Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Ingin bicara


__ADS_3

Beberapa jam yang lalu...


Sosok pria yang baru saja turun dari mobil, seketika berlari menuju ke arah IGD. Pria yang tidak lain adalah Yoshi, saat ini berjalan cepat untuk segera bertemu dengan sang ayah yang tadi dikabarkan ibunya tengah berada di IGD.


Begitu tiba di depan ruangan IGD, Yoshi segera masuk dan berjalan untuk mencari sang ibu dan juga ayahnya. Begitu melihat yang saat ini duduk di kursi sebelah pembaringan sang ayah yang telah dipenuhi oleh beberapa alat penunjang di tubuhnya, saya membuka suara.


"Ma?" Berjalan mendekati sosok wanita yang sangat disayanginya tersebut. "Bagaimana keadaan papa sekarang?"


Wanita bernama Asmita Cempaka berusia 50 tahun tersebut segera bangkit dari kursi dan menghampiri putranya serta langsung menghambur memeluknya.


"Sayang, Papamu," lirihnya dengan suara serak karena menahan tangis dan beberapa saat kemudian gulir air mata lolos tanpa seizinnya.


Bahkan saat ini ia merasa jika tidak bisa lagi menahan gejolak perasaan yang dari tadi ditahan agar tidak menangis di depan sang suami yang masih tidak sadarkan diri.


"Papamu saat ini masih diperiksa secara intensif untuk segera dilakukan operasi. Namun, baru saja dokter yang memeriksa mengatakan jika akan beresiko jika melakukan operasi sekarang." Asmita akan berbicara dengan suara terbata-bata pada putranya.


"Jadi, kita harus menunggu sampai besok dan berharap tekanan darah papamu yang sangat tinggi turun. Semoga besok turun dan bisa dilakukan operasi setelah dilakukan pemeriksaan menyeluruh." Ia pun bisa merasakan ucapan lembut dari putranya yang menyalurkan energi positif untuknya.


Sementara itu, Yoshi saat ini tidak mengalihkan perhatiannya dari sang ayah yang memakai selang oksigen meskipun ia tengah memeluk erat sang ibu dan memberikan sebuah ketenangan agar tidak dipenuhi oleh kekhawatiran.


"Semoga besok papa segera bisa dioperasi, Ma. Jadi, hasilnya belum keluar?" tanya Yoshi yang saat ini merasa sangat penasaran dengan hasil pemeriksaan menyeluruh dari penyakit sang ayah.


Asmita saat ini melepaskan pelukannya dan membersihkan bulir air mata yang memenuhi wajahnya. "Belum. Mungkin sebentar lagi, Sayang."

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang membuat Papa terkena serangan jantung secara tiba-tiba? Kenapa semua terjadi secara mendadak? Bukankah tadi pagi Papa baik-baik saja dan terlihat sangat sehat?" Yoshi saat ini berjalan mendekati ranjang sang ayah dan mengusap lembut punggung tangan yang sudah dipenuhi oleh kerutan tersebut.


Sementara itu, sang ibu yang baru saja selesai membersihkan wajahnya dari bulir air mata, saat ini mulai menjelaskan apa yang terjadi setengah jam lalu di rumah.


"Papamu tadi baru saja menerima telpon dari temannya yang mengabarkan bahwa putranya akan menikah. Bahkan papamu sangat bersemangat dan berniat untuk datang lusa di acara pernikahan itu."


"Kemudian papamu berbincang dengan mama mengenai dirimu yang sampai sekarang belum menikah. Kami tadi sempat membicarakan mengenai keinginan untuk segera menimang cucu, tapi tidak mungkin terjadi jika kamu belum kunjung menikah."


Asmita Cempaka bisa melihat raut wajah putranya yang dipenuhi oleh rasa bersalah, sehingga membuatnya mengusap lengan kekar Yoshi agar tidak menyalahkan diri sendiri.


Sebenarnya Yoshi ingin segera menanggapi cerita dari sang ibu untuk menceritakan mengenai keinginannya untuk menikahi Diandra.


Bahwa ia akan memenuhi keinginan dari orang tuanya untuk menimang cucu, tapi tidak jadi mengatakannya dan membulatkan mata begitu sang Ibu melanjutkan cerita.


"Jadi, rencananya hari ini papamu berniat untuk mengungkapkan semuanya saat kamu pulang dari kantor. Tapi kamu tidak pulang-pulang juga dan tiba-tiba papamu terkena serangan jantung saat baru selesai makan malam."


Asmita Cempaka kini mengakhiri ceritanya dan berharap putranya mau memenuhi keinginan sang suami untuk tidak menolak perjodohan dengan rekan bisnis.


Apalagi sudah ada persetujuan dari pihak wanita yang membuatnya merasa lega karena mau menerima putranya meskipun belum bertemu. Namun, ia tidak mengungkapkan pada putranya karena saat ini fokus pada pengobatan sang suami.


Yoshi yang saat ini menelan saliva dengan kasar karena merasa bingung harus menanggapi seperti apa ketika ia sama sekali tidak menyangka akan dijodohkan tanpa sepengetahuannya.


Apalagi ia sudah berjanji pada Diandra untuk menikahinya karena sangat mencintai wanita itu. 'Ya Allah, apa yang harus kulakukan sekarang? Kenapa semuanya jadi seperti ini?'

__ADS_1


'Kenapa saat aku berniat untuk serius pada satu wanita karena jatuh cinta padanya dan ingin membina biduk rumah tangga, tapi malah kacau seperti ini? Apakah aku harus mengatakan pada mama mengenai Diandra yang ingin kunikahi?'


Yoshi saat ini masih merasa ragu dengan apa yang ingin disampaikan pada sang ibu, sehingga berpikir untuk menunggu hingga pria paruh baya yang masih menutup rapat kedua matanya tersebut sadar.


"Semoga papa segera sadar dan bisa segera dilakukan operasi." Yoshi tidak ingin menanggapi mengenai masalah perjodohan karena jujur saja ia sama sekali tidak tertarik untuk menikah dengan wanita selain Diandra yang sangat dicintai.


'Aku akan mengatakan pada orang tuaku mengenai Diandra dan akan memenuhi keinginan mereka untuk bisa memberikan cucu setelah menikah dengan wanita yang kucintai,' lirih Yoshi yang saat ini mulai berdoa untuk kesembuhan sang ayah.


Ia berharap jika pria paruh baya yang sangat disayanginya tersebut segera sadar dan bisa dilakukan operasi. Hingga ia merasakan sebuah pergerakan dari telapak tangan yang dari tadi digenggam erat olehnya.


"Papa?" seru Yoshi yang saat ini merasa lega begitu merasakan pergerakan tangan sang ayah serta kelopak mata yang mulai perlahan terbuka.


"Biar Mama panggil dokter dulu," sahut Asmita Cempaka yang langsung berjalan cepat menuju ke arah meja dokter di sebelah ruangan.


Sementara itu, Yoshi saat ini merasa sangat khawatir akan terjadi sesuatu hal yang buruk pada sang ayah, kini menggelengkan kepala agar pria paruh baya tersebut tidak berbicara.


"Yoshi," lirih Patrick Narendra setelah membuka mata.


"Papa tidak perlu banyak berbicara. Istirahat saja. Dokter sebentar lagi akan datang untuk memeriksa," sahut Yoshi yang saat ini sudah sibuk mengusap lembut punggung tangan sang ayah.


Sementara itu, pria paruh baya yang melepas selang oksigen dari mulutnya agar bisa berbicara dengan leluasa, kini membuka suara meskipun mendapatkan nada protes dari putranya yang melarang untuk berbuat sesuka hati.


"Papa ingin bicara padamu."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2