
Refleks Diandra menggelengkan kepala karena ia tidak ingin berhubungan ataupun bertemu dengan pria yang telah membuatnya tidak punya harga diri. Jika boleh, ia berharap tidak akan pernah bertemu dengan Austin selamanya.
Meskipun tinggal di kota yang sama, Diandra bahkan terus berdoa agar tidak akan pernah melihat wajah dari pria yang sangat dibenci. Meskipun doanya hari ini tidak dikabulkan oleh Tuhan karena di luar sana ada Austin yang tengah menemui teman Yoshi.
Sebuah kebetulan yang sangat mengenaskan dirasakan oleh Diandra saat ini dan tidak habis pikir bagaimana bisa teman yang selama ini tidak ditemui oleh Yoshi, ternyata memiliki janji dengan Austin.
Sebenarnya Diandra merasa sangat frustasi mendengar hal itu, tapi ia masih berusaha untuk berpikir positif bahwa selama tidak keluar dari private room itu, tetap akan aman.
Apalagi ada sosok pria sebaik malaikat yang duduk di sebelahnya dan pasti akan mau menolongnya jika sampai Austin berbuat macam-macam padanya seperti memaksa untuk ikut pergi.
"Jangan lakukan apapun karena aku tidak ingin bertemu dengan pria arogan itu lagi. Cukup tidak melihatnya saja membuatku tenang. Sebenarnya aku ingin sekali pergi dari Jakarta dan berniat untuk kembali ke kampung, tapi tidak bisa melakukannya ketika orang tuaku membutuhkan biaya."
Diandra kemudian menceritakan tentang utang-utang keluarganya pada rentenir yang mengincar dirinya. Bahkan ia pun juga menceritakan mengenai kabur saat malam hari karena tidak ingin dinikahi oleh pria yang yang mengincarnya untuk dijadikan istri.
Diandra mengakhiri ceritanya dengan wajah muram karena menyadari bahwa saat ini ia merasa percuma kabur dari pria tua itu, tapi ternyata berakhir kehilangan harga dirinya di tangan Austin Matteo.
Mengingat tentang hal itu, membuat Diandra tidak berniat untuk menikah seumur hidup karena ia tahu bahwa keperawanan adalah sebuah hal penting yang menjadi bukti menjaga harga diri sebagai seorang wanita.
Ia benar-benar merasa terhina ketika suatu saat menikah dengan pria yang akan kecewa begitu mengetahui sudah tidak perawan.
Hingga ia pun mendengar suara bariton Yoshi yang tidak memaksanya untuk menerima tawaran pria baik hati itu. Jadi, ia merasa sangat lega dan selalu nyaman serta aman berada di dekat seorang Yoshi yang baik hati.
"Baiklah. Aku tidak akan melakukan apapun karena kamu memang tidak ingin melaporkan perbuatan Austin. Lebih baik kita berlama-lama di sini sambil menikmati makanannya sebentar lagi mungkin akan diantar oleh pelayan."
Yoshi masih merasa penasaran dengan kalimat ambigu yang diungkapkan oleh Diandra. Namun, ia merasa yakin jika lama-kelamaan wanita itu akan menceritakan semuanya padanya.
Apalagi hari ini Diandra sudah menceritakan mengenai keluarganya yang malang karena dililit utang, sehingga membuat wanita dengan paras cantik itu merantau ke Jakarta untuk mencari uang demi bisa menjadi seorang anak yang berbakti.
"Aku benar-benar salut padamu, Diandra. Aku jadi ingin menceritakan perjalanan hidupmu pada Naura agar ia tidak manja pada orang tua. Seandainya ia ada di sini dan mendengarkan ceritamu tadi, pasti akan merasa malu dan tidak akan berani mengeluh."
Yoshi memang mengetahui bahwa ada banyak orang di luaran sana yang tidak seberuntung dirinya serta Naura karena lahir di keluarga berada dan tinggal meneruskan bisnis yang sudah dirintis sangat lama oleh orang tua.
Namun, baru kali ini ia mendengar secara langsung mengenai kehidupan orang-orang kalangan menengah ke bawah yang bahkan hanya untuk sekedar makan saja harus banting tulang dan mendapatkan gaji tidak seberapa.
__ADS_1
Bahkan hal itu sampai dijadikan lagu yang sangat mewakili kaum menengah kebawah, yaitu hal yang sering dilakukan oleh banyak orang dengan ekonomi di bawah rata-rata, yaitu gali lobang tutup lobang.
"Aku harus bersyukur dan tidak boleh mengeluh karena ada banyak orang yang dengan ekonomi biasa, masih tidak pernah putus asa saat mencari rezeki," ujar Yoshi sambil menatap sosok wanita yang terlihat murung di sebelahnya.
Hari ini memang cukup berat ujian dihadapi oleh Diandra karena harus bertemu dengan dua orang yang membuatnya menderita.
Beberapa saat kemudian, ia mendengar suara ketukan pintu serta pintu terbuka dan memperlihatkan pelayan yang membawa pesanan makanan.
Yoshi kini melihat makanan dihidangkan di atas meja dan beralih menatap Diandra untuk memberikan kode agar segera menikmati makanan yang tersaji.
"Silakan dinikmati, Tuan dan Nona." Sang pelayan pun kini keluar dengan membiarkan pelanggan menikmati makanan yang baru selesai dihidangkan.
Sementara itu, Diandra saat ini menatap ke arah makanan yang dianggap belum lengkap karena sama sekali tidak ada nasi. 'Aku kupikir ada tambahan nasi untuk makan ayam steak yang seperti disiram saus ini.'
Diandra hanya bisa bergumam sendiri dalam hati karena tidak mungkin mengungkapkan nada protes pada pria yang telah memesankan makanan karena ia hampir mau pingsan melihat harganya.
Karena tidak ingin salah mengambil makanan yang tidak dimengerti serta harganya sangat mahal, sehingga saat ini Diandra memilih untuk segera menikmati makanan seperti yang dilakukan oleh Yoshi setelah menyapanya.
"Selamat makan," sahut Yoshi yang saat ini tengah berpikir jika ia harus memberikan contoh pada Diandra untuk menikmati makanan western itu.
Sebenarnya ia ingin sekali langsung memakai kedua tangan tanpa melibatkan pisau yang dianggap senjata tajam tersebut, tapi merasa malu ada Yoshi yang mungkin akan menertawakannya.
Namun, ia yang berniat untuk memakai pisau dan bisa memotong makanan di atas piring tersebut, kini seolah merasa lega begitu mendengar suara bariton dari Yoshi.
"Kamu makan saja menurut versimu yang menyenangkan atau memudahkan menikmati makanannya. Aku tidak akan mengajakmu ke tempat seperti ini jika bukan karena masalah pekerjaan."
Yoshi sebenarnya ingin melakukan hal-hal romantis seperti orang lain ketika berkencan. Seperti memotong steak agar memudahkan pasangan menikmatinya.
Namun, ia berpikir bahwa hal seperti itu akan terlihat berlebihan di mata seorang Diandra yang sangat sulit untuk didekati karena menutup diri.
"Aku akan mengajakmu ke warung pinggir jalan yang makanannya tidak kalah lezat dibandingkan restoran mahal seperti ini. Bukankah kamu merasa tidak nyaman makan dengan menggunakan pisau? Jadi, pakai tangan saja tidak masalah."
Diandra memang merasa lega atas pengertian dari Yoshi, tapi masih merasa bingung karena tidak ingin membuat pria itu ilfil padanya.
__ADS_1
"Memang aku biasa makan menggunakan tangan saat makan pecel lele atau ayam penyet. Sementara ini, benar-benar membuatku pusing karena dihadapkan pada senjata tajam ini," ucap Diandra sambil menunjukkan pisau di tangan kanannya.
Namun, ia malah melihat Yoshi tertawa ketika menunjukkan senjata tajam yang mungkin bisa langsung memutuskan urat nadi itu.
"Mimik mukamu benar-benar sangat lucu, Diandra." Yoshi masih tidak bisa berhenti tertawa karena melihat wajah polos dari wanita yang selalu mengatakan apapun sejujurnya.
Jika ia sering melihat para wanita bersikap elegan saat makan, tapi hari ini Diandra membuatnya merasa bahwa faktanya adalah mayoritas orang akan makan tanpa malu jika tidak bersama dengan seorang pria.
"Baiklah. Jika kamu tidak suka dengan senjata tajam itu, katakan saja dan lakukan sesuai dengan keinginanmu. Atau kamu mau aku potongkan kecil-kecil dan tinggal menikmatinya?" Akhirnya ia merasa aman ketika membuat Diandra memilih salah satu diantara opsi yang diberikannya.
Saat ini, Diandra tidak langsung menjawab karena tengah menatap ke arah makanan yang belum pernah dinikmatinya.
Karena tidak ingin membuat Yoshi melihat cara makannya, sehingga kini langsung memberikan piringnya pada pria yang masih menatapnya dengan intens.
"Tolong kamu potongkan kecil-kecil agar aku mudah menikmatinya. Kamu memang benar, bahwa aku bisa menikmatinya sesuka hati. Hanya saja, ini adalah restoran mewah dan rasanya seperti tidak pantas jika aku menodainya dengan cara makanku yang kampungan, bukan?"
Yoshi seketika bergerak untuk membantu memotong daging ayam yang dibuat dari steak tersebut. Namun, ia kali ini tidak sependapat dengan pemikiran Diandra.
"Bukankah kita sekarang berada di private room? Jadi, tidak masalah jika kamu makan dengan cara apapun karena tidak ada yang melihatnya." Berbicara terus memotong kecil-kecil makanan di atas piring tersebut.
Sementara itu, Diandra langsung menggelengkan kepala. "Tidak! Aku ingin sekali-kali merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang menikmati makanan mahal dengan elegan dan menunjukkan padamu. Nanti kamu nilai, ya? Kira-kira berapa hasilnya?"
"Oh ya, lain kali aku traktir makan pecel lele atau ayam penyet yang berada di dekat jalan besar area tempat kos ku yang lama." Diandra benar-benar sangat bersemangat ketika membicarakan makanan favoritnya.
"Di sana sangat terkenal enak makanannya dan aku pernah satu kali membeli dan ketagihan karena ada banyak macam sambal yang disajikan dan mengambil sendiri sepuas hati."
"Ada sambal terasi, sambal geprek, sambal ijo dan terakhir sambal matah. Oh ya, kamu suka sambal atau tidak? Aku tidak mau mengajakmu pergi makan sambal saat kamu tidak menyukainya." Ia saat ini merutuki kebodohannya begitu menyadari sesuatu yang terlupakan.
Berbeda dengan Yoshi yang saat ini baru selesai memotong steak ayam tersebut, seketika menyerahkan pada Diandra agar segera menikmatinya.
"Sekarang makanlah. Tenang saja, aku paling suka dengan menu sambal. Jadi, kapan-kapan ajak aku ke sana." Saat Yoshi baru saja menutup mulut, ia mendengar suara dering ponsel miliknya dan memeriksa siapa yang menghubungi.
Karena merasa penasaran, tidak membuang waktu, ia langsung menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara bariton dari seberang telpon, tak lain adalah sahabatnya dan ingin mencari tahu apakah Austin masih bersamanya atau sudah pergi.
__ADS_1
To be continued...