Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Harapan dan doa


__ADS_3

Diandra yang tadi melihat sang suami keluar dari ruangannya, menoleh ke arah nakas dan di sana terlihat ponsel milik pria yang tengah menjemput sang dokter. Ia yang saat ini berhasil menenangkan putranya, kini beranjak dari ranjang dan turun untuk mengambil ponsel.


Tentu saja karena ia ingin mencari tahu tentang hal yang tidak diketahuinya dari ponsel sang suami yang selama ini tidak pernah ia cek karena percaya sepenuhnya semenjak pria itu membuktikan akan selalu setia padanya meskipun hanyalah seorang wanita cacat.


Bahkan ia yang tidak ingin ketahuan, segera bergerak mengunci pintu agar sang suami serta dokter tidak bisa masuk. Kemudian ia berjalan menuju ke ruang ganti karena ingin mengganti pakaian yang dikenakannya demi alasan mengunci pintu dan tidak dicurigai oleh sang suami.


Bahkan ia saat ini sudah mengecek ponsel yang ada di tangannya mengenai beberapa pesan dan juga panggilan. Namun, tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan dan membuatnya merasa kecewa.


"Sepertinya dia menghapus apapun yang sekiranya berhubungan dengan Yoshi." Kemudian ia mencari kontak Yoshi, tapi tidak menemukannya dan merasa aneh.


"Tidak ada nomor Yoshi. Pasti ada sesuatu yang disembunyikannya dariku mengenai Yoshi." Kemudian ia kembali fokus memeriksa satu persatu nomor yang ada di daftar kontak sang suami.


Berpikir ada nomor lain yang berhubungan dengan Yoshi dan ia seketika menemukan kontak dari ibu Yoshi dan langsung menghafalkan karena tadi lupa tidak membawa ponsel miliknya.


Kemudian ia buru-buru mengganti pakaian agar tidak ketahuan jika sampai tiba-tiba pintu digedor dari luar oleh sang suami yang datang bersama dengan dokter yang akan memeriksanya serta putranya.


Benar saja, baru saja ia selesai mengganti pakaian, mendengar suara pintu yang diketuk dari luar karena tidak bisa masuk. Bahkan mendengar suara dari Austin yang memanggil-manggil namanya dan seolah khawatir terjadi sesuatu padanya karena mengunci pintu.


"Cepat ia kembali," lirih Diandra yang saat ini buru-buru berjalan keluar dari ruangan ganti dan menaruh ponsel milik sang suami di tempat semula.


Ia bahkan masih sesekali menghafalkan nomor dari ibu Yoshi agar nanti bisa disimpan di ponselnya dan menghubungi untuk bertanya mengenai keadaan dari pria yang dulu menikahinya dan mengalami kecelakaan.


"Sayang, buka pintunya! Apa yang kamu lakukan di dalam? Kenapa mengunci pintunya?" Austin yang saat ini baru saja mengajak sang dokter untuk masuk ke dalam ruangan kamar, merasa heran karena tidak bisa membuka pintu yang dikunci dari dalam.


Ia jangan khawatir jika sang istri melakukan hal-hal buruk di dalam kamar karena tadi sempat melihat kecelakaan tepat di depan mata. Bahkan tadi sudah menceritakan hal itu pada sang dokter untuk meminta pendapat. Jadi, cukup lama ia berbicara di ruang tamu karena tidak ingin didengar oleh sang istri.


Namun, tidak bisa memastikan jika tidak memeriksa secara intensif dan juga menanyakan pada pasien secara langsung. Jadi, akan berbicara terlebih dahulu pada pasien untuk mencari tahu.


Kini, bunyi kunci pintu yang diputar dilihat oleh Austin dan beberapa saat kemudian pintu terbuka. Saat ini, Austin bisa melihat sang istri yang berdiri di hadapannya dan tersenyum simpul.


"Sayang."


"Maaf, aku tadi mengunci pintu karena berganti pakaian," sahut Diandra yang saat ini menatap ke arah sang suami dan beralih pada dokter, langsung membungkuk hormat untuk menyapa. "Selamat siang, Dokter."


"Siang, Nyonya Diandra. Apa yang Anda sekarang rasakan? Tadi tuan Austin sudah menceritakan semuanya pada saya. Jadi, ingin memastikan setelah mendengar Anda bercerita tentang apa yang dirasakan ketika sebelum pingsan." Sang dokter kini melangkah masuk setelah dipersilahkan oleh wanita yang memakai dress selutut itu.


Sementara itu, Austin yang merasa lega karena tidak terjadi sesuatu hal yang buruk pada sang istri karena hanya mengganti pakaian, sehingga kini memeluknya dengan erat. "Aku jangan khawatir karena tiba-tiba kamu mengunci pintu, Sayang."


"Syukurlah ternyata kamu hanya ingin mengganti pakaian saja. Aksa juga diam di atas ranjang sambil bermain ponsel." Kemudian lepaskan pelukan dan berjalan menuju ke arah putranya.


Diandra yang sebenarnya merasa tidak nyaman dengan pelukan erat sang suami sehingga membuat tubuhnya meremang, merasa sangat lega begitu kuasa pria itu lepas darinya. "Aku sudah katakan jika tidak apa-apa pada suamiku, Dokter. Tapi dia sangat berlebihan mengkhawatirkanku."


"Mungkin karena tadi efek telat makan, tadi aku tiba-tiba pingsan karena sangat lemas seperti tidak punya tenaga dan tiba-tiba pandangan gelap. Setelah itu, Aku tidak tahu apapun karena kehilangan kesadaran," ucap Diandra yang saat ini menatap ke arah sang dokter agar tidak mencurigainya tengah berbohong.

__ADS_1


Sementara itu, sang dokter saat ini menganggukkan kepala dan membuka tas miliknya yang tadi ditaruh di atas meja. "Kalau begitu, biar saya periksa dulu, Nyonya. Jika Anda masih merasa lemas, lebih baik jangan berjalan-jalan dan lebih baik beristirahat."


Diandra yang saat ini mematuhi perintah dokter dan tidak membantah seperti yang dilakukan tadi pada sang suami agar tidak mencurigainya jika baik-baik saja. Ia pun kini sudah naik ke atas ranjang dan membiarkan dokter untuk memeriksanya.


Ia bahkan saat ini merasakan degup jantung tidak beraturan karena kekhawatiran jika sampai ketahuan tidak mengalami masalah apapun pada tubuhnya.


'Semoga dokter tidak mengetahui kebohonganku. Apa yang harus kulakukan jika sampai ketahuan olehnya dan disampaikan pada Austin?' gumam Diandra yang saat ini masih mengingat tentang nomor yang tadi disimpan di dalam memori otaknya.


Sampai pada akhirnya ia pun sangat hafal dengan nomor yang menurutnya adalah nomor luar negeri. Berpikir jika ibu dari Yoshi tengah berada di luar negeri dan kemungkinan jika pria itu juga berada di sana.


Saat ini hanya itu yang terpikirkan oleh Diandra saat ini. Jadi, ia berniat untuk menelpon esok hari ketika sang suami berada di kantor. Kini, ia mendengar suara bariton dari pria yang berada di sebelah kirinya.


"Bagaimana, Dokter? Apa yang terjadi pada istriku? Istriku baik-baik saja, kan?" tanya Austin yang merasa sangat khawatir melihat Diandra dari tadi terdiam seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Sudah kubilang jika aku tidak apa-apa. Tadi aku makan terlalu sedikit, Jadi sepertinya karena itu berakhir pingsan." Diandra masih mencoba untuk menguraikan kekhawatiran dari Austin dan berharap didukung oleh sang dokter yang baru saja memeriksanya.


Ia saat ini tengah menatap ke arah sang dokter. "Benar apa yang kubilang, kan Dokter?" Saat ini, Diandra tengah menyembunyikan kegugupannya saat menunggu penjelasan dari pria paruh baya di hadapannya tersebut.


Sampai pada akhirnya ia pun mendengar sang dokter membuka suara dan berbicara sambil menatap ke arahnya serta beralih pada sang suami.


"Nyonya sepertinya terlalu banyak pikiran, sehingga berakibat pada lambung yang akhirnya berakhir pingsan. Apa ada yang mengganggu pikiran Anda akhir-akhir ini, Nyonya Diandra?" tanya sang dokter saat ini tengah meresepkan obat agar segera ditebus.


Sambil menunggu jawaban dari wanita yang dianggap memiliki level stres cukup tinggi, sehingga berakhir menyerang pada lambung dan bermasalah cukup serius.


Saat Diandra berpikir tidak bisa berbohong setelah sang dokter menjelaskan jika ia tengah banyak pikiran, sehingga saat ini memilih untuk memutar ide agar bisa beralasan yang tepat.


Ia pun kini menggelengkan kepala secara perlahan agar suami tidak terlalu mengkhawatirkannya. "Sebenarnya aku hanya berpikir tentang anak."


"Anak?" Austin saat ini mengerutkan kening karena tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh sang istri. "Memangnya kenapa memikirkan anak? Jelaskan padaku."


Austin kini beralih menatap ke arah dokter yang baru saja memberikan resep obat. "Sekalian tolong periksa keadaan putraku, Dokter. Lukanya tidak berbahaya untuk pertumbuhan kembangnya, kan?"


Sang dokter saat ini menganggukkan kepala dan langsung memeriksa balita yang bermain ponsel itu.


Sementara Austin kembali fokus pada sang istri agar menjelaskan apa yang tadi dikatakan. "Cepat jelaskan padaku apa maksudmu, Sayang."


Diandra saat ini hanya menggelengkan kepala karena tidak ingin didengar oleh sang dokter mengenai pembicaraan tentang masalah privasi. "Nanti aku akan menjelaskannya padamu."


Kemudian memberikan kode dengan mata yang saat ini menatap ke arah sang dokter yang fokus memeriksa keadaan putranya.


Austin yang sebenarnya merasa sangat tidak puas dengan apa yang dikatakan oleh sang istri karena menganggap jika dokter tidak akan membuka pembicaraan mereka di depan publik. Namun, berpikir bahwa mungkin sang istri merasa malu mengenai pembicaraan tentang anak, sehingga memilih untuk menurutinya.


Akhirnya ia menganggukkan kepala sebagai persetujuan dan kini fokus menatap ke arah putranya yang tengah diperiksa.

__ADS_1


"Lukanya tidak terlalu dalam dan bisa segera sembuh jika sering mengoleskan salep di area yang luka. Bukankah sudah ada obat luar dan dalam untuk putramu?" Sang dokter saat ini menatap ke arah nakas karena di sana ada obat dan salep. Jadi, berpikir untuk tidak memberikan resep lagi karena merasa jika itu sudah cukup.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Austin yang saat ini merasa lega karena sudah mendengar penjelasan sendiri dari sang dokter dan membenarkan perkataan pria itu dengan menunjuk ke arah nakas. "Jadi, obat itu saja sudah cukup, Dokter?"


Sang dokter saat ini menganggukkan kepala ketika menatap ke arah obat di atas nakas tersebut. "Itu sudah lebih dari cukup karena juga merupakan resep dari dokter. Sebaiknya segera tebus obat untuk istrimu. Aku akan kembali ke rumah."


Diandra sebenarnya berniat untuk bangkit berdiri dan mengantarkan sang dokter ke depan, tapi tubuhnya ditahan oleh sang suami dan menatapnya tajam.


"Ingat pesan dari dokter jika kamu harus banyak beristirahat dan tidak boleh berjalan-jalan seperti tadi, oke! Biar aku yang mengambilkan makanan untukmu. Jadi, kamu harus diam di sini sambil menjaga putra kita." Kemudian Austin saat ini berbalik badan tanpa menunggu tanggapan dari sang istri yang akhirnya patuh padanya dengan tidak turun dari ranjang.


Ia mengikuti sang dokter yang keluar dari ruangan kamarnya dan ingin menanyakan beberapa hal mengenai pemeriksaan sang istri.


Sementara itu, Diandra yang saat ini tengah menatap siluet belakang pria yang baru saja menghilang di balik pintu tersebut, merasakan debaran jantung tidak beraturan dan bola matanya berkaca-kaca.


Perhatian dan cinta yang ditunjukkan oleh Austin Matteo itu seolah membuatnya merasa bimbang akan perasaannya. Antara membenci dan mencintai, kini seolah bertarung di dalam pikirannya dan membuatnya kebingungan untuk memutuskan apa yang harus dilakukan.


'Jika aku mengingat perbuatannya di masa lalu, hanya ada kebencian yang tersisa. Namun, saat aku memikirkan semua sikap yang ditunjukkan padaku selama satu tahun terakhir ini, benar-benar membuat perasaanku lemah seperti ini,' gumam Diandra yang saat ini menoleh ke arah putranya.


Ia tahu jika selama ini putranya mendapatkan kasih sayang penuh dari Austin. Bahkan figur seorang ayah yang tidak pernah didapatkan oleh putranya, ini bisa dirasakan dan selalu berhasil membuat Aksa terlihat bahagia karena hidup dalam keluarga yang lengkap.


'Apa yang harus kulakukan? Apakah aku terlalu kejam jika memisahkan putraku dengan papanya karena kebencianku padanya? Ataukah aku harus selamanya berpura-pura tidak mengingat tentang masa lalu kelam di antara kami?' gumam Diandra yang saat ini memilih untuk memeluk putranya.


'Sayang, apa yang harus Mama lakukan sekarang?' gumam Diandra yang saat ini masih terdiam menatap ke arah putranya yang sudah tidak menangis lagi karena rasa sakit pada bagian belakang tubuhnya. Apalagi sudah fokus pada YouTube yang ditonton.


Ia yang saat ini mengingat sesuatu, segera bergerak mengambil ponsel miliknya di dalam tas yang ada di atas meja. Tentu saja untuk mengambil ponsel miliknya dan menyimpan nomor milik ibu dari pria yang pernah menikahinya dan berakhir kecelakaan di hari menikah.


Jika Diandra sibuk memikirkan apa yang harus dilakukannya setelah mengingat tentang masa lalu kelam dengan seorang Austin Matteo yang bahkan saat ini sudah berstatus sebagai suaminya yang sah, sementara itu di depan rumah terlihat dua pria yang tengah berbicara serius.


Austin yang merasa sangat khawatir karena sang istri memikirkan sesuatu sampai berakhir pingsan, ini menatap ke arah sang dokter untuk meminta penjelasan lebih detail. "Apakah akan sangat berdampak buruk pada kesehatan istriku jika terlalu banyak memikirkan sesuatu hal yang mengganggu di pikirannya?"


Sang dokter yang saat ini tengah menenteng tas miliknya, langsung menganggukkan kepala. "Iya. Pasien yang pernah mengalami gangguan pada kepala karena efek kecelakaan, tidak boleh terlalu memeras otaknya. Jadi, kalau bisa, selalu buat istrimu merasa senang dan bahagia tanpa menimbulkan kekhawatiran ataupun kesedihan."


Austin yang selama ini sudah berusaha untuk mencurahkan cinta kasih maksimal pada sang istri dan tidak membuat wanita yang sangat dicintainya itu bersedih walau hanya sedikitpun, kini mengerti dan berniat untuk lebih memperhatikan hal itu.


"Baiklah, Dokter. Aku akan lebih memperhatikan dan mencurahkan perhatian padanya agar tidak berpikir macam-macam. Sepertinya ini semua karena keinginanku untuk memiliki anak lagi dan membuatnya takut karena berpikir belum pernah hamil dan memiliki anak," ucap Austin yang saat ini sudah berjalan mengekor menuju ke arah mobil sang dokter.


Sang dokter yang selama ini mengerti bagaimana perjuangan dari seorang Austin Matteo, kini menepuk bahu kokoh pria itu.


"Aku sangat tahu jika kamu selama ini sudah mencurahkan cintamu sepenuhnya pada istrimu. Diandra adalah seorang wanita paling beruntung di dunia ini karena mendapatkan seorang suami yang sangat mencintainya dengan tulus."


"Semoga cinta kalian kekal dan hanya maut yang bisa memisahkan. Aku pergi dulu." Tersenyum dan masuk ke dalam mobil setelah melihat Austin menganggukkan kepala.


"Terima kasih, Dokter." Austin yang sebelumnya sudah mengaminkan doa dari sang dokter, merasa senang karena bisa mendengar harapan serta doa baik dari pria paruh baya tersebut yang kini sudah mengemudikan mobil meninggalkan rumah keluarganya.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2