjalan menuju ke arah pintu utama yang terlihat terbuka lebar dan menandakan sedang ada tamu, yaitu pihak keluarga Yoshi. "Bahkan aku bisa mendengar suara keluarga Yoshi yang pastinya tengah berbincang-bincang di dalam."

__ADS_1


'Aku pasti akan dianggap sebagai tamu tidak diundang karena datang tiba-tiba. Aku akan pergi begitu mengetahui semuanya setelah Diandra jujur padaku dengan menceritakan semuanya tanpa terkecuali,' gumam Austin yang kini sudah tiba di depan pintu utama dan langsung mengucapkan salam sebelum masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Diandra.


To be continued...


__ADS_2