
Austin sebenarnya belum selesai berbicara dengan Yoshi, tapi pria itu telah mematikan sambungan telepon, sehingga kini menaruh benda pipih tersebut di atas nakas dan beralih menatap ke arah sang istri karena ingin sekali memarahinya.
"Lain kali, jangan mengangkat telepon dari pria lain karena aku sangat tidak menyukainya. Apalagi pria itu adalah Yoshi yang merupakan pria yang pernah kamu cintai sekaligus mantan suami satu hari." Ia tidak bisa menahan kecemburuannya saat ini karena khawatir jika sang istri mengulanginya lagi.
Berpikir jika Diandra masih tetap berhubungan dengan Yoshi, akan memicu keretakan rumah tangga yang baru saja kembali harmonis.
Sementara itu, Diandra sebenarnya juga merasa bersalah pada sang suami karena mengangkat telepon pria lain saat sendirian. Ia ini memegang lengan kekar dibalik kaos kasual berwarna putih tersebut.
"Maafin aku, Sayang. Aku pikir tadi adalah mamanya Yoshi dan ingin tahu apa yang ingin disampaikannya. Mungkin ingin menipuku lagi, jadi aku merasa penasaran seperti apa mantan mertua yang sangat membenciku itu." Ia kali ini berusaha untuk merayu pria dengan wajah masam yang masih berdiri di sebelah kirinya.
Namun, masih belum mendapatkan tanggapan dan membuatnya bingung harus bagaimana untuk membuat sang suami mau memaafkan kesalahan yang dilakukan. "Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku janji," ucapnya dengan mengarahkan jari kelingking agar sang suami mau mengaitkan jarinya."
Austin saat ini terdiam menatap wanita yang terlihat memelas dan benar-benar tulus menyesali perbuatannya. Saat ingin menghukum sang istri agar tidak mengulangi perbuatannya lagi, tapi tidak tega dan akhirnya menganggukkan kepala.
Bahkan saat ini sudah mengaitkan jarinya dan mencubit ringan pipi putih wanita yang sangat dicintainya tersebut. "Aku akan memegang janjimu. Mulai sekarang, jangan menerima telepon ibu dan anak itu lagi. Bukankah tadi aku sudah menekankannya padamu? Kenapa dilanggar?"
Diandra saat ini hanya memegang tengkuknya untuk menghilangkan rasa bersalah yang dirasakan. "Kan sudah aku jawab tadi? Aku hanya ingin tahu seberapa jauh mantan mertuaku itu ingin menghancurkanku."
"Memangnya, setelah mengetahuinya, mau apa? Apa kamu mau menarik rambutnya karena kesal? Tidak, kan? Kamu mungkin hanya menyalahkan dirimu sendiri karena menjadi penyebab wanita itu berubah jahat." Austin bahkan sudah sangat hafal dengan perangai sang istri yang lebih mementingkan orang lain daripada diri sendiri.
Namun, itu tidak berlaku bagi dirinya karena kebencian wanita itu dulu sangatlah besar dan membuatnya harus menjalani hukuman luar biasa berat hanya demi bisa mendapatkan kata maaf.
Ingin ia mengungkapkan ada protes dan mengatakan jika itu semua tidak adil, tapi merasa jika suasana hati seorang wanita hamil tidaklah baik, sehingga sekarang memilih untuk melupakan masa lalu dan menatap masa depan bahagia bersama.
__ADS_1
Sementara Diandra benar-benar merasa tertampar dengan perkataan dari Austin yang memang benar adanya dan membuatnya tidak bisa berkutik. Namun, ia memilih untuk tidak mendebatnya karena itu semua adalah faktanya.
"Sepertinya suamiku sudah sangat hafal luar dalam istrinya, jadi percuma aku membela diri saat menyadari jika tidak akan menang." Ia pun kini menunjukkan perutnya yang diusap sangat lembut.
"Aku dan anak-anakmu sudah sangat lapar. Mana makanannya?" Diandra sebenarnya tahu jika makanan untungnya sudah berada di atas laci, tapi sengaja ingin bermanja-manja saat kondisinya hamil.
Austin yang saat ini meraih paper bag yang berisi makanan pesanan sang istri dan membuka kotak tersebut. "Kamu diam saja!"
Diandra tadinya mengarahkan tangannya untuk meminta kotak berisi makanan yang sangat diinginkannya, tapi malah mendapatkan tatapan tajam dan kali ini hanya diam mengamati pergerakan sang suami.
Ia tadinya berniat untuk makan sendiri, tapi seketika niatnya tidak terealisasikan ketika mendengar suara bariton pria yang sudah bergerak menyuapinya.
"Buka mulutnya! Aku ingin menyuapi ibu dari anakku yang sangat nakal ini." Austin masih menunggu sosok wanita di hadapannya membuka mulut.
Diandra yang tadinya merasa seperti baru pertama kali jatuh cinta saat melihat Austin yang berbeda. Jika ia dulu sangat membenci pria itu, lalu berakhir mencintai saat amnesia, tapi sekarang merasa jika semuanya tampak berbeda setelah ia bisa mengingat semuanya.
"Ya, kamu benar, Sayang. Rasanya saat ini aku seperti merasa baru memulai kehidupan yang baru sebagai Diandra yang sesungguhnya. Aku sekarang melihat Austin Matteo yang sangat mencintai Diandra Ishana. Kenapa dari dulu aku tidak bisa melihatnya?" Ia masih tidak berkedip menatap pria dengan lahan tegas dan perpaduan wajah tampan yang diakuinya sangat menawan.
Jika dulu ia sangat membenci pria itu karena sifat arogan dan sombong, kali ini hanya melihat sebuah ketulusan serta cinta tulus di sorot mata berkilat yang seperti sebuah anak panah menembus jantungnya.
Austin sejujurnya di dalam hati sangat berbunga-bunga seperti seorang remaja yang baru jatuh cinta. Ia bahkan ingin sekali berjingkrak saat ini karena merasa senang dengan pujian sang istri, tapi tengah berakting kesal, sehingga tidak ingin merusaknya.
Ia hanya diam sambil kembali mengulurkan tangan untuk menyuapi karena dari tadi belum membuka mulut. "Mau sampai kapan kamu membuat tanganku serasa mau patah karena tidak kunjung membuka mulut?"
__ADS_1
Diandra bahkan saat ini hanya terkekeh menatap tangan yang menggantung di udara dari tadi. Merasa bersalah, seketika ia membuka mulut dan langsung mengunyah makanan yang diinginkannya dari tadi.
"Maaf, Sayang," ucapnya dengan mulut yang sudah dipenuhi makanan.
"Sudah, jangan berbicara saat makan. Sekarang giliranku untuk bicara." Austin tadi hanya membeli satu karena merasa yakin jika sang istri hanya makan sedikit.
Berpikir bahwa akan membuang-buang makanan, sehingga berniat untuk menghabiskan makanan bekas sang istri nanti setelah selesai disuapi.
Diandra yang kini sangat patuh dengan menganggukkan kepala sambil mengunyah makanan di mulutnya. Ia bahkan saat ini seperti sudah mengetahui apa yang akan dikatakan oleh pria itu adalah beragam petuah untuknya.
'Lebih baik mulai sekarang kamu menjadi seorang istri yang baik dengan mematuhi apapun perintahnya. Jadi, jangan sekali-sekali membantahnya karena ia akan menunjukkan sisi over posesif dan over protektif yang dimilikinya,' gumam Diandra yang saat ini mulai mendengarkan suara bariton dari sang suami.
Austin merasa sangat puas bisa membuat sang istri diam mendengarkan semua perkataannya. Ia pun mengawali dengan pembicaraan yang ringan dan akan mengakhiri dengan topik lebih berat.
"Sekarang kamu tahu alasanku melarangmu mengganti nomor dan hanya menyimpan nomorku serta beberapa kerabat penting? Malah kamu seperti mengumpankan diri pada wanita jahat itu dengan menelponnya dan bertanya. Sekarang malah kembali mengulanginya dan akhirnya berbicara dengan Yoshi."
Ia terdiam selama beberapa saat karena mengingat jika tadi sudah menceritakan semua hal tanpa terkecuali pada Yoshi.
"Apa sekarang ibu dan anak itu sedang bertengkar? Yoshi kira-kira akan bertanya pada mamanya atau memilih menyembunyikannya dengan berpura-pura tidak tahu. Bukankah kamu sangat mengenal Yoshi?" tanya Austin yang kini merasa tertarik untuk mencari tahu.
Ia berpikir bahwa akan menyuruh detektif yang bekerja di sana untuk menyelidikinya. 'Bukankah akan jauh lebih baik jika Yoshi telah mengetahui kejahatan ibunya dan aku bisa dengan mudah menjebloskan ke dalam penjara,' gumam Yoshi yang saat ini tengah menunggu jawaban dari sang istri.
To be continued...
__ADS_1