
Setelah berbicara dengan Diandra yang sudah sadar, Austin menyuruh wanita itu agar banyak beristirahat.
Bahkan ia tidak melepaskan genggaman tangan, seolah tidak ingin terpisahkan setelah tiga tahun kehilangan memori dan wanita yang sangat dicintai.
Sebenarnya ada banyak hal yang ingin ditanyakan oleh Diandra mengenai hal-hal yang dilupakan, yaitu mengenai kecelakaan karena sama sekali tidak mengingat hal itu. Namun, karena nyeri pada kepala dan tadi sampai memanggil perawat dan langsung diberikan suntikan melalui selang infus.
Sementara Austin saat ini tengah mengamati sosok wanita yang sudah tidak sadarkan diri tersebut. "Aku masih belum bisa percaya bahwa kamu sekarang adalah milikku, Diandra. Meskipun aku selalu memakai cara yang tidak biasa untuk mendapatkanmu, tapi tidak pernah menyesal asal kamu bersamaku."
"Bahkan seolah takdir mempermainkan hidup kita karena kamu merasakan apa yang kurasakan ketika harus kehilangan memori. Aku berharap kamu bisa memaafkan semua perbuatanku setelah ingatanmu kembali."
Ia sangat menyesal karena seperti menikung Yoshi yang sedang koma. Namun, karena mengetahui bahwa yang melakukan pertama kali adalah ibu pria itu saat mengakhiri pernikahan yang bahkan baru sehari.
"Ini jauh lebih baik daripada kamu menjadi janda selamanya. Lagipula semua yang kulakukan adalah sebuah niat baik untuk memberikan perawatan terbaik agar kamu bisa berjalan lagi. Meskipun aku sangat berdosa karena sangat berharap kamu selamanya seperti ini dan tidak akan mengingat masa lalu kelam diantara kita."
Austin beberapa kali melabuhkan kecupan lembut di punggung tangan wanita yang masih memejamkan mata tersebut. Kemudian melihat mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kiri.
"Aku harus mencari orang untuk menjaga putraku ketika orang tua Diandra ke rumah sakit pagi ini. Mereka akan berpura-pura baru datang dari kampung demi mengimbangi amnesia disosiatif yang diderita oleh putri mereka."
Austin melepaskan genggaman tangan dan berdiri karena ingin menghubungi orang tua agar mengirimkan dua orang pelayan ke apartemen untuk menjaga putranya.
"Sebenarnya aku bisa mengajak Aksa tinggal di rumah keluargaku, tapi tidak mungkin melakukan saat orang tua Diandra tinggal di apartemenku. Mereka pasti akan merasa kehilangan cucu mereka."
Saat menunggu panggilan diangkat oleh sang ibu, Austin memaklumi bahwa ini memang jam tidur karena masih terlalu awal untuk menelpon.
Hingga beberapa saat kemudian merasa lega ketika mendengar suara serak dari sang ibu.
"Austin? Apa yang kamu inginkan, hingga menelpon di pagi buta seperti ini?" ucap sang ibu yang saat ini terlihat beberapa kali mengerjapkan mata saat baru terbangun ketika jam masih menunjukkan pukul tiga pagi.
"Ada hal penting yang ingin kukatakan dan butuh bantuan Mama." Kemudian ia mulai menceritakan semua hal yang berkaitan dengan Diandra dan juga darah dagingnya.
Hingga mendengar suara sang ibu yang sangat terkejut karena tidak pernah menyangka bahwa saat ini memiliki cucu.
__ADS_1
"Benarkah apa yang kamu katakan, Putraku? Jika begitu, lebih baik bawa saja cucuku ke sini, biar Mama yang mengurusnya." Ia benar-benar sangat syok dengan kenyataan yang baru saja didengar, tapi sekaligus merasa sangat bahagia karena calon pewaris keluarga selanjutnya telah berusia 2 tahun dan merupakan anak laki-laki.
"Tidak, Ma. Jika aku melakukan itu, orang tua Diandra akan merasa kehilangan. Bagaimana jika mereka berpikir bahwa aku merebut Aksa? Aku tidak ingin itu semua terjadi dan memilih untuk tetap mengajak putraku tinggal di apartemen karena aku menyuruh orang tua Diandra tinggal di sana."
Austin yang sangat berharap jika orang tuanya bisa memahami bagaimana posisi putranya saat ini dan tidak mungkin membawa ke rumah utama keluarga.
"Baiklah. Pagi ini, Mama akan menyuruh pelayan datang ke apartemenmu untuk menjaga cucuku. Mama akan berbicara dulu dengan papamu mengenai niatmu untuk menikahi Diandra setelah bercerai dengan Yoshi," ucapnya yang saat ini tidak bisa memaksakan kehendak meskipun Aksa merupakan cucu di keluarga Matteo.
Austin saat ini merasa lega dan berpikir bahwa tidak ada lagi yang bisa dipikirkan selain meminta bantuan dari orang tua.
Saat merasa beban yang dirasakan sedikit terangkat, ia kembali mendekati Diandra dan mendaratkan tubuh di atas ranjang perawatan tersebut. Kemudian mengarahkan tangan mengusap lembut wajah pucat Diandra.
Tadi sempat menatap ke arah kaki Diandra dan mengingat kejadian saat wanita itu merasa sangat syok atas kenyataan kaki yang cacat akibat kecelakaan.
"Aku akan mencari dokter terbaik untuk menyembuhkan kakimu. Semoga suatu saat nanti, kamu akan kembali bisa berjalan lagi seperti semula."
Tanpa berkedip, ia mengunci tatapan pada sosok wanita dengan beberapa alat yang menopang kehidupan tersebut. Berharap semua ini akan segera berlalu dan Diandra kembali berjalan lagi.
Hingga beberapa jam telah berlalu dan Austin terlihat beberapa kali mengubah posisi untuk memandang wajah Diandra karena dari dulu tidak pernah merasa bosan pada wanita dengan mata tertutup tersebut.
Saat pukul tujuh pagi, orang tua Diandra telah datang ke rumah sakit dan melihat keadaan putri mereka yang semalam belum sadarkan diri.
"Apa putri kami tidak mengeluh rasa sakit berlebihan? Aku tahu Jika ia baru saja mengalami operasi, jadi pastinya ada banyak dampak psikologis dan fisik yang dirasakan. Apa semuanya baik-baik saja?" tanya ayah Diandra yang kini sudah berjalan mendekati putri mereka.
Sementara Austin kini menjelaskan apa yang semalam dikatakan oleh dokter mengenai apa saja yang harus dilakukan untuk mendukung penyembuhan Diandra.
"Diandra adalah seorang wanita yang kuat, Ayah karena merasakan syok selama beberapa saat saja. Namun, sudah tenang setelah aku mengatakan niat baikku untuk bertanggung jawab menikahi dan membawanya berobat ke dokter terbaik demi kesembuhan kedua kakinya."
"Jadi, kalian nanti berpura-pura baru pertama kali melihat Diandra setelah berangkat dari kampung. Ingatannya terhenti saat pertama kali diterima menjadi pegawai di kantorku. Aku mengatakan telah menyuruh orang untuk menjemput kalian ke sini." Austin menjelaskan hal-hal yang berhubungan dengan kebohongan mereka.
Berpikir bahwa semua hal kecil akan menjadi sesuatu yang besar jika Diandra merasa ada sesuatu yang janggal dan itu tidak ingin itu terjadi saat proses pemulihan.
__ADS_1
Kini, suami istri tersebut mengerti dan menganggukkan kepala. "Terima kasih, Nak Austin. Jika tidak ada kamu, kami tidak tahu harus bagaimana. Oh ya, sebenarnya aku merasa tidak enak mengatakan ini padamu."
Austin mengerutkan kening karena tidak memahami apa yang baru saja dikatakan oleh pria paruh baya di hadapannya tersebut. "Katakan saja semuanya agar aku bisa mengerti, Ayah."
Ibu Diandra saat ini memilih untuk menggantikan tugas suami mengenai penjelasan tentang Aksa—cucu mereka.
"Sebenarnya Diandra dari dulu tidak mempercayai seseorang untuk merawat Aksa. Jadi, Rafa dirawat oleh orang tua angkat Diandra yang dulu menolong dengan memberikan tempat tinggal dan kebutuhannya. Sementara saat bekerja di perusahaan, yang menjaga Aksa adalah ibu angkatnya."
Seolah tengah menguraikan penjelasan singkat dari wanita paruh baya tersebut, bisa mengambil kesimpulan bahwa Diandra tidak ingin ada pelayan yang belum dikenal secara dekat untuk merawat putra mereka.
"Semenjak kejadian buruk yang menimpanya, Diandra susah mempercayai orang lain. Karena itulah menyuruh kami pindah ke kota agar merawat Aksa setelah menikah dengan Yoshi."
"Namun, kami tidak pernah berpikir jika ternyata berakhir seperti ini," ujarnya yang saat ini merasa lega setelah mengungkapkan semua dan berharap pria itu tidak salah paham dengan penjelasan mereka.
Austin tidak langsung menjawab karena tengah memikirkan keputusan. "Bagaimana jika yang merawat Aksa selama kalian di sini dari pagi hingga sore adalah ibuku? Sebenarnya tadi ibuku mengirimkan pesan akan langsung ke apartemen setelah ayahku berangkat dan pasti akan menjaga Aksa."
Tentu saja saat ini mereka merasa sangat lega karena bukan orang lain yang bersama cucu mereka, tetapi neneknya.
Austin yang hendak menjawab pertanyaan dari calon mertua, kini mendengarkan dan begitu mengambil dari saku celana, melihat kontak sang ayah dan langsung memesan makanan.
Tanpa membuang waktu, langsung berbicara pada sang ayah. "Iya, Pa."
"Austin, mamamu tadi sudah menceritakan semua pada Papa. Apakah kamu merasa yakin akan menikahi seorang wanita yang lumpuh? Kamu akan tersiksa saat merawat orang yang tidak bisa melakukan apapun."
Tentu saja saat ini Austin memilih untuk tidak menjawab di depan orang tua Diandra yang pasti akan merasa kecewa melihatnya bertengkar dengan sang ayah.
'Aku tidak ingin menambah beban orang tua Diandra begitu mendengar komentar papa.' Kemudian ia memberikan kode akan menerima telpon di luar karena beralasan dari teman kerja yang akan berbicara mengenai masalah perusahaan.
Tentu saja orang tua Diandra bukanlah anak kecil yang bisa dibohongi begitu saja. Apalagi mendengar sekilas bahwa ada suara seorang pria yang menyebut dengan putra.
'Sepertinya Diandra akan tetap menjadi janda selamanya dan tidak akan ada seorang pun yang mau menikah dengan putriku,' lirih sang ibu yang menatap dengan tatapan sedih.
__ADS_1
To be continued...