Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Merubah garis kemiskinan


__ADS_3

Austin kini baru saja keluar dari ruangan perawatan sosok wanita yang teramat sangat dicintai. Mendengar suara bariton sang ayah yang seperti tidak bersahabat ketika bertanya mengenai keputusan menikahi seorang wanita lumpuh, ia saat ini tidak bisa merasa kesal.


Setelah berhasil menjauh dari ruangan, kini kembali berbicara dengan sang ayah melalui ponsel miliknya.


"Apa Papa lupa dengan kejadian di masa lalu saat tidak menyetujui hubunganku dengan Diandra dan menjodohkan dengan wanita yang tidak kucintai? Apa masih belum puas Papa melihat kehancuranku? Ini adalah sebuah keajaiban sekaligus kesempatan untukku menebus dosa pada wanita yang telah kuhancurkan masa depannya."


Austin tidak berhenti untuk berbicara panjang lebar demi bisa membuat sang ayah sadar jika keputusan yang diambil dengan cara mengekangnya dan tidak setuju pada pilihannya hanya berakhir dengan kehancuran.


"Mungkin Papa tidak akan mengulang kesalahan sama jika mempunyai anak perempuan dan dihancurkan oleh pria berengsek sampai hamil, tapi memilih untuk mempertahankan dengan merawat darah daging kami hingga tumbuh menjadi anak laki-laki yang menggemaskan."


Bahkan saat mengingat Aksa, Austin tidak bisa melupakan wajah menggemaskan putranya tersebut. Apalagi sudah mengarang cerita bahwa ia adalah seorang pria yang mempunyai satu anak.


Ia sama sekali tidak pernah menduga jika ternyata Diandra langsung setuju. Padahal awalnya berpikir akan menolak dan masih terpuruk dengan keadaan yang harus merelakan kaki karena cacat saat kecelakaan.


Hening selama beberapa saat karena pria di seberang telpon yang tak lain adalah Malik Matteo menyadari kesalahan.


"Sebenarnya Papa tidak mempermasalahkan kamu menikah dengan Diandra, tapi tidak dalam kondisi cacat, Austin! Itu hanya akan membuatmu hidup menderita karena seperti merawat bayi," sarkas pria yang saat ini tengah menikmati makanan di ruang kerja.


Bahkan dulu sangat shock saat putranya mengalami kecelakaan di Singapura dan dokter yang menangani adalah wanita yang dijodohkan dengan putra mereka.


"Papa hanya tidak ingin kamu malah semakin menderita setelah menikah. Itu saja." Malik Matteo berharap putranya berubah pikiran dan hanya fokus pada Aksa yang merupakan cucunya.


Tidak ada orang tua yang menginginkan keturunannya hidup menderita. Apalagi harus bersusah payah merawat istri cacat. Bagaimana mungkin ia bisa melihat itu. Bahkan membayangkan saja tidak pernah.


Sekali lagi Austin memutuskan untuk tidak lagi mengambil pusing pertanyaan konyol dari sang ayah. "Lebih baik kita akhiri ini karena tidak akan pernah selesai. Aku hari ini memilih libur, Pa. Jadi, tolong handel pekerjaanku."


Tanpa membuang waktu, Austin memutuskan sambungan telpon tanpa memikirkan apapun lagi. Kemudian beralih berjalan menuju ke arah ruangan perawatan Diandra lagi.


Merasa lega jika Diandra masih belum sadar, meminta pria dan wanita paruh baya tersebut duduk di sofa. "Ada yang ingin kukatakan pada kalian, Ayah dan Ibu."


Refleks pasangan suami istri tersebut menganggukkan kepala dan mulai berjalan mendekati sosok pria di atas sofa.


Meskipun mereka tadi sempat mendengar mengenai telpon dari ayah Austin, tetap saja merasa sangat khawatir dengan apa yang akan terjadi dengan putrinya.

__ADS_1


Kemudian mendaratkan tubuh di sana dan melihat wajah serius pria yang terlihat sangat mencintai putri mereka.


"Apa yang ingin kamu katakan?' tanya ayah Diandra yang saat ini tidak mengalihkan pandangan dari sosok pria yang bersandar pada sofa itu.


"Sebenarnya aku ingin mengatakan bahwa keputusanku untuk menikahi Diandra sudah bulat. Jadi, tidak perlu memperdulikan perkataan dari ayahku," ucap Austin yang bisa menebak apa yang dipikirkan oleh mertuanya.


"Jadi, aku harap kalian tidak perlu mengkhawatirkan atau meragukanku yang tulus untuk menikahi putri kalian karena sangat mencintainya. Namun, karena masih harus menunggu surat dari pengadilan, yaitu status Diandra mempunyai status janda, jadi baru bisa menikahinya."


Meskipun perkataan dari Austin berhasil menghibur pasangan suami istri paruh baya tersebut, tetapi tidak bisa menyembunyikan perasaan gelisah ketika memikirkan jika Diandra akan mempunyai mertua yang bahkan tidak menyukai.


Namun, mencoba untuk berpikir positif dan tidak lagi dikuasai oleh ketakutan serta kekhawatiran mengenai bagaimana nasib Diandra, sehingga membuat mereka kembali bersemangat.


"Terima kasih, Nak Austin. Kami tidak tahu bagaimana nasib Diandra jika kami tidak mengenalmu. Apalagi selama beberapa tahun terakhir ini, Diandra menyembunyikan Aksa tanpa memberitahu kami. Bisa dibayangkan bagaimana hidup tanpa seorang suami ketika hamil."


"Namun, sama sekali tidak menyingkirkan dan membesarkan secara diam-diam hingga berusia 2 tahun. Aksa bahkan sangat menggemaskan dan tumbuh menjadi anak yang baik."


Refleks Austin langsung menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan bahwa wanita yang dicintai benar-benar sangat hebat dan luar biasa karena masih mempertahankan kehamilan tanpa suami.


"Semua ini bisa terjadi karena pemilik perusahaan besar dan juga memiliki perkebunan teh yang sangat luas itu membantu Diandra, sehingga putri kami membalas kebaikan dengan cara bekerja di perusahaan milik pria itu."


Tentu saja sebagai bentuk ucapan terima kasih karena telah menjaga Diandra dengan baik. "Aku akan menemui pengacara yang menangani masalah perceraian. Ini akan menjadi sebuah hal buruk jika sampai diketahui publik mengenai siapa sebenarnya pengusaha sukses itu."


Hingga baru saja selesai berbicara, suara lirih Diandra menyala perkataan mereka.


"Ayah, Ibu? Bagaimana kalian bisa tahu aku kecelakaan dan langsung datang ke sini?" tanya Diandra pada saat ini merasa sangat terkejut dengan kedatangan tiba-tiba dari orang tuanya.


"Atasanmu yang baik ini yang memberitahu kami, Diandra." Sang ibu menjawab untuk membuat putrinya percaya.


"Maafkan aku, Ayah, Ibu karena baru bekerja malah sudah berakhir seperti ini. Bagaimana aku bisa membantu perekonomian keluarga dalam keadaan cacat seperti ini?" Diandra merasa menjadi tidak berguna untuk orang tuanya yang pasti sangat membutuhkan uang.


Namun, baru bekerja selama beberapa hari sudah mendapatkan kemalangan dan akhirnya semakin menambah beban orang tua.


"Jangan berbicara seperti itu, Nak. Tidak perlu berpikir hal yang buruk karena yang terpenting saat ini kamu harus banyak istirahat agar segera pulih," sahut wanita paruh baya yang berdiri di dekat ranjang Diandra yang tengah sibuk menenangkan perasaan putrinya.

__ADS_1


Diandra tidak menyangka jika semuanya akan berantakan dan juga tidak bisa membantu orang tua untuk membayar utang.


Namun, ketika mengingat jika ada Austin yang menikahinya, berpikir bisa merubah hidup menjadi seorang istri konglomerat. Bahkan keluarganya juga merasakan bagaimana menjadi orang kaya.


Ia saat ini bisa melihat bahwa Austin yang saat ini hanya diam saja dan dari tadi tidak memutuskan pandangan darinya.


'Aku masih penasaran dengan jawaban calon suamiku. Apa yang dikatakan tadi bahwa ingin menikahiku sebagai bentuk pertanggungjawaban?'


Diandra saat ini mengungkapkan rasa terima kasih kepada pria yang saat ini masih menatapnya tanpa berkedip. Tatapan itu seperti seorang pria yang sangat memuja wanita.


Hingga suara bariton dari pria yang berjalan mendekat ke arahnya tersebut, kini membuatnya tersenyum.


"Aku sudah melamarmu pada orang tua, jadi setelah semua persiapan selesai dan kamu keluar dari rumah sakit, kita akan segera menikah. Jadi, kamu harus segera sembuh agar kita bisa menikah secepatnya," ucap Austin yang saat ini merasa sangat lega bisa melihat senyuman di wajah Diandra.


Namun, beberapa saat kemudian merasa sangat terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Diandra. Bahkan ia dan pasangan suami istri paruh baya tersebut saling bersitatap.


"Bukankah bisa menikah di rumah sakit seperti yang sering terjadi di film-film. Menikah secara sederhana karena sepertinya sangat cocok dengan kemalanganku." Diandra merasa sangat bingung harus menanggapi bagaimana saat merasa sangat bahagia ada seorang pria yang mampu menerima kekurangannya dan itu adalah bosnya sendiri.


Namun, refleks punya pemikiran seperti itu dan menganggap bahwa apa yang baru saja disampaikan hanyalah sebuah candaan, tapi heran begitu melihat ekspresi wajah dari Austin dan juga orang tuanya yang sangat terkejut.


'Bagaimana ini? Aku sebenarnya sama sekali tidak keberatan untuk segera menikahi Diandra sekarang, tapi mana mungkin bisa menikahinya jika belum bercerai dengan Yoshi,' gumam Austin yang saat ini ingin mencari jawaban dari tetapan pasangan suami istri yang merupakan orang tua Diandra.


"Aku akan berbicara dengan putriku nanti. Bukankah kamu harus berangkat bekerja sekarang?" ucap ayah Diandra yang saat ini ingin menghentikan pembicaraan mengenai keinginan putrinya yang tidak pernah terpikirkan dan terkesan terburu-buru.


"Suamiku benar. Kamu harus bekerja, jadi lebih baik cepat pulang," ucap wanita paruh baya yang saat ini menguraikan senyuman.


Mengerti jika orang tua Diandra membutuhkan waktu berbicara secara privasi, membuat Austin saat ini menganggukkan kepala dan berpamitan.


"Baiklah. Nanti hubungi aku saja jika membutuhkan sesuatu." Austin berjalan mendekat ke arah sosok yang masih terbaring di atas ranjang perawatan.


Kemudian membungkuk untuk mencium kening Diandra. "Jika disetujui oleh orang tuamu, aku pasti menikahimu di sini secepatnya. Aku pulang dulu karena harus bekerja."


Diandra terlihat tersenyum bahagia karena sama sekali tidak pernah menyangka akan menjadi seorang istri dari seorang pimpinan perusahaan.

__ADS_1


'Aku mungkin bisa merubah garis kemiskinan keluarga kami, yaitu dengan cara menikah dengan bos Austin,' gumam Diandra dengan menyunggingkan senyuman.


To be continued...


__ADS_2