Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Mengurungkan niat


__ADS_3

Beberapa saat lalu, Austin yang mendengar penolakan Diandra dengan alasan telah mencintai pria lain dan ditebaknya adalah Yoshi, benar-benar merasa sangat murka dan membuatnya berpikir bahwa ia tidak lagi bisa menahan diri lebih lama.


Bahkan wajahnya memerah kala dikuasai oleh kemurkaan, sehingga membuatnya tidak bisa menahan diri. Karena tidak ingin Diandra meneruskan perkataannya, sehingga membuatnya langsung mencium bibir sensual yang dari tadi sibuk mengumpatnya tersebut.


Begitu ia berhasil melakukannya, tentu saja sudah diduganya jika Diandra makin murka padanya dan mendapatkan pukulan bertubi-tubi di dadanya kala ia ******* habis bibir yang dibungkamnya.


Namun, Austin tidak perduli dan menahan dengan satu tangan karena tenaga Diandra dianggap tidaklah sebanding dengannya. Bahkan ia makin mengeratkan kuasa dengan menahan tengkuk belakang Diandra dan ******* bibir yang menjadi candunya.


Apalagi ia selalu mengingatkan pada momen paling penting untuknya ketika pertama kali bercinta. 'Sampai mati pun, aku tidak akan pernah membiarkanmu bersama dengan Yoshi?'


Hingga kemudian ia melepaskan ciuman ketika Diandra makin menolak dengan mencoba berbicara saat tadi diciumnya.

__ADS_1


"Berengsek! Bajingan! Kau memang benar-benar bukan manusia! Sudah kubilang jangan dekati aku! Kau selalu memaksa dan aku benar-benar sangat membencimu!" teriak Diandra yang dari tadi menahan amarah hingga terasa sampai saat ini kala tubuhnya memanas karena dikuasai angkara murka.


Diandra sebenarnya ingin sekali kembali mengumpat panjang lebar, tapi tidak bisa melakukannya kala mendapatkan tatapan tajam serta perkataan penuh emosi dari Austin.


Ia benar-benar sangat tertampar dengan umpatan pria yang terlihat sama murkanya dengan dirinya.


"Sayang, kamu harus tanamkan ini di otakmu mulai saat ini. Aku sama sekali tidak pernah memaksa atau pun memperkosamu, tapi kamu sendirilah yang menyerahkan diri padaku hanya demi uang!" Austin selama ini belum membahas mengenai hal-hal apa saja yang mereka lakukan.


"Bukankah kamu yang menelponku dan meminta sesuatu dariku? Lalu, apakah kamu berpikir yang salah adalah aku, sedangkan kamu tidak, begitu? Bahkan kamu datang ke apartemenku dan wajar jika setelah itu aku membantumu, ingin adanya timbal balik."


"Namun, setelah kamu mendapatkan uangnya, malah menganggapku adalah seorang pria bajingan yang sangat jahat di dunia ini. Sementara orang tuamu memuji aku adalah seorang pria yang baik," seru Austin yang ingin mendengar suara merdu Diandra karena telah kalah darinya."

__ADS_1


Austin masih terus menatap tajam Diandra demi mencoba untuk menyelami perasaan wanita itu. Namun, ia dari dulu paling suka melihat seorang wanita ke mana-mana sendiri tanpa ada yang jemput maupun pulang kerja.


Namun, tatapan Diandra tidak menghilangkan kemunafikan hakiki yang dianggapnya adalah sebuah cara untuk pembenaran diri.


"Ya, memang akulah yang duluan meminta tolong dan menjual diri padamu karena berpikir tidak mengenal orang lain. Asal kau tahu, aku sama sekali tidak memakai uangmu sepeser pun."


"Meskipun sudah menjual keperawananku padamu demi pengobatan ayahku, tapi aku paling tidak suka saat kau malah mengarang sebuah cerita palsu di hadapan orang tuaku." Diandra ingin semuanya berjalan lancar agar ia bisa kembali pada sosok pria yang sangat dicintai.


"Katakan pada orang tuaku bahwa kau mengurungkan niat untuk menikahiku!" sarkas Diandra yang saat ini tengah menahan kebencian luar biasa pada sosok pria yang baru saja menamparnya habis-habisan dengan kata-kata yang berhasil menembus jantungnya.


To be continued...

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2