Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Tunggu aku


__ADS_3

Austin saat ini masih menunggu di depan apartemen yang diketahui menjadi tempat tinggal sementara untuk Diandra seperti yang dikatakan oleh Annisa.


Meskipun mengetahui bahwa Diandra telah pergi bersama pria yang menjadi pemilik apartemen, ia masih menunggu di sana karena berharap jika wanita yang ingin dinikahinya tersebut kembali.


Ia juga ingin tahu siapa sebenarnya pemilik dari apartemen itu dan berniat untuk mencari keberadaan pria itu agar bisa bertemu dengan Diandra.


Bahkan ia seperti beberapa kali menghitung waktu dengan melihat ke arah jam di tangannya karena dari tadi mengetahui bahwa ahli IT perusahaan yang disuruhnya meminta waktu 15 menit dan sekarang tinggal beberapa menit lagi.


Hingga ia pun saat ini berdiri bersandar di sebelah apartemen itu sambil sesekali mengedarkan pandangan ke sekeliling lorong apartemen yang terlihat sangat sepi.


Itu karena saat ini masih jam kerja dan pastinya para penghuni apartemen tengah berada di kantor untuk bekerja. Sementara Annisa diketahuinya selama ini bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang percetakan.


Bahkan ia mengenal Annisa ketika perusahaan itu berniat bekerjasama dengan perusahaannya ketika membuka cabang.


Saat Austin menatap ke arah jam tangan yang menempati pergelangan tangan kirinya, ia menghitung mundur karena beberapa detik lagi, waktu yang diminta telah habis.


Dimulai dari lima dan ketika ia menyebut angka 2, seperti yang dipikirkan, bunyi dering ponsel miliknya terdengar. Tentu saja tanpa membuang waktu langsung mengangkat, agar cepat mengetahui siapa pria yang menjadi pemilik dari apartemen.


Austin langsung menggeser tombol hijau dan terdengar suara dari seberang telpon, sehingga ia hanya mendengar tanpa membuka suara untuk menyela.


"Halo, Tuan Austin. Saya sudah mengetahui siapa pemilik dari apartemen itu. Orang itu adalah Patrick Narendra yang menjadi pemilik perusahaan konsultan terbesar di Jakarta."


Austin saat ini mengerutkan kening karena merasa ada yang tidak beres dan membuatnya mengingat sesuatu hal yang terjadi beberapa saat lalu ketika berada di restoran.


Refleks ia mengambil sebuah kartu nama yang berada di saku jas miliknya dan menatap ke arah kertas kecil tersebut.


Ia bahkan tidak berkedip ketika menatap tulisan timbul berwarna emas dari kartu nama hitam itu dan ingin sekali tertawa terbahak-bahak karena memikirkan bahwa takdir telah mempermainkannya hari ini.


"Patrick Narendra pemilik dari perusahaan konsultan di Jakarta itu bukankah adalah ayah dari Yoshi Zaidan Narendra?" tanya Austin yang saat ini ingin memastikan apa yang ada di pikirannya benar.


Bahwa pria yang ditemui di restoran tadi ternyata adalah orang yang dimaksud oleh mantan kekasihnya yang telah mengamuk pada Diandra.


"Iya, Tuan Austin. Bagaimana bisa Anda mengetahuinya? Apa Anda mengenal putra tunggal dari Narendra Group?" tanya pria yang saat ini menatap komputer miliknya dan merasa heran atas apa yang diketahui oleh bosnya saat menyuruhnya mencari tahu sesuatu yang bersifat privasi.


Kini, Yoshi benar-benar tertawa terbahak-bahak karena tidak bisa menahan diri saat merasa apa yang dihadapinya hari ini sangat konyol.


Bahkan ia tidak berniat untuk berbicara lagi dengan salah satu pegawai terbaik di perusahaannya tersebut karena langsung mematikan sambungan telpon.


"Astaga! Aku bahkan sama sekali tidak menyangka jika ternyata pria itu sudah ditemuinya tadi. Aku tidak akan pernah melepaskanmu, Diandra! Meskipun kamu bersembunyi di lubang semut sekalipun, aku tidak akan pernah melepaskanmu untuk pria lain, termasuk Yoshi Zaidan Narendra."

__ADS_1


Bahkan Austin saat ini tersenyum menyeringai dan beralih menyimpan nomor yang ada di dalam kartu nama yang masih dipegangnya.


Ia bahkan saat ini merasa bahwa takdir berpihak padanya karena dipertemukan tanpa sengaja oleh sahabat baik pria itu yang menjadi salah satu konsultan di perusahaannya.


"Baiklah, sepertinya permainan akan semakin menarik karena pria itu ternyata bukanlah pria sembarangan. Diandra, bagaimana ia bisa mengenal pria itu? Sejak kapan Diandra mengenalnya?"


"Aku harus mencari tahu agar tidak pusing memikirkan beragam pertanyaan di otakku." Austin saat ini menghubungi pria yang menjadi konsultan sementara di perusahaannya selama seminggu ini.


Ia memang tidak berniat untuk langsung menghubungi Yoshi karena ingin mencari tahu terlebih dahulu melalui orang lain yang mengenalnya. "Aku yakin jika Tony Herlambang mengetahui sesuatu mengenai Yoshi."


"Apa mereka masih berada di restoran?" Austin saat ini terdiam sejenak dan memikirkan sesuatu. Namun, ia menggelengkan kepala dan tertawa.


"Tidak! Itu tidak mungkin!" Austin bahkan saat ini memikirkan bahwa pria bernama Yoshi yang ditemuinya di restoran tadi tengah bersama dengan Diandra karena mengatakan bertemu klien di private room.


"Apakah Diandra tadi berada di sana?" Austin saat ini mendengar suara dari seberang telpon yang mengangkat panggilannya.


"Halo, Tuan Austin. Apa ada yang tertinggal atau ingin Anda katakan pada saya?" tanya Tony Herlambang yang saat ini berada di dalam mobil menuju ke tempat wisata di Jakarta.


Austin yang tidak langsung menjawab karena ingin bertanya mengenai Yoshi dan tidak ingin dicurigai, jadi berbicara dengan nada natural serta menahan perasaan yang berkecamuk saat ini.


"Apa Anda saat ini masih berada di restoran?"


Austin merasa sangat kecewa karena ternyata pria itu sudah meninggalkan restoran dan akhirnya menanyakan sesuatu yang dari tadi ditahan.


"Oh ya, saya mengingat tentang teman Anda tadi merupakan konsultan. Jadi, berniat untuk memakai jasanya setelah Anda kembali ke tempat asal."


Saat Austin memancing pria di seberang telpon untuk membahas mengenai Yoshi, ia seketika membulatkan kedua mata begitu mengetahui sesuatu hal yang membuatnya merasa sangat cemburu dan juga marah.


"Oh, iya. Saya nanti akan mengatakan padanya karena sekarang sedang dalam perjalanan menuju ke tempat wisata bersamanya dan wanita yang disukai. Namun, kami saat ini berada di mobil yang berbeda karena saya naik mobil yang disewa selama berada di Jakarta."


Tony yang baru saja menutup mulut, saat ini memicingkan mata begitu mengetahui pertanyaan dari pria yang dianggap sangat aneh karena tiba-tiba ingin tahu lebih banyak mengenai Yoshi yang merupakan temannya.


Austin saat ini masih mengepalkan tangan begitu mengetahui bahwa Diandra adalah wanita yang disukai oleh Yoshi. Bahwa belum lama berpisah dengan Diandra saja sudah mempunyai seorang saingan.


'Sial! Kenapa pria itu menyukai Diandra? Ini tidak boleh dibiarkan karena Diandra hanya akan menjadi milikku selamanya, bukan pria bernama Yoshi itu,' gumam Austin yang saat ini berbicara di telpon sambil berjalan menuju ke arah lift karena ia berniat untuk menyusul mereka, setiap pergi ke salah satu tempat wisata.


"Ada sesuatu hal penting yang ingin saya sampaikan pada teman Anda. Jadi, Sekarang saya sedang dalam perjalanan dan berniat untuk menemui Anda dan Yoshi. Bisakah Anda memberitahu mengenai tempat yang dituju?"


Austin saat ini berniat untuk pergi secara diam-diam dan melarang pria itu untuk memberitahu Yoshi dan Diandra agar bisa menangkap basah wanita yang ingin ia rebut.

__ADS_1


Begitu mengetahui salah satu wahana keluarga yang menjadi tujuan wisata, segera Austin berjalan cepat begitu keluar dari lift dan menuju parkiran untuk langsung menyusul empat orang itu.


"Baiklah. Saya akan langsung ke sana dan tolong jangan katakan apapun pada Yoshi karena berpikir ingin langsung membicarakan hal penting dengannya."


"Siap, Tuan Austin."


Tony sebenarnya merasa sangat aneh, tapi ia tidak mungkin berbicara sesuatu yang dipikirkannya dan saat ini hanya bisa bertanya-tanya di dalam hatinya.


"Terima kasih, Tuan." Kemudian Austin langsung matikan sambungan telpon begitu mendengar jawaban iya dari pria itu dan buru-buru masuk ke dalam mobil.


Bahkan ia kali ini tersenyum menyeringai karena merasa yakin jika sebentar lagi akan bertemu dengan wanita yang ternyata memang berniat untuk kabur darinya dan mencari perlindungan dari pria bernama Yoshi itu.


Austin mengemudikan mobilnya membelah kemacetan kota Jakarta dengan sesekali tertawa memikirkan tentang Diandra karena hanya dalam hitungan jari saja sudah mempunyai seorang pria.


"Diandra ... Diandra! Apa kamu pikir pria itu masih menyukaimu begitu mengetahui bahwa aku telah mencicipi tubuhmu? Aku sangat yakin jika Yoshi tidak akan lagi mau dekat-dekat dengan wanita yang sudah menjual diri sepertimu."


Austin saat ini tersenyum menyeringai ketika berencana untuk mengatakan sesuatu yang bersifat intim dengan Diandra pada Yoshi karena berani menyukainya.


Ia yang saat ini fokus mengemudi, tengah memikirkan rencana selanjutnya untuk merebut Diandra dan mengancam wanita itu agar tidak coba-coba untuk kabur lagi darinya.


"Enak saja ia berpikir bahwa masalah diantara kami sudah selesai. Mana mungkin aku melepaskanmu setelah membuat hatiku bergetar karena mencintai dan memutuskan untuk melepas masa lajang hanya denganmu."


Austin berpikir akan mengatakan yang sesungguhnya pada Diandra mengenai niatnya untuk menikahi wanita itu agar mau kembali dan bekerja di perusahaannya.


"Aku harap pria itu sadar diri dan tidak berani lagi untuk mencintai Diandra karena hanya milikku."


Austin sebenarnya ingin mampir ke toko perhiasan untuk membeli cincin agar bisa langsung melamar Diandra hari ini demi menunjukkan keseriusannya.


Namun, ia berpikir jika wanita itu akan kabur lagi jika sampai Tony mengatakan rencananya untuk datang.


Ia tadi memang berpesan agar tidak memberitahu, tapi juga merasa ragu jika sampai apa yang tadi dikatakan tidak didengar atau membuat pria itu seperti keceplosan untuk mengatakannya. Jika itu sampai terjadi, ia akan gagal untuk bertemu dengan Diandra yang sangat dirindukan.


"Hal yang terpenting saat ini adalah bertemu Diandra terlebih dahulu. Baru aku akan mengatakan padanya mengenai rencanaku untuk menikahinya demi bertanggung jawab setelah mendapatkan keperawanannya."


Austin kini menginjak pedal gas untuk menambah kecepatan karena ingin segera tiba di tempat yang mungkin akan menjadi saksi pertemuan kembali dengan wanita pertama yang membuatnya ingin mengakhiri masa lajang.


"Diandra Ishana, tunggu aku datang. Aku akan menunjukkan keseriusanku padamu, agar kamu tidak lagi kabur dariku," ucap Austin yang saat ini mengemudi dengan kecepatan tinggi dan fokus menatap ke arah jalanan yang dilalui.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2