Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Mengucapkan selamat


__ADS_3

"Baiklah. Aku tidak akan mendekat dan hanya berada di sini untuk melihatmu agar tidak sampai melakukan hal-hal buruk ketika patah hati karena ditinggal menikah oleh pria yang kamu banggakan itu," ujar Austin saat ini menuruti perintah wanita yang masih mengarahkan kedua tangan untuk menolaknya agar tidak mendekat.


Sementara di sisi lain, Diandra yang seolah kehilangan tenaga karena mendadak tubuhnya lunglai setelah mengetahui semua hal mengenai pria yang menjadi satu-satunya harapan untuk bersandar.


'*Apa yang harus kulakukan sekarang? Yoshi bahkan saat ini sudah tidak akan lagi melindungiku ataupun melaksanakan niatnya untuk menikahiku seperti janjinya.'


'Aku tidak akan pernah menikah dengan pria berengsek ini dan menghabiskan seluruh sisa hidupku bersama pria yang sangat kubenci*,' gumam Diandra yang saat ini berpikir bahwa ia harus menyusun rencana untuk menghindar dari kekuasaan seorang Austin yang bahkan sudah mendapatkan lampu hijau dari orang tuanya.


Mendadak ia merasa sendirian dan tidak lagi memiliki siapa-siapa yang mendukungnya setelah Yoshi menikah dengan wanita pilihan orang tuanya.


'Aku tahu posisi Yoshi saat ini dan tidak akan pernah menyalahkannya. Mungkin memang kami tidak berjodoh dan aku harus bisa menerima semua kenyataan ini. Aku pun tidak akan pernah berpikir jika Austin adalah jodohku karena hanya kebencian yang kurasakan padanya.'


Diandra yang masih sibuk menormalkan perasaannya yang tidak karuan saat ini ketika benar-benar hancur karena kehilangan harapan untuk bisa bersatu dengan pria baik yang sangat dicintai.


Kini, ia mengangkat pandangannya dan menatap ke arah pria yang masih setia berdiri di hadapannya tanpa bergerak sedikit pun karena hanya memandanginya.


"Sekarang kau sudah mengatakan semuanya padaku dan aku pun mengetahui jika saat ini Yoshi pasti jauh lebih terluka daripada aku. Aku sangat yakin jika Yoshi tengah dipenuhi oleh kegundahan sekaligus kehancuran seperti yang kurasakan," sahut Diandra yang tidak ingin Austin menertawakannya.


Ia sampai detik ini tetap mempercayai bahwa pria baik seperti Yoshi adalah calon suami yang sangat pantas untuknya dan menjadi idaman para wanita.


"Aku akan menghormati keputusan orang tua Yoshi dan Diandra dan tidak akan pernah menampakkan diriku di depan mereka karena besok tidak akan datang ke rumah sakit. Apa sekarang kau puas dengan jawabanku?" tanya Diandra yang saat ini ingin segera masuk ke apartemen dan mengeluarkan semua keluh kesah yang dialami dengan menangis sepuasnya.


Ia ingin meledakkan semua perasaan membuncah yang dirasakan agar bisa jauh lebih baik dan melanjutkan hidup karena tidak mungkin bunuh diri setelah hidupnya hancur untuk kesekian kalinya.


Di sisi lain, Austin yang saat ini justru malah merasa sangat iba melihat raut wajah penuh kekhawatiran dan bola mata berkaca-kaca serta suara yang serak ketika menjelaskan padanya.


Ia ingin sekali merengkuh tubuh kurus Diandra dan memeluknya dengan erat untuk memberikan aura positif agar wanita itu meluapkan semua perasaan padanya.


Namun, baru satu langkah ia berjalan mendekat, kesekian kali dilarang dan membuatnya diam tak berkutik di tempat.

__ADS_1


"Pergilah dan jangan mendekat! Aku tidak butuh apapun darimu karena hanya ingin segera beristirahat. Aku benar-benar lelah dan ingin segera pergi tidur."


Alasan yang baru saja diungkapkan memanglah sangat konyol jika dipikirkan secara logika, tapi tetap saja Diandra berpikir jika itu adalah satu-satunya hal untuk mengusir Austin dari hadapannya.


'Aku hanya ingin menangis sendirian tanpa ada yang mendengar. Aku tidak ingin pria berengsek ini bersikap sok pahlawan dengan menghiburku karena aku tidak membutuhkannya,' gumam Diandra yang saat ini sangat berharap jika Austin segera pergi.


Apalagi sudah sangat larut malam dan ia hari ini benar-benar sangat lelah jiwa raga. Bahkan saat kepalanya terasa pusing, Diandra tidak menunjukkannya pada Austin karena yakin jika pria itu akan makin bersikap sok perhatian padanya.


'Rasanya kepalaku seperti mau pecah dan juga dadaku terasa sesak. Jadi, ini yang dirasakan oleh orang patah hati saat kehilangan orang yang sangat dicintai.' Diandra hanya bisa berkeluh kesah di dalam hati sambil menunggu kepergian Austin.


Embusan napas berat kini mewakili perasaan Austin kala tidak tega melihat wanita yang dicintai hancur karena dikhianati oleh kepercayaan.


"Ehm ... baiklah. Meskipun sebenarnya aku sangat mengkhawatirkanmu dan benar-benar tidak tega membiarkanmu sendiri. Tapi sepertinya kamu akan lebih baik jika sendiri dan melepaskan semua keluh kesah di apartemen." Austin masih ragu-ragu untuk melangkah pergi dan kembali memberikan petuah kecil.


"Jaga kesehatanmu, Sayang. Aku akan pergi seperti keinginanmu, tapi berharap semoga kamu besok tetap baik-baik saja. Jika besok aku menghubungimu, angkat telponnya karena jika kamu tidak menerimanya, aku akan datang ke sini untuk melihatmu."


Kemudian Austin melangkahkan kaki panjangnya keluar dari lobi tanpa menoleh ke arah belakang.


"Semoga cintaku baik-baik saja dan tidak berlarut-larut dalam kesedihan karena ditinggal menikah oleh Yoshi. Jika ia besok tidak mau datang ke rumah sakit untuk melihat pernikahan Yoshi, akulah yang akan mewakili dan mengucapkan selamat pada pria yang membuatku akhirnya bisa memiliki Diandra."


Austin tahu jika kehancuran Diandra adalah sebuah kemenangan untuknya dan membuatnya harus merayakannya. Namun, saat mengingat raut wajah memelas karena dipenuhi oleh kehancuran, sehingga mengurungkan niatnya.


"Aku tidak akan merayakan ini dengan Daffa karena ingin menghormati perasaan Diandra yang tengah patah hati. Aku akan mengobati hati Diandra dengan memberikan banyak cinta untuknya," lirih Austin yang saat ini langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah asisten pribadinya.


"Antarkan aku pulang ke apartemen!" Memakai sabuk pengaman dan begitu mobil melaju, ia menoleh ke arah pria di balik kemudi tersebut.


"Jika aku nanti menikah, apa kau tidak merasa iri melihat kebahagiaanku memiliki seorang istri yang sangat cantik?" Austin sengaja menghilangkan perasaan khawatirnya dengan berbicara konyol pada asisten yang tengah fokus mengemudi.


Sejujurnya ia saat ini merasa sangat khawatir pada keadaan Diandra yang ditinggalkan sendirian, tapi yakin jika wanita yang dipujanya tersebut akan baik-baik saja setelah menangis untuk meluapkan perasaan yang hancur karena ditinggal menikah Yoshi.

__ADS_1


"Tentu saja saya iri pada nasib baik Bos, tapi saat ini tidak sedang dekat dengan wanita manapun. Saya akan menyerahkan segalanya pada yang lebih berkuasa karena seperti kata pepatah jodoh tidak akan ke mana," sahut Daffa yang merasa sangat yakin jika saat ini jodohnya tengah dijaga oleh Tuhan dan akan bertemu suatu saat nanti di waktu yang telah ditentukan.


Namun, ia mendengar nada protes dari pria yang duduk di sebelah kirinya tersebut dan membuatnya sekilas melirik serta kembali menatap ke arah depan untuk fokus, tapi memasang indra pendengaran lebar-lebar.


"Jodoh tidak akan ke mana adalah pepatah yang salah kaprah," ucap Austin yang saat ini berpikir secara logika dan tidak sependapat dengan apa yang sering didengarnya tersebut.


"Maksud Tuan Austin apa?" tanya Daffa hingga saat ini memicingkan mata karena tidak paham ketika bosnya malah tidak sependapat dengan pemikiran banyak orang.


"Saat kau suatu saat menemukan sosok wanita yang membuat degup jantungku berdebar kencang serta merasa yakin bahwa itu adalah wanita yang kau inginkan, maka perjuangkan sampai titik darah penghabisan tanpa ada kata jodoh ditangan Tuhan."


"Karena menurutku, jodoh itu diperjuangkan dengan effort, bukan saling menunggu dan hanya pasrah seperti pepatah itu." Ia bahkan saat ini menatap tajam ke arah asisten pribadinya agar sadar dan tidak selalu bergantung pada pepatah tersebut.


"Hanya orang-orang bodoh yang selalu bersembunyi diantara kata jodoh di tangan Tuhan," sarkas Austin yang saat ini merasa sangat kesal dengan orang-orang yang bersembunyi di balik kata itu dan tidak mau memperjuangkan.


Sementara itu, Daffa seketika menelan saliva dengan kasar karena merasa tertampar dengan kalimat bernada ejekan dari bosnya yang terlihat sangat marah-marah hanya dengan sesuatu yang tidak sesuai dengan pemikiran.


"Kalau dipikir-pikir, apa yang Anda sampaikan memang benar, Tuan. Jika tidak ada usaha untuk memperjuangkan, mana mungkin bisa berakhir di pelaminan jika sama-sama saling menunggu?"


Kini, ia menggaruk tengkuk yang tidak gatal untuk menghilangkan perasaan regunya. "Sepertinya nanti saya akan mengikuti jejak Anda setelah berhasil menikahi nona Diandra."


Kemudian ia melanjutkan perkataannya di dalam hati karena tidak ingin mendapatkan sebuah pukulan di lengannya jika sampai bosnya murka pada pemikirannya.


'Jika tuan Austin gagal menikahi nona Diandra setelah berjuang sampai titik darah penghabisan, berarti pepatah jodoh ditangan Tuhan itu benar. Memang semua manusia yang hidup di dunia ini memiliki pendapat masing-masing dan berhak untuk berpikir sesuai dengan cara mereka,' gumam Daffa yang saat ini merasa bingung serta galau.


Ia percaya bahwa jodoh adalah ditangan Tuhan, tapi juga percaya jika jodoh itu perlu diperjuangkan seperti yang dikatakan oleh bosnya tersebut. Jadi, saat ini memilih untuk melihat sampai di mana hubungan antara pria yang sangat dihormatinya tersebut dengan wanita yang sudah kembali ke apartemen.


Austin saat ini tidak menanggapi pemikiran dari asisten pribadinya tersebut karena tengah memikirkan rencana esok hari untuk datang ke acara pernikahan pria yang sudah tidak lagi menjadi saingannya untuk mendapatkan Diandra.


"Besok kau urus pekerjaan di kantor karena aku akan datang terlambat. Aku akan datang ke rumah sakit untuk menjenguk ayah Yoshi sekaligus mengucapkan selamat atas pernikahannya," ucap Austin yang saat ini tersenyum menyeringai penuh kemenangan.

__ADS_1


"Siap, Bos." Daffa tidak ingin bertanya panjang lebar karena ia saat ini sudah sangat mengantuk dan ingin segera pulang setelah mengantarkan bosnya ke apartemen.


To be continued...


__ADS_2