Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Menghilangkan rasa bersalah


__ADS_3

Diandra kini membayar ongkos taksi dengan memberikan uang lebih setelah tiba di terminal. "Sekali lagi terima kasih, Mas. Mungkin jika Mas tidak menjawab pertanyaanku tadi, aku tidak akan menemukan jalan keluar dari masalahku," ucap Diandra yang saat ini tengah menatap ke arah sosok pria yang malah menggelengkan kepala.


Ia mengerutkan kening karena uangnya dari tadi diulurkan pada pria dibalik kemudi tersebut tidak kunjung diterima.


"Tidak perlu membayar karena aku ingin berbuat baik padamu. Melihat seorang wanita membawa koper di pagi buta dengan wajah murung, sudah bisa kutebak bahwa kamu tengah mengalami masalah yang besar," ucap pria dengan nama Cakra tersebut.


Ia jalan keluar karena berniat untuk membantu wanita yang tidak ia ketahui namanya tersebut membawa koper menuju ke dekat area bus.


Mendapatkan sebuah kebaikan dari pria yang baru saja ditolaknya untuk memberikan nomor, membuat Diandra merasa tidak enak dan buru-buru keluar dari mobil. Apalagi melihat pria itu mengambil koper yang ada di sebelah kanannya.


"Mas, jangan begitu. Aku benar-benar merasa tidak enak jika tidak membayar dan malah digratiskan." Diandra yang baru saja mengungkapkan nada protes pada pria yang malah berbuat baik padanya ketika ia bersikap ketus, berniat untuk merebut koper miliknya agar tidak dibawakan.


Namun, ia tidak jadi melakukannya begitu melihat pria dengan postur tubuh tinggi tegap tersebut mengulurkan tangan padanya.


"Aku Cakra. Anggap kita hari ini sudah berteman dan aku membantu teman yang sedang kesusahan," ucapnya sambil terus menggantung tangannya di udara karena menunggu wanita di hadapannya menanggapi.


Karena merasa sangat bersalah karena menjadi seorang wanita tidak tahu diri ketika ditolong dan diberikan beberapa informasi untuk bisa melanjutkan hidup di daerah puncak, kini tanpa pikir panjang, Diandra langsung menjabat tangan dengan buku-buku kuat itu.


"Aku Diandra. Terima kasih karena sudah mau menjadi temanku dan menggratiskan ongkos taksi, sehingga menghemat pengeluaranku hari ini."


Diandra akhirnya tersenyum simpul dan tidak lagi bersikap seperti tadi yang terkesan menutup diri karena ia tahu bahwa pria dihadapannya tersebut adalah orang baik seperti Yoshi.


Namun, ia tetap ada pendiriannya, yaitu tidak akan membuka hati pada pria manapun karena tidak ingin sakit hati lagi dengan sebuah harapan yang berakhir kehancuran.


Cakra yang merasa senang karena bisa melihat senyuman dari bibir wanita dengan nama yang menurutnya sangat cantik tersebut. "Syukurlah kamu mau berteman denganku. Aku minta nomor teleponmu karena jika semesta mengizinkan, kita akan bertemu lagi di puncak saat aku pulang."


"Iya," sahut Diandra yang tidak ingin berbicara panjang lebar karena khawatir jika memberikan sebuah harapan yang membuat lawan jenis merasa nyaman.


Ia takkan mengingat sikap ketusnya pada Yoshi, tetap saja membuat pria itu merasa nyaman dan jatuh cinta padanya hingga meluluhkan hatinya. Namun, harus berakhir patah hati karena tidak berjodoh ketika Yoshi hari ini menikah dengan wanita lain.


"Biarkan aku yang membeli tiket" ucap Diandra yang akhirnya berjalan mengekor pria yang berada di hadapannya.


Ia hanya diam melihat pria dengan bahu kokoh tersebut berjalan menuju ke arah loket untuk membeli tiket. Khawatir jika pria itu malah membelikan tiket untuknya, sehingga buru-buru berjalan di depan pria itu.


Sementara itu, Cakra saat ini hanya terkekeh geli melihat wanita yang terkesan khawatir akan kebaikannya. Melihat wajah ketakutan dari Diandra malah membuatnya gemas dan tidak berhenti tertawa, tapi akhirnya menjelaskan.

__ADS_1


"Aku ingin memberitahu loket bus menuju ke puncak. Itu saja karena tidak akan membelikanmu tiket saat keuanganku tidak stabil karena memang belum gajian." Kemudian ia mengarahkan jari telunjuk pada loket bus menuju ke Puncak.


Merasa sangat malu karena terlalu percaya diri mendapatkan sebuah kebaikan dari pria yang berprofesi sebagai sopir taksi tersebut, Diandra hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuk belakang.


"Aku terlalu percaya diri, ya? Bisa-bisanya aku berpikir sejauh itu saat kita baru saja mengenal." Namun, baru menutup mulut, ia kembali mengingat sosok pria yang sangat dicintai yang ditemui di rumah sakit dan malah langsung mentransfer sejumlah uang yang sangat besar.


'Aku tidak akan pernah bisa menemukan pria sebaik Yoshi di dunia ini. Ya Allah, aku sangat berharap bisa mendapatkannya menjadi seorang suami karena pasti hidupku akan sangat beruntung dan menjadi satu-satunya wanita paling bahagia di dunia.'


Diandra masih sibuk mengenang masa-masa bersama dengan Yoshi dengan bergumam sendiri di dalam hati dan tersadar dari lamunan begitu mendapatkan sebuah ketukan tangan di hadapannya.


"Diandra! Halo! Kok malah melamun?" Cakra saat ini memicingkan mata melihat raut wajah dengan tatapan kosong tersebut dan bisa menebak jika wanita di hadapannya tengah memikirkan seseorang begitu mendengar perkataannya.


"Kamu duduk saja di situ, Biarkan aku yang membelikan tiket karena sepertinya kamu banyak pikiran dan tidak fokus. Berikan uangnya padaku." Mengulurkan tangan setelah menaruh koper di atas kursi tunggu penumpang.


"Maaf," lirik Diandra yang saat ini langsung membuka tas selempang miliknya dan mengambil uang dari dalam dompet.


"Terima kasih." Memberikan uang yang berada dalam genggaman pada sosok pria yang masih berada di hadapannya.


Cakra hanya geleng-geleng kepala mendengar permintaan maaf dari wanita dengan raut wajah mengenaskan tersebut. "Baiklah. Kamu tidak perlu meminta maaf dan duduklah di sana. Aku pun tidak akan membawa kabur uangmu, jadi tenang saja."


"Aku percaya bahwa kamu adalah orang baik." Kemudian mendaratkan tubuhnya dan melihat senyuman yang terukir dari bibir pria dengan rambut hitam berkilat dan sudah berbalik badan menuju ke arah loket pembelian tiket.


Diandra saat ini mengalihkan perhatiannya dari Cakra dan bisa melihat lalu lalang orang yang berada di terminal serta para penjual yang menghiasi lapak masing-masing serta orang-orang yang sudah menikmati pagi dengan segelas kopi atau sarapan.


Ia saat ini melihat jam tangan yang menunjukkan sudah pukul 06.00 pagi. "Semoga Yoshi tidak menelponku pagi ini. Ia pasti sangat sibuk karena akan menikah."


"Sementara aku akan berusaha hidup dengan baik dengan melupakan semua hal yang terjadi di antara kami. Aku baik-baik saja sebelum mengenalnya dan semoga tetap demikian saat tidak bersamanya."


Saat Diandra berbicara lirih sendiri, ia kini mendengar suara bariton dari Cakra yang sudah kembali sambil membawa tiket dan menyerahkan padanya.


"Diandra, kembalian uangmu. Bus akan berangkat setengah jam lagi. Ayo, kita sarapan di sana untuk menunggu waktu. Kamu berada di dalam bus cukup lama dan harus sarapan terlebih dahulu. Kalau ini Aku ingin kamu mentraktirku sebagai upah atas kebaikanku."


Cakra akhirnya kini tersenyum simpul begitu melihat Diandra bangkit berdiri dari kursi dan menganggukkan kepala tanda setuju.


"Baiklah. Aku akan mentraktirmu dan aku pun juga sangat lapar." Meskipun sebenarnya tidak berselera untuk makan, tapi Diandra ingin memaksakan agar tidak sakit jika terus-terusan malas mengisi perut yang butuh diberikan asupan.

__ADS_1


Hingga ia pun berjalan menuju ke arah salah satu tempat yang hanya ada satu pembeli menikmati sarapan. Ia bahkan membiarkan Cakra membawa tas miliknya yang berisi pakaian serta semua perlengkapan miliknya dan tentu saja sangat berat baginya, tapi tidak cukup berat bagi seorang laki-laki.


Kemudian ia berbicara pada penjual untuk memesan makanan. "Kamu pesan saja makanannya karena selera kita pasti berbeda."


Kembali ia mengingat akan kenangan bersama Yoshi yang makan makanan kesukaannya dan berbicara bahwa ingin menyamakan selera dengannya.


'Ya Allah, berat sekali rasanya menghadapi ini semua setiap hari karena selalu saja ada momen yang mengingatkanku pada kejadian bersama dengan Yoshi.'


Puas berkeluh kesah di dalam hati dan berakting seperti layaknya orang normal yang tidak patah hati, Diandra memilih untuk mengisi waktu saat menunggu makanannya siap dengan mengambil salah satu camilan kerupuk berbentuk persegi panjang.


Sementara itu, Cakra saat ini berbicara dengan penjual yang sudah mulai mengambil nasi pesanan Diandra. "Buk, nasi pecel dan teh hangat satu."


Ia tidak ingin memilih makanan yang mahal karena khawatir akan memberatkan Diandra. 'Ternyata jika semuanya berjalan seperti air mengalir dan tidak dipaksakan saat berinteraksi, sikap Diandra benar-benar baik dan tidak cuek seperti beberapa saat lalu.'


Kemudian mendaratkan tubuhnya di sebelah wanita yang asik menikmati kerupuk dengan suara mengunyah yang menunjukkan kerenyahan dari makanan.


Karena kehabisan kata-kata untuk berinteraksi dengan Diandra, sehingga memilih untuk menunggu sampai wanita itu berbicara. Ia


Di sisi lain, Diandra yang mencoba untuk menutupi perasaan kacau balau yang menyiksanya, kini beralih menatap ke arah Cakra.


"Aku tiba-tiba memikirkan sesuatu."


"Memikirkan apa?" Cakra kini merasa penasaran dengan kalimat ambigu dari wanita yang terlihat sangat serius ketika berbicara.


"Aku yakin jika kita akan bertemu lagi saat kamu pulang karena kamu pasti akan bertanya pada orang yang nomornya kamu berikan padaku. Jadi, bukan takdir yang mempertemukan kita untuk kedua kali tapi karena keinginanmu untuk mencari tahu."


Diandra saat ini ingin memberi jarak pada pria di sebelahnya tersebut karena khawatir. Ia tidak ingin Cakra menaruh harapan padanya dan berusaha untuk mendekatinya.


"Benar juga, tapi aku belum berpikir ke arah sana. Aku sengaja menolongmu sebagai bentuk peduli pada sesama manusia. Namun, karena kamu sudah mengingatkanku, sepertinya nanti aku akan menghubungi ibu temanku itu."


Cakra kini menerima makanan yang baru saja datang dan berniat untuk menyuapkan satu sendok makanan ke mulutnya. Namun, seolah seketika kehilangan selera begitu mendapatkan sebuah ultimatum keras dari Diandra yang menatapnya penuh mengintimidasi.


"Jangan dekati aku karena aku sebenarnya sudah punya kekasih." Akhirnya Diandra mengarang cerita dan berharap Cakra tidak mengharapkan apapun darinya dan menjauh.


"Jadi, saat kamu ingin berteman denganku, aku pasti welcome. Namun, kalau kamu menuntut lebih, aku ucapkan good bye. Maaf," ucap Diandra yang saat ini mengalihkan pandangan dan menyuapkan makanan ke dalam mulutnya untuk menghilangkan rasa bersalah.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2