
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, kini mobil sport berwarna merah yang menjadi pusat perhatian di di mana-mana itu sudah berbelok ke arah perusahaan konsultan terbesar di Jakarta.
Bahkan beberapa staf perusahaan saat ini tidak berkedip menatap mobil mewah yang mereka ketahui adalah milik putra pemilik perusahaan yang selama ini menjadi idaman bagi para staf wanita.
Meskipun jarang-jarang melihat bos mereka memakai kendaraan mewah seperti itu, tentu saja tidak membuang kesempatan untuk melihat salah satu koleksi mobil mewah pemimpin perusahaan.
Diandra bahkan saat ini bisa melihat dari dalam mobil jika semua staf yang melintas, melihat ke arah mobil mewah yang saat ini ditumpangi. Ia melirik ke arah Yoshi yang sudah mematikan mesin mobil.
"Mereka semua melihat mobilmu dan pasti akan melihatku saat turun dari mobil mewah ini. Aku tidak ingin ada banyak gosip di kantor saat pertama kali bekerja. Bagaimana ini?"
Nasib baik mobil itu memakai kaca yang tidak tembus pandang, sehingga tidak ada yang bisa melihatnya berada di dalam mobil mewah pimpinan perusahaan.
Hingga ia melihat ke arah para staf wanita yang juga terlihat seperti menunggu Yoshi keluar dari dalam mobil. Seolah sengaja ingin mencuri perhatian. Ia sadar bahwa mungkin akan mematahkan banyak hati para wanita jika melihatnya berada di dalam mobil mewah itu.
Pastinya akan langsung mendapatkan musuh yang kebanyakan membencinya karena bisa dekat dengan Yoshi. Bahkan hanya dengan membayangkannya saja sudah membuatnya merasa pusing.
Apalagi harus mengalaminya secara langsung. Bahkan ia khawatir jika tiba-tiba ada yang menarik rambutnya dari belakang atau mungkin menjegal kakinya ketika berjalan.
Diandra bahkan bergidik ngeri saat membayangkan hal itu. Apalagi hari ini ia ingin makan siang di kantin perusahaan dan pastinya akan menjadi pusat perhatian karena turun dari mobil bos mereka.
Hingga ia merasa sangat lega begitu mengetahui ide yang muncul dari Yoshi saat menyerahkan kunci mobil padanya.
"Tenang saja. Jika kamu merasa tidak nyaman dilihat oleh para staf lain, keluar saja nanti. Jadi, bawa kunci ini dan tekan bagian ini!" Yoshi kini menunjuk ke arah remote control yang digunakan untuk mengunci mobil.
Diandra saat ini menatap ke arah remote yang berada di tangannya. Ia memang berpikir bahwa itu adalah sebuah ide yang bagus, tapi jujur saja saat berjalan sendiri memasuki perusahaan, sedikit membuatnya khawatir.
Ia merasa tidak percaya diri memasuki bangunan menjulang tinggi tersebut. Apalagi jika dipikir-pikir, ia selalu masuk melalui jalur koneksi dan bukan atas kemampuannya sendiri.
Seolah ijazahnya sama sekali tidak berguna, tapi wajahnya yang membuatnya bisa diterima dengan mudah.
Jika dulu Austin juga melakukannya karena merasa penasaran padanya, sedangkan Yoshi tertarik padanya atas sikapnya yang baik hati ketika menolong sepupu pria itu.
Meskipun itu semua tidak mungkin akan berlanjut jika ia memiliki wajah pas-pasan. Ia sebenarnya sadar memiliki wajah yang bisa dibilang cukup lumayan cantik.
Namun, ia yang menjadi kaum introvert memanglah tidak pernah bisa percaya diri serta jarang berinteraksi dengan orang lain. Bahkan dulu suka menghabiskan waktu seharian di kamar daripada pergi jalan bersama dengan teman-teman.
Bisa dibilang ia kuper dalam pergaulan karena tidak suka nongkrong seperti teman-temannya yang lain. Itu karena ia sadar diri, berasal dari keluarga sederhana yang tidak mungkin bisa berfoya-foya seperti beberapa teman-teman kuliah yang berasal dari keluarga berada.
__ADS_1
"Kenapa diam saja?" Yoshi saat ini mengerutkan kening karena merasa heran apa yang sedang dipikirkan oleh Diandra.
"Sebenarnya aku ingin masuk bersamamu karena jujur saja tidak percaya diri masuk sendiri ke perusahaan besar seperti ini. Pasti orang lain yang menatapku akan merasa aneh karena hanyalah seorang wanita biasa bisa bekerja menjadi sekretaris presiden direktur perusahaan konsultan."
Diandra kini mengembalikan barang yang ada dalam genggamannya. Kemudian mengungkapkan hal yang ada di pikirannya saat ini.
"Mungkin tunggu sebentar sampai mereka yang tadi melihat sudah masuk ke dalam perusahaan. Baru kita keluar. Biarkan para wanita di perusahaanmu kecewa karena tidak bisa melihatmu turun dari mobil."
Diandra bahkan merasa sangat jahat karena membuat beberapa wanita yang seolah melambatkan jalannya demi bisa melihat bos yang keluar dari mobil mewah seolah percuma.
Karena pria yang ditunggu-tunggu tidak kunjung keluar.
'Jahatnya aku,' gumam Diandra saat ini merasa sudah mengecewakan hati banyak wanita yang menyukai Yoshi.
"Baiklah. Itu tidak masalah." Yoshi kini memasukkan kunci mobil ke dalam tas kerja dan bisa melihat beberapa staff wanita yang curi-curi pandang ingin tahu ia sudah keluar atau belum.
Ia pun menunjuk ke arah beberapa staf wanita yang kini sudah masuk ke dalam lobi perusahaan dan menoleh ke arah Diandra karena mengingat tentang kejadian yang berada di apartemen.
"Jika aku melamar mereka semua, pasti akan langsung dijawab iya tanpa pikir panjang. Iya, kan? Tapi sayangnya aku tidak tertarik dan malah melamarmu, tapi langsung kena mental karena ditolak mentah-mentah tanpa pikir panjang."
Ia bahkan tidak bisa melupakan ekspresi wajah Diandra yang langsung menolaknya, sehingga tidak bisa tidur. Bahkan memikirkan penyebab ia ditolak. Apa kekurangannya yang membuat Diandra sama sekali tidak tertarik untuk mengiyakan lamarannya.
Karena baginya, ia berpikir bahwa alasan Diandra sangatlah klise ketika menolaknya. Hal yang selalu dikatakan oleh para wanita adalah belum siap. Padahal sudah ada orang yang berniat untuk serius dan tidak main-main.
Sementara, kebanyakan wanita malah serius dengan pria yang hanya main-main saja dan berakhir sakit hati dan trauma untuk menjalani hubungan, lalu akhirnya menyalahkan jika para pria mayoritas adalah seorang bajingan. Hingga pria yang baik terkena imbasnya juga.
"Aku jadi tersanjung karena merasa itu adalah sebuah pujian untukku karena menolak pria sehebat kamu. Aku sebenarnya dari tadi khawatir jika para wanita yang menyukaimu akan menarik rambutku dari belakang atau menjegal kakiku saat membawa makanan ketika pergi ke kantin."
Akhirnya Diandra mengungkapkan pemikirannya yang sempat terlintas ketika menatap beberapa staf wanita yang curi-curi pandang pada mobil mewah Yoshi.
Bahwa kekhawatiran yang dirasakan sangatlah berdasar. Hingga ia seketika diam tak berkutik ketika Yoshi bergerak mendekatinya dan mengunci posisinya hingga berakhir pada jarak beberapa senti saja.
Bahkan ia bisa mencium aroma mulut khas mint saat Yoshi berbicara dan mengarahkan tatapan tajam padanya. Hingga ia menelan saliva dengan kasar dan jantung berdetak tidak karuan saat berada pada posisi sangat intim seperti itu dengan Yoshi.
"Sepertinya kamu sama sekali tidak menyadari telah melukai perasaan seorang pria yang sangat tulus dan belum pernah dekat dengan wanita manapun!" sarkas Yoshi yang saat ini mengunci tatapan iris kecoklatan wanita di hadapannya.
Ia tadi sama sekali tidak bercanda dan mengungkapkan kenyataan mengenai apa yang dirasakan pada wanita itu.
__ADS_1
"Bahkan aku sampai tidak bisa tidur karena memikirkan kekuranganku. Apa yang kurang dariku? Kenapa aku sama sekali tidak membuatmu mengatakan iya saat sangat serius padamu." Yoshi sebenarnya tadi ini tahu alasan logis Diandra.
Bukan sebuah alasan klise yang sering dikatakan oleh para wanita. Hingga ia pun makin bertambah kesal karena ditertawakan dan dianggap sebuah lelucon saat benar-benar serius.
"Selain terlalu cepat, sebutkan alasan lain yang membuatku bisa menerimanya dengan logika," ucap Yoshi yang saat ini berharap bisa mendengar kejujuran dari Diandra yang terlihat sangat gugup berada pada posisi sangat intim dengannya.
Bahkan sebenarnya ia merasa senang melihat wajah memerah yang malah semakin cantik di matanya. Menunjukkan bahwa saat ini Diandra tengah merasa gugup saat berada sedekat itu dengannya.
Diandra merasa kesulitan bernapas jika terus-menerus ditatap iris tajam berkilat itu dan merasa kakinya tidak bisa digerakkan karena Yoshi yang saat ini mengungkungnya.
Sebelum membuka suara untuk menjawab, ia bahkan saat ini menelan ludah dengan kasar sebelum mengungkapkan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh pria yang terlihat sangat serius itu.
"Menyingkirlah dulu! Bagaimana bisa menjawab pada posisi seperti ini?" Diandra merasa kebingungan ketika melihat respon dari pria yang ada di hadapannya efek langsung menggelengkan kepala.
Karena merasa percuma menyuruh pria itu menyingkir darinya, akhirnya menjelaskan alasan ia menolak pria sebaik Yoshi.
"Menikah adalah menyatukan dua hati dan juga dua keluarga. Jika kamu adalah pria yang berasal dari keluarga sederhana sepertiku, aku pasti tanpa pikir panjang akan langsung mengiyakan lamaranmu."
"Apalagi kamu adalah seorang pria yang sangat baik dan menjadi idaman para wanita. Tapi, aku sadar diri dan tidak ingin sakit hati karena masalah kasta yang berbeda di antara kita. Orang tua mana yang rela putranya yang hebat menikah dengan wanita miskin?"
Diandra memang tidak ingin memberikan harapan palsu pada pria itu serta hatinya sendiri dan berharap semuanya berjalan seperti air mengalir. Berpikir jika jodoh tidak akan pernah ke mana.
"Jika memang kamu adalah jodohku, meskipun aku menolak, tetap akan bersatu. Tapi jika kamu bukan jodohku, meskipun mengejar sampai lelah, kita tidak akan pernah bersatu. Apa sekarang kamu puas dengan jawabanku?"
Diandra melihat diamnya Yoshi seolah tengah memikirkan jawabannya logis atau tidak.
Hingga ia seketika membulatkan mata ketika mendengar jawaban yang tidak pernah terpikirkan olehnya lolos dari bibir Yoshi.
Bahkan ia merasa apa yang baru saja didengarnya adalah sebuah kekonyolan dan menunjukkan sebuah kebodohan dari seorang pria hebat seperti Yoshi.
"Jika orang tuaku tidak memberikan restunya padamu, kita bisa kawin lari. Jika kamu bukan jodohku, maka perkosa aku saja karena aku hanya ingin melepaskan keperjakaanku padamu," ucap Yoshi yang saat ini menatap intens wajah cantik wanita yang hanya berjarak beberapa senti saja darinya.
Bahkan hanya bergerak sedikit saja, ia sudah bisa membungkam bibir sensual berwarna merah jambu yang seolah melambai untuk disesap dan dilumatnya.
Namun, ia tidak mungkin melakukan itu. Karena tidak ingin membuat Diandra ilfil padanya. Bahkan seolah mencari pembenaran diri dari jawaban yang baru saja diungkapkan pada Diandra karena hanya menginginkan wanita itu sebagai satu-satunya yang ingin dinikahi.
To be continued...
__ADS_1