
"Di mana aku?" tanya sosok pria yang saat ini baru saja membuka mata dan melihat ruangan dengan nuansa putih di hadapannya.
Ia merasa kepalanya sangat pusing dan memeganginya hingga menyadari jika saat ini diperban. Sosok pria yang tak lain adalah Austin Matteo begini sudah berada di rumah sakit selama satu minggu dan mengalami koma setelah dioperasi pada bagian kepala. Namun, hari ini sadar dan lolos dari masa kritis.
Sementara itu, sosok wanita yang saat ini berdiri di sebelah Austin Matteo, menatap sosok pria yang satu minggu belakangan berada dalam pengawasannya karena ia sendirilah yang kulakukan proses operasi begitu pasien kecelakaan tersebut dibawa ke rumah sakit.
Tadinya ia sama sekali tidak mengenali pria yang bersimbah darah tersebut dibawa ke ruangan operasi, tapi begitu para perawat menemukan identitas dari pasien yang tak lain adalah pria yang menghubunginya.
Bahkan mengajak bertemu hanya untuk bisa mengatakan menolak perjodohan karena tidak mencintainya dan mencintai wanita lain, sehingga membuatnya langsung menghubungi pihak orang tua pria yang dijodohkan dengannya tersebut.
Hingga orang tua dari Austin Matteo datang ke Singapura dan sang ibulah yang selama ini berada di rumah sakit untuk merawat putranya karena selain harus menggantikan mengurus perusahaan.
Bahkan ia sama sekali tidak menyangka jika akan bertemu dengan pria yang ditolaknya ketika hendak ingin menemuinya di rumah sakit. Padahal ia saat itu menolak mentah-mentah untuk bertemu dengan Austin Matteo yang tidak ingin dijodohkan dengannya, tapi malah bertemu di meja operasi.
Kini, Maria Belinda menatap ke arah sosok pria yang terlihat meringis kesakitan karena memegang kepalanya.
"Apa yang saat ini kau rasakan?" tanya Maria Belinda yang kebetulan tadi memeriksa Austin Matteo saat sang ibu pergi ke kantin untuk membeli makanan.
"Kepalaku rasanya sangat pusing sekali," lirih Austin Matteo yang saat ini masih memegang kepalanya yang terasa nyeri.
"Aku akan memberikan obat pereda nyeri agar kau tidak merasakan kesakitan." Maria Belinda kini menerima obat dari perawat yang berdiri di sampingnya di sebelah troli berisi obat-obatan.
Kemudian ia mulai menyuntikkan cairan pada infus pasien agar tidak merasakan kesakitan karena efek benturan sampai kuat pada kepala hingga menyebabkan pendarahan cukup hebat ketika dioperasi.
Saat baru selesai, ia kini mulai menyadari ada yang tidak beres dari pasien yang mengalami sesuatu hal yang sudah diperkirakan begitu wanita paruh baya baru saja masuk dan masuk untuk menghampiri sang putra.
"Putraku, kamu sudah sadar? Syukurlah," ucap sosok wanita paruh baya yang merupakan ibu dari Austin Matteo bernama Lina Rosmala.
Kemudian beralih menatap ke arah calon menantunya yang berdiri di sebelahnya tersebut. "Terima kasih sudah menyelamatkan putraku, calon menantu. Aku benar-benar berterima kasih padamu dan tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membalas semua kebaikanmu."
Sementara itu, Austin Matteo yang saat ini sudah berkurang sakit kepalanya dan tidak seperti tadi, merasa bingung dengan apa yang dikatakan oleh sang ibu.
"Apa maksud Mama? Calon menantu? Memangnya wanita itu siapa? Kenapa Mama memanggilnya calon menantu?" tanya Austin yang saat ini merasa bingung dengan apa yang baru saja dikatakan oleh sang ibu.
Ia kita akan selalu menatap ke arah wanita yang mengenakan jubah putih tersebut. "Siapa kamu? Kenapa kamu dipanggil calon menantu oleh mamaku? Aku sama sekali tidak ingin menikah. Apalagi saat ini aku punya banyak kekasih."
Austin yang merasa ada yang tidak beres karena sang ibu mengatakan jika itu adalah calon menantu. Ia saat ini di. bawah sang ibu menyukai dokter tersebut dan berniat untuk menjodohkannya.
"Mama, jangan bersikap konyol, menjodohkanku dengan wanita yang baru ditemui hanya yang menjadi dokter yang mengobatiku," ucap Austin yang saat ini tengah menatap tajam sang ibu.
Berpikir bahwa ia harus menghentikan pemikiran dari sang ibu, sehingga membuatnya merasa harus membuat dokter itu tidak menganggap serius perkataan dari wanita yang sangat disayangi tersebut.
Refleks Lina Rosmala merasa sangat tidak enak pada Maria Belinda atas perkataan dari putranya. Ia pun langsung mendekati putranya agar menyadari kesalahan.
"Sayang, jangan berbicara seperti itu pada calon istrimu. Bukankah kamu datang ke sini untuk menemuinya membicarakan masalah perjodohan kalian? Namun, sayangnya malah mendapatkan kecelakaan ketika dalam perjalanan menuju ke rumah sakit untuk menemui Maria."
Sementara itu, Austin yang sama sekali tidak paham dengan perkataan sang ibu karena ia saat ini tidak mengingat tentang kejadian kecelakaan yang menimpanya.
__ADS_1
"Apa maksud Mama? Aku datang menemui wanita ini untuk membicarakan perjodohan? Memangnya kapan aku dijodohkan? Siapa tadi? Maria Belinda? Memangnya ini di mana? Kenapa aku sama sekali tidak mengingatnya?" Austin bahkan rasa sangat bingung dengan situasi yang terjadi saat ini.
Ia berpikir bahwa belum pernah bertemu dengan sosok wanita yang berprofesi sebagai dokter tersebut dan merasa bingung kenapa sang ibu malah menyebutkan jika itu adalah calon istrinya.
Maria Belinda memang belum mengatakan mengenai pesan dari Austin yang mengatakan tidak mau dijodohkan dengannya karena mencintai wanita lain.
Itu karena ia masih menunggu keadaan dari pria itu, baru bisa memutuskan apa yang harus dilakukan. Hingga begitu menyadari bahwa diagnosisnya tepat, yaitu pasien mengalami amnesia disosiatif karena benturannya sangat hebat pada bagian kepala.
Kini, ia membuka suara untuk bertanya sesuatu hal. "Apa kau tahu ini tahun berapa?"
Sebenarnya Lina Rosmala ingin mengetahui tentang apa yang sebenarnya terjadi pada putranya, tapi saat hendak bertanya, mendapatkan sebuah kode dari Maria Belinda agar tidak membuka suara dan membuatnya hanya diam sambil menunggu putranya menjawab pertanyaan.
'Apa yang sebenarnya terjadi pada putraku? Kenapa dia berbicara seperti itu? Kenapa dia tidak mengingat Maria Belinda yang merupakan calon istrinya?' gumam Lina Rosmala yang seketika membulatkan mata begitu mendengar jawaban dari Austin Matteo.
"Pertanyaan macam apa itu? Bukankah ini sudah tahun 2021? Memangnya ini tahun berapa?" sarkas Austin yang masih menatap sang dokter di hadapannya tersebut.
Karena hal ini sudah diduganya, kini Maria Belinda menoleh ke arah wanita paruh baya yang terlihat membulatkan mata karena merasa sangat terkejut dengan jawaban dari putranya.
"Maafkan aku karena belum menyampaikan beberapa kemungkinan yang terjadi akibat kecelakaan yang menimpa Austin. Jadi, ia saat ini mengalami amnesia disosiatif, yaitu kehilangan memori beberapa tahun yang dialami."
"Semoga semuanya kembali normal setelah menjalankan pengobatan intensif untuk kesembuhannya agar memori yang hilang bisa segera kembali." Maria Belinda saat ini menatap ke arah pasien yang terlihat seperti orang bodoh karena melupakan beberapa tahun yang dialami.
'Jadi, ia pasti saat ini melupakan sosok wanita yang dicintainya. Sebenarnya aku bisa memanfaatkan ini dengan tidak mengatakan hal yang dikatakannya padaku untuk menolak perjodohan karena mencintai wanita lain,' gumam Maria Belinda yang saat ini masih mempertimbangkan keputusan apa yang akan diambilnya.
Hingga ia mendengar suara seorang ibu yang saat ini menghambur memeluk ke arah putranya karena mengalami amnesia disosiatif.
Lina saat ini bahkan terurai air mata ketika memeluk erat putranya yang sudah selamat dari maut setelah berjuang selama satu minggu. "Bahkan selama satu minggu ini, Mama benar-benar tersiksa saat melihat ada banyak alat penopang kehidupan di tubuhmu."
Sementara itu, saat ini Austin hanya diam saja dan merasa bingung dengan apa yang dialami. Ia membiarkan sang ibu memuaskan diri untuk memeluknya dan menangis tersedu-sedu untuk melepaskan semua yang membuncah di dalam hati.
'Amnesia disosiatif? Aku kehilangan sebagian memori karena kecelakaan? Apakah ada hal penting yang aku lupakan?' Austin saat ini ingin memeriksa sesuatu dan ketika sang ibu melepaskan pelukan, ia apa yang ada di pikirannya.
"Ma, apa Mama melihat ponselku?" tanya Austin yang saat ini merasa harus memastikan sesuatu dan berharap mendapatkan jawaban atas pertanyaannya begitu memeriksa ponsel miliknya.
Sementara itu, Lina Rosmala saat ini menoleh ke arah Maria Belinda karena melupakan hal tersebut. "Apa kamu mengetahui barang-barang putraku, Maria? Karena aku tidak memikirkan hal selain keselamatan Austin, sehingga tidak memikirkan apapun selain itu."
Maria Belinda yang memang sudah membawa semua barang-barang milik Austin karena ia mengatakan mengenal pria itu ketika pertama kali berada di rumah sakit.
Bahkan ia yang menandatangani surat pernyataan sebelum dilakukan proses operasi karena menganggap bahwa Austin adalah putra dari rekan bisnis orang tuanya dan bertanggung jawab atas keselamatan pria yang datang ke Singapura untuk menemuinya hanya untuk menolak perjodohan.
Kini, ia langsung mengganggukan kepala karena memang menyimpan semua barang-barang milik Austin yang berupa dompet, ponsel dan jam tangan mewah di ruangan kerja.
"Iya. Aku masih menyimpannya di laci ruangan kerja. Sebentar, aku akan mengambilnya." Maria Belinda saat ini berbalik badan keluar dari ruangan perawatan dan mengingat bahwa beberapa hari lalu ia sempat memeriksa ponsel dari Austin yang kebetulan tidak dikunci.
Ia bahkan bisa melihat pesan yang dikirimkan oleh pria itu untuknya ketika menolak perjodohan. Bahkan beberapa foto seorang wanita yang diyakininya merupakan seseorang yang sangat berarti di hati Austin.
'Apa perlu aku menghapus semuanya itu sebelum memberikan padanya?' gumam Maria yang saat ini telah mempertimbangkan keputusannya setelah mengetahui bahwa Austin Matteo kehilangan sebagian memorinya.
__ADS_1
Begitu berada di ruang kerjanya dan langsung membuka laci, ia kini membuka kantong plastik berisi barang-barang milik Austin dan mengambil ponsel mahal tersebut.
Kini, ia membuka ponsel milik Austin dan memutuskan untuk menghapus beberapa hal yang berhubungan dengan wanita penyebab pria itu menolak perjodohan.
Bahkan ia bisa melihat foto dari seorang wanita yang tertidur dan berada di bawah selimut dan dipeluk erat oleh Austin. Tentu saja sebagai seorang wanita dewasa, ia tahu apa yang dilakukan antara pria dan wanita di atas ranjang.
Ia benar-benar sangat kesal melihat hal itu dan memilih untuk menghapus semua foto-foto yang berhubungan dengan wanita yang dicintai oleh Austin.
'Anggap ini adalah sebuah hukuman untukmu karena menolakku, Austin Matteo. Bahkan mungkin mengalami karma atas apa yang kau lakukan padaku,' gumam Maria Belinda yang saat ini langsung menghapus pesan dari Austin ketika menolak perjodohan dengannya.
Kini, Maria Belinda sedang memastikan tidak ada hal yang berhubungan dengan wanita bernama Diandra. Bahkan ia sedang menghapus kontak dari wanita itu yang sempat ditelponnya, tapi ternyata tidak aktif nomornya.
Bahkan ia merasa bingung karena nomor kekasih Austin tidak aktif dan berpikir bahwa pria itu kehilangan wanita bernama Diandra tersebut karena perjodohannya.
"Baiklah. Semuanya beres dan kita impas, Austin." Maria Belinda kirim meraih ponselnya
Ia menghubungi seseorang yang tak lain adalah asisten perawat dan menyuruh untuk memberikan ponsel tersebut. Karena sangat malas untuk pergi lagi ke ruangan Austin melanjutkan pekerjaan untuk memeriksa pasien yang lain.
Kini, suara ketukan pintu terdengar dan melihat sosok wanita yang dari tadi ditunggu.
"Iya, Dokter."
"Berikan ini pada pasien tadi dan katakan jika aku melanjutkan pekerjaan untuk memeriksa pasien yang lain," ucap Maria Belinda yang mengulurkan plastik berisi barang-barang Austin dan sudah memasukkan ponsel ke sana sekalian.
Sang perawat tersebut langsung melakukan kepala dan menerimanya. "Siap, Dokter. Saya akan langsung memberikan ini."
Kemudian terlalu pergi meninggalkan sang dokter dan melaksanakan tugas menyerahkan barang-barang menjadi pasien tersebut. Ia perjalanan menyusuri lorong yang menghubungkan dengan ruangan VVIP di rumah sakit.
Begitu tiba di depan pintu ruangan yang dituju, mengetuknya dan masuk ke dalam setelah menjeda beberapa menit. Ia pun kini mulai berjalan dan langsung menyerahkannya. "Dokter Belinda saat ini melanjutkan memeriksa pasien, jadi saya disuruh untuk memberikan ini."
Austin yang sudah tidak sabar untuk memeriksa ponsel miliknya, kini langsung menerima dan membuka benda pipih tersebut untuk mencari tahu sesuatu hal yang dilupakannya.
"Dua tahun, kenapa aku harus melupakannya? Apa ada sesuatu yang kulewatkan, Ma? Selain perjodohan dengan dokter itu?" tanya Austin yang saat ini sudah membuka ponsel miliknya.
Sang ibu yang beberapa saat lalu menjelaskan tentang semua hal mengenai perjodohan dengan Maria Belinda agar putranya tahu, tapi menyembunyikan tentang sesuatu yang pernah dikatakan oleh sang suami, yaitu Austin sempat menolak perjodohan dengan alasan mencintai wanita lain.
"Tidak ada, Austin. Kamu selama ini seperti biasa, selalu berganti-ganti pasangan kekasih dan hal itulah yang membuat kami sebagai orang tua khawatir jika kamu akan terjebak dalam perbuatan terlarang. Makanya menjodohkanmu."
Austin yang masih menerima ponsel dengan mendengarkan penjelasan dari sang ibu, kini baru mengetahui alasan perjodohan.
Ia yang masih mencari sesuatu dari benda pipih tersebut, kini mengangkat pandangan kala tidak mendapatkan sesuatu dari sana. "Kenapa aku merasa ada sesuatu hal penting yang kulupakan, Ma? Tapi apa, aku bahkan tidak tahu."
Lina kini menelan saliva dengan kasar karena khawatir putranya mengetahui ia telah berbohong. Namun, ia berusaha untuk berakting tidak menyembunyikan apapun.
Apalagi ia dan suami sama sekali tidak tahu wanita bernama Diandra yang belum pernah ditemuinya, tapi namanya sudah melekat di otaknya. "Tidak ada, Sayang karena kamu selama ini suka berganti-ganti pasangan, jadi menurut Mama tidak ada yang spesial dalam hidupmu."
To be continued...
__ADS_1