
Selama mengemudikan kendaraan, Yoshi sengaja diam tanpa membuka percakapan karena ingin membiarkan Diandra menata hati. Ia tahu jika saat ini, wanita yang duduk di sebelah kirinya tersebut sedang tidak baik-baik saja karena akibat perbuatan sosok wanita yang ternyata adalah mantan kekasih Austin Matteo.
Yoshi sebenarnya merasa penasaran ada hubungan apa Diandra dengan pria yang diketahuinya adalah putri dari pengusaha terkenal yang sering diceritakan oleh sang ayah.
Namun, tidak mungkin ia menanyakannya pada Diandra karena berpikir jika itu sangat tidak pantas saat baru mengenal dan belum terlalu akrab. Apalagi baru mengenal beberapa hari dengan Diandra.
'Diandra, aku ingin kamu merasa tenang saat di sisiku. Aku melihat bahwa kamu selalu takut saat berdekatan denganku. Apakah kamu pernah mendapatkan perbuatan kasar dari pria itu?'
Tentu saja Yoshi hanya bisa bertanya di dalam hati karena tidak berani membuat Diandra menyembuhkan rasa penasaran yang dirasakan. Hingga ia seketika menoleh pada sosok wanita yang saat ini bertanya padanya.
"Memangnya aku harus melakukan apa saat ikut bersamamu untuk menemui klien? Bukankah aku belum mempelajari apapun? Lalu, Kenapa kamu mengajakku untuk menemui mereka?" Diandra merasa khawatir jika ia akan mempermalukan Yoshi.
Jadi, berpikir untuk tidak ikut dengan Yoshi untuk menemui klien. Apalagi suasana hatinya saat ini sedang tidak baik karena keinginannya untuk melupakan Austin seolah sia-sia setelah mendapatkan sikap kasar dari mantan pria yang telah merenggut kesuciannya.
"Aku mengacaukan meeting yang kamu lakukan dengan rekan bisnismu," seru Diandra yang masih berusaha untuk menghentikan keinginan Yoshi untuk mengajaknya.
Sementara itu di sisi lain, Yoshi sama sekali tidak setuju dengan pemikiran Diandra dan ingin membuat wanita itu mengerti apa maksudnya mengajak untuk menemui salah satu klien.
"Justru itu salah karena aku ingin kamu mempelajari situasi dan juga apa yang kami bahas agar bisa mengerti seperti apa pekerjaan yang akan dilakukan untuk menjadi seorang sekretarisku."
"Meskipun semalam aku sudah memberitahumu tentang poin-poin penting yang harus dilakukan, tapi anggap hari ini adalah cara yang ampuh dengan melihat secara langsung. Bagaimana? Aku tidak salah, kan?"
Tentu saja Diandra membenarkan perkataan dari pria dibalik kemudi tersebut yang memang masuk akal dan membuatnya berpikir untuk bisa belajar agar tidak mengecewakan.
"Benar juga," lirih Diandra yang merasa tertampar dengan perkataan dari Yoshi dan kali ini berniat untuk mengikuti apapun perintah dari pria yang diketahuinya sangat baik tersebut.
"Baiklah kalau begitu. Aku makan mempelajari semuanya mulai hari ini agar bisa menjadi sekretaris pribadi yang tidak mempermalukanmu. Jadi, aku harus melakukan apa saat nanti bertemu dengan klienmu?"
__ADS_1
Yoshi yang saat ini menggelengkan kepala karena tidak ingin membuat Diandra merasa tertekan dengan perkataannya.
"Kamu lihat saja dan tidak perlu berbuat apapun." Yoshi membelokkan kendaraan karena sudah tiba di area restoran yang menjadi tempat untuk bertemu dengan kliennya.
Meski sebenarnya merasa sangat heran karena tidak harus melakukan apapun hari ini, Diandra kini menganggukkan kepala. "Baiklah. Aku akan patuh padamu, Bos."
Diandra melepaskan sabuk pengaman begitu mobil sudah diparkirkan ke tempat yang tersedia dan melihat Yoshi melakukan hal yang sama. Ia berniat untuk membuka pintu mobil, tapi dihentikan oleh Yoshi.
"Sebentar, aku akan menghubungi klien untuk bertanya apakah sudah tiba di restoran. Jadi, Kamu tidak akan menunggu lama di restoran," ucap Yoshi yang bisa mengerti bahwa Diandra lebih suka berada dalam kesunyian.
Ia bisa memahami bahwa wanita di sebelahnya itu lebih suka mengurung diri agar tidak berinteraksi dengan para lelaki. Jadi, ia berniat untuk membuat Diandra merasa aman dan tidak ketakutan jika sampai berdekatan dengan laki-laki.
Yoshi memilih keluar dari mobil untuk menghubungi klien setelah Diandra menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan.
Sementara Diandra hanya diam saja di dalam mobil dan saat ini menatap ke arah restoran mewah yang sudah bisa ditebaknya jika harga makanan di sana sangat mahal dan akan menguras kantongnya seandainya pergi ke sana sendirian.
Diandra bisa melihat beberapa pria yang memakai jas masuk ke dalam restoran dan mengingat seseorang hingga membuatnya merasa khawatir. "Semoga aku tidak bertemu dengan pria berengsek itu di sini."
"Tidak boleh! Jakarta sangat luas dan tidak mungkin aku bisa bertemu di salah satu restoran." Diandra berusaha untuk mencoba berpikir positif dan menenangkan perasaannya yang kacau karena dikuasai oleh kekhawatiran serta ketakutan.
Meskipun saat ini sibuk menggenggam erat telapak tangannya agar bisa merasa lebih tenang. Hingga ia pun merasa sangat terkejut ketika mendengar pintu yang dibuka dan membuatnya seketika menoleh pada sosok pria yang ada di sebelah kanannya.
"Klienku sebentar lagi tiba karena sudah dalam perjalanan menuju ke restoran. Lebih baik kita masuk dan menunggu di dalam karena di sini sangat panas. Kamu nanti bisa gerah," ucap Yoshi yang tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Diandra dan mengerutkan kening saat melihat keanehan.
"Kamu kenapa? Apa kamu sakit? Kenapa sekarang terlihat sangat pucat?"
"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa gugup karena akan bertemu dengan klienmu. Seperti yang katakan tadi bahwa aku khawatir akan mempermalukanmu di depan mereka. Jadi, lebih baik aku nanti diam saja seperti yang kamu katakan."
__ADS_1
Sebenarnya Diandra merasa bahwa Yoshi membuatnya merasa selalu tidak enak karena selalu bisa membaca apa yang dirasakan.
Ia bahkan merasa sangat nyaman saat bersama dengan pria itu yang dianggap sangat sopan dan tidak pernah berbuat tidak senonoh padanya dengan mencari kesempatan seperti memegang tangannya.
'Apa dia mempunyai indra keenam yang bisa membaca perasaan seseorang? Hingga saat aku merasa tidak kacau, ia selalu bisa membacanya,' gumam Diandra yang saat ini turun dari mobil dan menunggu hingga Yoshi berjalan terlebih dahulu menuju ke arah pintu utama restoran mewah tersebut.
Yoshi sebenarnya ingin memastikan keadaan Diandra dengan menyentuh kening wanita itu apakah demam atau tidak. Namun, tidak berani melakukannya karena berpikir akan dianggap seperti pria yang tidak sopan.
Akhirnya ia memilih untuk mempercayai semua perkataan Diandra dan mengajak wanita itu untuk masuk ke dalam restoran karena sinar matahari sudah menampakkan diri dan menghangatkan kulit mereka.
Ia bersyukur karena melakukan meeting di private room dan Diandra bisa lebih tenang serta nyaman karena tidak harus melihat banyak orang.
"Oh ya, kamu suka makan apa? Nanti aku akan mengatakan pada waiters untuk menyiapkannya. Sebenarnya aku sudah tahu makanan kesukaan klienku, jadi sekarang bertanya padamu."
"Aku suka apapun yang disajikan, jadi tidak perlu bertanya padaku karena hanyalah seorang sekretaris dan Andalah bosnya. Jangan membuatku merasa tidak enak dengan sikap berlebihan yang Anda tunjukkan."
Diandra memilih untuk berbicara formal karena menganggap bahwa ini sudah masuk jam kerja saat berada di restoran. Bahkan ia tidak memperdulikan tatapan keheranan dari Yoshi.
"Saat jam kerja, jangan bersikap seperti biasa karena antara kita adalah bos dan pegawai. Saya tidak ingin membuat klien Anda salah sangka."
"Salah sangka? Maksudnya?" Yoshi benar-benar tidak nyaman saat Diandra berbicara dengan formal saat hanya berdua. Bahkan ia tidak mengerti apa yang dimaksudkan.
"Jika Anda berbicara non formal padaku di depan klien, takutnya nanti malah mengira bahwa kita mempunyai hubungan lebih dari pegawai dan bos. Jangan sampai ada gosip yang beredar di kalangan rekan bisnis Anda. Saya hanya ingin menjaga hal buruk tidak terjadi."
Saat Diandra baru saja menutup mulut, ia mendengar suara bariton dari seorang pria setelah masuk ke dalam restoran.
To be continued...
__ADS_1